Mudik

Lebaran kali ini, saya tidak mudik. Sama dengan tahun lalu, namun dengan alasan yang berbeda. Jika tahun lalu saya tidak mudik karena sebulan sebelum Ramadan saya telah pulang kampung, maka tahun ini lebih dikarenakan janji saya pada diri sendiri. Janji untuk tidak mudik kalau skripsi belum kelar.

Entahlah, apa saya sendiri yang punya alasan macam begini. Atau, jangan-jangan para mahasiswa tingkat atas lainnya juga ada yang seperti saya? Tidak mudik karena akan direcoki oleh keluarga tentang skripsi. Gimana skripsi? Sudah bab berapa? Kapan wisuda? Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang cukup membuat hati kebat-kebit. Tentu, bagi pemalas macam saya. Tidak bagi yang sudah punya gambaran jelas serta target dalam penyelesaian skripsi mereka.

Sebenarnya, saya bisa saja pulang kampung. Tidak sekejam itu pula keluarga mempertanyakan skripsi saya. Hanya sangkaan buruk saya saja.

Karena, bapak dan kakak saya sempat melontarkan tanya tentang pulang tidaknya saya. See? Kalau mereka tidak izinkan saya pulang, tentu pertanyaan itu tidak akan keluar. Dan, sejak kapan mereka melarang saya pulang? Saya sendiri yang buat ketentuan. Buat janji pada diri sendiri. Mereka akan baik-baik saja menyambut saya. Tentu, mereka akan jauh lebih bahagia menyambut kedatangan saya kala studi S-1 ini benar-benar tuntas.

Tapi, bisa jadi saya sendiri yang berprasangka seperti ini? Ah, sudahlah! Kecamuk pikiran hanya bisa diurai kalau sudah mendapat second opinion. Valid tidaknya persangkaan hanya bisa diuji kalau para responden – dalam hal ini, keluarga – sudah saya tanya satu per satu. Beuuuh… Segitu ribetnya saya mikir!

Namun, dengan tidak mudiknya saya hingga dua kali lebaran, saya jadi belajar beberapa hal.

Pertama, saya jadi tahu kalau rasa rindu itu tidak amat istimewa. Bahkan, rindu atau kangen – terserah mau pakai istilah yang mana – masih bisa ditawar kadar istimewanya melalui kecanggihan alat komunikasi. Rindu yang disebabkan oleh jarak, bisa dilipat-lipat melalui percakapan suara di telepon, teks tertulis di sms, whatsapp, surel, dinding Facebook, atau mention di Twitter. Fisik boleh tak bertaut, tapi rindu kan lokusnya di perasaan, bukan fisik?

Jadi, rindu bukan lagi hal yang mewah bagi para perantau macam saya.

Kedua, saya bisa belajar mandiri. Mandiri bukan sifat yang permanen atau statis. Artinya, ketika saya berani ke luar Lombok untuk kuliah, maka secara otomatis saya punya sifat mandiri. Tidak. Mandiri itu proses. Latihan tanpa henti. Kalau pada awal-awal kuliah, patokan mandiri saya seputar bisa mengurus kebutuhan sendiri tanpa pendampingan lama, maka ketidakmudikan saya ini juga jadi ajang bagi saya untuk mandiri. Mandiri mengelola emosi, mandiri menata pikiran, mandiri membaur dengan masyarakat sekitar, mandiri mengatur keuangan, dan lain-lain, termasuk mandiri untuk tidak belanja barang-barang baru demi lebaran.

Kalau saat berada di rumah, saya bisa dapat angpau – belanja lebaran – dari kakak-kakak atau paman dan bibi saya, saat di rantau belum tentu. Kecuali, beberapa hari lalu, bapak dan kakak perempuan ketiga saya menyisipkan beberapa ratus ribu rupiah ke rekening saya. Alhamdulillah… Tak pernah terlalu berharap sebelumnya.

Ketiga, saya punya pengalaman tidak mudik. Hah? Maksudnya apa? Begini. Bagi saya, pengalaman sekecil apapun, saya menganggapnya sebagai harta tak ternilai. Sebab, saya bisa menjadikannya sebagai sumber ide tulisan.

Ini hanya berlaku untuk mereka yang menyeriusi dunia tulis-menulis?

Tidak juga. Pengalaman tidak mudik bisa menyimpan pembelajaran bagi siapapun. Namun, bagi saya pribadi yang gemar menulis dan suka cerita lewat aksara, pengalaman sebagai perantau yang tidak mudik itu, justru menarik untuk jadi bahan tulisan. Bagaimana rasanya gundah-gulana di kampung orang? Bagaimana rasanya membayangkan hidangan lezat di rumah, sementara saya hanya menyantap nasi bungkus beli di warung? Bagaimana misalnya, hari lebaran tahun lalu, saya di kontrakan saja memutar lagu All by Myself berulang-ulang? Pedih. Tapi, kalau saya tidak menjalaninya, saya takkan pernah tahu detail rasanya. Bisa saja saya mengada-ada, namanya juga penulis. Tapi, dengan langsung mengalaminya, itu jauh lebih afdal. Ketika menuliskannya pun, bisa lebih menjiwai. Saya kira, dari pengalaman-pengalaman macam beginilah W. Somerset Maugham menelurkan adagiumnya yang amat terkenal di kalangan penulis pengelana, “Kalau ingin menjadi pengarang, pergilah ke tempat yang jauh, atau merantaulah ke negeri orang. Lalu tulislah pengalaman-pengalaman yang didapat.”

