Panen Pelajaran di Ladang Muslimah Backpacker

Tuan saya meminjam kemeja teman kontrakannya sebelum berangkat ke Malang. Jadi, jika ada yang memuji kemeja kotak-kotaknya, takkan mampu membuat hatinya bungah. Sebab, itu bukan kemeja miliknya. Ia sengaja pinjam untuk membuat penampilannya lebih rapi. Biar tidak dikira gembel, mentang-mentang kata orang, ia backpacker.

Ia berangkat dari Surabaya dengan bus Restu. Bus berwarna hijau menyegarkan. Ada gambar pandanya. Kursinya empuk. Ia duduk di dekat pintu belakang. Ia lebih suka. Biar leluasa memerhatikan orang-orang. Biar lega memindai pemandangan sekitar dari balik jendela. Kondektur menarik ongkos Rp10.000. Ekonomi AC. Syukurlah!

Malam sebelumnya, ia tak sempat makan. Sarapan pada hari keberangkatan pun tidak. Untung ada sebungkus wafer ia selipkan di tas selempang kecilnya. Ia camil. Biar ada yang dimangsa oleh asam lambungnya.

Pusing. Ia merasakan itu. Tentu saja, pengaruh energi yang belum tersuplai. Maka, tiba di Terminal Arjosari, Malang, otaknya memberi kode sangat kuat. “Kamu harus makan segera, Tah!”

Ia juga beberapa jam ke depan akan menjadi pembicara. Berbicara itu butuh asupan kalori. Jika tidak, bisa jadi ia akan pingsan? Ah, berlebihan! Paling kepalanya pening, matanya berkunang-kunang, konsentrasi luber, dan hanya kata-kata tanpa pemikiran masak yang akan keluar. Ia tidak mau seperti itu.

Pembicara acara apa? Kau bertanya? Baiklah, saya jelaskan.

Saya, menyambi jadi penimba ilmu Uni Dina

Saya, menyambi jadi penimba ilmu Uni Dina

Tuan saya ini berbicara mengenai tulisan perjalanan (travel writing). Bersama Uni Dina Y. Sulaeman (penulis “Pelangi di Persia” yang telah dijuduli ulang menjadi “Journey to Iran”), ia berbagi pengalaman jalan-jalan dan menulisnya. Undangan yang jauh-jauh hari telah ia setujui. Undangan dari kakak ketemu gede yang sama-sama bergolongan darah O dengan dia, Imazahra Fatimah, yang juga pendiri komunitas Muslimah Backpacker.

Iya. Dia hadir di acara Muslimah Backpacker yang jadi satu rangkaian gerbong dengan Bromo Trip sekaligus Book for Mountain di Desa Tosari.
Ia senang. Senang sekali. Ia bisa berbagi semangat. Berbagi secuil pengalamannya. Mendapat teman-teman baru yang punya hobi dan minat sama yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Ada yang dari Medan, Jakarta, Semarang, Bengkulu, Yogyakarta, Cirebon, Bontang, Samarinda, Palangkaraya, dan lain-lain.

Tuan saya ini bertanya-tanya dalam hati ketika satu per satu para peserta mengenalkan diri mereka. Kok mereka bela-belain datang, ya? Hanya untuk trip tiga hari dua malam di Malang – Bromo – Malang. Apa yang memicu mereka? Apa yang mendorong mereka? Jauh-jauh berkereta api ekonomi dari Jakarta? Jauh-jauh berpesawat dari Medan? Jauh-jauh gonta-ganti moda transportasi dari Kalimantan? Bahkan, sampai hampir ketinggalan kereta. Masuk ke jalur busway, padahal harusnya ke stasiun. Bahkan, ada pula yang ketinggalan pesawat tapi tetap nekat berangkat.

