Iwan Setyawan: Best Seller Moment Adalah Ketika Ibu Baca Novel Saya

Teks: Lalu Abdul Fatah

Foto: Lalu Abdul Fatah & Dok. Pribadi

Iwan Setyawan di Lokakarya Tulis Nusantara 2012 Surabaya

Iwan Setyawan di Lokakarya Tulis Nusantara 2012 Surabaya

Lahir dan besar di Kota Apel dan merambah karier di The Big Apple, New York, tidak lantas menjadikannya lupa pada akarnya. Keluarga, khususnya Ibu, menjadi sumber inspirasi seorang Iwan Setyawan. Melalui dua novelnya yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, 9 Summers 10 Autumns (2011) dan Ibuk (2012), ia mengaku tidak sedang menjual cerita sukses, impian tinggi, dan air mata untuk meraihnya. Bagi dia, kuncinya hanya dua: pendidikan dan kerja keras. Dan, ia membagi spirit itu melalui novelnya.

Sepulang dari New York untuk proses syuting film 9 Summers 10 Autumns, Iwan Setyawan membagi ilmu dan pengalaman pada arek-arek Suroboyo lewat lokakarya menulis Tulis Nusantara yang bertempat di Matchbox Too, Jl. Jawa 33 Surabaya pada hari Minggu (18/11). Lokakarya ini diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Saya berkesempatan mewawancarainya seusai lokakarya. Berikut petikannya.

Iwan Setyawan (Dok. Pribadi)

Iwan Setyawan (Dok. Pribadi)

Ekspektasi Mas dengan adanya workshop ini?

Iwan Setyawan: Saya pikir program ini keren banget ya. Saya dulu mikir kalo saya muda dan program seperti ini, saya bakal jadi penulis yang jauh lebih keren dari sekarang ini. Karena saya bayangin dulu saya nggak ada apa-apa. Nggak ada workshop kayak gini. Saya latihan nulis juga autodidak. Tapi, kalau anak-anak dibekali dengan sharing ilmu dari orang yang sudah berpengalaman atau guru yang udah profesional, saya yakin satu atau bahkan mungkin lima orang dari ruangan ini bakal jadi penulis yang luar biasa.

Ahmad Fuadi kan dapat beasiswa menulis dari Bellagio Center. Begitu pula Andrea Hirata dari Iowa University. Mas sendiri ada keinginan dapat beasiswa menulis?

Iwan Setyawan: Saya sempat ditawari dari US Embassy pada bulan Oktober. Pas kebetulan saya syuting di Amerika. Jadi, tidak bisa saya ambil tahun ini. Jadi, sempat ditawari tapi tidak sayafollow up karena saya pikir Oktober saya bakal syuting 9 Summers 10 Autumns di New York.

Di workshop tadi, Mas Iwan cukup banyak berkisah tentang buku 9 Summers 10 Autumns dan Ibuk. Seberapa besar harapan Mas bahwa anak-anak yang lulus dari workshop ini bakal mengangkat cerita serupa?

Iwan Setyawan: Saya pikir, itu saya serahkan kepada interest anak-anak. Kan, tidak semua mereka minat menulis novel biografi yang berdasarkan kisah hidup seseorang. Saya persilakan pada anak-anak untuk lebih liar lagi. Mungkin nggak hanya berdasarkan kisah hidup, tapi juga imajinasi mereka. Jadi, ini ladang yang harus mereka gali. Mereka harus menggali diri mereka di ladang yang penuh dengan imajinasi atau di ladang yang berdasarkan kisah-kisah nyata.

Membandingkan Andrea Hirata, Ahmad Fuadi, dan Mas Iwan sendiri yang sama-sama mengangkat cerita inspiratif, sejauh mana sih optimisme Mas bahwa kisah-kisah inspiratif akan long-lasting di Indonesia?

Iwan Setyawan: Menurut saya, kita butuh cerita-cerita kayak gini. Mengutip kata Alex Komang, ‘Kalau negara ini sudah tidak bisa menginspirasi rakyatnya, kini giliran kita yang menginspirasi negara’. Dibutuhkan banyak cerita inspiratif, cerita yang bisa memperkuat hidup orang lain bahwa you know what, it’s possible untuk meraih hidup yang lebih baik dengan apapun background yang kita miliki, dari anak siapa pun, dari daerah mana pun. Bahwa dengan kerja keras memungkinkan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Lewat pendidikan. Lewat keluarga yang hangat. Itu yang ingin saya sampaikan. Dan itu yang saya harapkan lebih banyak lagi dari penulis-penulis di Indonesia.

Dulu, sebelum 9 Summers 10 Autumns lahir, ekspektasi Mas terhadap novel ini gimana? Apakah bakal semeledak karya Andrea Hirata atau Ahmad Fuadi?