Keempat, saya menggembleng diri untuk sesuatu yang lebih besar. Saya tukang mimpi. Suka membayangkan diri saya seperti ini atau itu pada beberapa tahun mendatang. Dan, apa yang akan saya capai nantinya, setidaknya telah saya siapkan dari sekarang.

Terkait dengan ketidakmudikan saya ini, saya membayangkan diri saya nantinya benar-benar lebih jauh lagi dari kampung halaman. Jika sekarang posisi saya dan rumah dipisahkan oleh sebuah pulau dan dua selat, saya bayangkan nanti saya dipisahkan oleh benua atau samudera. Dan, kesempatan untuk mudik pun tidak jadi lebih gampang. Makanya, puas-puas mudik dulu sebelum melayang ke tanah seberang yang lebih jauh lagi…

Ini saya bercermin dari beberapa teman narablog saya yang tinggal bersama suami mereka di negeri jauh sana. Yang satu, Mbak Helene, namanya bisa mudik ke Surabaya beberapa kali dalam setahun. Mbak Evia, lain lagi. Dia menjadwalkan mudik ke Surabaya dua tahun sekali. Alasan biaya, salah satunya, tak bisa dipungkiri. Lebih-lebih, ketika di Indonesia, jadwal mereka untuk liburan ke berbagai belahan bumi Indonesia bagian timur sudah menanti. Jadi, di tanah orang giat mencari rezeki, menabung. Lantas, pulang ke Indonesia, dipakai untuk jalan-jalan dan ragam kegiatan sosial lainnya.

Nah, kiranya itu beberapa hal yang coba saya sarikan dari pikiran saya tentang pembelajaran dari ‘tidak mudik’. Ini tentu saja personal sekali.

Bagaimana dengan pengalaman Anda?

N.B. Ada satu tulisan menarik tentang mudik yang ditulis oleh Maman S. Mahayana, dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Sila disimak di sini.

Iklan

12 thoughts on “Mudik

    • Hehehe…
      Alhamdulillah… Sudah sampai rumah dong ya sekarang? Selamat menyambut sukacita lebaran bareng keluarga ya 🙂
      Semoga harapan keluarga bisa kita penuhi dalam waktu dekat ini 🙂

  1. “Jadi, rindu bukan lagi hal yang mewah..” .. Yakin? Hihi..soalnya kalau udah lama ngga ketemu keluarga, cuma dengar suara rasanya tidak cukup…(bagiku sih) 😀

    Selamat lebaran, Fatah.

    • Hahaha…
      Ini hipotesis saya, mbak.
      Kevalidannya masih bisa dibantahkan setelah melalui perjalanan riset :))

      Selamat berlebaran juga, Mbak Anne. Selamat berkumpul dengan keluarga besar tercinta 🙂

  2. saya beberapa kali tidak mudik ke Lampung. Pernah merayakan lebaran di Jogja. pernah di Solo. Pernah di Jombang. Semua gara2 dosen yg tiba2 bikin ujian mendadak atau presentasi mendadak. tiket yg jauh2 hari sudah dibeli terpaksa di tarik kembali, dan ga kebagian tiket pulang. kalopun ada tiket pesawat, harganya sangat mahalllll.

    Tapi itu dulu, sekarang jarang sekali mudik karena alasan kerjaan. Bos yg “tiba-tiba” menegakkan displin atau alasan kerjaan saya yg penting hingga tak bisa ditinggalkan. Sampai sekarang, saya masih misuh-misuh kalo juragan ga kasih saya ijin mudik ke lampung. Pernah saya sumpahin, kalo anaknya bakal dapet kerja yg jauuuuh bgt. biar dia ga bisa ketemu anaknya bertahun2, mesti pingin bgt ketemu. Huaha. rasanya saya mmg konyol bgt. Entahlah. tapi di kantor, rumah saya mmg yg paling jauh. Satu2nya perantau dari luar jawa. Meski begitu saya bangga, dan ga pingin pulang kampung. Seorang sahabat berkata, “kita harus berterimakasih pada jarak yg telah mengajarkan kita arti rindu” 😉

    Apapun itu, mudik ato tidak mudik mmg harus dirasakan sendiri. Bagian dari pengalaman. Bagian dari menjadi hidup. Mari mudik! #kalemtanpaeh

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s