Kopi Luwak Made in Liwa

Kopi Luwak Made in Liwa di YES! Magazine

Kopi Luwak Made in Liwa di YES! Magazine

Pagi itu, saya dan enam kawan menuju sentra kopi luwak di Liwa, Lampung Barat. Kami ke rumah salah satu pengusaha kopi luwak. Pak Gunawan, namanya. Sayang, ia sedang ada urusan di luar. Untungnya sang istri bersedia kami tanyai seluk-beluk kopi yang masuk Guiness Book of Records sebagai kopi termahal di dunia ini.

Di ruang tamu, kami mengobrol sambil menyesap kopi yang berwarna agak kemerahan itu. Bu Gunawan pun mulai bertutur.

Ia dan suami mulai merintis usaha kopi luwak ini sejak lima tahun yang lalu. Awalnya dari hobi Pak Gunawan memelihara ular dan musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus). Luwaknya ada dua ekor, satu betina dan satu jantan. Yang betina diberi nama Inul, yang jantan Adam. Nama itu diberikan ketika penyanyi dangdut itu sedang naik daun. Sayang, Adam lepas ke hutan. Sementara, Inul muntah-muntah dan akhirnya mati setelah menjalani proses syuting liputan yang panjang dari sebuah stasiun TV swasta. Mungkin stres.

Jauh sebelumnya, Si Inul hendak dibeli oleh orang Korea. Tapi, Pak Gunawan menolak. Orang Korea itu mengatakan, “Begini saja, Pak. Kami yang merawatnya. Kami yang memberi makan. Asalkan eek (kotoran, red)-nya untuk kami.” Lantas, ia ditanya, “Memangnya mau dikasih makan apa?” “Biji kopi.”

Disetujui, orang Korea itu pun merapikan kandang Si Inul dan Adam yang bocor agar terhindar dari hujan. Tiap hari mereka diberi makan biji-biji kopi. Tiap pagi pula kotoran Si Inul dan Adam dikumpulkan. Mungkin karena sungkan bertandang tiap hari, sekitar empat bulan kemudian orang Korea tersebut pun menawar Inul dan Adam seharga masing-masing Rp1 juta. Lagi-lagi Pak Gunawan menolak. Orang Korea tersebut mengalah. “Baiklah, kami mohon bapak tetap memberi makan biji-biji kopi dari kami ini. Tapi, kotorannya untuk kami, ya?”

Lama-lama Pak Gunawan tahu bahwa biji-biji kopi dalam kotoran luwak ini diolah sedemikian rupa sampai menjadi bubuk kopi yang siap diseduh. Setelah melek mengenai khasiat, harga pasaran, dan prospeknya, Pak Gunawan pun mulai menekuni bisnis kopi luwak ini.

Luwak yang mereka pelihara adalah jenis Musang Bulan dan Musang Pandan. Hewan berbulu kecoklatan dengan moncong dan ekor berwarna kehitaman ini dibeli dari orang yang menangkapnya di hutan. Mereka ditangkap dengan cara dijaring, bukan dijerat. Sebab kalau dijerat, luwak rentan terluka dan dalam tempo tiga bulan bisa mati.

Bagi sebagian orang yang tinggal di pedesaan atau kawasan yang dekat hutan, luwak sering kali dianggap hama. Luwak suka memangsa ternak unggas penduduk. Tapi, sebenarnya hewan ini berjenis omnivora. Tidak hanya hewan dimangsa, tapi juga tumbuhan. Biji kopi, salah satunya.

Hebatnya, luwak hanya akan memakan biji kopi yang paling bagus kualitasnya, yakni biji kopi yang matang sempurna. Karena luwak-luwak ini dipiara di kandang, bukan dibiarkan bebas di kebun, maka hewan yang mengeluarkan samar-samar aroma harum pandan ini pun diberi makan biji-biji kopi robusta pilihan. Mereka juga diberi pisang, pepaya, susu, dan vitamin. Kalau daging, sebisa mungkin seminggu sekali. Itu pun amat jarang.

Kotoran luwak menyerupai gelondongan-gelondongan kecil. Kotoran yang baru dikeluarkan ini tidak langsung dicuci. Dibiarkan dulu sampai mengering. Barulah biji-biji kopi digiling sampai terpisah. Setelah itu, biji-biji kopi dibilas air sebanyak minimal tujuh kali. Lalu, dikeringkan kembali sebelum akhirnya disangrai dengan wajan atau di-oven.

Saran Bu Gunawan, jika ingin berbisnis biji kopi luwak, waspadalah dengan label ‘biji kopi luwak’. Sebab, harganya yang tinggi tak jarang memacu orang untuk menjual biji kopi luwak palsu. Untuk itu, jika ada yang menjual biji kopi luwak, pastikan masih berupa gelondongan kotorannya.

Menuntaskan obrolan kopi luwak pagi itu, saya membeli kopi luwak bubuk dalam kemasan. Kopi luwak yang berukuran 250 gr dijual seharga Rp150 ribu. Sementara, sachet 15 gr dijual Rp15 ribu. Bu Gunawan mengatakan, kopi luwak yang dijual ke Jakarta dijual Rp800 ribu per kilogram. Saya sendiri sempat ternganga ketika tahu kopi luwak yang dijual ke luar negeri kisaran harganya Rp4-5 juta per kilogram. Wow!

Harganya selangit, bagaimana dengan rasanya? Saya yang bukan penggemar kopi merasa tidak ada bedanya dengan kopi biasa. Namun, dari penjelasan Bu Gunawan, kopi luwak ada yang rasanya agak asam dan dan ada juga yang rasanya manis seperti gula merah. Aha! Barulah saya menyimpulkan kalau kopi yang kami sesap barusan adalah yang manisnya seperti gula merah.

Jika orang Belitong mengatakan, “Anda belum ke Belitong kalau belum ngopi di Pasar Manggar”, maka saya berani bilang, “Anda belum ke Lampung jika belum minum kopi luwak di Liwa.”

 

Artikel ini dimuat di YES! Magazine edisi Maret 2013. YES! Magazine adalah majalah besutan HI Unair. Twitter: @YESmagz

 

Iklan

7 thoughts on “Kopi Luwak Made in Liwa

  1. kebanyak yang minum kopi itu katanya bikin lambung perih, kalu minum kopi luwak lambung selamat deh karena sudah diproses sama perut luwak.. nah sekarang yang bikin daku penasaran kenapa kudu kopi robusta.. kopi itu ada dua jenis, robusta dan arabika, asam dan wangi.. luwak suka yang kopi asam ya? mungkin karena bikin lambung luwak jadi keren aja kali..
    harusnya bapak gunawan tetep berbisnis sama orang korea tuh kan orang korea tahu pasarnya.. bisa untung berlipatlipat.. kan sudah diurus “jalur”nya..

  2. Dan di Korea sini ternyata orang-orangnya memang lebeih suka ngopi dari pada nge-teh, beda banget dengan dua negara serumpun mereka, china dan jepang. padahal di Korea nggak ada pohon kopi.

  3. Baru kali ini ngeh bentuk kopi luwak yang masih gelondongan dan belum diolah. Dulu kebayangnya seperti biji coklat, jadi butiran kopinya ada didalam feses luwak dan tertutup sempurna, tdk nampak dari luar.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s