Tuan saya ini tetap bertanya-tanya. Namun, ia tak perlu jawaban gamblang yang meluncur dari bibir 50-an peserta yang hadir. Bagi dia, kala frekuensi energi telah sama, tak usah dipaksa mengeluarkan jawaban tersurat. Ya, frekuensi energi yang pas setelannya itu bernama semangat. Semangat untuk menapak sepetak bumi Tuhan. Semangat untuk menyerap hal-hal baru. Membasuh mata. Menghirup udara berbeda. Mendengar logat bahasa yang tak biasa. Mengikuti perintah suci Tuhan. Bertebaranlah kamu di muka bumi…

Para pemburu matahari terbit

Para pemburu matahari terbit di Penanjakan II

Tapi, tidak seidealis itu jawabannya.

Karena Tuan saya pun tak sanggup menahan tawa kala celetukan meletup di udara bahwa mereka ikut perjalanan Bromo ini untuk mengusir stres. Demikianlah para pekerja kantoran. Pun para ibu rumah tangga. Juga mahasiswa galau tugas juga skripsi macam Tuan saya.

Tuan saya sendiri. Laki-laki. Di antara 51 muslimah backpackers. Para muslimah yang mayoritas berhijab, namun berjiwa petualang. Tidak menghitung tiga laki-laki lain yang ikut dalam trip ini: sopir rombongan Mbak Ima (Kang Wahyu), suami Mbak Ima (Aa Risyan), juga adik seorang peserta asal Cirebon.

Apakah Tuan saya merasakan sesuatu? Maksud saya, apakah Tuan saya tidak merasa errr…gimana gitu dalam rombongan perjalanan yang kebanyakan adalah perempuan? Muslimah pula, yang tentu lebih menjaga tata perilaku juga bahasa pergaulan?

Tuan saya awalnya membayangkan sebuah perjalanan yang kikuk. Tidak boleh bercanda. Tidak boleh narsis bersama dalam bidikan lensa. Tidak boleh membahakkan tawa. Tidak boleh duduk sejip di Bromo. Dan segudang ‘tidak boleh’ lainnya karena mereka muslimah dan Tuan saya muslim. Bukan mahram.

Aa Risyan dan Mbak Imazahra, pasangan romantis!

Aa Risyan dan Mbak Imazahra, pasangan romantis!

Para muslimah backpackers di Penanjakan II

Para muslimah backpackers di Penanjakan II

Di Bukit Teletubbies

Di Bukit Teletubbies

Sendiri, Mbak Andrie, membidikkan kamera

Sendiri, Mbak Andrie, membidikkan kamera

Tapi, syukur saja Tuan saya ini punya bekal di dalam dirinya. Untuk tetap menjaga sikap. Memandang para muslimah backpackers sebagai saudari-saudarinya yang harus dihormati. Setara sebagai pejalan. Tidak memandang diri lebih berpengalaman. Sebab, apalah artinya menyombongkan diri. Toh, Tuan saya ini takkan sanggup menembus bumi dan takkan bisa semenjulang gunung-gunung yang tinggi.

Jadi, itulah yang tertanam dalam diri Tuan saya. Setara. Sehingga ketika sempat terbersit perasaan yang kufur nikmat, ia mencoba untuk segera menyetel pikiran dan hatinya. Kamu bukan siapa-siapa.

Lebih-lebih, ia memahami bahwa misi Muslimah BackpackerΒ ini mulia sungguh. Melalui aktivitas jalan-jalan, tak sekadar kenikmatan duniawi yang direguk. Namun, kesadaran untuk jadi backpacker yang bergerak menjadi duta agama sekaligus bangsa melalui hal-hal kecil sederhana sekalipun (Imazahra, 2013).

“Ringannya tangan memungut batu tajam yang menggelinding ke tengah jalan umum, menyimpan sampah pribadi (hingga bertemu tong sampah), bahkan tersenyum ramah pada setiap pejalan adalah mimpi kecil saya pada sosok muslimah penyuka backpacking… Dengan sederhana saya dirikan Muslimah Backpacker, komunitas perempuan penyuka perjalanan murah meriah sekaligus tak melupakan fiqh safar.” (Imazahra, 2013).

