Ke Mana Saja Selama 2012? (Bagian 2)

Setelah Magelang, Jakarta, Bandung, Jogja, dan Gresik, sesi ngelencer berikutnya menuju kota-kota di bawah ini.

Nganjuk

Saya diundang talkshow bertema kepemudaan dan safari budaya pada 28 Oktober oleh Komunitas Anak Nganjuk Cinta Ilmu. Saya berangkat dua hari sebelumnya, yakni pada Jumat, bertepatan dengan Idul Adha.

Saya harus berterima kasih pada Novida karena bersedia menampung saya di rumahnya di Nganjuk saat kondisi keuangan saya sedang kritis-kritisnya. Setidaknya, saya tidak perlu pusing soal makanan. Sambutan keluarganya yang hangat pun membuat saya tidak perlu sungkan atau rikuh membahana.

Saya dan keluarganya renang bareng, memburu sunrise di sawah tak jauh dari rumah, menggalah mangga-mangga montok yang jadi oleh-oleh saya ke Surabaya, makan nangka malam-malam, lesehan makan pecel di Jl. Ahmad Yani, dan yang paling berkesan adalah sesi foto-foto jelang sunset di Sukomoro.

Nganjuk2

Manusia pohon foto di Sukomoro 😀

Oleh panitia talkshow, saya dan pembicara satunya lagi, Mas Budi, diajak naik becak gowes satu malam sebelumnya. Pengalaman pertama yang cukup seru.

Bagaimana dengan talkshow-nya? Eh, sehabis kami ngomong-ngomong dan sesi tanya jawab plus game dari Mas Budi, ada pasangan calon bupati Nganjuk yang kampanye di situ. Keren banget deh mereka masuk ke acara anak muda. Meraup suara. Ihik!

Nganjuk3

Nganjuk1

Kediri

Kota ini menjadi titik keberangkatan saya dan teman-teman ke acara resepsi pernikahan dosen saya di Blitar. Kediri adalah kota teman saya, Praja. Dua teman saya dadakan ikut. Kami bertiga dari Surabaya.

Di Kediri, kami menikmati pecel dengan sambal tumpangnya yang khas. Kami juga ke Gunung Kelud dengan sedikit insiden ngeden-nya sedan Praja di jalanan yang menanjak sekaligus berkelok saat pulang. Berangkatnya kami ketawa-ketawa. Pulang dari situ, kami lebih banyak diam dan istighfar.

Kediri3

Di Kelud bareng Rohim dan Praja

O ya, menikmati Gunung Kelud ternyata harus naik tangga. Mengingatkan saya pada Bromo. Kawahnya yang sempat aktif beberapa waktu lalu, kini teronggok bagai tumpukan tahi Dewa yang sudah lama tidak buang air besar. Hitam, jelek dan tidak boleh disentuh. Ya, karena kawahnya dipagari. Pengunjung dilarang masuk, tapi boleh mesum. Terlihat adanya beberapa pasangan yang memojok di batu-batu besar di sekitar situ. Parah!

Kediri2

Mirip tokai Dewa, kan?

Kediri1

Pasangan Mesum

Blitar

Pulang dari kondangan dosen saya, kami berempat (saya, Praja, Adit, dan Rohim) ke Kompleks Makam Bung Karno. Terasa sekali hilangnya sakralitas makam Bapak Proklamator kita itu karena orang berfoto-foto di makamnya. Lagi-lagi saya mempertanyakan niat saya dan niat orang-orang yang ke situ.

Blitar3

Kompleks Makam Bung Karno

Fotografer di Makam Bung Karno

Fotografer di Makam Bung Karno

Masih di lingkungan situ, mampirlah kami ke museumnya yang besar dan cukup representatif menampilkan kilas balik sejarah Bung Karno dan Bung Hatta. Foto dan lukisan terpampang apik di dinding.

Blitar5

Di Museum Bung Karno

Ada satu lukisan Bung Karno yang menjadi pusat perhatian pengunjung yang terletak di sebelah kanan meja resepsionis. Lukisan itu harus dilihat dari samping kanan. Apa menariknya? Jantung Bung Karno di lukisan itu berdegup pelan!

Bagi awam, mungkin dianggap ada unsur mistisnya. Saya sendiri berpikir kalau degupan di kanvas itu adalah berkat bantuan teknologi.

Malang

Saya ke Malang untuk menjumpai teman-teman narablog Multiply saya: Mbak Katerinas dan pasangan yang akan melangsungkan pernikahan (waktu itu), Mas Ihwan dan Mbak Ivon. Kami kopdar ria dengan traveling ke Pantai Balekambang di Malang Selatan.

Ke Malang, tepatnya ke Pantai Sipelot, lagi bareng teman-teman kuliah. Kini status kami telah berbeda. Ada yang sedang S2 Public Policy di Perth. Ada yang baru pulang dari Halmahera setelah mengemban tugas sebagai Pengajar Muda dalam Gerakan Indonesia Mengajar. Ada pula yang lagi S2 di Surabaya. Saya dan seorang teman lagi masih bertahan di skripsi.

