Kebumen, Sebuah Permulaan

Rumah Kost 'Bani Ibrahim'' yang asyik buat bertapa dan menulis :D

Saya tahu apa yang saya cita-citakan, makanya saya mengejarnya.

Mbak Desi Puspitasari, seorang novelis dan cerpenis, mengirimi saya pesan lewat Facebook pada 1 Desember 2012. Ia sebenarnya melanjutkan pesan dari temannya, Mbak Shalina Nur Hanna.

Assalamu’alaikum mbak py kabare?:)
Gini mbak aq dimintain tolong temen kantorku dulu di LSM anak di Kebumen. Namanya Plan Indonesia. Mereka mau bikin dokumentasi dlm bentuk buku dn foto tentang perjalanan mereka di Kebumen berikut program, desa dampingan dll. Mereka skrg lg hunting penulis yang bisa partisipasi. Yang dicari kalo bs ngga cma bs nulis tp motret juga. Paling byk 2 orang. Kalo ada temen atau mb desi minat bisa kirim cv n contoh tulisan min 3 dn pernah dimuat dimana aja ke xxxx@plan-international.org. Ditgg paling lambat minggu. Soal fee insya Allah sangat lumayan :)). Thx mbak

Tawaran tersebut saya sambut dengan antusias. Ini pengalaman baru dan menantang. Saya belum pernah bersentuhan dengan dunia LSM secara langsung. Saya juga belum pernah terlibat dalam proyek pembuatan buku sebuah organisasi. Selama ini hanya bisa tulis dan kirim naskah lantas menunggu pemuatan atau diterbitkan. Belum pernah yang benar-benar terlibat dari awal, melakukan proses bidding, mengajukan konsep buku, presentasi, dan seterusnya. Ya, ini pengalaman baru dan menantang. Tak boleh dilewatkan! Apalagi ada kata ‘perjalanan’ yang membuat jantung saya terpompa. Mendokumentasikan perjalanan? Wah!

Esok harinya, saya mengirimkan apa yang diminta. Curriculum vitae dan beberapa contoh tulisan saya yang dimuat di media. Mencantumkan alamat blog juga. Ini senjata ampuh untuk ‘merayu’. ‘Menjual’ kemampuan diri. Kesan pertama harus oke!

Gayung bersambut! Jeda tak lama. Esok hari sebuah surel mampir di kotak masuk saya. Intinya, undangan presentasi ke Semarang pada 7 Desember 2012. Hal yang perlu saya siapkan, antara lain: konsep buku (tema besar, fokus tulisan, konsep foto); jadwal kerja; dan kebutuhan dana.

Di sinilah tantangan itu bermula. Membuat konsep buku? Bikin jadwal kerja? Anggaran? Presentasi? Hal yang sungguh baru buat saya selama berproses dalam menulis.

Hal pertama yang saya lakukan adalah mencari tahu sebanyak mungkin apa itu Plan. Saya berselancar di dunia maya. Ubek-ubek situs mereka. Mengenai apa dan bagaimana aktivitas mereka. Sebagai LSM internasional yang berkecimpung di pemberdayaan masyarakat, khususnya anak, saya bukannya menciut. Malah kian tertantang. Bayangan saya adalah… kalau saya lolos, ini kesempatan untuk berkarya (lagi), kesempatan untuk jalan-jalan, kesempatan untuk menimba pengalaman nan beda.

Saya juga mencoba cari tahu banyak hal tentang Kebumen. Peta, foto-foto, tulisan tentangnya, dan lain-lain.

Tentu, yang paling memancing adrenalin saya adalah apa dan bagaimana sih proyek buku? Apakah profil lembaga ini semacam buku biografi? Apa yang harus saya buat dalam jadwal kerja, apakah dalam bentuk tabel atau bagaimana? Apa saja item yang perlu saya masukkan dalam anggaran?

Tak puas dengan hasil penelusuran di internet, saya coba untuk bertanya langsung pada ahlinya. Saya ingat seorang editor di penerbit Metagraf, imprint Tiga Serangkai. Mas Casofa Fachmy, namanya. Dia saya hubungi karena selama ini memperhatikan sepak terjangnya dalam menggaet para penulis atau figur publik untuk dibuat bukunya. Awal perkenalan saya dengannya adalah lewat buku Travel Writer karya Yudasmoro yang disunting olehnya. Saya baca blog Mas Fachmy dan ia memang pekerja kreatif tulen. Dan, paling penting adalah, saya memang bertanya pada orang yang tepat!

Pertanyaan-pertanyaan saya dijawab olehnya. Sangat membuka wawasan. Saya akhirnya punya gambaran yang jauh lebih jelas. Langsung saja saya terapkan tipsnya dalam presentasi saya.

Di bawah ini saya kutipkan petikan pertanyaan saya dan jawaban Mas Fachmy. Siapa tahu berguna buat teman-teman jika suatu saat nanti tertarik untuk terlibat dalam proyek pembuatan buku lembaga, organisasi, atau sejenisnya.

Saya: Saya membayangkan akan menulis dengan gaya Alberthiene Endah. Apakah kira-kira semacam itu?
Mas Fachmy: Kalau buku untuk profil lembaga sebaiknya menggunakan bahasa informatif saja. Berpadu dengan layout minimalis dan foto dengan angle-angle menarik akan membuat profil lembaga tersebut lebih hidup. Bagus lagi dipadu dengan infographic. Gaya kontemplatif ala mbak AE bagusnya untuk biografi.

Saya: Terus, kalau diminta untuk menjabarkan jadwal kerja selama sebulan, saya perlu bikin dalam bentuk tabel atau gimana?
Mas Fachmy: Bagusnya sih tabel mas. Timeline pengerjaan. Penulisan naskah. Layout. Dummy. dan cetaknya kapan.

