Wisata Literasi ke Bentang Pustaka

Dua kali saya ‘main’ ke kantor Bentang Pustaka yang menerbitkan buku solo perdana saya, Travelicious Lombok, dan buku keroyokan bareng travel writers lainnya, TraveLove. Pertama pada 2 Agustus lalu. Kedua, pada 26 September.

Kunjungan pertama dan kedua ini, sama-sama terkait dengan urusan kuliah adik saya. Pada awal Agustus, ia tes tulis di STPN (Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional) di Gamping, Yogyakarta. Saya pun bikin janji dengan editor saya, Mbak Ikhdah Henny, untuk ‘main-main’ ke Bentang Pustaka. Melalui secuil alamat yang tertera di blog penerbit, selepas menjemput adik saya di lokasi ujian, kami berdua menuju kantor  Bentang Pustaka dengan motor sewaan. Sempat-sempatnya kami mencoba jalan baru (istilah halus untuk nyasar). Yang pasti, peta sudah terpampang di kepala, tinggal eksekusi dan main tanya kalau kesasar. Bolak-balik tanya, sampailah kami di Jl. Kalimantan No.9A Sinduadi, Mlati, Sleman.

Apa yang bikin saya tertarik main ke Bentang Pustaka?

Pertama, bukan masalah tertarik atau tidak. Tapi, janji dengan editor. Pada Maret lalu saya sempat bertemu beliau di pelataran Borobudur saat pawai lampion Waisak. Saya janji untuk ke Bentang keesokan harinya. Tapi, ternyata tak kunjung bisa saya penuhi. Saya pun pamit ke Surabaya dan mohon permakluman.

Tesnya adik saya di STPN ini, bisa jadi alasan yang ampuh untuk ke Bentang.

Kedua, cinta dunia literasi. Saya senang ke tempat-tempat yang menyimpan aura literasi. Toko buku, perpustakaan, pameran, atau kantor media. Selain bisa membuat saya merasa hidup kembali, tempat-tempat seperti itu menjadi lahan bagi saya untuk terus belajar. Saya senang bertemu dengan penulis atau orang-orang yang bekerja di balik media, entah cetak maupun digital. Banyak yang bisa digali dari mereka. Sharing ilmu. Hal ini akan memacu saya kian giat lagi menekuni apa yang boleh saya sebut ‘calling’ ini. Panggilan. Panggilan untuk menulis. Menyebarluaskan ilmu lewat aksara.

Setidaknya, dua alasan inilah yang memacu saya untuk main ke Bentang.

Di depan kanto Bentang Pustaka

Di depan kanto Bentang Pustaka

Pada kunjungan pertama, saya senang sekali. Disambut oleh Mbak Ikhdah dengan wajahnya yang sumringah. Saya pun diperkenalkan pada para awak Bentang yang rata-rata sedang menghadapi komputer. Mereka sedang bekerja, tentu saja. Membaca naskah, mengedit, mengurus surat ini itu, juga merancang kaver buku. Saya bersalaman dan berkenalan dengan mereka. Salah satunya dengan Mbak Dewibherta yang selama ini saya temui namanya tercantum di halaman dalam, entah sebagai penerjemah maupun penyunting. Senang sekali rasanya. Semoga saat itu mereka tidak terganggu dengan kehadiran saya. Hehehe… 

Selain itu, saya juga berkenalan dengan salah seorang desainer kaver Bentang yang sedang mendesain kaver buku Claudia Kaunang “Rp3 Juta Keliling Taiwan“. Antara rancangannya yang saat itu saya lihat dengan yang terpampang saat ini di toko buku, tak jauh beda. Kaver yang cakep!

Bersama awak Bentang Belia

Bersama awak Bentang Belia. Mas Iqbal di samping kanan saya.

Lalu, Mbak Ikhdah mengajak saya ke lantai dua. Di sana awak Bentang Belia, lini Bentang Pustaka yang menangani naskah anak dan remaja, berada. Di situ pula, saya akhirnya bertemu dengan Mas M. Iqbal Dawami yang sebelumnya hanya saya kenal lewat dunia maya. Ya, Mas Iqbal adalah resensor buku yang karya resensinya sudah dimuat di banyak media, seperti Jawa Pos, Koran Jakarta, Seputar Indonesia, dan lain-lain. Saya berguru padanya untuk urusan tinjau-meninjau buku. Saya sering ditandai di catatan resensi bukunya yang dimuat di media. Senang, tentu.

Saya baru ngeh kalau Bentang Pustaka akan membuka lini baru yang menampung naskah-naskah keagamaan. Nah, Mas Iqbal ini menjadi desk editor-nya.

Berlagak bos

Berlagak Bos :))

Diapit oleh awak Bentang nan keren

Diapit oleh awak Bentang nan keren

 

Dengan para awak Bentang Belia lainnya, saya berkenalan. Salah satunya dengan Mbak Dila Maretihaq yang selama ini namanya acap saya temui di buku-buku terbitan Bentang Belia. Bagi saya, akan lebih mudah membangun chemistry perkenalan jika saya sudah kenal nama sebelumnya.

Saya juga akhirnya tahu siapa admin socmed Bentang Pustaka. Cewek berjilbab, pastinya. Tapi, saya tak ingat namanya. Dulu, saya sempat merasa geli saat anggota grup facebook Pembaca Buku Bentang (atau di akun twitter, ya?) menerka-nerka jenis kelamin sang admin. Tentu saja sang admin tak mau mengaku. Hihihi…

Menjelang pulang, Mbak Ikhdah menghadiahi saya buku Wow Konyol karya Rons “Onyol” Imawan. “Biar kamu punya bacaan yang berbeda,” pesan Mbak Ikhdah yang saya sambut dengan tawa. Ya, dia pasti paham jenis bacaan saya apa. Tak jauh dari buku-buku traveling. Mendapat buku bertema humor, saya girang saja dalam hati. Tak ubahnya penyegaran bagi saya. Dan, saya buktikan, saya tamatkan buku tersebut dengan cepat.

