Berbagi Semangat Jelajah Negeri

Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. (Soe Hok Gie)

Dekade belakangan ini, traveling menjadi sesuatu yang seksi di kalangan anak muda Indonesia. Mereka bangga memanggul ransel keluar rumah, tidak takut legam terbakar matahari, doyan memburu tiket promo, memilih moda transportasi umum yang murah meriah, dan mencoba penginapan yang kadang tidak begitu nyaman. Ada rasa bangga menyelinap ketika sebutan ‘backpacker‘ dijuluki pada mereka.

Ini fenomena yang menggembirakan, setidaknya bagi saya. Sebab, saya juga merupakan bagian dari anak muda doyan jalan-jalan tersebut. Hobi backpacking itu dimulai saat saya melakukan perjalanan dengan kereta ekonomi menuju Jakarta dari Surabaya pada 2009. Tujuan saya, rumah seorang teman narablog di Bogor. Dengan panduan tertulis, saya mantapkan diri keluar sejenak dari rutinitas kuliah dan kehidupan sebagai anak kos.
Saya naik kereta Gaya Baru Malam Selatan dari Stasiun Gubeng dan turun di Stasiun Jatinegara. Dari sana, saya naik angkot menuju depan kampus UKI. Lantas, sambung dengan bus tujuan Bogor. Di Kota Hujan, saya perlu ganti angkot dua kali untuk mencapai rumah teman saya tersebut. Wuoooh… Such a long journey!

Dari kiri ke kanan: dari Kebun Raya Bogor lanjut ke Kampus UI, Depok

Dari kiri ke kanan: dari Kebun Raya Bogor lanjut ke Kampus UI, Depok

Di Bogor, saya putar-putar di kampus IPB, mencoba yoghurt yang dibuat oleh koperasinya, mengunjungi toko roti teman sekalian kopdar, ke Kebun Raya, juga mencoba soto khas Bogor di depan Botani Square. Saya dan teman melanjutkan perjalanan ke Depok, main-main di UI yang sempat menjadi kampus impian saya saat SMA.

Perjalanan backpacking terjauh saya saat itu meninggalkan kesan yang mendalam. Saya memperoleh teman baru, keluarga baru, juga pengalaman baru. Belajar untuk mandiri. Belajar untuk berani. Belajar untuk tetap sigap dan waspada. Belajar hal-hal baru. Mengayakan batin. Memantik rasa ingin tahu yang lebih besar lagi.

Hal-hal itulah yang kemudian memicu saya untuk lebih rajin lagi jalan-jalan. Jogja jadi pemberhentian saya pada tahun berikutnya. Kali itu dengan teman-teman kuliah. Lagi-lagi backpacking. Naik kereta ekonomi, jalan kaki dari Lempuyangan ke Alun-Alun Selatan, tidur di budget hostel, berkeliaran di Malioboro. Ada tantangan lain, yakni menyelaraskan ritme perjalanan dan emosi dengan teman-teman lainnya. Lagi-lagi pembelajaran bagi saya.

Pada tahun itu pula saya pulang kampung. Kali itu dengan misi lain. Menulis buku. Saya ditantang oleh seorang editor untuk menulis buku perjalanan tentang Lombok. Saya terima tantangan tersebut dengan satu keyakinan: inilah momentum saya mengenalkan pulau kelahiran saya pada khalayak.

Banyak tantangan dan godaan dalam menulis buku solo pertama ini. Berkali-kali saya mengalami writer’s block. Tapi, saya perbarui terus-menerus niat saya untuk menulis buku. Ada visi yang lebih besar dari sekadar ingin eksis melalui karya. Lombok. Ya, karya ini saya persembahkan untuk Lombok. Agar orang-orang yang membaca buku saya, tertarik ke Lombok. Mereka bisa terbantu menyusun itinerary dan estimasi anggaran. Mereka bisa datang ke Lombok dan menikmati pesona alam, kelezatan kuliner, atraksi budaya, juga berinteraksi dengan penduduk lokalnya. Efek berikutnya yang saya harapkan adalah masyarakat bisa terbantu secara ekonomi.

Muluk?

