Belajar Menulis di Lokakarya “Tulis Nusantara” 2012

Teks dan Foto: Lalu Abdul Fatah

Iwan Setyawan 'menhipnotis' peserta dengan motivasi menulis

Iwan Setyawan ‘menhipnotis’ peserta dengan motivasi menulis

“Saya tidak peduli berapa buku saya yang terjual. Tapi, berapa hati yang tersentuh oleh buku ini dan hidupnya berubah.”

Kalimat itu meluncur deras dari bibir Iwan Setyawan, penulis novel 9 Summers 10 Autumns (2011) dan Ibuk (2012) yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Apa yang ia ungkapkan, sebenarnya meneruskan perkataan sang ibu. Ibunya pernah berucap begini, “Orang mau baca mau nggak, hidup kita begini-begini saja. Tapi, siapa tahu ada dua atau tiga anak sopir angkot baca buku ini dan hidupnya berubah.”

Iwan Setyawan memang anak sopir angkot di Kota Batu, Malang. Keluarganya hidup dalam keterbatasan ekonomi. Namun, ia melakukan lompatan besar lewat pendidikan. Dukungan orangtua ada di balik itu semua, terutama ibu. Sebagai lulusan terbaik Fakultas MIPA Institut Pertanian Bogor 1997 Jurusan Statistika, Iwan pun bekerja selama tiga tahun di Jakarta sebagai data analis di Nielsen dan Danareksa Research Institute. Kemudian ia  menapaki karir di New York City selama 10 tahun. Perjalanan hidupnya sebagai anak sopir di Kota Batu ke New York City inilah yang ia tuangkan dalam novel pertamanya, 9 Summers 10 Autumns.

Semangat berjuang itulah yang ia bagi pada puluhan peserta Lokakarya Menulis Tulis Nusantara 2012 yang hadir di Matchbox Too, Surabaya, pada Minggu (18/11). Ia mengombinasikan saripati perjalanan hidupnya dan pengalaman menulisnya melalui lontaran kalimat-kalimat bernas. Kadang ia menyelipkan lelucon yang membuat suasana lokakarya mencair.

Iwan Setyawan di Lokakarya Menulis "Tulis Nusantara" 2012 edisi Surabaya

Iwan Setyawan di Lokakarya Menulis “Tulis Nusantara” 2012 edisi Surabaya

Ia tak pernah memimpikan jadi penulis. Bahkan, ia pertama kali baca novel saat berada di New York. Atas rekomendasi temannya, pelahap buku-buku psikologi ini akhirnya membaca The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger.

“Bagi saya, people read novel is stupid. Tapi, sejak kenal The Catcher in the Rye, saya mulai suka baca novel dan berburu buku-buku sastra. Hampir semua buku Dostoyevsky saya baca. Lalu, saya beralih melahap buku-buku Orhan Pamuk, Murakami, Idrus, hingga Chairil Anwar. Baca buku sastra itu melembutkan hati. Kini, di mata saya orang yang baca sastra itu keren. Orang yang bawa buku, menurut saya seksi. ”

Iwan mengakui kalau dirinya menulis dari membaca. Dan, seorang penulis harus punya banyak referensi bacaan.

Ia sendiri mulai menulis sejak kembali ke rumahnya di Batu pada 2010. Ia mendedikasikan tulisannya untuk para keponakannya. Ada alasan khusus, tepatnya kekhawatiran agar anak-anak muda sekarang ini tidak terhipnotis oleh hal-hal instan. Agar tidak terbuai budaya pop. Baginya, tak ada cara gampang untuk sukses. Harus kerja keras. Itu pesan yang ia siratkan dalam novelnya.

“Menulis itu butuh komitmen dan disiplin. You put your blood, your sweat, your  tears into it. Do it until you finish it!” tegasnya dengan mata berbinar. Ia juga menekankan agar penulis mengasah sensitivitasnya.

“Sebagai penulis, be sensitive! Perluas hidup kalian. Dengan begitu, Anda bahkan bisa melihat penderitaan sebagai sebuah keindahan.”

Energi positif Iwan memang terasa memenuhi ruangan Matchbox Too yang lumayan dingin oleh AC. Dengan gaya santai namun memikat, ia memantik semangat para peserta agar berkarya melalui tulisan.

Nada dan gerak tubuhnya yang enerjik mengesankan ia seorang motivator. Moderator menggodainya seperti itu.

“Saya bukan motivator. I hate motivator!” serunya yang langsung disambut tawa peserta.

Arief Ash Shidiq dari Plot Point

Arief Ash Shiddiq dari Plot Point

Sekelar Iwan Setyawan membangkitkan semangat para peserta untuk tekun menulis, Arief Ash Shiddiq dari Plot Point (lini Bentang Pustaka) tampil menempa peserta untuk praktik menulis langsung. Ia menekankan pada apa itu cerita, bagaimana menjalin cerita, sekaligus menghidupkannya. Editor Plot Point ini banyak memberi penekanan betapa pentingnya cerita dalam sebuah cerpen atau novel. Para penulis pemula acap kali terjebak untuk menulis cerita ala menulis diary tanpa ada bumbu.

