Ngarayau ke Jambi

“Ngarayau ke Jambi” berarti jalan-jalan ke Jambi. Ini perjalanan tiga hari (5-7 Januari 2012) saya dengan dua kawan, Firman dan Nino, untuk mengunjungi orangtua angkat Firman. Orangtua angkatnya kala memulai hidup sebagai mahasiswa S-2 di Murdoch University, Perth. Saya dan Nino cuma ‘ngekor’ doang sebenarnya. Ketika ditawari ikut, saya tak pikir panjang, langsung mengiyakan. Kapan lagi bisa ke Jambi?

Kesan pertama, Jambi itu panas. Udaranya gerah dengan tingkat kelembaban yang cukup tinggi. Keluar dari Bandara Sultan Thaha Syaifuddin, kami menyaksikan tata Kota Jambi yang kurang rapi meski pernah juga menyabet Adipura.

DSC_0898

Di rumah orangtua angkat Firman yang merupakan pasangan dosen Universitas Jambi (Pak Jefri Marsal) dan guru matematika di SMA (Bu Timang Sutera Islami), kami disambut dengan ramah dan hangat. Makanan disuguhkan, salah satu yang paling kami tunggu-tunggu adalah pempek buatan Bu Timang. Firmansyah sangat mengelu-elukan masakan Bu Timang. Dan, terbukti memang sangat enak! Pempeknya juara deh!

DSC_07131

Keesokan harinya, kami bertiga beserta keluarga Pak Jefri (dua anaknya ikut serta, Arung dan Intan) jalan-jalan ke komplek Candi Muaro Jambi. Banyak yang unik mengenai candi ini, salah satunya adalah sebagai candi dengan areal terluas se-Asia. Candi Muaro Jambi juga menyimpan sejarah yang unik mengenai keberadaan Kerajaan Sriwijaya. Jika selama ini Palembang mengklaim Kerajaan Sriwijaya berada di wilayah mereka, Jambi pun demikian. Setelah ditelusuri memang Jambi dan Palembang pernah menjadi satu wilayah dulunya. Orang Jambi berargumen, “Coba tunjukkan mana bukti peninggalan sejarah Sriwijaya di Palembang?”

Candi Gumpung

Candi Gumpung

Candi Tinggi

Candi Tinggi

Yang khas tentang Jambi, juga adalah Sungai Batanghari yang membelah kota ini. Batanghari adalah sungai terpanjang di Pulau Sumatera. Memang, di sinilah aktivitas masyarakat banyak berdenyut.

Ancol, salah satu titik di Batanghari yang menjadi lokasi nongkrong yang hip bagi anak muda Jambi. Di Ancol, kita bisa duduk-duduk santai sambil meneguk es tebu dan jagung bakar sembari melemparkan pandangan ke Sungai Batanghari yang kelam.

Pemandangan Sungai Batanghari dari Ancol

Pemandangan Sungai Batanghari dari Ancol

Mengudap jagung bakar dan es tebu di tepi Batanghari

Mengudap jagung bakar dan es tebu di tepi Batanghari

Selama di Jambi, kami bersyukur sekali dipandu oleh Mang Bogar yang merupakan pemuda asli Palembang tapi sudah lama bermukim di Jambi. Kami berkenalan di grup Lombok Backpacker yang saya asuh. Ketika ia main ke Lombok, saya tak bisa bertemu. Nah, ada kesempatan ke kotanya, kopdar jualah kami.

Makan surabi Bandung di Enhaii

Makan surabi Bandung di Enhaii

Mang Bogar mengajak kami makan serabi Enhaii khas Bandung. Serabi yang pernah saya coba juga di kota aslinya. Setelah itu, barulah kami menikmati malam di Ancol, tepi Sungai Batanghari. Mengobrol banyak seputar dunia jalan-jalan dan kota Jambi, tentu saja.

Masjid Seribu Tiang, Jambi

Masjid Seribu Tiang, Jambi

Dengan latar Masjid Al-Falah aka Masjid Seribu Tiang

Dengan latar Masjid Al-Falah aka Masjid Seribu Tiang

Interior masjid yang khas Melayu

Interior masjid yang khas Melayu

Dia juga yang mengantarkan kami keliling kota dengan sepeda motor. Termasuk belanja oleh-oleh dan mampir sejenak di Masjid Seribu Tiang. Masjid yang jumlah tiangnya ratusan, sebenarnya, tapi saking banyaknya makanya dijuluki Masjid Seribu Tiang. Di sini, saya sempatkan diri salat sunnah dua rakaat. Masjidnya sangat sejuk karena tiada tembok pembatas di sisi kiri, kanan, juga belakang. Angin pun bebas mengalir, terutama embusan dari arah Sungai Batanghari. Tak heran jika masjid ini menjadi salah satu kebanggan masyarakat Jambi yang memang relijius.

Kopi Jambi

Kopi Jambi belum juga sempat saya seduh 😀

Mang Bogar pun mengoleh-olehi kami masing-masing dengan kopi Jambi. Wah, siapa sih yang hendak menolak? Semoga kelak kami bisa membalas kebaikannya. Begitu juga kebaikan dan keramahan yang telah disuguhkan oleh keluarga kecil Pak Jefri.

