Estafet ke Kawah Putih


Apa yang menarik dari Kawah Putih?

Sebagai penggemar wisata alam, saya paling suka pantai. Gunung bukan destinasi favorit. Karena saya tak tahan udara dingin. Namun, saya takkan menolak kalau ke gunung beramai-ramai.

Mengapa Kawah Putih? Ini ide yang benar-benar impulsif. Disodorkan oleh Mbak Ima dan Aa Risyan, saat saya menginap di rumah mereka di Ciganitri, Bandung Selatan. Saya pun memang sengaja memperpanjang masa inap di Bandung dari jadwal utama yang hanya hari Minggu (1 Juli 2012). Biar bisa jalan-jalan di Bandung, alasan saya.


Kawah Putih ditawarkan pada saya karena saya belum pernah ke sana. Saya juga lebih suka wisata alam daripada main ke Saung Angklung Mang Udjo. Apalagi musim kemarau begini, danaunya akan jauh lebih cantik. Dari segi waktu juga terjangkau. Berangkat pagi pulang sore.


Maka, Senin pagi jelang siang (2 Juli 2012), saya berpamitan pada Mbak Ima. Aa telah berangkat mengajar. Saya dilepas di depan rumah dengan perbekalan makan siang racikan Mbak Ima. Saya akan backpacking sendirian. Bukan suatu hal yang merisaukan saya. Sudah biasa. Apalagi tiap kali pertanyaan “Lebih suka traveling sendirian atau bareng teman?” teraju dari audiens bedah buku TraveLove, saya akan menjawab “Solo traveling” dengan sekian alasannya, maka saya pun teguh melakoni solo-backpacking ke Kawah Putih ini. Kendati nanti akhirnya, ada sesi nelangsa yang menerpa saya.


Aa Risyan mengirimkan panduan menuju Kawah Putih via sms ke hp Mbak Ima. Saya jepret informasinya dengan hp saya. Biar ingat. Untung sekali, Mbak Ima berbaik hati menuliskannya di status Facebook. Ditambah dengan informasi lain dari teman Mbak Ima yang ikut mengomentari status tersebut, saya kian mantap menuju Ciwidey. Tetap, GPS terbaik versi saya adalah penduduk lokal. Kalau ragu, tinggal tanya saja.


Jalan kaki beberapa ratus meter dari rumah kontrakan Mbak Ima, saya tiba di pinggir jalan raya. Tak berapa lama, angkot hijau GBA – Buah Batu pun melintas. Itulah yang saya naiki sampai Pasar Kordon. Saya hanya perlu bayar Rp2.000,00.


Dari terminal jadi-jadian yang kecil itu, saya pun menyeberang. Menunggu angkot 09 arah Carrefour. Turun di perempatan Carrefour. Bayarnya Rp2.000,00 juga.


Kala melihat angkot 05 warna merah ngetem, saya segera naik. Memang ini angkot yang disarankan oleh Aa menuju Terminal Leuwipanjang. Ini terminal terbesar di Bandung, kayak Bungurasih di Surabaya.


Angkot yang saya tumpangi tidak masuk ke dalam terminal. Para penumpang diturunkan di seberang terminal. Tak masalah. Saya sekalian masuk ke sebuah toko, membeli sebotol air mineral. Lalu, menyeberang masuk ke dalam terminal.


Kalau hendak naik colt, penumpang harus berjalan memutar ke belakang. Tidak bisa masuk lewat bangunan tempat loket karcis berada. Ini atas saran petugas di sana. Saya patuhi. Ternyata, tak begitu jauh.


Di terminal yang bentuknya memanjang ini, saya akhirnya melihat tulisan Ciwidey terpampang. Colt yang menuju ke Ciwidey berbaris di situ. Hanya ada dua colt, waktu itu. Saya naik colt yang hampir penuh. Tinggal menunggu beberapa penumpang saja, lalu berangkat.


