Love Journey: ‘Perjalanan’ Indie Pertama

Bagaimanakah rasanya sukses? Aku tak ingin merasakannya. Aku ingin terus berkembang. [Musfar Yasin, penulis skenario Nagabonar Jadi 2]

Pengalaman pertama kerap kali tak terlupakan. Saya ingat pertama kali merantau ke Jawa tahun 2006, naik bus dan kapal feri. Pertama kali naik kereta api tahun 2007, waktu itu dari Malang ke Blitar, tak dapat tempat duduk pula. Pertama kali masuk bioskop di Mitra 21 Studio 3, Balai Pemuda, nonton film Perancis “Dans Les Cordes”. Pertama kali mbolang sendirian dari Surabaya ke Bogor dengan kereta api ekonomi, bus, dan angkot. Pertama kali naik pesawat dari Lombok ke Surabaya dengan di’titip’ oleh bapak dan kakak ipar melalui teman-temannya. Pertama kali buku solo terbit tahun 2011. Dan… kali ini adalah pengalaman pertama menyusun dan menerbitkan buku secara indie.

Saya suka pengalaman baru, tantangan baru. Mungkin ini jelmaan akumulasi pengalaman belajar dan membaca buku saat masa kecil dan remaja yang begitu intens, yang akibatnya saya jarang ke mana-mana. Ruang gerak saya hanya di rumah, sekolah, lingkungan tetangga, dan rumah teman-teman. Sekalipun saya bahkan tidak pernah ke luar pulau, sekadar Sumbawa yang paling dekat. Wisata dengan teman-teman pun paling mentok Senggigi, Kerandangan, Labuhan Haji, Joben, dan Tete Batu. Kebanyakan di Lombok Timur, di mana saya lebih banyak bertumbuh. Jadi, begitu ada peluang kuliah di luar Lombok, sejak itulah gairah bertualang dan menjemput pengalaman-pengalaman baru saya mendapatkan momentumnya.

IMG_3762

Love Journey: Ada Cinta di Tiap Perjalanan ini, salah satunya. Sebelum punya buku solo pada 2011, tulisan saya pernah tergabung di empat antologi. Setelah itu, di lima antologi. Delapan di antaranya adalah hasil lomba, satu gabung di penerbit mayor.

Nah, Love Journey ini adalah antologi peserta lomba yang saya adakan bersama Mbak Dee An. Jika sebelumnya, saya yang berlaga dalam lomba-lomba menulis kemudian diantologikan, kini saya yang jadi salah satu penyelenggara sekaligus jurinya. Ada bisikan halus dalam diri, “Kamu belum pantas jadi penyelenggara lomba menulis!” “Memang Kamu siapa sih, Tah?” Tapi, apa yang bikin saya pede melaju? Selain karena saya duet dengan Mbak Dee, juga saya mengadakannya di ruang maya Multiply. Khusus untuk narablog Multiply. Hadiahnya pun berupa buku dan suvenir. Tidak muluk-muluk. Sesuatu yang biasa Anda jumpai di jagad maya Multiply jika tergabung sebagai narablog di sana.

Selama sebulan berlangsung, ada 38 peserta yang menyetor tulisannya. Jumlah yang melebihi ekspektasi saya. Apalagi hampir setengahnya bukan kontak saya. Yang membuat saya kian tersanjung adalah pengakuan salah satu peserta bahwa lomba Love Journey membuatnya bersemangat untuk menyelesaikan draft tulisannya. Kelak, menurut penilaian kami, tulisannya layak masuk dalam buku Love Journey.

Kami tidak mempublikasikan wacana untuk menerbitkan tulisan para peserta. Saya dan Mbak Dee hanya mengobrol lewat PM (Personal Message). Membincangkan kemungkinan tersebut. Lantas, Mbak Imazahra, pendiri Muslimah Backpacker, ikut pula mengompori kami untuk membukukan tulisan peserta.

Itu obrolan bulan Juli sekelar pengumuman pemenang.

Kami pun mulai menggodok ide pembuatan buku ini biar lebih matang. Mengenai jalur penerbitan yang akan kami tempuh, calon tulisan yang layak masuk buku, jumlah halaman, sistem pencetakan, desain kover, tata letak, dan sebagainya.

