Saya vs Soleh Solihun

“Maaf saya mengacuhkanmu selama beberapa tahun terakhir. Multiply sempat membuat saya berpaling darimu. Hehe. Sekarang saya rindu menulis di sini. Menulis blog yang tak berharap pamrih. Maklum, menulis di Multiply yang punya fasilitas untuk melihat siapa saja yang membaca tulisan kita, lama-lama membuat motivasi menulis jadi malah karena ingin dibaca.

Segini saja dulu ya. Mudah-mudahan keinginan untuk menulis di sini tumbuh lagi. Bagi saya, menulis di blogspot terasa lebih tulus. Karena tak tahu siapa yang telah membaca tulisan ini, jadi motivasi menulisnya karena memang hanya ingin menulis, bukan karena berharap respon orang.”

Membaca dua paragraf di atas di blog Soleh Solihun, seorang Stand Up Comedian yang baru-baru ini juga menelurkan buku “Celoteh Soleh”, saya seakan punya kawan sekegelisahan (entahlah, ini kosakata apa pula!). Sebelumnya saya aktif menulis di  Multiply. Beberapa blog saya di Blogspot dan Blogdetik tidak begitu saya urus. Bisa jadi karena tema blog saya di luar Multiply terlalu tematis: ada tentang ibu saya, tentang perjalanan, juga flash fiction. Hal ini membikin saya untuk ‘mengharuskan diri’ mencari ide-ide tulisan yang niche. Sementara saya tipe orang yang suka berpikir acak, tidak suka membatasi diri pada satu topik. Sehingga, ada gagasan-gagasan yang tidak terwadahi oleh blog tematis saya itu. Maka, jadilah ia saya tumbuhkembangkan di Multiply saya. Apa saja yang ingin saya tulis saya cekoki di situ. Sayang, rumah maya yang saya bangun sejak 2007 itu akan ditutup oleh pihak Multiply per 1 Desember 2012. Masih muda sekali.

Jujur, yang membuat saya betah ngeblog di Multiply adalah interaksi dan kekaribannya. Satu hal yang saya yakin akan diamini oleh semua MPers (sebutan untuk narablog Multiply). Bahwa, sistem pertemanan di Multiply tidak hanya terjalin di dunia maya, tapi juga nyata. Bahkan, saat kopdar pun, seakan-akan bertemu kawan lama. Sungguh karib, guyub, dan intim (dalam arti, penuh kekeluargaan).

Namun, saya yang terbilang moody ini, kadang bersemangat berbalas komentar dengan teman-teman kadang tidak. Meski kebanyakan jurnal (baca: blog) di Multiply saya set untuk semua orang, tapi pada beberapa jurnal terakhir saya set untuk kontak. Isinya pribadi. Parahnya, (entahlah kontak saya menganggapnya demikian atau tidak), tidak semua komentar saya balas. Saya jenuh. Terlebih jika komentarnya senada. Apakah efek saya yang suka menunda-nunda? Efek prokrastinasi? Jadi, saya tunggu komentar silih berganti nongol di satu tulisan saya, sementara saya menunggu waktu yang ‘pas’ untuk membalasnya. Namun, dengan sejuta alasan dan sekubik kemalasan, akhirnya komentar-komentar itu pun hanya saya baca, tidak saya tanggapi.

Ada rasa bersalah. Lebih-lebih pada kontak Multiply yang memang rajin mengunjungi blog saya dan tak pelit melontarkan komentar. Pun pada kontak Multiply yang ramah membalas komentar-komentar kami di posting-annya. 

Tapi, saya tidak ingin bermanis-manis muka dengan berkomentar. Kalau memang saya tidak sedang ingin komentar, ya cukup dengan jadi silent reader. Apalagi saya merasa di posting-an yang ramai komentarnya dan ternyata setelah saya pindai banyak obrolan di luar topik (katanya sih pertanda akrab), saya sering merasa tidak begitu kuat untuk unjuk komentar. Lebih asyik menikmati dagelan yang tersaji. Toh, berkomentar di blog tidak wajib hukumnya.

Kala membaca tulisan Soleh Solihun di atas, saya seakan memperoleh semacam justifikasi. Kendati hal ini perlu saya verifikasi dalam diri saya. Benarkah demikian? Benarkah saya menulis di blog untuk pamrih? Berharap imbalan berupa komentar?

