Passion Pursuer

Hidup ini menarik karena ada pertarungan. Perjuangan.

Sperma bapak saya bertemu dengan indung telur ibu saya, jadilah saya. Sebelumnya, saya harus lomba lari dengan jutaan sperma lainnya. Saya menang dan lahir di dunia ini.

Dua puluh empat tahun sudah saya menjalani hidup. Survival for the fittest. Tapi, itu terlalu ekstrem, menurut saya. Juga congkak.

Tentu, manusia-manusia lainnya diciptakan Tuhan, bukan semata-mata dianggap sebagai saingan. Kompetitor. Tapi, lebih dari itu. Untuk saling kenal-mengenal. Mengenal orang lain, mengenal diri sendiri, mengenal Yang Maha Menciptakan.

Dan, saya dibekali ambisi. Ambisi yang entahlah genetis atau bentukan lingkungan. Saya kira, dua-duanya. Kompetitif adalah jiwa yang tertanam kuat dalam diri saya. Awalnya lewat lomba-lomba. Ketika membuahkan prestasi, lantas penasaran dengan pencapaian berikutnya. “Setelah ini, apa lagi? Lalu? Lantas?” Itu adalah pertanyaan yang lazim keluar.

Saya bukan orang yang suka berendam dalam kolam rutinitas, zona nyaman. Kegelisahan akan memapar saya dengan kuat. Fisik kadang menganggur, tidak dengan otak.

Sebab, ada yang sedang diperjuangkan. Ada yang hendak dicapai. Ada ‘sesuatu’ di atas sana yang memacu diri untuk menggapainya.

Namun, akan menjadi hal yang tidak seru kalau tak ada hambatannya. Akan tidak seru kalau tidak ada yang kontra. Akan tidak menantang kalau tidak ada yang mengibarkan bendera perang.

Hidup bukan di tangan orang lain. Hidup di tangan Tuhan yang didelegasikan pada diri sendiri untuk menjalankannya. Kadang meleset membaca navigasi. Kadang menghantam batu yang keras. Kadang jalannya mengular yang dirasa bagai tak ada ujung. Namun, keteguhan untuk terus melaju dan memikirkan cara mengatasinya, itu kiranya hikmah Tuhan menciptakan otak. Untuk berpikir.

Enak sekali memang hidup kita ini. Namun, kadang kita khilaf, tidak menikmati hidup sendiri, terus-menerus melirik orang lain. Jatuh iri, sakit hati, dan melemparkan ocehan-ocehan yang menyakitkan. Kalau yang diocehi berlagak “Do I care?”, ia tambah sakit hati. Mampus saja!

Namun, orang-orang yang hanya bisa mencibir, memang layak diberi ucapan terima kasih. Mereka justru memberi amunisi yang baik. Bukan dalam arti menembak dan membunuh, tapi menyuplai energi. Kendati dengan cara negatif.

Seperti yang sedang saya alami. Saya orang yang cenderung intuitif. Mengikuti intuisi saya. Jika ada jalan yang saya yakini benar, saya akan mengikutinya. Kalau pun saya salah nantinya, saya tak kapok belajar untuk tidak menyesalinya. Sekali lagi, jalan lurus bisa jadi menyenangkan. Tapi, jangan lupa ada pula bahayanya. Begitu pula jalan yang berliku-liku.

Ketika saya mendapat tawaran yang makin mendekatkan saya dengan cita-cita saya, saya akan mengikutinya. Mencoba mengukur kebermanfaatannya dalam sekian tahun ke depan. Kalau memang saya dapat ilmu dan pengalaman yang berharga yang akan menunjang cita-cita saya, saya akan ambil. Kendati dengan cibiran di kanan-kiri.

Saya yang menjalani hidup saya, bukan mereka.

Mengikuti arus, boleh saja memudahkan kita. Namun, kita hanya akan tenggelam dalam kerumunan. Monoton. Titik pembeda tidak ada.

Dan, kontra yang saya hadapi saat ini, akan saya kenang. Akan saya ingat. Dan, jika nanti saya bisa memberi bukti, saya harus berterima kasih pada mereka. Jika tidak bisa, saya harus tetap berterima kasih karena saya pernah melawan argumen mereka dan dengan itu, saya akhirnya bisa membesarkan energi dan akhirnya berada di titik tersebut.

“You never really understand a person until you consider things from his point of view… Until you climb inside of his skin and walk around in it.” — Harper Lee

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s