Intinya, kami sepakat untuk mencoba jalur indie. Bukan kami ikut-ikutan tren perbukuan belakangan ini. Niat kami tak lebih untuk menjadikan buku sebagai kenang-kenangan bagi narablog Multiply. Seru saja punya buku ‘komunitas’. Kendati tetap tersemat harapan agar pembaca buku ini tidak sebatas lingkaran MPers semata.

Alasan kedua, karena ini berasal dari lomba pribadi, kami tidak muluk-muluk berharap bisa terbit lewat jalur mayor. Walaupun ada seorang kontributor dalam buku ini nantinya, yang pernah mengadakan lomba seperti kami, lantas tulisan-tulisan pesertanya diterbitkan oleh penerbit mayor.

Saya sendiri berpikir lain. Memang buku traveling lagi seksi-seksinya belakangan ini, tapi saya ingin merasakan bikin buku secara indie. Saya bercermin dari pengalaman kawan ACI saya, Adis, yang cukup sukses dengan buku traveling indienya. Saya ingin punya pengalaman seperti itu. Benar-benar mengurus buku dari nol. Tidak sekadar mengirim naskah dan menunggu bukunya terbit layaknya prosedur di penerbit mayor. Tapi, benar-benar mengurus semuanya: menghubungi penerbit, menyunting, mengurus tata letak, mendesain kover, mencari endorsers, dan sebagainya.

Untung saja saya punya tandem yang luar biasa. Semangat kami berada di frekuensi yang sama. Siapa lagi kalau bukan Mbak Dee An. PM demi PM. SMS demi SMS. Surel demi surel. Semuanya menyimpan jejak rekam semangat kami untuk membuat buku ini jadi versi cetak yang tidak main-main. Sekalipun buku indie, buku ini harus digarap serius. Itu saja.

Selain itu, penerbit yang kami ajak kerja sama juga sangat suportif dan akomodatif, yakni Mozaik Indie Publisher. Pertanyaan-pertanyaan kami dijawab dengan penuh kesungguhan. Jika memang jawaban ada di pihak percetakan, ia tak tanggung-tanggung untuk segera memperolehnya dan mengabarkan kami.

Tentu yang tak kalah pentingnya adalah peran rekan-rekan kontributor yang kami pilih dan hubungi via PM, jejaring sosial, juga surel. Tiap kali ada perkembangan terbaru dari diskusi dua arah saya dengan Mbak Dee dan atau pihak penerbit, selalu kami coba gelontorkan ke para kontributor. Respons yang hangat, kadang seragam, tak jarang berbeda, kami peroleh. Karena ini buku bersama, semua wajib terlibat. Masukan dan saran kami tampung dan godok kembali dengan sungguh-sungguh.

Sekali lagi, buku indie pun berhak untuk diperlakukan spesial. Tidak serampangan penggarapannya.

Bahkan, untuk pemilihan endorsers pun, kami sengaja pilih yang namanya sudah tak asing lagi bagi para pembaca buku traveling tanah air. Trinity saya hubungi, sayang sekali ia menolak karena mendekati keberangkatannya memulai perjalanan keliling dunia. Ade Nastiti, penulis Two Travel Tales, sempat mengiakan, namun terbentur dengan jadwal kerja dan ibadah haji. Gol A Gong memberi respons positif. Andrei Budiman, penulis Travellous, pun demikian. Mbak Katerinas, salah satu kontributor di buku ini, merekomendasikan Amril Taufik Gobel, narablog yang juga kolomnis travel Yahoo! Indonesia. Kami sambut masukan itu dengan antusias.

Jika ada yang menganggap bahwa kami tak pede dengan buku indie ini hingga sengaja menghubungi lima endorsers kawakan sekaligus, tak mengapa. Bagaimanapun, ini soal strategi. Kami ingin meluaskan kalangan pembaca. Kami ingin buku ini di’lirik’. Kami ingin mengenalkan diri pada penulis lain dan pembaca setia buku-buku mereka. Paling penting, kami memang berniat sungguh-sungguh menggarap buku ini. Memilih endorsers pun harus selektif.