Saya: Pertanyaan ketiga, untuk kebutuhan dana yang mana harus saya eksplisitkan saat presentasi, kira-kira dana apa saja yang perlu saya cantumkan?
Mas Fachmy: Masukkan dalam program paket saja. Jadi, biaya penulisan itu sudah include pas wawancara, menulis, akomodasi kunjungan ke desa. Masukkan saja menjadi satu harga, karena itu termasuk dalam proses penggalian data untuk menulis. Biasanya sih begitu saya. Sedangkankan biaya desain (layout, kover, foto) masuk biaya sendiri.

Dan, apa yang di’nasihat’kan oleh Mas Fachmy itulah yang saya jalani selama 3 bulan berproses membuat buku Plan PU Kebumen tersebut. Terima kasih sebesar-besarnya buat dia.

Catatan: Berikutnya, akan saya tuliskan pengalaman saya yang untuk pertama kalinya berkunjung ke Semarang, jalan kaki cukup jauh mencari alamat kantor Plan Indonesia Area Jawa, dan blusukan mencari-cari masjid atau mushola untuk menumpang mandi sebelum tampil presentasi. Dari Surabaya berangkat malam hari dengan bus – tiba pagi hari di Semarang – malamnya langsung pulang ke Surabaya. Bus jadi ‘kamar’ berjalan saya πŸ™‚

Iklan

44 thoughts on “Kebumen, Sebuah Permulaan

    • Makasih, Cek Yan. That’s why saya belum bisa benar-benar lega ngeblog karena proyek buku ini cukup mengambil alih perhatian πŸ˜€ Sekarang sudah kelar, baru deh bisa cerita-cerita. Dulu sempat diniatkan nulis pengalaman day by day selama di Kebumen, eh mentok di minggu pertama ;p

  1. baca ini aja udah seru tah. semangat!! kapan-kapan kayaknya kudu ngopi-ngopi bareng ini. sekedar berbagi cerita. hehe

    • Saling belajar ya, Mbak. Saya juga harus belajar dari sampeyan πŸ™‚ Semoga kita tidak lelah untuk mengosongkan pikiran dan menyambut ilmu-ilmu baru πŸ™‚
      Terima kasih buat doanya. Doa yang sama untuk Mbak πŸ™‚

    • Iya, Mbak. Alhamdulillah… Untuk fotografi, saya harus lebih banyak lagi belajar. Menulis pun demikian. Kendati porsi menulis lebih banyak, tapi saya juga banyak terima kritikan dari editor. Hihihi… Sempat down sebentar sebelum akhirnya bangkit lagi πŸ™‚

  2. salam kenal….. πŸ™‚

    ejie penasaran ini kelanjutannya.
    mau diajarin untuk hal yang belum pernah ejie lakukan.

    mungkin melalui proses membuat buku ya? selanjutnya ingin seperti di tulisan ini.
    semoga Allah memberikan kesempatan pada ejie dan semoga kesempatan itu akan datang pada ejie, amin yra…

    sukses ya?? πŸ˜€

    ~salam menulis dan JEMPOL~

    • salam kenal juga, bro.

      kalau dari saya pribadi, kita harus kenal dan tahu kita mau jadi apa. setelah itu kumpulkan referensi, berkawan dengan orang-orang yang segagasan atau se-passion dengan kita untuk menjaga semangat. dan, paling penting tentu saja… menulis. menulis dari sekarang.

      jika kita tahu tujuan kita apa dengan menulis, maka rintangan dalam bentuk apa pun, akan bisa kita lewati. satu yang pasti adalah… jangan pernah berhenti belajar. πŸ™‚

      semoga dirimu mendapatkan apa yang kamu citakan yaa πŸ™‚

      mari belajar bersama.

  3. Pas di bagian “reader” tadi yang muncul adalah foto laptop dan sambul buku bertuliskan Plan. Langsung saja yang terpikir adalah Plan Indonesia, dan ternyata benar. Itu buku Plan πŸ˜€ *jd inget Plan*

    Lalu kamu kereeeeeeeenn πŸ˜€

    Ditunggu kelanjutan ceritanya ya

    • Mbak pernah bersinggungan dengan Plan, sebelumnya? Cerita doooong πŸ˜€

      Makasih ya, Mbaaaak… Akan saya tuliskan nanti sekelar baca naskah2 yang ikut audisi Love Journey 2 πŸ™‚

  4. sepakat sekali ama kalimat pembukanya, itu juga yang aku lakuin sekarang ama mozaik.
    semoga proyek pembuatan bukunya sukses ya Tah, sesuai ama ekspektasi pihak Plan, aamiin.

  5. Tah, hapus aja komenku… Maap yah, kok malah tabur luka disini, nggak nyambung blaaass sama isi tulisanmu… heuuuu 😦
    Betewe, sukses yang buat penulisannya, proud of you bro πŸ™‚

    • Hehehe…
      Tak apa-apa, Nin. Di sini kami tidak merasa terluka kok. Tak apa, namanya juga berkomentar. Kan masih terkait Kebumen-nya πŸ˜€
      Makasih ya, Nin πŸ™‚ Sukses juga untuk proyek2 Nina…

  6. Lama gak buka blog, eh ada nama Fatah mampir, jadi malu…blog masih kosong(jelek, lagi) kok diikuti. Tapi gak ada kata terlambat buat belajar bukan? belajar menulis, belajar menjaga semangat, dan belajar menebar manfaat.

  7. Ping-balik: Presentasi Lugu di Semarang | Setapak Aksara

  8. Ping-balik: Kebumen dalam 1001 Kata | Setapak Aksara

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s