Saya dan Ofah, adik saya

Saya dan Ofah, adik saya

Di ruang tamu, saya dan adik saya sempatkan diri foto-foto dengan latar foto buku-buku best-seller Bentang. Laiknya saya sedang terima award. Tentu, terselip harapan kelak salah satu foto kaver buku saya dipigura dan dipajang di dinding itu.

Bagaimana dengan kunjungan kedua?

Kali itu, sudah ada kepastian adik saya diterima di STPN setelah melalui tes tahap kedua yang meliputi wawancara, kesehatan, stereoskopis, dan jasmani. Saya, atas titah bapak, kudu mengurus daftar ulang adik saya. Senin jelang siang (24/09) saya berangkat dari Surabaya dengan bus. Selasa, mengurus tetek-bengek keperluan kuliah adik saya, termasuk ambil barang-barangnya di PO Bus Safari Darma Raya, urus sidik jari di Polres untuk pembuataan SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian), belanja kebutuhan ospek di Pasar Beringharjo, dan buka rekening bank juga bikin ATM. Sorenya saya bertemu dengan Tim 1 Buku untuk Indonesia. Malamnya, muter-muter kota dengan kawan kuliah saya di HI yang kini lagi S2 Hukum di UGM.

Keesokan hari, barulah saya bersama Mbak Desi Puspitasari, berkunjung ke Bentang Pustaka. Tak pernah saya rencanakan sebelumnya. Ini gegara Mbak Desi posting foto (secara mobile) saya yang sedang ngudap bakso. Mas M. Iqbal Dawami urun komentar dan ‘mengundang’ kami ‘main’ ke Bentang. Saya hore dan iya-kan saja.

Kami berdua naik motor dari Malioboro. Motor Mbak Desi, tentu. Karena, saya gagal naik Trans Jogja. Nyasar – sebenarnya sih karena tidak mendengar dengan baik aba-aba dari petugas Trans Jogja. Saya turun di shelter keempat, bukan kedua. Karena rutenya lebih muter jauh lagi, saya pindah ke shelter kelima dengan jalan kaki. Untungnya tak jauh. Namun, dalam masa-masa penantian galau itu, Mbak Desi mengajak saya untuk ketemuan saja di Malioboro dan berangkat bareng dari sana.

Beberapa awak Bentang Pustaka sedang makan di warung tak jauh dari kantor. Ya, kami tiba saat jam makan siang. Mas Iqbal pun menawari kami makan. Saya pesan soto ayam dan es teh. Mbak Desi cuma es teh. Ini seakan-akan kami ‘menagih janji’ Mas Iqbal yang di komentar facebook memang bilang hendak mentraktir kami makanan dan buku. Hore!!!

Obrolan berlangsung di warung sederhana itu. Banyak hal kami perbincangkan. Tentang buku, keluarga, jalan-jalan, trekking, dan lain-lain.

Narsis bareng Hippocampus

Narsis bareng Hippocampus

Senang sekali karena pada kunjungan pertama, saya tak bisa obrol banyak dengan Mas Iqbal. Ia pun mengajak kami kembali ke kantor dan melanjutkan obrolan di sana. Ya, seperti yang sudah saya bilang, Mas Iqbal menghadiahi kami buku. Masing-masing satu. Karena Mbak Desi sedang fokus menulis cerita romance untuk sebuah lomba, saya sarankan ia untuk ambil The Mistress’s Revenge-nya Tamar Cohen. Sementara saya lagi-lagi dapat buku dengan genre berbeda, fantasi. Hippocampus-nya Tom Tancin. Penyuntinya, Mbak Dewibherta pula. Horeee!!!

Kalau saya ingat-ingat kembali kenangan itu, terutama pada kunjungan pertama, saya ingin tertawa. Saya merasa lagak saya seperti CEO yang sedang meninjau kinerja anak buahnya. Hahaha…

Bagaimana tidak?

Saya samperin satu per satu awak Bentang. Ajak mereka salaman. Lalu, dengan sok gitu bertanya apa yang sedang mereka kerjakan. Lalu, saya manggut-manggut bak bos dan sesekali nyeletuk. 

Entahlah, apakah mereka menangkap kesan begitu. Saya sendiri merasa demikian. Apa cuma perasaan saya doang? Ge-er dong? Hehehe…

 

Iklan

22 thoughts on “Wisata Literasi ke Bentang Pustaka

  1. Kantor bentang simple ya, dan hadiah bukunya ini yang bikin ngiler 😀 btw gak keliatan mas Imam Risdiyanto, beliau masih di bentang kan?

    • Iya, ini kantor baru mereka. Simpel. Tenang. Suasananya asyik banget.
      Dua kali ke Bentang, saya selalu ketemu Mas Imam. Tapi, dia memang agak sibuk, jadi nggak enak untuk ajak foto-foto macam begini :))

  2. Ping-balik: Ke Mana Saja Selama 2012? [Bagian 1] « Setapak Aksara

  3. ka mau tanya, di kantor bentang ada perpustakaannya tidak? harusnya nanya langsung sih kesana, cuma karena nemu tulisan ini, sekalian aja nanya disini. berhubung ka lalu udah dua kali kesana…

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s