Di dalam colt yang mulai berjalan ini, saya berkenalan dengan seorang ibu berjubah panjang hitam tanpa cadar. Bukan ras Arab. Orang asli Ciwidey. Olehnya, saya diberitahu untuk naik angkot yang dia naiki nanti dari Terminal Ciwidey ke Gerbang Kawah Putih. Saya pun mengiyakan.

Karena mendapat info dari sang ibu bahwa perjalanan masih jauh, saya sempatkan diri melayang ke alam mimpi.

Beberapa puluh meter sebelum sampai di Terminal Ciwidey, sopir menghentikan colt. Dia turun menarik bayaran dari penumpang. Ongkosnya Rp7.000/orang.


Memasuki terminal padahal belum jua turun dari colt, yang tampak di mata saya adalah suasana kering berdebu. Landasan terminal tidak benar-benar mulus oleh aspal. Justru berkerikil dan tanah kering beterbangan kala angin bertiup kencang. Warna cokelat yang perih di mata juga mendominasi. Lantas, saya teringat dengan perkataan Aa Risyan dan Mbak Ima bahwa sekarang lagi musim kemarau. Ouch!


Ibu kenalan saya lekas turun dan langsung naik angkot warna kuning tujuan gerbang Kawah Putih. Saya pun ikut. Tidak ada waktu untuk berleha-leha observasi terminal. Saya juga diburu waktu. Kala itu menjelang pukul 2 siang.

Di sinilah saya mulai lost orientation. Saya seakan lupa dengan informasi dari Mbak Ima yang tertuang di status Facebook. Saya terpukau oleh udara dingin Ciwidey yang menerpa kulit wajah saya. Juga pemandangan kiri kanan saya dengan deretan rumah diselingi kebun strawberry. Tanah yang hitam gembur, jalanan yang sempit, serta bukit-bukit di kejauhan. Tak jauh berbeda dengan kawasan Batu, Malang.

Sementara itu, sopir angkot kuning ini melajukan kendaraannya dengan kencang dan berisik. Ia main salip dengan kendaraan lain. Dan seakan tak takut dengan kendaraan lain yang melaju dari arah depan. Padahal jalanan sempit. Tak tanggung, ekspresi geram muncul dari wajah para penumpang. Kami berpandangan dan menarik napas. Memaklumi.

Seorang perempuan berkerudung naik dengan tumpukan mika plastik berisi strawberry. Ia mengenakan jaket yang cukup tebal. Tertebak, ia memang penjual strawberry di Ciwalini, sebuah area wisata pemandian air panas. Lokasinya melewati gerbang Kawah Putih.


Menjelang tiba di gerbang Kawah Putih, penumpang perempuan ini banyak memberi saran pada saya. Turun di gerbang Kawah Putih dan melanjutkan perjalanan dengan ontang-anting (colt yang telah dimodifikasi body-nya sehingga penumpang duduk berbelakangan satu sama lain, mirip mobil satpol PP). Ongkosnya hanya Rp10.000,00 pulang pergi. A
tau saya carter angkot kuning yang sedang saya tumpangi ini menuju Kawah Putih, ditunggu di sana, dan diantar kembali ke Terminal Ciwidey. Nah, ketika saya tanya ongkos, sang sopir minta Rp150.000,00. Itu sudah termasuk tiket masuk ke Kawah Putih seharga Rp12.000,00/orang.


Saya dilanda galau. Sungguh, saya seakan lupa informasi dari Aa Risyan dan Mbak Ima. Saya juga baru tahu di lokasi kalau ada angkot bernama ontang anting ini. Saya kira, karena waktu sudah sore, tak ada alternatif selain angkot kuning yang sedang saya duduki tersebut.


Saya awalnya menolak. Saya tidak mau bayar sebegitu mahalnya. Saya sudah turun di depan gerbang Kawah Putih. Ketika menyodorkan duit Rp100.000,00 sebagai ongkos, sopirnya tak ada uang kembalian. Jujur, duit pecahan kecil saya tidak ada. Lha kok penumpang penjual strawberry itu malah menyarankan saya naik lagi ke angkot. “Ikut saja dulu ke Ciwalini. Nanti pakai angkot ini saja, Kang, ke Kawah Putih. Ditungguin, kok! Tenang, orang sini tak ada yang jahat,” ucapnya seakan membaca raut wajah saya yang keberatan. Sebenarnya, keberatan saya bukan pada kecurigaan akan dijahati, tapi saya ogah bayar mahal.


