Ke Mana Saja Selama 2012? [Bagian 1]

“Don’t tell me how educated you are, tell me how much you traveled.” – Mohammed

Ini semacam rekap singkat perjalanan saya ke beberapa tempat. Masih di kisaran Pulau Jawa. Belum dapat rezeki ke Takabonerate dan atau ke salah satu dari lima destinasi keren (Pulau Weh, Wakatobi, Pulau Komodo, Derawan, dan Raja Ampat) melalui kompetisi Indonesia Travellers yang saya ikuti 🙂

Saya tidak mengurutkan berdasarkan periode waktu. Sebab, ada beberapa daerah yang saya kunjungi lebih dari satu kali dalam setahun untuk kegiatan yang sama: jalan-jalan dan literasi.

Magelang

Waisak Trip. Kami menyebutnya demikian. Saya dan geng ACI 2011 melakukan reunion trip dengan mengikuti prosesi Waisak di Magelang, khususnya di Candi Borobudur pada bulan Mei lalu.

Foto oleh @gilang8r dan @efenerr

Foto oleh @gilang8r dan @efenerr

Sebenarnya, ini trip ketiga geng ACI 2011 setelah Tanakita (Sukabumi) dan Goa Jomblang (Yogyakarta). Namun, ini jadi trip pertama yang saya ikuti.

Menyaksikan prosesi acara umat Buddha secara langsung meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. Selama ini, dari enam agama yang diakui di Indonesia: Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha dan Konghuchu, dua agama terakhirlah yang masih amat sangat awam bagi saya. Awam karena saya belum punya teman Buddha dan Konghuchu sekadar untuk bertukar pikiran.

Foto oleh @gilang8r dan @umenumen

Foto oleh @gilang8r dan @umenumen

Kesan lain yang membekas adalah masih kurangnya kesadaran para wisatawan lokal dalam merekam prosesi Waisak. Lagi-lagi, mental poskolonial yang diliputi pemikiran akan eksotisme, sepertinya menguasai para wislok waktu itu. Buktinya, kilatan cahaya kamera berhamburan ke arah umat Buddha yang sedang khusyuk ibadah. Tidakkah mereka sadar kalau itu malah mengganggu? Mereka pikir para bhikkhu itu objek mati? Tak ada proses komunikasi dan mungkin sedikit toleransi dari para pemegang kamera canggih itu kepada mereka. Apa lagi kalau bukan euforia, namanya?

Jakarta

Dalam setahun ini, saya ke Jakarta dua kali. Pertama, waktu peluncuran buku “TraveLove” di Jakarta Book Fair pada akhir Juni. Kedua, waktu dapat panggilan kerja di bulan Juli.

Talkshow TraveLove di Jakarta Book Fair

Talkshow TraveLove di Jakarta Book Fair 2012

Sehari sebelum bedah buku, saya main-main ke Kota Tua. Sendirian. Dilepas di Blok M oleh teman ACI yang saya inapi rumahnya. Dari situlah, saya memulai perjalanan hari Jumat saya dengan mengunjungi Monas, Masjid Istiqlal, dan menyasarkan diri di Museum Mandiri di Kota Tua.

Jakarta6 - Kota Tua

Di Istiqlal, saya kena jackpot. Naik ke lantai dua karena ingin memotret dari situ, saya malah ditawari sandal oleh seorang pemuda. Usianya saya kira tak jauh dari saya. Dia mengaku hendak pulang ke Sukabumi, tapi kehabisan uang. Ia ingin menjual sandalnya agar punya ongkos pulang. Kalau malam tidur di Gambir, siangnya melipirkan diri ke Istiqlal. Saya iba, tentu. Meskipun mendapati banyak ‘lubang’ cerita yang ia buat. Ya, saya yakin sekali dia bohong.

Tapi, saya mencoba berbaik sangka. Saya jadikan ia pemandu saya untuk keliling Kota Tua.

Beberapa hal keren yang saya ingat tentang dia, antara lain: 1) Dia cukup paham Jakarta, terlepas dari pengalamannya pernah bekerja sebagai koki di restoran, tapi kok tidak punya teman untuk dihubungi dan dimintai tolong? 2) Saya sempat kaget ketika turun dari KRL di Stasiun Kota, petugas meminta saya agar lain kali beli tiket yang benar. Kami naik AC waktu itu, sementara beli tiket yang ekonomi. Saya yang menyediakan duit, yang membelikan adalah si pemuda (yang mengaku dari) Sukabumi itu. Saya cuma geleng-geleng kepala. 3) Dia ahli mengatur mimik muka, menutupi mungkin, sehingga ketika saya bertanya hal-hal yang membuat saya tidak yakin dengan dirinya, ia menjawabnya tanpa ekspresi berlebihan. 4) Dia mendapatkan tiket kereta dari saya, dapat makan siang gratis, juga selipan uang Rp50 ribu. Hebat juga pemuda ini! Kenapa tidak berprofesi sebagai pemandu wisata saja?

Kali kedua ke Jakarta, diterima kerja di sebuah media online. Turun meliput ke Jatinegara dan Mampang Prapatan waktu bulan puasa dengan naik kereta, ojek, juga bus way, cukup membuat saya puyeng dengan Jakarta.

Tujuh hari kemudian, saya resign.

Bandung

Ini kali kedua saya ke Bandung setelah ke sana akhir 2011. Masih dalam rangkaian talkshow “TraveLove” di Gramedia Merdeka. Semobil dari Jakarta, sehotel (Kecuali Mbak Trinity dan Mbak Rini Raharjanti), dan berbincang banyak dengan para travel writers seperti Mas Ariyanto, Mbak Sari Musdar, dan Bang Andrei Budiman, saya merasa unyu sekali. Seru sekali terlibat pembicaraan dengan mereka.

