Dari Atas Menara Masjid Raya Bandung

Selasa, 3 Juli 2012

Menjelang siang, saatnya saya berkemas dari rumah Mbak Imazahra. Meninggalkan Bandung menuju Surabaya. Aa Risyan, suami Mbak Ima, mengantarkan saya dari Ciganitri (rumah pasangan travelers ini) ke Bandara Husein Sastranegara.

Sejenak menerabas kemacetan menuju tempat Aa mengajar. Saya shalat dulu di sana. Beli sebotol minuman di minimarket depan masjid kampus, kami pun bergegas. Aa ingin mengajak saya menikmati Bandung dari atas menara Masjid Raya. Salah satu objek ‘wisata’ di alun-alun kota yang satu rute ke arah bandara. Biar sekalian mampir beli oleh-oleh nantinya.

Melibas jalanan Bandung yang macet, sampai pula kami di masjid sekitar pukul setengah 2 siang. Kami parkir di basement  yang agak gelap dan sedikit kotor, menurut saya. Saya berasa di basement Blok M kala menunggu Trans Jakarta. Kesan pertama saya tersebut mendapat ketegasannya kala mengetahui bahwa di atas basement, berjejer para pedagang kaki lima. Di halaman masjid pun, para pedagang ramai menggelar barang-barangnya. Dari makanan, minuman, mainan, dan lain sebagainya. Sepertinya ada bazar.

IMG_1927

Mengutip situs resmi pariwisata Kota Bandung, letak Masjid Raya yang berada di tengah-tengah kegiatan komersial yang amat padat, merupakan ciri utama yang dimiliki masjid ini. Bangunan yang tampak seperti saat ini merupakan hasil beberapa kali renovasi. Sejak renovasi tahun 1826, pembongkaran kembali dilakukan pada 1850, 1900, 1930, 1955, hingga terakhir pada 2006 lalu. Renovasi itu termasuk penataan ulang alun-alun yang persis berada di depan Masjid Raya.

Aa dan saya mengambil foto penampakan masjid dari luar. Karena sudah tak ada yang menarik minat, kami pun segera menuju sisi kanan masjid (kalau dari depan). Kami hendak melihat Bandung dari puncak menara.

Sendal dan sepatu kami bungkus dengan plastik. Biar aman, kami bawa ikut serta ke atas.

IMG_1933

Menara kembar masjid sendiri dibuka pukul 10.00 s/d pukul 17.00.  Saya lupa mesti bayar berapa. Yang pasti, di dalam lift yang mengantar kami menuju lantai 19, puncak menara, ada petugas yang berjaga.

Di puncak menara setinggi 81 meter ini, lantainya juga tidak begitu bersih. Saya maklumi karena pengunjung yang kelakuannya beraneka ragam, termasuk kesadaran menjaga kebersihan.

IMG_1937

IMG_1938

IMG_1950

IMG_1949

IMG_1944

IMG_1947

IMG_1953

IMG_1956

Saya pun mulai jepret sana jepret sini. Bisa melihat Bandung 360 derajat itu keren juga rasanya. Meskipun yang dilihat di bawah adalah blok-blok bangunan, rumah, kantor-kantor, dan gedung-gedung. Tak lupa kemacetan jalan! Saya bayangkan kalau berada di sini malam hari, tentu akan lebih semarak memandang lampu-lampu yang menyepuh Kota Bandung. Sayang, saya hanya punya waktu siang hari saja. Tentu dengan melihat jam buka menara masjid, bisa dipastikan telak saya tidak bisa melihat Bandung dari menara ini pada malam hari.

Mungkin kenangan yang menarik adalah rekaman video sebuah pesawat yang hendak mendarat di bandara. Dari kejauhan pesawat tersebut terbang kian rendah. Nantinya, saya sendiri merasakan lepas landas dari situ dan terkena turbulensi sehingga pesawatnya beberapa kali goyang dombret. Kontur Bandung yang berbukit-bukit dan dikeliling gunung pun lumayan membuat adrenalin saya terpompa. Membayangkan kalau pesawat yang saya tumpangi mengalami hal-hal yang (tak) diinginkan.

IMG_1961

Turun dari menara, kami ke basement. Ambil motor dan segera memacu ke pusat oleh-oleh dekat Stasiun Bandung. Aa mengoleh-olehi saya aneka penganan dan keripik pedas khas Bandung. Pedas yang lazim ada di keripik Maicih.

Makan siang yang terburu-buru oleh waktu dan bayangan Bandung yang macet karena sedang musim liburan sehingga bus-bus wisata dari luar Bandung banyak mengisi jalanan Bandung yang sempit, Aa pun memacu motornya dengan sigap. Saya di belakang sedikit ketar-ketir. Berharap sangat tidak sampai terlambat. Dan, syukurlah!

Husein Sastranegara yang ternyata tidak begitu besar itu bisa saya tapaki mendekati waktu boarding. Terbang bersama Lion Air dengan perasaan cekat-cekot di awal karena itu tadi… cuaca yang sedang kurang bersahabat. Bandung mendung.

Tak apa. Saya justru girang. Ini pengalaman yang tak sama dengan pengalaman-pengalaman saya sebelumnya. Pengalaman yang menjelma cerita pada akhirnya.

Iklan

15 thoughts on “Dari Atas Menara Masjid Raya Bandung

  1. Barusan lihat video-nya. Mantab, bisa mengambil kenangan momen tersebut.
    Dulu waktu pertamakali mendarat di Bandung, bener-bener kaget pas lihat ke bawah, landasan bandaranya dekat banget dengan perumahan penduduk dan gedung-gedung. Mirip adegan James Bond yg mendaratkan pesawatnya diperkampungan dalam film “Moonwalker”.

    • Wohooo… Kenapa ya Bandung nggak jadi lokasi syuting buat film James Bond ‘Moonwalker’ itu? Hehehe… Kalo sampai iya, Bandung pasti lebih tersohor dari sekarang 🙂
      Saya sendiri belum nonton, Mas Iwan. *nge-Youtube aaah*

  2. Kirain brotha sambil nyanyi-nyanyi di pidio itu… 😄

    Kalau dari atas menara di masjid agung jawa tengah ini, kurang lebih serupa pemandangannya serupa, tapi gak sama, brotha…

    ada pemandangan masjidnya sendiri, genting rumah-rumah tentu saja, dan ‘pelabuhan’ dan laut di ujung sana…kalau langit sedang bersih, mungkin pemandangannya akan tampak lebih bagus, semoga.

    Tapi tetap, kukira Bandung itu ngangenin yah, brotha. Dari suhu udaranya, tempat wisatanya dan … jalannya yang suka biki nyasar. Mwehehehe

    • Hahahaha… Belum bisa segila Mbak :))
      Wow! Bahkan pemandangan ‘pelabuhan’ dan laut bisa ketangkep, Mbak? Whooaaaa… saya mau banget naik ke sana. Kunjungan berikutnya deh, Insya Allah 🙂 Apalagi kalo langit lagi bersih alias gak mendung2 kayak belakangan ini yak, mungkin lebih wooooow 😀

      Apa yang Mbak bilang di poin terakhir memang… iyaaa 🙂 Bandung ngangenin. Saya suka jalan2 sempitnya, udaranya, hiruk-pikuknya, juga gadis-gadisnya :))))

  3. Waw.. Saya pernah tinggal di Bandung, tapi malah blom pernah kesini. Liburan minggu depan, insya Allah saya akan ke Bandung. Dan cerita ini, paaaaaaas banget. Terima kasih infonya, Mas Fatah. Btw, minta no kontak mbak Imazahra donk. MPers juga kan?

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s