Hai, Saya Takabonerate!

TN Takabonerate dari Angkasa  (id.wikipedia.org)

TN Takabonerate dari Angkasa (id.wikipedia.org)

Hai, perkenalkan. Nama saya Takabonerate. Nama yang cukup unik dan eksotis, bukan? Jangan salah, pembuat tulisan ini bahkan merasa perlu berulang-ulang kali mengucapkannya dengan dipenggal jadi tiga suku kata: taka – bone – rate. Wajar, sebenarnya. Sebab nama saya ini memang terbentuk dari tiga kata dalam bahasa Bugis: taka artinya karang, bone artinya pasir, dan rate artinya di atas. Jadi, Takabonerate artinya hamparan karang di atas pasir.

Oke, urusan nama sudah jelas. Lantas, saya ini (si)apa sih sebenarnya?

Saya adalah Taman Laut Nasional yang terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Jarak saya dari Benteng, ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar adalah 25 kilometer. Sementara kalau dari Kota Makassar sekitar 300 kilometer. Terhitung jauh memang. Tapi, saya berani menjamin, Anda tidak akan kecewa dengan saya. Apakah saya terlalu percaya diri? Saya berani bilang begini, tentu ada alasannya.

Anda tahu Kwajalein di Kepulauan Marshall? Atau pernah mendengar Suvadiva di Kepulauan Maladewa? Mereka berada di peringkat pertama dan kedua sebagai karang atol terbesar di dunia. Lalu, di peringkat ketiga? Saya boleh berbangga. Sayalah di posisi ketiga itu. Oleh karena itulah, pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menjadikan saya sebagai salah satu ikon wisata bahari selain Tanjung Bira di Bulukumba. Bahkan, oleh Kementerian Lingkungan Hidup RI pada 7 Februari 2005 saya diajukan masuk dalam daftar tentatif (sementara) Situs Warisan Dunia UNESCO.

Jika dipikir-pikir, harga diri saya yang tinggi memang terdapat pada tubuh saya yang berbentuk atol ini. Asal-usul saya adalah sebuah gunung berapi yang meletus dan sisa-sisanya terendam sekitar 2.000 meter di bawah permukaan laut. Terbentuklah terumbu karang. Lantas, aneka tanaman laut mulai menumbuhi sekujur tubuh saya ini. Sampai-sampai ada satu bagian yang lapang sekali kayak sabana di daratan. Orang-orang menyebutnya padang lamun. Tak jauh beda kok dengan padang rumput. Bedanya, padang lamun ini hidup di laut dengan berbunga, berbuah, dan berbiji. Ikan-ikan kecil nan lucu acap kali main-main di situ. Berkejaran satu sama lain. Tak ubahnya kuda-kuda yang berkejaran di padang rumput deh.

Foto-foto: Disbudpar Kep. Selayar dan dr. Ben Wayan Suryani

Foto-foto: Disbudpar Kep. Selayar dan dr. Ben Wayan Suryani

Terus, kata orang-orang yang sudah pernah mengunjungi saya, topografi atau lekuk tubuh saya ini menarik. Saya berupa atol seluas 220.000 hektar yang terdiri atas pulau-pulau karang dan rataan terumbu yang begitu luas tersebar hingga 500 kilometer persegi. Kalau air laut sedang pasang, ada beberapa pulau yang masih nongol di permukaan, sisanya tenggelam. Jadi, buat Anda yang belum punya lisensi menyelam atau masih amatiran atau hanya bernyali untuk snorkeling, tak perlu khawatir untuk mencoba di sini. Nah, kalau sedang surut terendah, Anda bisa melihat bagian dari saya yang berupa daratan kering dari karang dengan genangan air yang mirip kolam-kolam kecil.