Kendati status telah berbeda, tapi kami tetap teman yang saling menghubungi jika ada rencana jalan-jalan. Sama-sama doyan jalan, itulah yang menyatukan kami. Uhuk!

O ya, perjalanan ke Sipelot sungguh menguras emosi. Lebih-lebih waktu trekking dari tempat parkir menuju ‘surga tersembunyi’ yang ternyata tidak bisa kami tuntaskan karena harus menyusuri pinggir karang yang aduhai ombak laut selatannya bikin jantung kebat-kebit.

Trek yang kami lalui membuat beberapa teman saya yang gemuk berkeringat parah dan raut muka mereka pucat. Setapaknya sangat sempit. Kanan bukit. Kiri jurang yang langsung menuju pantai. Inilah trek terlama dalam acara jalan-jalan bareng kami. Tapi, sungguh seru.

Naik dari pantai dan turun lagi, kami diserbu hujan. Kami pun mandi di rumah warga. Di belakang kamar mandinya, ada seekor babi besar melengos ke arah teman saya. Rupanya, minta digaruk tuh pantat babi biar lari keliling dunia!
Kunjungan ketiga, untuk bedah buku Love Journey di Togamas Dieng. Ini salah satu momen yang mengesankan di penghujung 2012. Bedah buku indie pertama yang saya garap bersama teman-teman.

???????????????????????????????

Semarang

Saya tumben ke Semarang. Rasa penasaran saya ada, tapi tidak sekuat mengunjugi Jogja. Belum ada faktor penarik. Sekalinya dapat panggilan untuk presentasi proyek pembuatan buku sebuah LSM, itulah jadi alasan ampuh saya menuju kota yang terkenal dengan lumpianya ini.

Nothing to lose. Saya ke sana membawa harapan bisa lolos seleksi sebagai penulis. Tapi, kelar presentasi dan dikomentari, saya sempat merasa tidak yakin. Setidaknya saya sudah bela-belain dari Surabaya ke Semarang. Mereka akan melihat usaha saya, saya berpikir demikian.

Kalaupun tidak lolos, saya masih punya agenda lain. Kopdar dengan teman narablog Multiply saya: Mbak Rana. Setidaknya, kopdar bisa menyelamatkan saya dari anggapan diri yang ‘tidak berguna’ karena jauh-jauh dari Surabaya.

Saya lolos. Alhamdulillah. Saya pun akan ke Kebumen dalam dua bulan ke depan. Wawancara, mengumpulkan data, dan menulis. Rasanya senang sekali. Apa lagi akan bekerja dalam tim dengan dua wartawan Tempo dan Jurnal Nasional. Ya, lagi-lagi saya dipertemukan dengan jurnalis. Bisa meraup ilmu dari mereka, tentu. Sebagaimana dulu ambisi saya mengambil tawaran kerja di sebuah media online di Jakarta.

Sore harinya, saya bertemu dengan Mbak Rana, seorang ilustrator dan novelis yang sungguh berbakat. Sebentar lagi ia akan mengadakan pameran ilustrasinya. Penggemar Neil Gaiman ini mengajak saya makan di Bakso Doa Ibu yang cukup tersohor di Semarang, lalu kami pun ke rumah dia, mengobrol cukup banyak dengan orangtuanya. Saya baru ngeh kalau bapak Mbak Rana, Pak Manang Wahyudi, adalah Sekretaris seumur hidup PAGAR KAKI LANGIT (Paguyuban Penggemar Teka-Teki Silang Sulit). Anggotanya tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Paguyuban yang kece!

Karena malam itu saya harus balik ke Surabaya (menginap di bus saja sebagaimana perjalanan bus Surabaya-Semarang), jadi saya pun meminta Mbak Rana untuk mengajak saya ngider Semarang.

Semaran1

Kubah Masjid Agung Semarang dan tiga menara tangguhnya

Sekelar beli lumpia untuk oleh-oleh, kami pun menuju Masjid Agung. Saya penasaran dengan cerita kemegahan masjid tersebut. Sayang, payung-payung besarnya lagi menguncup. Tempat wudunya pun mati. Saya yang berniat nyobain salat isya di sana, tidak kesampaian. Jadi, ke sana untuk foto-foto semata.

Dengan boncengan motor, kami ke Simpang Lima, kawasan paling hip di Semarang. Saya cukup penasaran dengan ikon Semarang ini. Bagaimana dengan Lawang Sewu, Gereja Blenduk, dan ikon wisata lainnya? Belum sempat saya kulik. Lain kali saja, mungkin sekalian menghadiri pameran Mbak Rana.