Bimbang. Saya tak sempat cek informasi di status Mbak Ima lagi. Saya tidak tahu kalau ada angkot dari gerbang menuju Kawah Putih bernama ontang anting. Saya juga seolah tak diberi kesempatan untuk berpikir oleh sopir angkot untuk observasi sekeliling. Mungkin karena ia membaca radar bahwa saya orang jauh, dari Surabaya, ke Kawah Putih sendirian, penumpang yang potensial buat dimintai bayaran besar, dan tidak mungkin ke tempat sejauh ini dengan modal cekak.


Jujur, saya berbohong waktu dimintai bayaran ratusan ribu ke Kawah Putih. Saya bilang, tak ada duit segitu. Tapi, itu tadi. Bukan sopir cerdik namanya kalau tidak ‘membaca’ penumpangnya.


Setelah mengantar dua penumpang ke Ciwalini, tinggallah saya berdua dengan sopir. Saya diminta duduk ke depan, di sampingnya.

Sungguh, saya masih belum ikhlas harus bayar mahal.

Tapi, demi pengalaman. Saya pun coba jajal. Dan, inilah yang jadi perusak mood saya yang pertama.

Namun, saya mulai menyadari. Bukankah ternyata saya dapat cerita yang berbeda?

Lalu, terbentanglah di benak saya kalimat yang telah digoreskan Mbak Ima dalam catatannya di Facebook selama perjalanan saya menuju Kawah Putih, “Gak papa, ya Dek? Tidak apa-apa tidak kutemani. Ah, biarlah, insyaAllah ia makin jago backpack!


Doa Mbak Ima terkabul. Saya langsung dapat tantangan. Pelajaran yang amat berharga untuk backpacking berikutnya. Terima kasih, suhu!

[bersambung]

  1. Catatan Mbak Ima yang dituliskan di Facebook, bisa disimak di sini. Beberapa informasinya saya cocokkan dengan kondisi di lapangan.
  2. Foto-foto di Kawah Putih, bisa dilihat di sini.

Iklan

34 thoughts on “Estafet ke Kawah Putih

  1. masfathin said: wah bersambung 🙂 ditunggu sambungannya ya Tah

    Iya, sambungannya akan cerita tentang pengalaman saya di Kawah Putih sendiri :)) Salah satu pengalaman tergalau dalam backpacking yang pernah saya alami. Hehehe

  2. masfathin said: Nah ini bagus buat pengalaman. Hayo ditulis Tah 🙂

    Hahaha… I will! :))Lagi ngumpulin energi. Karena galau ternyata menguras :))

  3. lafatah said: pake self-timer, mbak :))

    hmmmm dengan jarak segitu yah…mantappp kujuga klu pergi sendirian pake selt timer yg 3x sekaligus jd lgsg gaya 3 x haha

  4. hebat euy, backpacking sendirian, sy msh blm berani pergi sendirian, kecuali sy emank udh tau atau udh pernah ke tmpt yg dtuju, br deh berani sendirian, hehe

  5. wah…kawah putih :Daku dulu berdua sama temen dr dago ke lw.panjang, naik colt ke terminal ciwidey trus charter angkot 75ribu/per orang (dari terminal ciwidey-masuk ke kawah putih-balik ke terminal ciwidey, tapi nggak termasuk tiket masuk). ditunggu nih lanjutan ceritanya :))

  6. tintin1868 said: eh pake bersambung..nah itu ku juga sering lost orientation kalu udah di medan..

