Mati di Indische Koffie

Sari Musdar in Action! :)

Sari Musdar in Action! 🙂

Menulis itu menyenangkan. Ia menyenangkan kalau kita menulis apa yang kita sukai. Tidak dibebani oleh tanggapan pembaca. Tidak berada di bawah bayang-bayang editor. Kendati tidak menampik jika ada penulis yang justru lebih suka kalau dikenakan tenggat. Idenya akan mengalir selancar angin jika ‘ditekan’. Tak ubahnya pompa angin.

Menulis apa yang kita sukai itu pula yang menjadi salah satu titik yang ditekankan oleh Sari Musdar, penulis novel Cinderella in Paris. Ia membagi-bagikan ilmu menulis kreatifnya di Indische Koffie, Benteng Vredeburg, Yogyakarta, pada Minggu, 17 Februari 2013. Gratis!

Saya sengaja hadir di acara tersebut karena ingin ‘mencuri’ ilmu Mbak Sari. Saya berniat menulis novel, meski saat ini masih mentok. Sempat menulis beberapa halaman, tapi terhenti. Ya, karena saya tidak punya outline. Saya tidak punya gambaran besar akan ke mana novel tersebut saya bawa. Hanya serta-merta saja menulis. Satu yang pasti, saya akan coba mengangkat setting lokal, Lombok, dalam novel saya tersebut. Impian saya begitu.

Selain itu, saya juga sedang residensi di Kebumen. Cukup dekat dari Jogja. Hanya butuh 2 jam kalau naik kereta atau 2,5 – 3 jam kalau menumpang bus. Waktunya pun Minggu, jadi saya leluasa sejenak menyegarkan pikiran setelah berkutat dengan para narasumber di desa.

Sekalian saya hendak menengok adik perempuan saya yang kuliah di sana. Mengajaknya santai-santai sehabis ia ujian semester.

Satu alasan lagi. Saya ingin bertemu Mbak Sari lagi setelah pertemuan pertama di Jakarta-Bandung waktu bareng bincang buku TraveLove. FYI, saya dan Mbak Sari menulis bareng  tujuh travel writer lainnya di buku yang diterbitkan oleh B-First, lini Bentang Pustaka tersebut. Jadi, ada alasan saya untuk kopdar dan menyerap ilmu Mbak Sari yang saya pantau sangat aktif berbagi ilmu lewat jejaring sosial.

Peserta bergantian memperkenalkan diri

Peserta bergantian memperkenalkan diri

Dan, di sanalah saya. Hadir sebagai peserta. Sama dengan yang lain. Kendati ketika menyatakan diri akan datang, Mbak Sari meminta saya untuk sharing pengalaman seputar menulis, saya mengiakan. Saling berbagi ilmu, bukankah itu menyenangkan. Lebih-lebih kebanyakan yang hadir adalah orang-orang yang suka jalan-jalan. Ada dari komunitas Couch Surfing, Backpacker Dunia, Backpacker Jogja, dan sebagainya. Mereka datang dari Surabaya, Solo, Salatiga, Jogja, dan sekitarnya. Bahkan, ada juga ibu muda yang lagi hamil, bela-belain datang dari Surabaya.

Acara dimulai pukul 10.00 WIB. Dibagi ke dalam dua sesi. Masing-masing sesi ada latihannya.

Mbak Sari juga membagikan lima tips menulis kreatif, di antaranya:

  1. Transformasi yang ada di otak ke tangan
  2. Menulis cepat
  3. Jangan menulis sekaligus mengedit
  4. Deskripsi lima indera
  5. Show not tell

Saya kira Anda bisa memahami lima tips di atas. Silakan dipraktekkan.

Materinya gampang dicerna dan aplikatif!

Materinya gampang dicerna dan aplikatif!

Biar lebih tertancap di kepala, Mbak Sari langsung meminta kami untuk praktek. Salah satu poin menarik adalah menulis dengan strategi 3 kata, yakni bagaimana kita menyusun tulisan dengan bantuan tiga kata yang paling mewakili ide tulisan. Mbak Sari melemparkan tiga kata: backpacker, copet, dan gadis manis. Kami pun diminta untuk meracik sebuah paragraf dengan memasukkan tiga unsur kata itu. Ya, otak dipicu untuk berpikir dan berkreasi. Namanya juga menulis kreatif.

Tanpa pikir panjang, saya mulai oret-oret di atas kertas yang dibagikan Mbak Sari pada semua peserta. Jujur, saya bersemangat sekali. Seperti sedang berkompetisi dengan peserta lainnya. Otak dan hati dipicu untuk olah pikir dan olah rasa. Bagaimana caranya agar menghasilan tulisan yang hidup dan menarik dibaca.

Lalu, Mbak Sari juga memberi tips agar kita menulis di tempat yang energinya bagus. Mungkin di kamar mandi, perpustakaan, meja makan, ruang tidur, teras, atau kebun belakang rumah. Tergantung Anda. Cara mengetesnya, menurut Mbak Sari, adalah dengan mencoba menulis di berbagai tempat. Jika dengan durasi yang sama, Anda bisa menulis lancar dan paling banyak di tempat A, maka di situlah Anda biasakan diri untuk disiplin menulis. Itu berarti tempatnya memang menyimpan energi bagus untuk menuangkan gagasan Anda.