Kami tak saklek dalam pembagian tugas ini dan itu. Siapa yang luang dan lega, silakan lakukan. Untuk penyuntingan, misalnya, saya ‘mengajukan’ diri pada Mbak Dee untuk mengurusnya. Saya sering buka KBBI daring, memangkas dan merapikan kalimat-kalimat yang kurang efektif, memperbaiki tanda baca, meng-googling nama dan istilah, dan lain-lain. Yang paling melekat adalah bolak-baliknya saya membuka blog iniย untuk mengetahui pemakaian partikel -pun secara tepat.

Sementara itu, untuk tata letak dan kover, saya mempercayakan sepenuhnya pada Mbak Dee. Dia jago urusan ini. Saya cukup mengetahuinya dari buku pertamanya yang terbit juga secara indie. Jago memotret, jago edit foto, saya pun yakin ia jago di bidang desain.

Kendati demikian, kami tetap berdiskusi mengenai tulisan, foto, juga desain kover. Saling memberi referensi jika dirasa ada yang kurang. Misalnya, ketika calon-calon kover ditunjukkan Mbak Dee pada saya dan saya masih kurang sreg, saya coba cari referensi melalui Google. Tautannya saya berikan pada Mbak Dee. Sinergisitas yang solid adalah kunci. Kerelaan itu pasti. Kerja sama dalam frekuensi energi yang sama adalah berkah yang patut disyukuri sepenuh hati.

Sembari edit sana edit sini, jalinan komunikasi dengan para kontributor tetap kami eratkan melalui satu PM. Salah satu yang paling krusial dan mungkin agak sensitif adalah pembiayaan. Awalnya kami hendak memakai sistem POD (Print On Demand). Namun, dari guliran diskusi dengan penerbit, kami pun dapat pencerahan agar mencetaknya dalam jumlah banyak biar bisa masuk toko buku. Kawan-kawan kontributor menyambutnya dengan antusias.
Efeknya, biaya cetak dan distribusi yang membengkak. Untung kami berdelapan belas, jadi terasa lebih ringan. Kami juga memilih sistem royalti untuk pembagian keuntungan. Per tiga bulan sekali akan dapat laporan penjualan.

Bagi beberapa kawan kontributor, Love Journey adalah buku pertama mereka. Bahkan, buku pertama yang masuk toko buku. Sebuah prestise, pasti.

Dan, saya menangkap animo mereka yang berpijar begitu kuat. Buku pertama ini memompa mereka untuk semangat berkarya. Untuk melahirkan karya-karya berikutnya. Silvani bahkan membuat catatan mengenai itu di blognya. Bagi saya pribadi, rasanya luar biasa. Bahagia bila melihat orang lain bahagia karena kita itu…tak bisa diungkap dengan kata-kata.

Bolak-balik merasakan sensasi yang menantang, kadang mengejutkan, tak jarang bahagia, kami alami dalam proses pembuatan buku ini. Misalnya, ketika semangat saya kedip-kedip gara-gara ketiban panggilan kerja ke Jakarta. Ketika mendiskusikan biaya cetak, sistem royalti, dan hitungan-hitungan lainnya yang membuat saya pening. Ketika musyawarah dengan 17 kepala mengenai kover dan biaya. Ketika kover Love Journey akhirnya kami tayangkan untuk pertama kali di jejaring sosial dan blog. Ketika kami kejar-kejaran dengan deadline ditutupnya blog Multiply kami semua, sehingga harus bikin grup di Facebook. Dan, tentu saja ketika buku kami akhirnya diluncurkan dan dibedah di dua kota sekaligus pada waktu bersamaan: Malang dan Batam pada hari Minggu, 23 Desember 2012.

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Peluncuran dan bedah bukuย Love Journeyย di Togamas Dieng, Malang

Bareng

Intinya, selama proses pembuatan buku ini yang dimulai sejak April 2012(penggodokan ide lomba menulis Love Journey) hingga diluncurkan secara resmi ke publik pada Desember 2012, banyak pelajaran yang kami timba. Banyak suka juga dukanya.

Jikalau kemudian kami merayakan kelahiran buah pikiran kami ini dengan mengadakan bedah buku di dua kota, itu karena kami ingin memperlakukan Love Journey secara istimewa. Boleh saja keuntungan materi belum kami cecap, namun kepuasan batin tak bisa kami bingkai dengan kata.