Mungkin ada orang yang menganggap demikian. Tapi, saya tidak ambil peduli. Saya kira, itulah yang namanya impian. Cita-cita yang harus digantungkan setinggi bintang-bintang di langit, sebagaimana ucapan Bung Karno. Kalaupun tidak tergapai, saya kira bukan perkara terlalu ketinggian. Tapi, usaha yang belum maksimal. Atau, butuh proses dan pencapaian-pencapaian kecil terlebih dahulu. Ibaratnya anak tangga, capaian-capaian kecil itu nantinya yang akan membantu untuk ‘memetik’ buah cita-cita yang tinggi tersebut.

Travelicious Lombok tiba di Perancis. Penulisnya kapan? :)

Travelicious Lombok tiba di Perancis. Penulisnya kapan? 🙂

Ketika buku saya yang berjudul Travelicious Lombok beredar di pasaran, senang bukan main rasanya. Rasa senang itu kian berlipat-lipat saat beberapa pembaca memberikan apresiasi via surat elektronik sekaligus mengonsultasikan rencana perjalanan (itinerary) mereka selama di Lombok. Bahkan, ada di antara mereka yang tertarik untuk bisnis anyaman lontar. Di buku saya itu, saya memang bercerita tentang kunjungan saya ke rumah seorang perajin anyaman lontar di Desa Suranadi. Membaca surel itu, saya membayangkan konektivitas mutualisme yang tercipta antara pembaca buku saya sebagai wisatawan dengan penduduk lokal yang berbisnis di sekitar lokasi wisata yang ada di Lombok.

Di tahun yang sama beberapa bulan kemudian, saya terpilih sebagai salah satu dari 60 Petualang Aku Cinta Indonesia yang diadakan oleh sebuah portal berita online. Mereka punya misi untuk menyebarkan semangat Aku Cinta Indonesia. Untuk mewujudkan itu, kami ditugasi untuk mendokumentasikan perjalanan kami melalui tulisan dan foto yang kemudian disebarluaskan melalui portal tersebut dan jejaring sosial. Ada pula tim yang berinisiatif untuk membuat video perjalanan.

Di depan Replika SD Muhammadiyah Gantong, Belitong

Di depan Replika SD Muhammadiyah Gantong, Belitong

Antusiasme orang-orang terbaca jelas saat mereka mengomentari postingan-postingan kami. Bahkan, orang-orang di daerah yang kami kunjungi mengaku bangga sekali kekayaan budaya, alam, kuliner, dan kearifan lokal mereka diangkat dalam tulisan dan foto kami. Seorang teman narablog saya yang asli Palembang, bahkan menghimpun tautan foto dan tulisan saya tentang kota kelahirannya tersebut, lantas membagikannya di blog. Tak ada perasaan yang berhasil mengungkapkan itu semua selain bangga dan senang. Bahkan, ia berniat sungguh beli buku saya dan mengunjungi pulau kelahiran saya. Tidakkah ini bentuk saling apresiasi yang indah?

Menyadari buku saya punya kelemahan dari segi distribusi serta informasi yang rentan out-of-date, saya pun membuat grup Lombok Backpacker di Facebook pada 31 Desember 2011. Grup ini saya buat sebagai wadah berbagi informasi, foto, video, juga tulisan terkait wisata Lombok. Hingga tulisan ini dibuat, jumlah anggotanya mencapai 1.325 orang. Interaksi antaranggotanya membuat saya sungguh optimis dengan kemajuan pariwisata Lombok.

Dua teman di Lombok yang belum sekalipun pernah bertatap muka dengan saya, saya jadikan admin. Tak jarang mereka menerima anggota Lombok Backpacker menginap di rumah mereka. Saya, untuk saat ini, belum bisa menjadi tuan rumah disebabkan masih berkutat dengan studi di Kota Pahlawan. Hampir setahun ini tidak pulang kampung. Kelak ketika pulang kampung, saya akan dengan senang hati menyediakan rumah saya untuk diinapi oleh anggota Lombok Backpacker.

Selain mengurus grup, kegiatan menulis saya pun tetap berlangsung. Saya kian mantap untuk menekuni tulisan perjalanan. Dua kali catatan perjalanan saya dimuat di majalah. Satu lagi terbit dalam sebuah antologi berjudul TraveLove. Dan, saat ini saya sedang menantikan kelahiran tiga buku antologi bergenre traveling.

Efek berikut dari kegiatan menulis buku adalah diundang di acara talkshow. Sampai saat ini, saya telah diundang di lima acara bedah buku, satu di program ‘Penulis Bicara’ di radio, serta talkshow tentang safari budaya bangsa terkait peringatan Sumpah Pemuda.