    Iya, kalau jadi satu cerita, kepanjangan. Hehehe…Tapi, mbak ngandalin peta nggak atau GPS lokal? 😀

  7. nora23 said: hebat euy, backpacking sendirian, sy msh blm berani pergi sendirian, kecuali sy emank udh tau atau udh pernah ke tmpt yg dtuju, br deh berani sendirian, hehe

    Hal yang wajar, apalagi kalau perempuan. Bukan meng-underestimate. Sebab, ada pula beberapa perempuan tangguh dalam solo-backpacking. Trinity atau Mbak Imazahra, contohnya. Sekalipun pergi sendiri, setidaknya sudah punya bekal informasi yang memadai. Browsing, tanya orang, tanya teman, terutama, itu bisa diandalkan 🙂

  8. imazahra said: Eh, jadi, kamu akhirnya gak naik angkutan yg disediakan pihak Kawah Putih, atau bagaimana? :-D. Agak bingung baca kisahmu ini 😀

    Tunggu kelanjutannya, Mbak Ima. Akan terang-benderang di catatan kedua :)*bikin Mbak Ima penasaran*

  9. tinggalbaca said: wah…kawah putih :Daku dulu berdua sama temen dr dago ke lw.panjang, naik colt ke terminal ciwidey trus charter angkot 75ribu/per orang (dari terminal ciwidey-masuk ke kawah putih-balik ke terminal ciwidey, tapi nggak termasuk tiket masuk). ditunggu nih lanjutan ceritanya :))

    Berarti sama dong jatuhnya yak??? Rp150 ribu/angkot? Beuuuh… Nah, saya jadi nggak perlu keberatan lagi kalau begitu. Karena ternyata Endah mengalaminya juga dengan biaya yang sama. Bedanya, saya sendirian dan itu sudah termasuk karcis masuk Kawah Putih :))Oke, ntar saya cerita lagi…

  10. lafatah said: Iya, kalau jadi satu cerita, kepanjangan. Hehehe…Tapi, mbak ngandalin peta nggak atau GPS lokal? 😀

    ngandelin semua.. dulu kalu jalan suka bawa peta juga omongan orang lokal.. malas bertanya sesat di jalan, banyak bertanya tambah tersesat.. jadi pake feeling saja..sekarang sih lebih asik ngandelin temen setempat.. ato recepsionis..

  11. lafatah said: Tetap, GPS terbaik versi saya adalah penduduk lokal. Kalau ragu, tinggal tanya saja.

    perlu ati2 juga ama yg ini, Tah… standar jauh-dekat orang desa ama orang kota itu gak sama… hehehe…pengalaman pribadi kalo naik gunung nih… tiap papasan ama penduduk selalu nanya “puncaknya masih jauh, Pak?” dan selalu dijawab “udah deket, mbak… satu kilometer lagi…” atau “deket, mbak… satu jam lagi…”padahaaaaal….. masih perlu berjam-jam lagi untuk nyampe puncaknya… 😀

  12. aku nyesel bgt dulu gak sempat mampir ke kawah putih… padahal udah deket banget. waktu itu aku jadi panitia Jambore Petualang Indonesia di Ranca Upas. padahal udah pada ngerencanain, kalo ada waktu, kami, para panitia mau ‘kabur’ bentar ke kawah putih…. eh, ternyata sibuk bgt jadi panitia. sampe gak ada waktu buat ‘kabur’…

  13. dieend18 said: tiap papasan ama penduduk selalu nanya “puncaknya masih jauh, Pak?” dan selalu dijawab “udah deket, mbak… satu kilometer lagi…” atau “deket, mbak… satu jam lagi…”padahaaaaal….. masih perlu berjam-jam lagi untuk nyampe puncaknya… 😀

    hahaha standar satu jam dan satu kilo penduduk sana kan beda sama kita yang buta medan..

  14. huhuhu belum kesampaian ke sana… padahal ke Bandung udah dua kali… *karena hanya sebentar saja dan jadinya ndak sempat jalan2 jauh ke sana*

  15. tintin1868 said: dulu ku malah jalan kaki.. lumayaaaaannn..

    wohooo…saya kalah telak :)) tapi, rame2 ya ke sananya, mbak? kalo rame, nggak berasa capek di jalan.