LJ

Dan, kami mengibarkan bendera asa pada buku ini. Biarlah ia melaju jauh menemui para pembaca di belahan dunia mana pun. Harapan kami cuma satu: pembaca terjalari energi cinta sekelar membaca buah karya kami ini.

Love Journey: Ada Cinta di Tiap Perjalanan. Ya, cinta itu pun kami rasakan dalam perjalanan mengantarkan buku ini ke khalayak pembaca.

Selamat mereguk sari pati langlang buana dan cinta.

Iklan

34 thoughts on “Love Journey: ‘Perjalanan’ Indie Pertama

  1. keren tah.. sukses ya bukunya.. juga buat dee.. emang selalu ada cinta dalam setiap perjalanan, pun ada cinta dalam menerbitkan buku secara indie.. lebih keren lagi penerbitnya pun anak empi.. benerbener buku kenangan..

    • More than love and journey ๐Ÿ™‚
      Bagus nih jadi judul lagu ๐Ÿ˜€

      Ada di antara kawan kontributor yang bisa bikin lagu nggak? Biar nanti kalo kita bikin book trailer “Love Journey”, bisa jadi soundtrack-nya?

      Another new indie project :)))))

  2. maaf ya Tah baru bisa komen, akses inet agak susah neh lewat pc karena di kantor lagi pindahan ๐Ÿ˜€

    Seperti yang pernah aku tulis di status mozaik di FB, setiap buku punya jalan kesuksesannya sendiri-sendiri.
    Love Journey, sebuah buku yang awalnya hanya diplanning POD namun ibarat bola salju yang terus menggelinding menjadi besar, planning itu berkembang sedemikian rupa hingga seperti ini.
    Mozaik sekali lagi berterimakasih atas kepercayaan para penulis untuk menerbitkan kumpulan naskah terbaiknya di Mozaik. Perjalanan panjang selama 9 bulan yang tak terlupakan kemarin,ikut memicu kami untuk melangkah lebih jauh: berhubungan dengan distributor, mengadakan event di dunia nyata dll.
    Tak lupa kami mohon maaf atas kekurangan n kesalahan yang tidak sengaja kami lakukan, semoga ga bikin kapok ya he3
    Semoga Love Journey mampu menjangkau lebih banyak pembaca lagi n menginspirasi siapa saja untuk melakukan travelling, aamiin.

    • Aamiin…
      Betul sekali, tiap tulisan punya takdirnya masing-masing. So that’s why amat bijak kiranya untuk tidak semena-mena membuang tulisan. Ide itu mahal. Mending disimpan. Ia rekam jejak proses kreatif menulis seseorang.

      Untuk penerbitan Love Journey, sejauh ini kami puas, Mas. Kalo dikasih skala 1-10, saya kasih 8 deh. Dua sisanya karena masih ada beberapa typo yang saya jumpai (hasil suntingan saya belum rapi) dan lainnya adalah masukan dari teman juga pembedah akan buku kita ini.

      Saya menyimpan keyakinan bahwa suatu hari nanti Mozaik akan menjadi penerbit yang besar dan punya nama harum. Semoga semangat dan idealisme Mozaik untuk menumbuhsuburkan budaya literasi di Indonesia terus menyala ๐Ÿ™‚

      • Yupe setuju sekali, setiap tulisan kita itu berharga sekali, no matter whats people say. mereka ga tau jatuh bangunnya kita saat menulis.

        Alhamdulillah, aku pribadi salut ama kejelian kamu dalam mengedit, ketauan pas udah final eh tnyata masih aja ada yang salah ๐Ÿ˜€

        Aamiin Ya Robbal Alamiin, semoga dikabulkan dan dimudahkan oleh Allah.

    • aamiin…….
      Makasih atas kerja samanya yang luar biasa ini ya Mr. Moz….
      Makasih juga udah sabar meladeni kami, terutama aku, yang bolak-balik gak mudeng… hehehehe…

  3. Ping-balik: Proses Lahirnya “Love Journey” « Setapak Aksara

  4. Ping-balik: berpetualang menjelajahi cinta โ€“ LOVE JOURNEY โ€“ « J'Aime Bien Lire

  5. Ping-balik: Melanglangbuanalah Sampai Waktumu Hilang | Setapak Aksara

  6. Ping-balik: Di Balik ‘Mengeja Seribu Wajah Indonesia’ | Setapak Aksara

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s