Makan siang nan telat di Bancakan seusai talkshow (Foto: @sarimusdar)

Makan siang nan telat di Bancakan seusai talkshow (Foto: @sarimusdar)

Satu hal yang terekam jelas di benak saya adalah klarifikasi catatan saya yang ini oleh Mbak Trinity. Mas Ariyanto ikut menimpali. Saya kaget ternyata ia membaca blog saya. Mbak Trinity pun meminta maaf pada saya. Saya tersentuh. Kami saling memaafkan.

Keesokan harinya, saya menuju Kawah Putih. Sendirian saja. Dan, di situlah saya benar-benar nelangsa ketika sepasang cewek cowok bilang begini ke saya, “Mas, daripada foto-foto sendiri, mending fotoin kita aja…” Dan, mereka tertawa!

Nelangsa saya total. Sudah kena charge angkot yang cukup mahal, diledek pula.

Nelangsa di Kawah Putih

Nelangsa di Kawah Putih

Yogyakarta

Pertama waktu Waisak Trip. Titik perjumpaan dengan geng ACI 2011 adalah Jogja. Untuk keperluan penyewaan motor, belanja di Pasar Beringharjo, dan titik balik lagi nantinya setelah dua malam di Magelang.

Kedua dan ketiga, dalam rangka mengurus kuliah adik saya, Ofah. Alhamdulillah, setelah meyakinkan Bapak, adik perempuan saya itu diberi izin merantau ke Jawa. Awalnya di Surabaya biar dekat dengan saya, tapi adik saya tidak lolos. Kami pun menuju Jogja dengan harapan bisa diterima. Dan, di sanalah harapan itu berlabuh. Ia diterima di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional 🙂

Dalam masa itu, saya pun sempat main ke kantor Bentang Pustaka dan mengunjungi Festival Museum “Museum Goes to Istana” 2012 di Pagelaran Kraton Yogyakarta bareng Mbak Desi.

Di Festival Museum "Museum Goes to Istana"

Di Festival Museum “Museum Goes to Istana”

Gresik

Saya tidak mudik lebaran. Saya lebaran di kampung halaman dua teman kontrakan saya, Praja dan Nanda, di Sidayu, Gresik. Rumah Mbah Kakung mereka ternyata dekat juga dengan tambak. Suatu sore, saya main-main ke sana. Cukup indah juga pemandangannya dan bisa menangkap sunset ini.

Menangkap 'sunset' di tambak

Menangkap ‘sunset’ di tambak

Bagaimana rasanya tidak pulang lebaran untuk kedua kalinya? Lebaran tahun 2011, lagu “All by Myself” yang dinyanyikan Charice, saya putar bolak-balik di kamar. Lebaran tahun ini, saya cukup berlega hati karena dilingkupi keluarga teman saya, baca buku M. Natsir yang mengingatkan saya akan kegagalan saya kerja di Jakarta, serta dilimpahi makanan. Poin terakhir ini yang membuat saya jinak dan tidak menggalau balau.

Iklan

22 thoughts on “Ke Mana Saja Selama 2012? [Bagian 1]

  1. Brotha…kamu pemuda yang seswuatu… :p
    Aku belum seberani-dan pikiran belum tenang kalau urusan yang satu dan yang lain ini belum kelar- dirimu!
    Udah ke mana-mana selama setahun…
    you rock! \m/

    • Apakah ‘seswuatu’ itu? susu watu ta? buat ngelempar, enak tuh 😀 ahahaha…

      Tapi, Mbak jauh lebih hebat dari saya karena bisa fokus dalam satu hal. Yakinlah, fokus itu yang akan membuat bintang Mbak bersinar di kemudian hari. Menjadi ilustrator dan novelis kawakan yang hebat 🙂

      Senang bisa ngobrol banyak dengan sampeyan waktu di Semarang. Bagian Semarang akan saya masukkan di bagian 2 tulisan ini 😀

      • Iya, Bang. Kalo dijadikan satu, nggak enak dibaca. Bikin malas pembaca blog. Hehehe…
        Itu pengalaman sama pemuda itu, layak untuk dibikinkan satu cerita utuh nantinya 😀
        *mencarikan takdir yang tepat untuk itu tulisan* 😀

      • hahaha…terus nek susu watu njur bentuke koyok piye, brotha? cair-cair atos ngunu…? ahahaha *apa ini*

        itu dua, brotha, bukan satu hal! haha. Ais…jadi bingung mau balas ngomong apa kalo udah gitu…

        Mari saling menyemangati karena kau juga begitu, cetar membahana tiada tara! 🙂

        My pleasure, brotha. Aku juga senang…^_^ Siyap! Will be waiting! 🙂

      • yo, ngono kuwi. mirip jeli kali yak. wakakaka… *uuuupppsss
        yes, kalo dalam hal2 positif, kenapa tidak, saling menyemangati?
        karena kita masih muda, beda, berbahaya! *anak ular cobra kaleeee

    • Hohoho… Kerennya karena berwarna, Mbak Tin. Nggak monokrom 😀
      Bagi sebagian orang mungkin mikirnya, buat apa? Tapi, saya karena punya misi untuk jadi pencerita, jadilah hal2 macam begini jadi cerita 😀

      Iya… Saya perlu sering2 bertemu orang, biar tahu bahwa di luar sana ada jutaan karakter 😀

  2. Photo yang dicandi keren banget,,,sama yang di kawah putih…

    Cerita mas Fatah makin bikin ‘kesengsem’…moga liburan semester ini bisa ke java land… 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s