Lihatlah. Betapa mulia. Dan, kemuliaan itu bukanlah sekadar jargon yang hanya perlu dipuja-puji. Tuan saya menyadari itu. Ia bahagia bisa berada dalam salah satu barisan itu. Tanpa perlu membikin sekat tebal bahwa ia – Tuan saya – bukanlah anggota dari komunitas itu. Selama dalam kebaikan – semoga demikian – mengapa harus merasa risih dan terbebani?

Book for Mountain from Muslimah Backpacker

Book for Mountain from Muslimah Backpacker

Lebih-lebih, kala menyaksikan keriaan anak-anak Desa Tosari yang mendapat buku-buku bacaan menarik sumbangan para muslimah backpackers, hati Tuan saya tersentuh. Ia makin meyakini impiannya akan terwujud. Membuat gerakan serupa di tanah kelahirannya, Lombok. Lebih-lebih, di dalam bus pun ia mendapat kawan berbincang yang bekerja di Yayasan Pustaka Kelana. Perbincangan yang menghangatkan hatinya. Hangat oleh semangat, kendati di luar bus, hujan turun menawarkan nuansa dingin.

Tuan saya sangat suka memerhatikan pertanda. Mencoba menjalinkiatkan rentetan kejadian yang ia alami. Ia meyakini, perjalanan tiga harinya bersama muslimah backpackers adalah kepingan mozaik yang akan membentuk kehidupannya kelak.

Tuan saya, misalnya, banyak belajar mengelola group trip. Bagaimana mengondisikan peserta. Membuat keputusan yang terkesan otoritatif, tapi itu harus ditempuh. Memanajemen emosi dan pikiran saat bernegosiasi dengan beragam pihak. Serta mengelola konflik.

Sebab, ia pernah mengadakan trip semacam ini dan tidak seratus persen berjalan mulus. Ya, perjalanan yang bergerigi justru ladang pelajaran.
Tuan saya juga belajar untuk terus mengasah kemampuannya berkomunikasi. Berkomunikasi di depan komunitas khusus perempuan. Muslimah Backpackers. Ia harus belajar memilih diksi. Mengelola sikap.

Tuan saya juga belajar menyerap cerita-cerita dari para muslimah backpackers dengan beragam latar belakang mereka. Kendati hanya sepotong-potong, karena tak leganya waktu juga lowongnya tempat, tapi cukup membantunya menguaskan warna di kelabu otaknya. Keberagaman adalah keniscayaan. Kita berbeda, tapi setara. Demikian jargon multikulturalisme yang direkam kuat oleh Tuan saya. Dan, coba ia terapkan selalu selama bertebaran di bumi-Nya.

Sebenarnya, banyak hal yang ingin diceritakan oleh Tuan saya selama tiga hari perjalanannya dengan para muslimah backpackers. Bagaimana ia mengambil pelajaran dari seorang bule non-muslimah yang ikut bergabung dalam trip itu. Bagaimana membaca kerendahhatian seorang Uni Dina Y. Sulaeman, ibu rumah tangga yang tak menunjukkan sikap bahwa ia penulis hebat. Bagaimana mencontoh spirit seorang Pencerah Nusantara, Dr. Avis, yang sungguh membuat hati jadi cerah. Bagaimana menghargai kenarsisan Mbak Lusi, yang selalu sigap berpose sementara Tuan saya serta-merta jadi pengutak-atik setia Nikon D5100-nya. Bagaimana mempelajari kesabaran Aa Risyan dalam mendukung kegiatan istri tercintanya, Mbak Imazahra. Bagaimana Tuan saya bercermin pada masa lalu Β kala melihat Embun, putri Bi Iffah, yang tak rewel sebagai muslimah backpacker paling cilik. Bagaimana menyadari bahwa kepercayaan adalah modal penting dalam berkomunitas. Bagaimana nilai-nilai plus yang coba disebarluaskan oleh Muslimah Backpackers: jalan-jalan sembari berbagi.

Tuan saya memang selalu menginjak-injak saya selama tiga hari perjalanannya dengan para muslimah backpackers. Tapi, saya tak protes. Sebab, saya ikut digembleng pula olehnya. Untuk menjadi benda yang tak banyak mengeluh, tetap setia menyimak, mencari intisari hidup, dan mencoba membagikannya pada khalayak.