Iwan Setyawan: Nggak banget. Saya ingin keponakan saya baca. Itu aja. Dan akhirnya beberapa ponakan saya baca. Ibu saya baca. Menurut saya itu best seller moment saya. Ketika lihat Ibu saya yang nggak pernah baca buku, artinya baca novel pertama dalam hidupnya. Bapak saya baca itu. Menurut saya sih cukup ya. Dan menurut saya, kalau banyak orang baca dan mendapat manfaatnya, itu bonus buat saya.

Iwan Setyawan sedang book signing Novel Ibuk (Dok. Pribadi)

Iwan Setyawan sedang book signing Novel Ibuk (Dok. Pribadi)

Ibu sendiri ketika pertama membaca karya Mas Iwan, bagaimana impresi pertamanya?

Iwan Setyawan: Good question! Ibu saya setelah baca buku itu, tahu nggak satu kata yang diucapkan Ibu saya cuma gini. ‘Wan, ternyata hidup kita ini susah.’ Dan, Ibu saya nggak nyadari hidupnya susah. Tapi, intinya apa coba? Dia melihat hidupnya bukan penderitaan tapi perjuangan. Jadi yang ia jalani dulu nggak susah. Emang perjuangannya kayak gitu. Baru nyadar kalau saya tuliskan. ‘Oh, ternyata memang susah’, gitu. Tapi, intinya gitu. Jalani hidup sebagai perjuangan, bukan penderitaan.

Seberapa besar porsi pengaruh Bapak dan Ibu terhadap Mas Iwan?

Iwan Setyawan: Waduh, saya tidak tahu ya. Butuh tes genetik kali ya? Kalau menurut saya, hati saya ini hati Ibu saya. Saya nggak sekuat Bapak saya. Bapak saya itu orang yang taft. Orang jalanan yang kuat. Playboy pasar. Tapi, kalau saya, hati saya itu lemah banget seperti Ibu saya. Tapi, Ibu saya itu orang yang lembut tapi menurut saya juga kuat. Bayangin, ini orang tidak lulus SD, punya anak empat, suaminya sopir angkot, tiba-tiba punya cita-cita anaknya kuliah. Menurut saya itu nggak masuk akal dulu. Tapi, ini membuktikan kalau Ibu saya secara pendidikan nggak tinggi, tapi secara intelektual tercerahkan. Dan, itu jarang-jarang. Ibu saya berpikir panjang bahwa ‘hey you know what?’ Kata Ibu saya hidupnya susah, dia nggak mau hidup anaknya susah seperti dia. Caranya apa? Pendidikan. That’s it. Apalagi yang kita punyai selain pendidikan? Nggak ada. Makanya, saya bilang ke anak-anak di kelas saya dulu, ‘The only way to get out from poverty is education’. Apalagi? Saya masih belum menemukan jawabannya. Pendidikan dan kerja keras. Itu aja.

Ibu itu kan doanya sangat ampuh. Saya penasaran, sebenarnya bagaimana sih kehidupan spiritual Ibu Mas Iwan? Apakah beliau rajin salat malam untuk mendoakan anaknya?

Iwan Setyawan: Ibu saya salatnya rajin. Saya sendiri kalau ke mana-mana pasti minta doa restu Ibu saya. Misalkan, sebelum saya ke sini, saya telepon Ibu saya setengah enam. Dia nggak ada. Saya sms adik saya. ‘Tolong bilangin ke Ibu, saya ke Surabaya. Karena saya nggak bisa telepon’. Ke mana pun saya pergi, jadi anak kecil lagi. Tapi, itu memberikan kenyamanan buat saya. Nggak tahu Tuhan kerjanya kayak gimana ya. Tapi, saya percaya, setiap kali saya minta restu, saya merasa terlindungi. Itu mulai kecil, misalnya saya mau keluar sekolah ya, “Bu, dungakno yo! Bu, dungakno yo! Bu, dungakno yo!” (Ibu, doakan ya, red). Itu lebih dari berkali-kali. Sampai sekarang. Mau talkshow, mau nulis buku, mau bikin kantor, Ibu saya langsung bikin jenang abang (jenang merah, red). Saya bikin buku 9 Summers 10 Autumns, Ibu saya selametan. Syukuran. Luar biasa. Jadi, dia doa juga kerja keras. Saya pikir itu orang gila. Orang yang luar biasa. Kalau nggak ada dia, saya nggak mungkin di sini. Nggak mungkin ke New York. Makanya, yang saya sampaikan di 9 Summers 10 Autumns bukan cerita sukses. Saya nggak mau menjanjikan mimpi-mimpi. Agar anak-anak meraih mimpi yang tinggi. Nggak. Tapi, mereka harus taft. Mereka harus kuat. Kalau hidup keras, lo harus bisa lebih keras lagi. Dan, family itu paling penting. Kita nggak bisa maju sendiri. Harus gandengan ramai-ramai. Mau senang, mau sedih, gandengan ramai-ramai. Bakal kuat bareng. Kembali ke rumah. Bahagiain keluarga lo. Intinya apa? Indonesia mau maju kalau keluarganya maju. Keluarga mau maju kalau lo maju. Makanya, lo harus maju!