Foto-foto: Disbudpar Kep. Selayar dan dr. Ben Wayan Suryani

Foto-foto: Disbudpar Kep. Selayar dan dr. Ben Wayan Suryani

Bagi Anda yang mengaku pecinta wisata bahari, entah itu snorkeling atau diving, saya pantas sekali lho dikunjungi. Saya adalah salah satu titik penyelaman di Selayar selain pantai barat Selayar dan pantai timur Selayar. Setidaknya, ada 15 pulau karang yang bisa jadi titik penyelaman Anda. Kata Zul Janwar, Ketua Sileya Scuba Divers (SSD) Indonesia, salah satu yang paling oke untuk penyelam profesional adalah Tinabo Slope. Selain itu ada pula Latondu Wall, Latondu 1, Rajuni, Tinanja, dan Belang-belang. Jika belum puas, jangan lewatkan pula titik penyelaman Ibel Orange 1, Joan Garden, Softcoral Point, Wall Reef, Acropora Point, Corina Corner, juga Wall reef 3.

          Saya juga dapat pujian lho dari Riki Lasu, pengurus persatuan olahraga selam di Manado. Dia mengatakan bahwa kelebihan saya Si Takabonerate adalah karena memiliki sejumlah biota laut berupa bunga karang dan ikan yang tidak dijumpai di tempat lain seperti Bunaken. Bahkan, terang-terangan ia memuji saya di media, “Banyak penyelam menyebut bunga karang di Takabonerate jauh lebih indah. Para pengunjung belum pernah melihatnya di tempat lain.” Aiiih… Andai saya manusia sungguhan, mungkin pipi saya merona atau hidung saya kembang-kempis.

Tapi, sebelum Anda menilai saya sombong dan genit, mending kita klarifikasi omongan Riki Lasu tersebut. Yuk!

Merujuk pada data yang dihimpun Departemen Kehutanan tentang diri saya, saya memiliki 244 jenis moluska, di antaranya lola (Trochus niloticus), triton (Charonia tritonis), batulaga (Turbo spp.), dan nautilus berongga (Nautilus pompillius). Di salah satu titik, Anda bahkan bisa menjumpai begitu banyak nudibranch alias siput telanjang, sampai-sampai disebut Nudibranch Village atau Kampung Nudi. Saya kira, air hangat dengan temperatur 28°C – 32°C adalah salah satu penyebab betahnya mereka beranak-pinak di situ. Selain tentu juga karena ketersediaan makanan dan tempat tinggal yang disajikan oleh sekitar 261 jenis terumbu karang dari 17 famili, di antaranya Acropora palifera, Pavona clavus, Fungia concinna, dan sebagainya. Mayoritas mereka berkolaborasi membentuk terumbu karang atol (barrier reef) dan terumbu tepi (fringing reef). Dan, di sinilah 295 jenis ikan karang aneka warna juga turut menyandarkan hidup dan bertumbuh dengan riang. Dengan visibiltas berkisar 80 – 100 persen, eagle ray, manta ray, hingga hiu pun bisa Anda jumpai berlenggak-lenggok di depan Anda. Keberadaan mereka ini, tak bisa saya tampik,telah membuat daya pikat saya meningkat di mata para penyelam. Saya tak pernah bosan dipandangi.

Foto-foto: Disbudpar Kep. Selayar dan dr. Ben Wayan Suryani

Foto-foto: Disbudpar Kep. Selayar dan dr. Ben Wayan Suryani

Saya juga merupakan rumah bagi biota penyu. Ada sekitar empat jenis penyu yang bisa ditemukan di kantong-kantong air saya, meliputi: Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Tempayan (Caretta caretta) dan Penyu Hijau (Chelonia mydas). Jangan kaget kalau mereka Anda jumpai sedang asyik melayang di kedalaman.

Kekayaaan hayati laut dan keelokan rupa saya inilah yang kemudian membuat Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar menjadikan sektor kelautan, perikanan, dan pariwisata sebagai salah satu kekuatan mereka. Saya pun dipersolek, dipercantik, sekaligus dijaga hingga pertumbuhan terumbu karang di sekujur tubuh saya mencapai rata-rata 41 persen. Bagaimanapun juga, saya sedang disiapkan jadi destinasi wisata internasional. Biar tak hanya lokal yang mereguk keindahan saya, tapi juga turis mancanegara.