Salam takzim saya.

Si sendal gunung berdebu.

Tuan saya di Puncak Bromo dengan latar Gunung Batok

Tuan saya di Puncak Bromo dengan latar Gunung Batok (Foto: Loesi)

Iklan

32 thoughts on “Panen Pelajaran di Ladang Muslimah Backpacker

  1. Perjalanan singkat yang begitu sarat makna, penuh canda tawa, penuh pelajaran, dan pengalaman. Terima kasih Bapak, karna telah memotivasi saya dengan beragam cerita dan kesabaran hingga sy bisa menapaki tangga Bromo 10 langkah-10 langkah hingga terlihat kebesaran dan keindahanNya di puncak teratas.

    • Yeee… saya dipanggil ‘Bapak’. Masih klimis kriting gini. Muda pula!
      Ayooo, ada berapa anak tanggakah yang berhasil kita hitung? Well, it’s not actually so mystical, right? Biasanya kan isunya kalo anak tangga itu jarang yang berhasil dihitung dengan tepat. Padahal cuma butuh latihan konsentrasi saja :))

  2. Perjalanan 3 hari yang singkat namun sarat makna, pesan, dan pelajaran. Terima kasih telah memotivasi dari 10 anak tangga awal hingga 131 anak tangga di atasnya sy bisa menikmati kebesaran dan keagunganNya. See you on next trip calon Bapak Diplomat πŸ™‚

  3. Ih aku merinding baca catatan perjalanan si sendal gunung berdebu ini πŸ™‚
    Dari fotonya aja kelihatan kalo Bromo mulai memanggil-manggilku ^^

    OOT : Seneng dapet link blog mbak Dina yang ternyata nge-WP juga πŸ˜€

  4. Antara malu dan seneng ada namaku yang ikut mejeng di cerita ini. Hehe..
    Terimakasih ya Mas Fatah, udah jeprat jepret ‘kenarsisanku’..senang sekali rasanya justru bisa ‘dekat’ dengan dirimu mengingat aku ketinggalan acara traveltalk karena perjalanan dengan bisa Jogja-Surabaya-Malang yang memakan waktu..
    Sukses terus ya mas Fatah..

    • Hehehe… Sama-sama, Mbak Lusi. Saya juga berterima kasih karena dapat kesempatan ‘main-main’ dengan Nikon Mbak. Insya Allah hendak beli DSLR juga dalam waktu dekat ini. Ingin belajar motret lebih serius lagi. Karena berniat menjadikannya sebagai pelengkap pekerjaan saya nantinya.
      Ya, kiranya ada maksudnya pula, saya dipertemukan dengan teman-teman MBers. Banyak meraup pelajaran dari trip kemarin πŸ™‚
      Sukses juga buat sampeyan.

  5. sandal….tuanmu ini keren loh! udah jadi pembicara, jadi fotografer jg, entah jadi apalagi dia kemarin, yg jelas kehadirannya memberikan banyak pelajaran, mengurai makna, menambah warna, dan menimbulkan sejuta inspirasi di kepala.

  6. Sandal, kamu beruntung loh…. punya tuan yang bisa menghargaimu. Walau kamu ditakdirkan untuk dinjak-injak tapi kamu tidak pernah mengeluh malah memberi inspirasi buat tuanmu…. Sukses selalu buat mas Fatah, Semoga bisa ikut lagi di trip-trip MB berikutnya…..

  7. Ping-balik: Trip to Bromo, with Muslimah Backpacker! | My daily life...

  8. Reblogged this on honeymoonbackpacker and commented:
    Tulisan Lalu Abdul Fatah setelah mengikuti ‘Bromo Trip by Muslimah Backpacker’ pada tanggal 9-11 Maret 2013.

    Terima kasih untuk liputan yang bernas dan mendalamnya, Dik Fatah πŸ™‚

    See you soon in Lombok Trip! πŸ™‚

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s