Di sesi kedua pascarehat, para peserta ditantang lagi untuk menulis. Penulis buku Panduan Hemat Keliling Amsterdam,Brussel,Paris,Luxemburg & Trier (B-First) itu menantang kami untuk menulis sebuah travelogue, baik berwujud fiksi maupun nonfiksi. Sebab, selama istirahat, kami telah dipersilakan untuk mencari ide travel writing dengan berjalan-jalan di sekitar Benteng Vredeburg, entah itu mau ke Pasar Beringharjo, ke Mirota, atau kisaran Benteng saja. Nah, sesi rehat itu, saya malah asyik obrol-obrol dengan Wana (The Travelist) dan Rio (Backpackidea), dua teman backpacker yang untuk kali pertama bertemu di dunia nyata.

Tapi, saya sudah punya ide untuk menjadikan Indische Koffie sebagai latar cerita saya. Ya, saya coba menulis fiksi. Mencoba menerapkan ilmu travel writing yang juga pernah saya dapatkan dari Gol A Gong tahun lalu di Surabaya. Apalagi Mbak Sari juga memberi keleluasaan bagi kami untuk memilih fiksi atau nonfiksi dalam latihan sesi kedua ini.

Suasana di dalam Indische Koffie

Suasana di dalam Indische Koffie

Dan, setelah merangkai cerita, saya pun menjudulinya ‘Mati di Indische Koffie’. Saya lupa mendokumentasikan tulisan saya dan langsung saya kumpulkan saja pada Mbak Sari untuk dinilai. Namun, secara garis besar, saya membuat cerita tentang dua tokoh, laki-laki dan perempuan, yang janjian ketemu di Indische Koffie. Padahal si tokoh laki-laki ini amat benci dengan aroma kopi, sebab itu mengingatkannya pada sepenggal kenangan masa lalu nan buram. Tapi, entah kenapa ia mau saja memenuhi permintaan si perempuan.

Nah, saya dari awal ingin membuat cerita yang agak kelam tapi tetap manis dengan ending yang belum saya tentukan. Ketika sudah mendekati tepi bawah halaman kedua, saya coba eksekusi cerita saya yang kiranya sekalian bisa saya jadikan kunci untuk bikin judul. Jadilah ‘Mati di Indische Koffie’ itu mencuat.
Kesannya misteri. Padahal ‘mati’ di cerita yang saya bikin ini lebih pada ‘mati gaya’. Ya, melalui kalimat terakhir di ending cerita, saya tunjukkan perasaan si tokoh laki-laki yang merasa ‘mati gaya’ di sebuah tempat yang ia sendiri tidak sukai.

Mbak Sari membaca tulisan saya dan berkomentar, “Lalu ternyata romantis juga ya…” Oke. Jujur saja, hidung saya langsung kembang-kempis kayak terowongan Casablanca plastis.

Justru, komentar macam begitulah yang akan bikin saya ‘mati’. Mati gaya.

Bohong! 😀

Iklan

18 thoughts on “Mati di Indische Koffie

  1. Seingatku, Fatah juga mengaku sebagai pribadi yang romantis ketika diwawancarai untuk ACI dulu kan ya? 🙂 Menarik sekali pertemuannya Tah. Penasaran sama penjabaran 5 tips menulis kreatif itu. 🙂

    • Hahaha…
      Itu alam bawah sadar yang berbicara. Memang ada sedikit kecenderungan itu. Beberapa orang menilai demikian juga. Entahlah :))
      Lima tips di atas, mana yang belum jelas, Cek Yan? Mungkin nanti bisa saya mintakan materi presentasinya pada Mbak Sari 🙂

  2. cieeeeee… yang romantis… yang romantis… 😀
    gak salah tuh secret admirer-nya sampe klepek-klepek… hauahahahahaaaa….

    eh, kemaren aku bilang tentang rencana iseng ya?
    tau gak, aku udah nulis surel lewat hp. udah nulis panjang lebar tuuuh… sampe gak nyadar kalo itu hp baterainya udah sekarat. nyadarnya waktu layar hape udah gelap, padahal aku belum sempat meng-klik tulisan ‘send’ 😀

    paginya pas ngecek email, aku cari email yang belum sempat terkirim itu.. cari di sent folder gak ada. cari di draft juga gak ada… huaaaaaaaa…..
    udah ngetik panjang lebar sampe jepol ngapal, dan ternyata hilaaaaaannng.. 😦

    mau kirim ulang email, udah keburu lupa ama apa yg mau ditulis.. 😀

    tapi.. barusan baca lagi jurnal ini, jadi inget lagi… entar ya aku surelin… :DDD huahahaha.. surelin???

    • hahaha…
      haduh, haduh…
      well, ini jurnal intinya sekalian tebar jaring gitu ya… siapa tahu ada yang mau sama pria romantis. wakakaka… *gosok-gosok muka pake kain pel*
      oke deh! saya tunggu di kotak surel ide iseng Mbak 😀

  3. Duh sayang bgt tidak didokumentasikan hsl tulisan “Mati di indische koffie” padahal pengen baca mau liat seberapa romantiskah mas lalu lewat tulisan tsb 😉

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s