Mengapa Saya Tidak Fasih Berbahasa Jawa?

Gambar

(Sumber: http://www.1dya.com) 

 

Enam tahun sudah saya di Pulau Jawa. Tepatnya di Jawa Timur. Tapi, sekian tahun tinggal di sini, tidak juga membuat saya fasih berbahasa Jawa. Ironis. Apa pasal?

Bahasa bukan sekadar ilmu. Ia adalah keterampilan. Keterampilan butuh latihan. Bahasa pun begitu. Kalau ia hanya dipelajari tanpa dipraktikkan sesering mungkin, seseorang tak akan bisa benar-benar fasih berkomunikasi.

Sama dengan saya. Kasusnya beda, tapi. Saya tidak sedang dalam rangka mempelajari bahasa Jawa. Tidak ambil jurusan itu di Airlangga. Tapi, ketidakfasihan saya berbahasa Jawa lebih karena persoalan kepraktisan. Saya tidak mau ribet. Saya punya alternatif bahasa yang sekiranya hampir semua warga negara Indonesia paham, yakni bahasa Indonesia. Karena itu, saya lebih cepat berkata dalam bahasa Indonesia daripada bahasa Jawa.

Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung. Pepatah itu aduhai sekali pesannya. Kita harus mampu beradaptasi di lingkungan kita berada. Tidak membawa arogansi ‘asal’ apalagi sampai merongrong budaya di lingkungan yang kita tempati. Pertukaran budaya boleh saja. Tapi, tidak sampai memaksakan satu sama lain. Belajar budaya sifatnya ketertarikan dan kerelaan. Bukan paksaan, apalagi di bawah ‘pedang’ intimidasi.

Saya sendiri bukan karena sombong sehingga tak mau belajar bahasa Jawa. Awal saya menginjakkan kaki di Tanah Jawa, tepatnya di Kota Malang, telinga saya menangkap percakapan-percakapan yang asing di telinga. Logatnya bisa saya kenali cepat karena faktor persebaran lewat media yang telah saya lihat dan dengar kala masih di Lombok. Tapi, untuk memahami kata per kata, butuh pembiasaan. Dan, bahasa itu bisa dicermati artinya jika gesture diperhatikan, konteks dipahami, atau ada acuan terhadap sesuatu hal. Itulah cara belajar paling alami, saya kira, lalu menirunya.

Sayang, belum ada kondisi ‘keterpaksaan’ yang membuat saya mau tak mau harus fasih berbahasa Jawa. Saya tinggal di wilayah yang lebih luas, yakni Indonesia, bukan Jawa. Saya tinggal dengan mayoritas suku Jawa yang juga paham bahasa Indonesia. Nah, demi alasan praktis yang saya ajukan di muka, maka berkomunikasi dalam bahasa Indonesia adalah pilihan yang paling rasional. 

Sejauh ini, jika berkomunikasi dengan orang sekelas mbah-mbah pun, tidak ada kendala berarti bagi saya. Apalagi pengalaman saya ngekos di rumah mbah di Malang dulu. Kami berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Sekalipun ia berbicara dengan bahasa Jawa, entah dengan sadar ataupun tidak sengaja, dengan saya, saya pun akan bertanya. “Artinya apa, Mbah?”

Kecuali kalau saya tinggal dengan orang-orang yang benar-benar tua kali ya. Sehingga di antara mereka amat sedikit yang bisa bahasa Jawa. Maka, saya sebagai anak muda, mau tak mau harus membi(a)sakan diri berbahasa Jawa.

Untunglah saya tinggal di Indonesia. Itu sebabnya, saya tak menyimpan khawatir berlebih kalau traveling dalam negeri. Orang-orang Indonesia, meski level pendidikannya hanya lulus SD atau bahkan tidak, saya yakin mereka bisa berbahasa Indonesia. Ini salah satu alat pemersatu dan ciri yang paling kentara untuk kita semua mengatakan diri sebagai bangsa Indonesia. 