Bagaimana caranya biar orang ramai mengunjungi saya?

Takabonerate Islands Expedition 2012 (selayarunderwater.blogspot.com)

Takabonerate Islands Expedition 2012 (selayarunderwater.blogspot.com)

Ekspedisi Takabonerate, jawabannya. Event ini mulai diselenggarakan sejak 2009. Biasanya berlangsung pada bulan Oktober – Desember yang memang sengaja dirangkaikan dengan Hari Jadi Kepulauan Selayar. Tahun ini adalah tahun keempat perhelatannya. Sengaja dibuat sebagai event tahunan biar pamor saya kian naik di mata masyarakat internasional.

Adapun konsep ekspedisi ini adalah penyelenggaraan beragam lomba dan kegiatan terkait kebaharian. Pada 2009, acaranya mencakup International Fishing Tournament, Underwater Exhibition (diving dan snorkeling), serta exploring. Saat itu, sekitar 350 penyelam, termasuk 30 master divers dan 172 klub mancing, serta kurang lebih 620 penumpang kapal KRI Makassar 590 ikut ambil bagian.

Agenda Takabonerate Islands Expedition IV 2012 (blog.selayaronline.com)

Agenda Takabonerate Islands Expedition IV 2012 (blog.selayaronline.com)

Selain tiga mata acara di atas, pada Ekspedisi Takabonerate tahun ini, kegiatannya bertambah, antara lain: Lomba Fotografi Bawah Laut dan Lomba Foto Darat, Fam Tour, Lomba Penulisan Blog seperti yang sedang diikuti oleh pembuat tulisan ini, Parade Joloro Hias, Pagelaran Seni budaya, juga Bakti Lingkungan Hidup. Event tahun ini memang dipancang sebagai puncak tahun kunjungan wisata dalam bingkai Visit South Sulawesi 2012.

Demi kepuasan tamu yang hadir dari tahun ke tahun selalu diadakan perbaikan pelayanan dan sarana oleh pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar. Saya sendiri sudah pasti senang dengan iktikad baik tersebut. Bagaimanapun juga, percuma saja saya punya tampang yang aduhai, tapi para tamu mengeluhkan keminiman fasilitas. Untung saja, masyarakat dilibatkan dalam acara ini. Salah satu contohnya adalah masyarakat di Pulau Rajuni Kecil yang terlibat aktif menyediakan homestay bagi para turis yang berkunjung ke sana. Nilai plus bagi para turis, tentu. Karena selain bisa bermain-main di halaman terumbu karang saya yang luas, mereka juga bisa ikut menyaksikan sekaligus melebur dengan aktivitas tradisional masyarakat suku Bugis dan Bajo yang menetap di situ. Mau melihat proses pengeringan ikan, bisa. Mau mengamati pembuatan kapal kayu, bisa. Hendak ikut mencari kerang laut, bulu babi, atau obrol-obrol santai dengan warga juga bisa. Ssssttt… Buat yang lidahnya selalu penasaran, coba deh kuliner masyarakat sini. Ada ikan bakar, kolak sukun, bakso cakalang, bahkan tie-tie (bulu babi). Pasti jadi pengalaman yang tak terlupakan seumur hidup.

Anda ingin mengalami semua petualangan itu? Datang saja ke acara Ekspedisi Takabonerate. Kalaupun waktu dan dana Anda sedang tidak cocok, Anda bisa kok mengunjungi saya pada bulan April – Juni atau Oktober – Desember tiap tahunnya. Saya selalu setia menunggu kehadiran Anda.

Lantas, bagaimana mencapai saya?

Peta Menuju Takabonerate (tntakabonerate.com)

Peta Menuju Takabonerate (tntakabonerate.com)

Cobalah naik bus dari Makassar ke Bulukumba dengan waktu tempuh lima jam. Lanjutkan dengan kapal feri hingga tiba di Pelabuhan Pamatata Selayar dengan waktu tempuh dua jam. Terus, lanjut ke Benteng dengan waktu tempuh 1,5 jam. Nah, untuk mencapai pulau terdekat, yakni Rajuni Kecil, Anda bisa menggunakan kapal kayu dengan waktu tempuh lima jam. Kalau Anda berduit sekali, bisa kok menjajal pesawat Cassa-200. Trayeknya Makassar – Pulau Selayar.