Semarang2

Berharap sih bisa beri kejutan pada Mbak Rana saat dia pameran dengan menghadirkan Neil Gaiman. Well, I talk about it here, therefore it’s not surprise anymore! 😀

Pemalang

Ini trip yang cukup berbeda. Bukan trip biasa. Kenapa? Karena saya tidak dalam rangka senang-senang dan hore-hore. Tapi, menemani seorang kawan dan rombongan eks pejabat Jatim yang berobat alternatif di Pemalang, Jawa Tengah.

Saya sih senang saja karena bisa menikmati fasilitas kereta eksekutif, hotel bintang tiga, diantar ke sana ke mari oleh sopir mobil sewaan, belanja oleh-oleh, dan makan gratis nan enak-enak. Apakah bisa dikategorikan simbiosis mutualisme, komensalisme, atau parasitisme? Bah! 😀

Pemalang, kota di Pantura, memang bukan destinasi wisata. Hotel kami mepet sawah. Depannya terbentang jalan raya Pantura. Truk, bus, tronton, mobil, dan kendaraan lainnya menjadi pemandangan yang ‘tidak’ menyejukkan mata 😀
Untung jalan-jalannya bareng rombongan bapak dan ibu yang juga hobi ngelencer dan pernah ke luar negeri. Jadi, sense of tourism mereka kuat, khususnya kuliner. Makanan khas Pemalang, nasi Grombyang, kami coba. Oleh-oleh berupa kue khamir juga kami buru. Sehari sebelumnya makan di RM Prima Spesial Kepiting.

Nasi grombyang

Nasi grombyang

Kue Khamir

Kue Khamir rasa durian asli

Bukannya menghindari makan kepiting dan beberapa jenis seafood karena rata-rata punya kolestrol tinggi (alasan itulah mereka mencoba pengobatan alternatif di Pemalang), para bapak dan ibu itu justru berkilah, “Nanti kan terapi lagi.” Sungguh, salah satu lelucon paling absurd yang saya temui.

Dua hari mereka terapi. Pulang terapi, makan enak. Dan, seru juga di malam terakhir sebelum pulang ke Surabaya, kami ‘gala dinner‘. Di situlah saya menemukan potongan kejadian macam ini. Saya tulis di status Facebook.

Pemalang1

Oke, itu sedikit rekap dari saya.

Bagaimana dengan teman-teman? Ke mana saja selama 2012 ini? Yuk, berbagi cerita 🙂

Iklan

23 thoughts on “Ke Mana Saja Selama 2012? (Bagian 2)

  1. Rasanya pengen ngequote satu-satu tapi kok malah gak bisa ngomong yah…wah, ‘balas dendam’ nih si brotha…hahahaha

    Berharap sih bisa beri kejutan pada Mbak Rana saat dia pameran dengan menghadirkan Neil Gaiman. Well, I talk about it here, therefore it’s not surprise anymore! 😀

    hehehehehe. wah. Beneran bisa pingsan di tempat, brotha, kalau Neil Gaiman sampe bisa datang ke Semarang!

    di Bakso Ibu yang cukup tersohor di Semarang
    Doa Ibu, brotha…:) selain itu, referensi soal kuliner di Semarang belum terlalu hebring. Tapi semoga lain kali bisa bawa brotha untuk nyicipin kuliner lain yah… 🙂

    • Iya yaaa… Nggak asyik nih WP, nggak bisa ngutip kalimat buat dikomen secara khusus 😀
      Saya sengaja ‘balas dendam’ biar impas. Awalnya malas bikin dalam satu postingan. Untung ada ide untuk bikin posting rekap ini.

      Oya, saya berdoa, entah Neil Gaiman yang ke sini mengunjungi Mbak atau Mbak yang ke ‘sana’ bertemu dengannya. Atau mungkin dipertemukan secara tidak sengaja dalam sebuah acara? Kenapa tidak? keep your dream alive 🙂

      Anyway, makasih ya buat koreksinya. segera deh saya ralat 😀
      Next time, coba kuliner lainnya yaaaaa… Thanks a million, Mbak 🙂

  2. hahaha.. sungguh menghibur membaca blog dikau yang ini..
    itu sungguh absurd ya berobat eh malah makan enak.. ke pemalang pasti ke mbak ajeng kah?

    foto rana cantik deh disitu.. walupun agak gelap..

    • Hehehe…
      Ke Pemalang itu ke Mbak Atun. Lokasi prakteknya tak jauh dari Alun2 Kota 🙂
      Di situ lumayan banyak yang berobat. Dari siang sampai tengah malam. Laris manis benar. Dan, saya perhatikan banget kalo pengobatan alternatif dia membuka kesempatan bagi orang2 di sekitar situ untuk bikin usaha juga, kayak warung makan dan hotel.

      Iya nih, kamera saku saya nggak okeh nangkap gambar. 😦

  3. Tah, ralat (ga penting juga sih sebenarnya) pas ke Balekambang itu kami belum nikah, makanya temen2 di MP pada bilang sekalian pre-wed.
    kayaknya kamu emang bener2 born to travelling, tiap tahun pasti pergi kemana-mana.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s