Menurut Arief, cerita terdiri dari tiga aspek, yaitu: suatu kejadian, menimpa karakter, dan terjadi perubahan. Untuk memanaskan otak dan pena peserta, ia pun menantang peserta membuat cerita dengan memasukkan unsur religion, royalty, sex, dan mystery. Hasilnya? Rata-rata sudah bisa meramu semua unsur tersebut, tapi masih banyak yang terjebak pada misteri. Bahwa misteri adalah pembunuhan. Padahal tidak harus misteri begitu. Lantas, Arief pun mencontohkannya dalam sebuah paragraf singkat. “Oh, my God,” said the Queen, “I’m pregnant. I wonder who did it.”Simpel. Mengena. Dan, jadilah sebuah cerita yang membuat siapa pun penasaran untuk membacanya lebih lanjut.

Sesi "Coaching"

Sesi “Coaching”

Ia kemudian membagi para peserta dalam kelompok kecil yang awalnya terdiri dari dua orang untuk saling bertukar cerita, lalu ditambahkan jadi 4-5 orang. Para anggota di tiap kelompok menanggapi cerita satu sama lain dan menentukan cerita terbaik. Itulah yang selanjutnya disampaikan di depan peserta lain. Arief pun mengomentari, memberi masukan, sekaligus penilaian.

Misalnya, Niza, salah seorang peserta, menyampaikan kisah sepasang kekasih, Match (wanita) dan Box (pria), melalui tuturan Too yang merupakan teman mereka. Hubungan Match dan Box kerap putus sambung putus sambung. Akhirnya, romantisme itu benar-benar terputus kala Box kesal setengah mati dengan hubungan macam itu. Padahal ia sendiri ‘jual mahal’ dan masih menyimpan cinta. Melalui chatting, Too pun memberitahu kalau ternyata Match telah bertunangan dengan pria lain. Box tak menduga. Ia amat menyesal.

Kendati ending-nya cukup mengejutkan, namun Arief menilai bahwa cerita Niza masih belum fokus. Dalam konteks cerpen, seharusnya cerita itu menghadirkan tiga hal, yakni: kontras, konflik (sang tokoh ingin apa, tapi tidak tercapai, karena apa?), dan fokus dengan satu konflik. Harus ada satu kejadian yang benar-benar mengubah karakter agar cerita tidak berlangsung monoton.

Pembicara dan peserta Lokakarya Tulis Nusantara 2012

Pembicara dan peserta Lokakarya Tulis Nusantara 2012

Secara keseluruhan, Lokakarya Menulis Tulis Nusantara ini berlangsung lancar dan mengasyikkan. Para peserta antusias mengikuti arahan dari dua tutor. Alumnus lokakarya ini memang diharapkan untuk mengikuti Kompetisi Menulis Nusantara bertema “Ragam Cerita Hidup di Indonesia” yang terbagi dalam tiga kategori, yaitu cerpen, puisi, dan esai. Kompetisi berlangsung sejak 17 November 2012 hingga 15 Desember 2012.

Lokakarya Menulis Tulis Nusantara ini diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kerja sama dengan NulisBuku.com dan Plot Point di 12 kota. Setelah Semarang pada Sabtu (17/11) dan Surabaya, kota selanjutnnya yang akan disinggahi adalah Jakarta (Jumat, 23 November 2012), Medan (Sabtu, 24 November 2012), Palembang (Minggu, 25 November 2012), Denpasar (Sabtu, 1 December 2012), Lombok (Minggu, 2 December 2012), Balikpapan (Sabtu, 8 December 2012), Makassar (Minggu, 9 December 2012), Banten (Selasa, 11 December 2012), Bandung (Jumat, 14 December 2012), dan Yogyakarta (Sabtu, 15 December 2012).

Iklan

13 thoughts on “Belajar Menulis di Lokakarya “Tulis Nusantara” 2012

  1. baca uraian liputan lokakarya-nya seru juga, dan Iwan Setiawan sepertinya mampu menghidupkan suasana dan mengaduk-aduk emosi (semangat) audience, meski dibilang bukan seorang motivator.

    • Hehehe… Betul, Mas Iwan 🙂 *sama-sama Iwan nih*
      Selain itu, Mas Iwan juga orang yang rendah hati dan ramah. Ia tidak menunjukkan ‘kelas’nya sebagai ex New York citizen 🙂 Benar-benar down to earth. Sehingga dengan peserta lokakarya pun tidak begitu berjarak 🙂

  2. Wahhh..Lalu..keren! Mau banget ikutan acara macam ini..Nambah wawasan banget dalam menulis nih..itu kok Jakarta gak ada ya 😦

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s