Cukupkah? Jika iya, saya hendak menunjukkan pada Anda bagaimana sih sebenarnya paras saya yang dari awal saya gembar-gemborkan. Semoga semua deskripsi yang diceritakan oleh pemilik blog ini tidak berlebihan alias lebay. Film dokumenter ini dibuat oleh pihak Taman Nasional Takabonerate.

Oya, saya memang belum sebeken teman saya, Si Bunaken, Si Wakatobi, Si Togean, juga Si Raja Ampat. Tapi, pembuat tulisan ini berani meyakinkan saya bahwa ini masalah waktu saja. Dia bilang bahwa saya akan jadi salah satu primadona para penggemar wisata bahari di dunia. Melalui Ekspedisi Takabonerate, salah satunya.

Temui saya, ya. Saya tunggu lho!

PS:

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Takabonerate di Blog yang diadakan MyMakassar.

Sumber Referensi:

–          Diving: Mencari Surga di Bawah Laut (http://travel.detik.com/read/2012/07/05/073006/1957990/1383/diving-mencari-surga-di-bawah-laut) diakses pada 24 Oktober 2012

–          Festival Takabonerate (http://www.festivaltakabonerate.com/?m=bWVudT0xMzE3MTIzNzY4) diakses pada 24 Oktober 2012

–          Foto-foto koleksi Disbudpar Kep. Selayar dan dr. Ben Wayan Suryani (fesivaltakabonerate.com) diakses pada 24 Oktober 2012

–          Gundukan Karang 21 Pulau (http://wisata-alamku.blogspot.com/2009/08/gundukan-karang-21-pulau.html) diakses pada 25 Oktober 2012

–         Menyelami Seribu Pesona Bawah Laut Kepulauan Selayar (http://travel.detik.com/read/2012/04/16/123802/1893322/1025/menyelami-seribu-pesona-bawah-laut-kepulauan-selayar?vt22011024) diakses pada 25 Oktober 2012

–          Ratusan Penyelam Ekspedisi Takabonerate Kelaparan (http://esq-news.com/nasional/2009/10/26/659/ratusan-penyelam-ekspedisi-takabonerate-kelaparan.html) diakses pada 25 Oktober 2012

–         Sepetak Surga Itu Ada di Dalam Laut Takabonerate (http://travel.detik.com/read/2012/06/04/081251/1931692/1025/4/sepetak-surga-itu-ada-di-dalam-laut-takabonerate#topart) diakses pada 24 Oktober 2012

–          Takabonerate, Surga di Bawah Perairan Sulawesi Selatan (http://travel.detik.com/read/2012/02/09/134348/1838322/1025/5/takabonerate-surga-di-bawah-perairan-sulawesi-selatan#topart) diakses pada 24 Oktober 2012

–          Taman Nasional Takabonerate (http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_takabonerate.htm) diakses pada 24 Oktober 2012

–          Visit South Sulawesi 2012 – Sail Takabonerate Jadi Event Penutup (http://sailtakabonerate.com/2012/04/visit-south-sulawesi-2012-sail-takabonerate-jadi-event-penutup/) diakses pada 25 Oktober 2012

Iklan

28 thoughts on “Hai, Saya Takabonerate!

  1. keren tah bahasamu.. kata ganti ketiga eh keberapa? seolah takabonerate yang bercerita sendiri..
    udah kesana tah? jadi pengen kesana.. ketiga di dunia ternyata punya kita ya..

  2. Ping-balik: Ke Mana Saja Selama 2012? [Bagian 1] « Setapak Aksara

  3. jempol… reportnya bagus.. POV nya cantik.. ngolah datanya juga asyik..

    kalau gak menang.. paling masalah selera Juri..:)

    selamat ya Lalu.. suka banget uni baca cara Lalu menuliskan si Taka-boner-rate ini..:)

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s