Kadang saya merasa, kolom komentar, lebih-lebih view history di Multiply adalah fitur yang intimidatif. Saya bisa mengetahui siapa saja MPers yang melihat jurnal saya. Beberapa jurnal yang sifatnya ‘heboh’ akan memicu para MPers ‘berlomba-lomba’ menengok posting-an saya. Ini bisa mendatangkan kebanggaan. Semu. Bahkan, pada level tertentu bisa menimbulkan kejumawaan. Jurnal gue laku, laris manis tanjung kimpul! Kadang, muncul perasaan macam itu. Dan, itu sungguh mengintimidasi untuk bikin posting-an ‘serupa’ berikutnya yang mampu memancing MPers untuk menengok, lebih-lebih urun komentar. Hal senada pernah diungkap oleh Soleh Solihun dalam salah satu jurnalnya di sini.

Kendati, bukan karena faktor konten semata yang membuat orang lain untuk bertandang ke blog kita. Bisa juga faktor keramahan yang ditawarkan oleh sang narablog dengan menjamu tamu-tamunya lewat komentar berbalas atau faktor kedekatan emosional yang telah terbangun di dunia maya dan nyata.

Jadi, saya tidak sepenuhnya setuju dengan dua paragraf yang ditulis oleh Soleh Solihun di atas. Ia tidak akan menulis demikian kalau tidak memiliki pembanding, yakni Blogspot, yang mana tidak punya fitur view history (Blogspot hanya punya fitur view stats – untuk lihat tingkat statistik kunjungan blog).

Dan, ini juga masalah niat. Kalau memang di dalam dirinya tidak ada niat untuk populer, misalnya, maka ia tidak perlu menuliskan uneg-uneg itu. Ia akan menulis karena memang ingin menulis, menyampaikan sesuatu yang tidak ingin ia simpan sendiri di kepalanya.

Bagaimana dengan saya? Saya sendiri tak jauh beda dengan Soleh Solihun, kok. Sempat khawatir juga kalau blog saya ini akan sepi. Tapi, saya pelan-pelan merasa jauh lebih baik begini. Menulis sesuka-suka saya. Tidak harus melulu tulisan atau foto traveling yang setahun belakangan ini sempat membuat saya terperangkap dalam citra sebagai travel writer. Buktinya, saya merasa sebagian diri saya tidak seperti itu. Saya lebih suka menulis bebas. Apa saja. Menguras kerak-kerak pikiran. Daripada jadi kerak yang membuat aliran darah di otak tidak lancar, mending di’tanam’ di sini. Siapa tahu berguna buat orang lain. Kalaupun tidak berguna, ya tak apa-apa. Kasihan huruf-huruf ini kalau dipaksa untuk melakukan apa yang tidak disukainya.

 

Iklan

21 thoughts on “Saya vs Soleh Solihun

  1. setuju, tah. bagi aku, dengan akan ditutupnya blog MP merupakan ujian bagi kita apakah kita serius buat nge-blog atau nggak. untuk sekarang aku sudah mulai nyaman di rumah ini dan mulai belajar rajin mengisinya.

    • Ya!
      Demikianlah. Bukannya jahat, tapi saya tidak mau ikut-ikutan galau massal karena MP hendak digusur. Move on memang berat, tapi kalau ada mainan baru – WordPress – kenapa tidak dinikmati? Toh dengan MPers masih bisa disambung lagi silaturahminya via jejaring sosial atau blog baru 🙂
      Yuk, mulai rajin menulis lagi 🙂

  2. enaknya komen apa ya??

    ehm… jujur pertemanan awal saya dengan orang-orang di dunia maya itu dimulai dari multiply tah, yang akhirnya bisa akrab di dunia nyata juga. entah telponan, sms-an malah terkadang suka konferenan di yeem. malah awal mula nemu teman jalan-jalan itu juga awalnya dapat dari multiply.

    o iyaaa… mengenai soleh solihun saya suka sama tulisan-tulisannya. dan juga udah punya bukunya =D *njuk ngopo sop? hehehe

    • ya, saya pun demikian. meminjam istilah Google Plus, saya punya ‘lingkaran’ teman yang lain dengan tergabung di Multiply. yang saya tulis di sini sebenarnya lebih ke arah urusan postingan. kalau mengenai pertemanan yang saya peroleh, itu lain hal dan malah membuat saya amat sangat bersyukur bisa punya kawan-kawan baru dari Multiply.

      btw, lucu nggak buku Celoteh Soleh? sampai detik ini belum juga tertarik untuk baca. hehehe

      • tapi enaknya di mp bisa set contact, di sini ndak.. *abaikan… tapi pernah ada masa emang aku jenuh di mp tah. jadi rajin nulisnya di potrehkoneng.com *sekalian promote blog satunya* =D malah ketika nulis di blogspot itu jadi lebih tulus karena yg komen adalah temen2 yg inget sama aku (menurutku) =D dan yang bikin nyaman di blog lain adalah kita bisa komen tanpa harus punya akun. itu sebuah nilai tambah dan nilai minus tersendiri juga kalo di blog lain.