  16. nora23 said: iya, yg jelas, bpk ibu yg ga ngebolehin, dan sy maklum skali kalo bpk ibu ga kasih ijin, hehe

    Iya, maklum banget… Nggak jauh-jauh, adik perempuan saya, contohnya. Kuliah tidak di Surabaya saja, ortu saya mikirnya ‘kejauhan’ :))

  17. dieend18 said: perlu ati2 juga ama yg ini, Tah… standar jauh-dekat orang desa ama orang kota itu gak sama… hehehe…pengalaman pribadi kalo naik gunung nih… tiap papasan ama penduduk selalu nanya “puncaknya masih jauh, Pak?” dan selalu dijawab “udah deket, mbak… satu kilometer lagi…” atau “deket, mbak… satu jam lagi…”padahaaaaal….. masih perlu berjam-jam lagi untuk nyampe puncaknya… 😀

    Hahaha…Pas banget saya abis baca catatan teman saya tentang perjalanannya ke Dieng. Persis. Kalau orang gunung, karena sudah terbiasa lewat jalur tersebut, baginya dekat. Tapi, bagi orang yang pertama kali trekking ke situ, bisa saja terkaget-kaget 😀

  18. tintin1868 said: hahaha standar satu jam dan satu kilo penduduk sana kan beda sama kita yang buta medan..

    Hahaha… banget!Jadi, ini kali ya anggapan muncul bahwa waktu itu relatif? 😀

  19. dieend18 said: aku nyesel bgt dulu gak sempat mampir ke kawah putih… padahal udah deket banget. waktu itu aku jadi panitia Jambore Petualang Indonesia di Ranca Upas. padahal udah pada ngerencanain, kalo ada waktu, kami, para panitia mau ‘kabur’ bentar ke kawah putih…. eh, ternyata sibuk bgt jadi panitia. sampe gak ada waktu buat ‘kabur’…

    Waaah…eman ya, mbak? Tapi, mau gimana lagi??? Sering kali kita kalau sudah di satu daerah tertentu, pengin ke semua objek wisata yang ada di sana, tapi kadang muncul variabel ini itu yang bikin hal tersebut tertunda. Ini pertanda bahwa mbak harus ke sana lagi :)) Semoga kesampaian yaaaa

  20. nanazh said: huhuhu belum kesampaian ke sana… padahal ke Bandung udah dua kali… *karena hanya sebentar saja dan jadinya ndak sempat jalan2 jauh ke sana*

    Anaz kudu ke sana di kesempatan ketiga yak? Karena nggak rugi, menurut saya. Kalau saya sih, karena agak diburu waktu, jadi lebih banyak ‘menikmati’ perjalanan ke sana dan pulangnya. Justru, saya banyak menuai cerita dari perjalanannya sendiri :))

  21. lafatah said: kudu ke sana di kesempatan ketiga yak? Karena nggak rugi, menurut saya. Kalau saya sih, karena agak diburu waktu, jadi lebih banyak ‘menikmati’ perjalanan ke sana dan pulangnya. Justru, saya banyak menuai cerita dari perjalanannya sendiri :))

    ah iya juga… bisa jadi tuh… kesempatan kedua kemaren ke Tangkuban Parahu…semoga dah ada lagi hehehe

  22. nanazh said: ah iya juga… bisa jadi tuh… kesempatan kedua kemaren ke Tangkuban Parahu…semoga dah ada lagi hehehe

    Hehehe… Siiip!!!Kalau beneran ke sana, jangan lupa unggah-unggah 😀

  23. lailatulqadr said: lewat dpn kampus saya dong..? IT TELKOM.Kawah Putih itu t4 ‘main’ saya. cuma, saya gak ngangkot, tp naik motor..

    Hah? Kampus ITT di mana emang? Ciwidey? :))Baru tahu Mbak lulusan Bandung, saya kira di Surabaya.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s