Foto keluarga: Bu Timang, Intan, Pak Jefri, Firman, Saya, dan Nino

Foto keluarga: Bu Timang, Intan, Pak Jefri, Firman, Saya, dan Nino

Siapa yang hendak ke Jambi, persilakan diri mampir ke Candi Muaro Jambi, belanja di Pasar Angso Duo, menikmati malam di Ancol tepi Sungai Batanghari, serta mencoba kulinernya yang mantap macam pempek.

Satu lagi, tak henti-hentinya kawan saya, Nino, berdecak kalau cewek Jambi itu cakep-cakep :))

Nah, lho!

Tertarik ke Jambi?

Iklan

21 thoughts on “Ngarayau ke Jambi

    • Hehehe…
      Mungkin ada unsur politisnya, Mbak Tin 🙂
      Ntar deh saya cari tahu via google 😀
      Di kontrakan, nggak ada yang doyan2 amat minum kopi. Tapi, kami sering dapat kopi oleh2 dari teman2 yang abis ke luar kota 🙂
      Pempek Bu Timang? Nanti saya tag orang-nya agar ikut berkomentar di sini 🙂

    • Wah jadi malu ni, Masa orang padang ngasi resep pekmpek?
      Tapi kalau mau dengan senang hati saya share deh:

      Bahan:

      -. 1 kg daging ikan giling. (ikan tenggiri, atau gabus, atau kakap, boleh juga teri medan, dll)
      -. 600 ml air
      -. 1 kg sagu cap tani
      -. 40 gr garam halus
      -. 2 siung bawang putih dihaluskan
      -. 6 genggam minyak sayur

      -. secukupnya minyak sayur

      Cara:

      aduk sampai benar tercampur dan menyatu garam, bawang putih, ikan, dan air. Tambahkan 6 genggam minyak sayur aduk rata kembali.
      Masukkan tepung sagu aduk rata ( setelah sagu di masukkan tidak boleh di uleni, hanya di aduk tanpa di tekan dan di remas ) sampai tercampur rata.
      Didihkan air dengan minyak sayur secukupnya
      Masukkan adonan pekmpek yang sudah di bentuk, rebus sampai terapung dengan api kecil.

      Selamt mencoba Titin

    • Naaah… ini yang tidak sempat saya kulik. Ancol di Jambi ini juga jadi kawasan wisata air sungai. Di sini ada macam festival perahu dayung. Mungkin agar Ancol di Jambi bisa setenar Ancol di Jakarta 🙂

    • Sama-sama, Mbak Yusni 🙂
      Maaf pula karena keterbatasan waktu, saya tidak bisa berjumpa dengan kawan-kawan Sandal Jepit.
      Mudahan lain kali bisa bersua dan bincang-bincang atau bahkan trip bareng 🙂

  1. bagaimana dengan sejarah pempek itu? Mungkin belum banyak orang mengetahui asal usul Pempek. Merdeka.com berhasil mewawancari budayawan asal Palembang Yudhy Syarofie, Minggu (29/12).

    Dia menjelaskan, antara tahun 1.400-1.500-an masehi, terjadi hubungan antara pedagang dari China dengan masyarakat Palembang. Pedagang-pedagang China tersebut membawa berbagai macam makanan seperti bakso, kekian, ngohyang, dan bakpau. Bahan baku makanan tersebut tidak halal. Padahal, sebagian besar masyarakat Palembang beragama Islam.

    Karena menyukai makanan yang dibawa pedagang China itu, masyarakat Palembang mencoba mencari ide untuk membuat penganan yang menyerupai seperti bakso. Beruntung, saat itu masyarakat Palembang sudah mengenal makanan berbahan baku sagu. Apalagi tanaman dan pengolahan sagu sudah ada di kawasan Pesaguan Palembang pada saat itu. Sedangkan bahan baku daging diganti dengan ikan. Sebab, sebagai daerah perairan, Palembang berlimpah beragam jenis ikan tawar.

    Di situlah terjadi adaptasi bahan baku makanan yang dilakukan masyarakat Palembang. Yakni dengan mempergunakan bahan baku ikan Belida, sejenis ikan air tawar bertubuh bongkok dan berdaging yang banyak terdapat di perairan Sungai Musi.

    “Masyarakat Palembang mengkreasi makanan yang dibawa pedagang China yang tidak halal itu dengan mencari bahan baku yang halal berupa sagu,” terangnya.

    Ada juga cerita dulu, kata dia, yang mengatakan, Pempek berasal dari sebutan ‘apek’, sebutan untuk lelaki tua keturuan China. Sekitar tahun 1.600, seorang apek yang tinggal di tepian Sungai Musi merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah, namun hanya sebatas digoreng dan dipindang. Lalu, ia mencoba alternatif pengolahan lain dengan mencampur daging ikan giling dengan tapioka sehingga menjadi makanan baru.

    Makanan itu ia jual berkeliling menggunakan sepeda. Karena pembelinya sering mengejarnya dengan terburu-buru, maka dengan spontan para pelanggannya sering memanggilnya dengan sebutan ‘pek, sipek, apek’, dan sering diucapkan berulang kali ‘pek pek’ dan akhirnya dikenal sebagai Pempek Palembang atau empek-empek Palembang.

    “Apapun ceritanya, itu yang pastinya pempek sudah lama dikenal masyarakat Palembang,” ungkapnya.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s