Gemar Geografi

Bersama Bang Abner Krey di Pantai Tikus, Bangka, dengan latar perahu-perahu penambang timah.

Bersama Bang Abner Krey di Pantai Tikus, Bangka, dengan latar perahu-perahu penambang timah.

Sejak duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, saya gemar pelajaran IPS. Bahkan, sempat mewakili sekolah di lomba mata pelajaran IPS dan PPKn hingga tingkat Kecamatan Selong. Langkah saya terjegal oleh murid SDN 3 Pancor, M. Fathi, yang akhirnya jadi kawan sekelas saya selama tiga tahun di SMA.

IPS itu kebanyakan hafalan. Saya suka. Apalagi banyak nama ‘asing’ saya temukan selama mempelajari buku-buku IPS. Entah nama tokoh, apalagi nama tempat. Saya selalu terpukau dengan nama-nama yang terdengar ‘eksotis’ atau ‘kranci’ kalau diucapkan. Misalnya, nih: Macapagal Arroyo, Christina Marta Tiahahu, Jean Jacques Rousseau, Sangihe Talaud, Pematang Siantar, Deli Serdang, dan nama-nama lainnya.

Saya pun suka main tebak-tebakan nama ibukota propinsi. Atau menebak-nebak daerah A lokasinya di provinsi mana. Apalagi di era 1994-2000, provinsi kita masih berjumlah 27. Tapi, sejak adanya pemekaran wilayah, otonomi daerah, dan saat itu santer sekali istilah ‘krismon’ – padahal saya pribadi tidak tahu apa, cuma tahu kalau orangtua saya mengeluhkan kenaikan harga-harga – provinsi di Indonesia pun bertambah satu demi satu. Hingga Provinsi termuda saat ini adalah Kalimantan Utara yang terbentuk pada 25 Oktober 2012.

Saat guru mengajarkan IPS pun, saya termasuk yang antusias. Apalagi pas ulangan. Lebih-lebih saat les sore hari yang mana guru sering melemparkan pertanyaan. Saya doyan mendahului menjawab padahal pertanyaan masih setengah dibacakan. Memang terkesan sekali tak mau kalah dengan teman lainnya. Namanya juga siswa ambisius. Apalagi fase itu, saya suka membantah perkataan orangtua sampai sering bikin beliau sakit hati. Lho, ada hubungannya emang? Ada! Hubungannya adalah kemampuan berbicara saya sedang bagus-bagusnya. Hahaha… Klop sudah! Tapi untuk mengobati sakit hati beliau, saya menghadiahkan nilai-nilai rapor yang bagus tiap caturwulan. Nangkring di lima besar.  Semoga itu cukup ya, Bu… *sungkem*

Numpang gethek di Sungai Musi

Numpang gethek di Sungai Musi

Kesukaan saya pada pelajaran IPS terus berlanjut ke bangku SMP. Apalagi pelajaran IPS dipecah-pecah jadi Sejarah, Ekonomi, dan Geografi. Dari ketiga ‘pecahan’ itu, Geografi yang paling saya gemari. Karena ngomongin bumi, mbahas negara, bahan tambang, hutan, dan sebagainya. Dibarengi nilai bahasa Inggris yang juga baik – waktu itu 😀 – dorongan masuk jurusan Hubungan Internasional kelak saat kuliah pun menyeruak di keluarga saya. Apalagi di’iming-iming’i bisa jadi diplomat nantinya. Kan, bisa jalan-jalan ke luar negeri tuh.

Di kelas 10 SMA, IPS tidak begitu saya sukai. Faktor guru. Bukan karena mata pelajarannya tidak menarik, tapi gurunya yang tidak menjelaskan dengan menarik. Tentu, ini berpengaruh pada minat siswa untuk belajar. Alhasil, pelajaran macam Sejarah dan Geografi acapkali bagai angin lalu.

Saat itu, tantangan lain hadir dalam bentuk ‘hasutan’ agar saya masuk jurusan IPA saja. Karena jurusan IPS dipandang sebelah mata. Apalagi anak-anak IPS di SMA saya tempat kumpulnya anak-anak bandel. Masalah pergaulan pun jadi pertimbangan. Sementara teman-teman saya yang pintar berbondong-bondong masuk IPA. Ah, dilema! “Nanti pas SPMB, bisa kok ambil jurusan IPS,” terang bibi saya yang paling perhatian urusan sekolah saya.

Hati saya bimbang. Fokus harus ditempuh. Di IPS dan Bahasa, saya terkendala masalah favoritas dan pertimbangan dari bibi saya yang selalu menyanjung-nyanjung saya: cocoknya masuk IPA. Padahal Di IPA saya merasa belum bisa maksimal. Kimia beberapa kali remedial. Fisika kok susah juga ya meskipun guru sempat ‘main tunjuk’ ke saya mewakili sekolah di Olimpiade Fisika dan saya memang tidak becus. Tidak lolos tingkat kabupaten. Tahun berikutnya dialihkan ke Olimpiade Astronomi. Ini masih mending, saya suka! Lumayan sampai propinsi.