Berbagi semangat menulis dan jalan-jalan

Berbagi semangat menulis dan jalan-jalan

Berbagi. Itulah yang menyenangkan dari kegiatan traveling, menulis, dan bicara. Traveling tidak hanya senang-senang. Ada banyak nilai dan spirit yang bisa diserap untuk proses pendewasaan diri serta pemerluasan cara pandang. Menulis pun begitu. Informasi yang kita miliki tidak lapuk tersimpan di otak tapi bisa terus tersebar luas. Syukur-syukur jika berguna bagi orang lain. Demikian pula halnya dengan berbicara. Semangat bisa ditularkan melalui interaksi langsung, tatap muka. Syukur-syukur jika bisa menularkan emosi positif dan semangat untuk jalan-jalan.

Sebab, jalan-jalan bukan hanya untuk kesenangan pribadi, tapi juga berbagi pada orang lain.

Jikalau ada yang merasa jalan-jalan itu mengempiskan isi kantong, balikkan pandangan itu. Jalan-jalan justru memperkaya. Kaya apa? Silakan diinterpretasi sekaligus dibuktikan ucapan saya tersebut. Lantas, jika sudah kaya, bukankah elok kiranya untuk berbagi?

Ya, kalau kau merasa miskin, jalan-jalanlah!

Catatan:

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Aksi untuk Indonesiaku yang diadakan oleh Lintas.Me.

Kompetisi "Aksi untuk Indonesiaku"

Kompetisi “Aksi untuk Indonesiaku”

Iklan

17 thoughts on “Berbagi Semangat Jelajah Negeri

  1. Apresiasi yang bagus. Saya yakin, anak cucu saya, terutama anak cucu nusantara ini bangga jika tanah kelahiran mereka dikenang sebagai cagar budaya yang tidak akan sirna. Tentunya melalui polesan-2 anda, dan hijrah-hijrah anda
    Patut menjadi kotribusi dan Patut Menang di Kompetisi #AksiIndonesiaku#.

    Saya dukung 100 % mas. MAju terus Backpacker 🙂

    • Selain itu, anak muda yang gemar jalan-jalan dan menulis juga perlu diperbanyak, Mas. Kalau bisa, merekalah yang mendokumentasikan khasanah kekayaan wisata daerah mereka sendiri. Tanpa perlu diwakili oleh para duta wisata, kita bisa jadi duta wisata dengan cara masing-masing.
      🙂

  2. Tulisannya pakai copyspace ya masbro, saya mau quote kalmat gak bisa.. haha..
    “Travelling tidak hanya senang-senang” Couldn’t agree more.. hehe 😀
    Dengan travelling kita mendapat wawasan baru dan membuat pola pikir kita menjadi lebih ‘open minded’
    Semoga tulisannya menang masbro..

    Salam sesama backpacker.. 😀

    • Waaah… Iya kah? Sebelum meletakkan banner copyscape di pojok kanan itu, saya masih bisa lho mengopi tulisan sendiri. Apakah demikian? Atau ada pengaturan yang telah saya centang di WP? Hmmm…

      Justru komentar Masbro membuat saya pasang banner copyscape beneran 😀

      Anyway, thanks a lot ya 🙂 Salam backpacker.

  3. mantabs tulisannya Tah, semoga menang ya. hmm aksiku apa ya untuk Indonesia? aksiku lewat Mozaik kayaknya belum bisa memberikan kontribusi yang nyata buat bangsan ini.

    • Aamiin… Terima kasih, Mas 🙂
      Kalau dibandingkan sama Trinity, Gol A Gong, dan penulis2 kawakan lainnya di bidang traveling, tentu saya masih belum ada apa-apanya, Mas. Mereka jauh lebih banyak berkontribusi. Tapi, kalau selalu menengok ke mereka dan merasa minder, kapan berbuatnya? Ya, kita berkontribusi lewat aksi-aksi kecil dan dengan cara kita masing-masing, Mas. Mozaik pun saya yakin pelan2 bisa sekontributif penerbit-berjiwa-anak-muda-di-Jakarta-itu *you know what I mean* 😀

  4. kayaknya artikelnya bagus deh lalu. oh ya, kalau kata gue nih kalau di Indonesia masih banyak pemuda-pemuda yang merubah bangsanya lewat cara masing-masing gak harus traveling tetapi dengan cara apapun bisa.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s