        bukunya soleh lucu ndak itu tergantung kadar humor kita. kalo menurutku ndak lucu tapi apik tulisannya. =D

  3. tah.. jangan berfikir nulis blog itu nunggu dikomen deh.. ya nulis aja apa adanya.. itu menunjukan siapa dikau.. kalu minta pamrih, sakit hati sendiri..
    ku sih nulis ga mikir bakal dikomen apa engga.. dan bisa dilihat kan, kebanyak empeyer itu oot-er sejati.. baca ga baca, tetep komen.. tergantung “kedekatan” kita juga sih..
    awal ngempi ku ga mikir kaya dikau loh.. yang penting ku nulis.. blog kan perpanjangan diari kita.. padahal dulu kalu kita nulis diari, ga boleh ada yang intip.. eh sekarang kog pengen ada yang baca.. lucu jadinya..
    ku malah ga “ngeh” apa itu history viewer.. ga pernah perhatiin..

    • “view history” itu fitur yang paling bawah lho, mbak. yang ada kumpulan headshot MPers di postingan kita kalau mereka abis ngintip, baca, atau komen.
      untuk beberapa postingan, memang ada yang diniatkan untuk dikomen. tapi, ada juga yang cuma untuk melampiaskan uneg-uneg di kepala. ya itu tadi, saya bilang. daripada jadi kerak di kepala, mendingan dicurahkan. bahkan, kalau saya tidak ingin dikomentari sementara saya ingin nulis di blog, kolom komentarnya saya ‘disabled’. 🙂

  4. Fataah, aku juga mengalami hal yang sama soal komentar, kadang pas komen udah banyak gitu, ga tau kenapa kok malah enggan untuk membalas ya. jadi feel guilty juga sama teman2 semua.
    trus pas kemarin ada crash juga membuatku sadar kalau udah terlalu ‘dalam’ ngempinya sampe lupa untuk menulis yang serius, dalam artian untuk diterbitkan.
    nah dengan hilangnya fitur blog di MP ini aku coba untuk ambil sisi positifnya, moga bisa kembali konsen nulis.

    • Hehehe… Mantap, Mas!
      Saya kira, banyak pelajaran yang bisa diunduh dari digusurnya fitur blog di MP ini. Apapun motivasinya ngeblog. Segala macam kekhawatiran teman-teman Insya Allah akan ada peleganya. Ditunggu karya-karya ‘serius’nya, Mas 🙂

  5. Buatku, blogging itu masa depan. Seperti yang kamu bilang, menanam bijian untuk diambil buahnya kemudian. Belum pernah sih ngerasain yang namanya ‘pindah rumah’. Cuman kalo dari ilmu perkuliahan, blog ini semacam space. Ruang untuk berkreasi. Mungkin, kalo yang seperti kamu, blog is like a place. Place, kawan dari space, itu ruang pembentuk identitas. Sesuatu pasti ada maknanya. Lakukan connecting the dots a la Steve Jobs. Kalau place membuatmu nyaman, tapi membiaskan hasrat kejiawaan, mungkin itu yang dialami Solihun. Kadang, ngerasa takut juga untuk berharap terlalu banyak dari blog. Seperti emosi, apresiasi, atensi, bahkan adiksi (maaf kalo bahasaku EYD, ejaan yang diawurkan). Jadi, mungkin, berharaplah pada dirimu sendiri, kurangi kadar berharap pada sesuatu yang lain. You are what you write. If you write something ‘big’, you are the ‘big’, not the writings. So, wherever you go, you will make something ‘big’.

    Ayo, ditunggu kreasi2nya 🙂

  6. tangan saya gatel kalo tidak menulis komentar di blog manapun yang saya kunjungi.. mengomentari, maupun spam *ah, biar!*..

    mungkin karena saya tidak pernah mencicipi legitnya multiply, maka di awal ceria tadi saya kurang begitu ‘ngeh’..
    *tapi biarlah*

    selanjutnya, setuju atau tidak, ini adalah sebuah buah pikiran dari blogger yang tulen tidak berharap kepada statistik blog yang berada di atas angin, bergoyang dan tumbang sedikit sudah kelabakan..

    secara pribadi, gagasan yang terakhir itu saya kombinasikan dengan prinsip berkomentar untuk mencari pengunjung, well saya tidak perlu berpura – pura untuk yang satu ini.. *hehe*.. karena memang, antara nafsu ingin berpopuler dan loyalitas kepada prinsip semuanya ingin mengisi.. 😀

    oh ya, salam kenal dari Mataram..
    *brembe kabar?*

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s