Naik gajah di Taman Nasional Way Kambas, Lampung

Naik gajah di Taman Nasional Way Kambas, Lampung

Kendati begitu, ketika Geografi tidak lagi saya pelajari terang-terangan, tapi minat saya masih di situ. Mempelajari suatu tempat tidak lepas dari orang-orangnya, budaya, bahasa, dan hal-hal yang melekat dan menjadi ciri khas wilayah tersebut. Ini pun berpengaruh pada bacaan saya yang mulai bertransformasi ke sastra. Di sastra, tidak hanya bicara cerita, tapi juga setting dan bahasa. Setting cerita amat menarik disimak. Puisi saya lahap. Cerpen pun demikian. Nama-nama sastrawan yang terdengar ‘unik’ di telinga, kian memantik rasa ingin tahu saya. Coba ucapkan pelan-pelan nama berikut ini: Raudal Tanjung Banua, Korrie Layun Rampan, Motinggo Busye, Remy Sylado, atau Seno Gumira Ajidarma. Ritmis. Enak didengar, kan? J

Sementara itu, pengalaman saya dalam sastra pun tidak hanya sekadar membaca, tapi juga menulis dan deklamasi puisi. Melalui lomba-lomba yang saya ikuti hingga tingkat propinsi dan nasional. Ya, ada ketertarikan kuat untuk melintasbataskan karya saya. Biar tak terkungkung oleh batasan geografi. Biar tidak cuma di NTB semata.

Hal demikianlah yang menyeret saya kemudian untuk tidak semata-mata mendiamkan raga saya di kampung halaman: Lombok. Saya ingin tahu dunia luar. Saya penasaran seperti apa sih Pulau Jawa itu yang katanya menang fasilitas dibandingkan daerah-daerah lainnya. Saya ingin mengenal orang-orang di luar ‘diri saya’: keluarga, teman dekat, suku, dan komunitas.

Hijrah pertama pun saya lakukan ke Malang. Tanah Jawa. Dan, itu menjadi awal petualangan saya untuk menapaki daerah-daerah lainnya yang sebelumnya cuma saya ketahui keberadaannya lewat buku IPS, lewat buku Geografi, lewat buku sastra, lewat buku-buku cerita.

Berperahu di Waduk Sempor, Kebumen

Berperahu di Waduk Sempor, Kebumen

Bagaimana, misalnya, rasa excited saya kala bisa menginjakkan kaki di Pulau Bangka dan Belitong. Di pelajaran IPS saya mengetahui dua pulau ini sebagai penghasil timah. Lalu, ketika saya bisa menunggang gajah di Way Kambas, yang saya ketahui sebelumnya sebagai sekolah gajah. Dan, ketika saya melintas di Jembatan Ampera, Palembang, yang duluuuu di sebuah buku cerita saat Madrasah Ibtidaiyah, saya baca tentangnya. Tentang pempek dan ikan yang jadi bahan dasarnya. Juga tak terlukiskan rasanya ketika saya berperahu di Sungai Musi. Rasanya seperti mimpi. Juga ketika saya bisa berperahu di Waduk Sempor, Kebumen, pada hari Senin lalu (25/03). Nama waduk ini dulunya cuma saya kenal melalui buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap.

Saya tidak tahu. Apakah namanya ini. Semacam mozaik kehidupan?

Iklan

24 thoughts on “Gemar Geografi

  1. Asik juga ya, keeksotisan masa kecil bisa terwujud 🙂
    Kalo gw duluuuuu sma mungkin, pernah punya ritual di bandara tetangga sebelah berdiri sejenak melihat jadwal pesawat yang memang destinasinya lebih beragam dibanding cengkareng dan berharap suatu saat bisa benar benar kesana
    Belum kesampaian aja tapi 🙂

  2. Wowwww.. we have the same interest 😀
    Saya juga paling suka pelajaran IPS sejak SD. Pernah juga jadi juara 2 lomba IPS se kabupaten..
    Juga sering tebaktebakan nama ibukota negara…
    Pas SMP favorit saya sejarah, 😛
    Tapi dari SMA sampai S2 nyasar, SMA masuk IPA, S1 S2 masuk engineering…
    Mungkin kegemaran IPS ini yang membuat kita hobi jalan-jalan ya masbro…

    • Hehehe… *jabat tangan*
      Ya, perjalanan hidup ya… Tak pernah kita sangka jalannya ke mana.
      Ternyata apa yang kita jalani saat ini atau esoknya, kadang banyak mengalami persinggungan dengan masa silam kita 🙂

      • Yoa, ternyata rencana yang Diatas jauh lebih indah.. :p
        BTW, meskipun sudah belajar Engineering sampai bertahun-tahun saya juga gak begitu tertarik, pas S2 di sini malah ngambil kuliah Ekonomi (karena masih suka pelajaran IPS 😀 )

  3. Prestasi terbaik saya cuma sekali dapet nilai 10 di Geografi SMA…tapi cuma sekedar hafalan belum semelalang buana seperti sampeyan sekarang ini. Eh..itu kebumen dekat sekali dengan Cilacap kota saya bro..

    • Waaah… mantap kali dapat 10 Geografi :)) *prokprokprok* Hehehe… karena keinginan kuat saya untuk tidak sekadar tahu nama atau sekadar baca saja ya, tapi juga pengin mengalami langsung 🙂 kan lebih seru ya, Mas 🙂
      Iyaaa… Cilacap deket ya sama Kebumen. Saya belum sempat main ke sana. Semoga di sesi berikutnya 😀

      • iya, Tah… aku suka pelajaran peta buta itu sejak kelas 6 SD… 🙂
        trus sejak itu, rasanya seneeeeeng banget melototin atlas. jadi hobi yang keterusan. tiap jalan kemana aja, aku suka banget ngumpulin travel map. hehehehe… trus tiap ada temen yg pergi ke negara lain, aku pasti minta oleh2 travel map.. suka aja sih ngeliatin peta.. 😀

    • eh tapi waktu SMP, aku malah kebalikannya Wan… guru yg ngajar geografi itu ibu2, galak, bawel, ngajarnya gak enak banget deeh… (maafin saya, bu Sri…) tapi karena emang dasarnya suka ama pelajarannya ya aku asik2 aja.. gak ngaruh ama image sang guru yang jadi ‘musuh’ di tiap kelas….

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s