9 Summers 10 Autumns edisi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris

9 Summers 10 Autumns edisi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris

Setelah film, apa proyek berikutnya?

Iwan Setyawan: Banyak sih. Otak saya sekarang mau meledak. Saya pengin jadi guru yoga. Saya sekarang lagi bikin start-up company di road map analytical consulting. Habis itu, saya pengin nulis buku juga. Saya lagi senang nulis. Jadi banyak banget. Kalau dulu, cita-cita kecil saya ingin punya kamar sendiri. Dan itu saya kejar sampai ke New York City. Sekarang saya ingin punya ‘kamar kecil’ di negara ini. Pengin bikin gerakan. Makanya saya ke kampus-kampus, ke SMA-SMA. Saya ingin anak-anak maju. Dan, itu saya kerjakan sendiri. Saya jalan ke sana ke mari sendiri (tertawa). Seru.

Tadi, kan, Mas bilang kalau kita ingin maju, harus menggandeng orang-orang di sekitar kita. Tapi, Mas Iwan kok kayaknya lebih fokus, lebih suka kalau berjuang sendiri?

Iwan Setyawan: Kalau pintar, all family. Kita berjuang ramai-ramai sama keluarga. Contohnya kayak gini. Kakak saya yang pertama nggak kuliah. Dia memilih kerja untuk membiayai kakak saya yang kedua. Kata kakak saya yang pertama, ‘Siapa pun yang kuliah, ia mewakili keluarga’. Setelah kita punya duit, setelah saya ke New York, saya kuliahkan kakak saya yang pertama. Umur 34 tahun dia kuliah. Jadi, gantian. Jadi, senang bareng-bareng. Susah tanggung bareng-bareng.

BIODATA

Nama: 

Iwan Setyawan

Lahir:   

Batu, 2 Desember 1974

Pendidikan:  

Jurusan Statistika, Fakultas MIPA IPB 1997 (Lulusan terbaik)

Karier:  

Data analis di Nielsen dan Danareksa Research Institute (1997-2000)

Director Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York (2000-2010)

Karya:   

Melankoli Kota Batu (kumpulan fotografi dan narasi puitis)

9 Summers 9 Autumns (2011, Gramedia Pustaka Utama)

Ibuk (2012, Gramedia Pustaka Utama)

Twitter:  

@Iwan9S10A

Iklan

15 thoughts on “Iwan Setyawan: Best Seller Moment Adalah Ketika Ibu Baca Novel Saya

  1. saya sendiri belum pernah ketemu sm mas iwan, hehe… bangga punya kakak tingkat se-almamater SMP&SMA (atau om tingkat ya?) yang sukses dan inspirasional seperti mas iwan 🙂

    • Hehehe… Iya, ending-nya kayak gitu. Aku sih nggak bikin penutup berupa kalimat apa gitu. Aku biarkan apa adanya. Editorku di Indonesia Kreatif juga menampilkan apa adanya, meski ada beberapa kata yang disensor. Ini yang versi komplet 😀

      Anyway, makasih ya udah berkunjung. Kamu migrasikan blogmu ke mana?

  2. pernah ketemu di pesawat deh, tapi ga daku tegor.. serius ya orangnya..
    dan bintang film 9s10a itu sapa sih?
    suka deh kata alex komang, emang butuh kita yang menginspirasi negara.. semangaaaaattt..

    • hihihihi… gitu ya, Mbak? justru kami melihat dia ramah dan ramai :))
      tau gak, saya begitu datang, malah dia yang nyapa duluan, nanyain kabar. kan, sebagai orang yang akan meliput acaranya, selayaknya saya yang menyapa duluan 😀
      bintang filmnya Ihsan ‘Idol’ Tarore, Mbak. Dia yang jadi Iwan Setyawan dalam film itu.
      Awal 2013 filmnya akan tayang di bioskop2 di Indonesia.

  3. inspiratif Lalu! Entah kenapa justru fokus ku waktu baca note ini malah di point2 yang kamu lemparkan ke Mas Iwan ya. sungguh sangat diluar mainstream Lalu…sukaaak!

    • Ahahaha…
      Thanks, Kak Ocha, sudah membaca tulisan ini 😀
      Aku melemparkan pertanyaannya ngalir saja. Nggak bikin konsep. Eh, malah dipuji sama Mas Iwan. Didoakan biar jadi reporter handal. Kayak Desi Anwar 😀

  4. Kak boleh minta informasi gg tentang kak iwan.. Itu loh sd smp sama sma nya kak iwan dimana hehe.. Makasii

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s