Kendati menurut abang saya di Lentera Timur, tidak ada sebenarnya bahasa Indonesia. Yang ada adalah bahasa Melayu. Hanya Indonesia yang nama negara, bangsa, dan bahasanya sama. Mana ada negara lain yang nama bangsa dan bahasanya sama dengan nama negaranya. Contohnya, Amerika Serikat. Bangsanya Eropa – karena pada abad ke-18 penduduk AS adalah imigran dari Eropa. Bahasa mereka bukan bahasa Amerika Serikat, tapi bahasa Inggris. Contoh lain, Singapura. Bangsa mereka mayoritas Cina. Bahasa mereka Singlish (Singapore – English) yang merupakan campuran dari berbagai bahasa di sana. Jadi, mereka tidak memakai bahasa Singapura.

Ya, hanya Indonesia yang nama negara, nama bangsa, dan nama bahasanya sama. Indonesia.

Mengapa Indonesia tidak menggunakan bahasa Melayu? Nah, inilah yang menarik dikaji. Saya kira, penjelasan di tautan ini jauh lebih asyik disimak karena bernas dan didukung fakta yang sahih.

Jadi, mengapa saya tidak fasih berbahasa Jawa? Kembali ke inti komunikasi sih. Yang penting pesan dari komunikator (pengirim) bisa tersampaikan pada komunikan (penerima).

Tak perlu diheranpusingkan.

Iklan

20 thoughts on “Mengapa Saya Tidak Fasih Berbahasa Jawa?

  1. Aku nek nulis, lancar bahasa Jawa.
    Nek ngomong kagok kagok wkwk…
    Opo meneh kalo sama yang beda logat, beeeuh kyat kyat ora paham!
    Eh eh, “Kecuali kalau saya tinggal dengan orang-orang yang benar-benar tua kali ya. Sehingga di antara mereka amat sedikit yang bisa bahasa Jawa. ”
    sedikit bisa bahasa Indonesia bukan sih @.@

    • Hahah…
      Sama dong! Saya lancar kalo nulis sms dalam bahasa Jawa.
      Nah, kalopun nanti ketemu sama teman dan sms saya dibacakan, mereka lucu bayangin ekspresi dan logat saya membacakan sms tersebut 😀

      Ntar saya edit deh. Ini langsung nulis soalnya. Nggak pake tinjau ulang 😀

    • Hihihi…
      Iya, kecuali kalo tinggal di luar negeri yang jarang orang Indonesia-nya kali yak. Maka mau gak mau kudu belajar bahasa masyarakatnya 🙂

      Saya follow back juga, Mbak Arni 🙂

      • yups
        dimana bumi dipijak distu langit dijunjung khan
        saya lebih fasih berbicara dengan dialek Kendari daripada Bali
        wong saya lahir besarnya di Kendari 😀

        tengkiyu ya dah difolbek

  2. Mempelajari bahasa harus ada unsur ketertarikan jika sudah ada maka sebenarnya cepat apalagi lingkungan mendukung 🙂

    tapi apapun itu inilah kelebihan Indonesia dimanapun anda berada selama anda berada di Indonesia maka bisa menggunakan Bahasa Pemersatu yaitu Bahasa Indonesia

    Merdeka !!!

    • Hehehe… Iya, Mbak Elok. Kalau dalam hal ini, lebih ke masalah logat. Saya masih kurang pede kalau ngomong dengan logat medhok. Nggak saya banget, kesannya maksa. Dan, betul kata Mbak. Selama masih di wilayah Indonesia, masih diuntungkan oleh bahasa Melayu ini. Kecuali kalau sudah berada di luar negeri, misalnya, ada unsur terpaksa untuk menggunakan bahasa mereka 🙂

      • hahahahahah semangaaaat !!!

        logat mah hanya orang yang telah mendiami suatu wilayah tertentu dengan waktu tertentu biasanya yang bisa menguasai 🙂

      • Nah itu!
        Kalau cuma kalimat pendek-pendek yang tak butuh penakanan logat, saya masih bisa. Kalau sekiranya penjelasannya akan panjang, ya pakai bahasa Indonesia saja 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s