Grombyang: Blasteran Rawon dan Coto Makassar

“Koyok rawon, tapi manis. Aku nggak suka.”

Pak Amin, salah satu anggota rombongan pengobatan alternatif di Pemalang, paling frontal menyatakan ketidaksukaannya pada nasi grombyang. Sebagai orang asli Lamongan, Jawa Timur, komentarnya cukup bisa diterima. Lidahnya terbiasa dengan makanan berbumbu pedas.

Pagi itu kami bertujuh memang sengaja memburu sarapan tradisional khas Pemalang. Saya dan Firman, teman saya, bahkan sengaja tidak sarapan di hotel.  Ingin memanjakan lidah sejenak dengan makanan khas daerah pantura itu.

Kami berangkat dari Regina Hotel, tempat kami menginap sejak Senin dini hari (11/12) dengan dua mobil carteran. Berbekal rekomendasi dari resepsionis hotel yang tertulis di secarik kertas, mobil pun dilajukan sopir ke arah barat. Tepatnya, Alun-Alun Kota Pemalang.

Di sisi utara Alun-Alun ada sebuah Indomaret dengan sebuah jalan aspal kecil di sampingnya. Itulah Jl. RE Martadinata, Pelutan. Total waktu yang dibutuhkan dari hotel ke lokasi, yakni Nasi Grombyang Pak H. Warso, adalah sekitar 20 menit.

Photo0885

Suasana di kedai Pak H.Warso sepi. Pemiliknya terlihat membersihkan meja. Beberapa tusuk sate berserakan di lantai. Saya bertanya-tanya dalam hati, ini baru dibuka dan kami pengunjung pertama atau sudah ada pengunjung sebelumnya?

Photo0886

Photo0888

Sebuah rombong pikul terletak di bagian depan kedai. Khas kedai soto yang selama ini sering saya jumpai. Saya longokkan kepala untuk melihat isi dandang kotak berbahan aluminium. Tampak kuah hitam yang langsung saya identifikasi sebagai kuah rawon.

Sebuah sarung bercorak kotak kuning, oranye, merah marun tersampir di pikulan yang terbuat dari bambu. Saya tak paham sarung itu fungsinya apa. Apakah memang sengaja ditaruh di situ atau bagaimana, saya tak sempat minta klarifikasi.

Photo0887

Di sisi kanan rombong ada baskom berisi aneka sate, antara lain: sate daging, sate babat, sate jantung, sate tulang muda, dan sate usus sapi. Ada pula bakul bambu besar berisi nasi serta tumpukan mangkuk kecil. Di mangkuk kecil itulah nasi grombyang dihidangkan.

Di bagian dalam, di atas meja dijual pula kue kamir, kue khas Pemalang warisan orang Arab keturunan. Firman mengambil sebungkus dan mencobanya. Saya ditawari. Saya comot. Anggap saja sebagai makanan pembuka. Nantinya, ia membeli beberapa bungkus untuk dijadikan oleh-oleh.

Photo0889

Kami segera ambil posisi di kursi dan meja panjang. Kami semua memesan nasi grombyang. Untuk minuman, ada yang memesan teh hangat, es teh, jeruk hangat, juga es jeruk.

Nasi grombyang lebih mirip rawon. Sejak sendok pertama, beragam komentar keluar dari para bapak dan ibu yang satu rombongan dengan saya. Rata-rata tidak siap dengan rasa manis kuahnya yang begitu kentara di lidah.

“Coba ditambahi sambal.”

Photo0882

Bagi saya, sambal hukumnya wajib. Apalagi kalau bertemu makanan jawa tengahan yang rata-rata manis. Biar tidak enek. Terbukti. Saya lebih bisa menikmati nasi grombyang dengan tambahan rasa pedas dari sambal cabe rawit.

“Kayak kombinasi rawon dan coto makassar,” ujar rekan saya, Firman. Saya mengiyakan. Disajikan di mangkuk kecil mengingatkan pada coto makassar. Siraman kuah hitam pekatnya dengan potongan daging sapi mengingatkan pada rawon.

Kuah nasi grombyang dicampur dengan kelapa sangrai. Nasi terendam di bawah kuah yang berlimpah sehingga terkesan hampir tumpah jika mangkuk bergoyang atau grombyang dalam bahasa Jawa. Dari sanalah makanan ini kemudian diberi nama nasi grombyang.

Saya menghabiskan nasi grombyang bagian saya sampai tandas. Sayang rasanya kalau tidak dihabiskan sebagaimana para bapak di depan saya, Pak Amin di antaranya. Tapi, urusan makanan memang tidak bisa dipaksakan.

Kuah nasi grombyang adalah salah satu alasan saya untuk menyeruputnya hingga tandas. Rasa kaldu sapinya begitu segar, sementara rasa gurihnya berasal dari campuran sangrai kelapa. Taburan bawang merah goreng dan irisan daun bawangnya juga berpadu lezat di lidah. Untung saja potongan daging sapinya yang empuk dan gurih tidak semanis kaldu aslinya, sehingga saya bisa menghabiskannya. Apa karena saya yang jarang rewel urusan makanan, ya? Apa pun bisa masuk ke perut asalkan halal.

Photo0884

Rasa kurang puas saya lihat terpatri di wajah para bapak. Sementara dua ibu yang ikut tak begitu menggubris rasa. Sembari berkomentar, nasi grombyang tetap masuk.

Nasi grombyang khas Pemalang, Jawa Tengah, ini harganya tak jauh beda dengan harga rawon kalkulator yang terdapat di Taman Bungkul, Surabaya, misalnya. Satu porsinya Rp10.000,-. Sementara satenya per tusuk harganya Rp2.500,-

Baiklah, tanpa perlu bertutur lebih panjang lagi, saya sarankan Anda untuk mencoba nasi grombyang. Jikalau suka yang manis-manis, tepat sekali berkunjung ke Nasi Grombyang Pak H. Warso yang sudah tersohor di Pemalang ini.

IMG-20121211-00037

Iklan

30 thoughts on “Grombyang: Blasteran Rawon dan Coto Makassar

    • Kalo pake kelapa sangrai jadi gurih2 gitu yak, Mbak. Enaknya sih rawon biasa. Maklum, terbiasa demikian di Surabaya dan Lombok 🙂
      Sate jeroan emang sedap. Bikin nagih. Tapi, awasss ingat kolesterol 😀

  1. Pernah makan nasi gandul dari kampung halamanku, Pati, Jawa Tengah belum Lalu? Aku sih belum pernah makan nasi grombyang. Dari deskripsimu, rasanya manis, mungkin mirip nasi gandul. Tapi nasi gandul gak mirip rawon sih. Manisnya manis gula jawa kalo gak salah. *mendadak lapar dan homesick*

  2. udah pernah. Hwehwe. Tapi keknya bukan di warung tersebut di atas itu, brotha. Lebih fokus ke satenya pas aku ke Pemalang. Dan pria di depanku langsung bengong *dan ilfil? :))* liatin aku ngabisin banyak banget sate. ahahahahangg…

    • Huahahaha…. sampeyan ternyata kalap juga ya sama sate 😀
      Satenya jeroan juga tho kayak di atas?
      Pusat kuliner Pemalang memang di alun2. Jangan2 sampeyan juga di situ? *soknebak* 😀
      Eh, terus prianya cuma bengong doang? Nggak Mbak lemparin tusuk sate? :p

    • Iyo, Mas. Sedikit aneh sih. Kalo rawon asin sih, biasa ya. Lha, ini manis. Bahkan, menurut pengakuan seorang ibu penjual soto lamongan, dia bilang kalo orang2 Pemalang malah aneh dengan soto lamongan. “Apaan soto kok kuahnya kuning?” Bagi mereka, soto ya macam nasi grombyang ini. Kuah hitam warna rawon dan manis.

    • Hehehe… Sama, Mas. Apalagi saya yang lidahnya terbiasa pedas oleh makanan2 Lombok kayak pelecing kangkung 🙂 Tapi, memang bukan buat komparasi sih. Dinikmati sahaja dengan menyiasatinya 😀

  3. Ping-balik: Ke Mana Saja Selama 2012 (Bagian 2) « Setapak Aksara

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s