Presentasi Lugu di Semarang

Surabaya – Semarang

Harapan saya tak muluk-muluk ke Semarang. Pertama, saya belum pernah ke Semarang. Kedua, saya ingin tahu bagaimana sih sebenarnya presentasi proyek buku. Ketiga, kalaupun saya tidak lolos sebagai penulis buku Phase Out Plan Kebumen, saya dapat pengobatnya, yakni saya bisa kopdar dengan teman narablog saya, Mbak Rana. Jadi, takkan rugi saya ke Semarang. Demikian yang terpasang di benak saya.

Dari Surabaya tanggal 6 Desember 2012, saya naik bus ke Semarang. Sengaja ambil malam, biar saya istirahat di dalam kendaraan berbentuk balok tersebut. Alasan lainnya, saya bisa tiba pagi hari di Semarang. Tak perlu sewa penginapan. Hemat. Tetap, itu jadi prioritas. Kenyamanan nomor sekian.

Di dalam bus, saya bercakap-cakap dengan penumpang. Ia seorang ustadz. Dia amat polos sekali. Saya mengatakan demikian karena saya korek tentang kehidupan perkawinannya pun, ia blak-blakan cerita. Hingga menjurus vulgar. Entahlah, apa yang membuatnya begitu percaya pada saya. Apakah wajah polos saya, baginya menyiratkan bahwa saya tidak akan ‘apa-apa’ dan tidak mengapa-apakan ceritanya? Entahlah. Saya menyimak dia bercerita dan terus menggali. Tak laik saya ceritakan di sini.

Pagi, saya tiba juga di Terminal Terboyo, Semarang. Saya merasa sedikit asing dengan suasana terminalnya. Bayangan saya, karena kota besar, akan sama hiruk-pikuknya dengan Terminal Bungurasih, Surabaya. Nyatanya, sekeliling Terboyo ada parit-parit dangkal dengan air yang cukup banyak. Masuk ke terminal, air di paritnya tak ubahnya bekas cucian sabun.

Saya menuju musholanya dulu. Menyiapkan hati menghadapi hari presentasi. Di undangan, presentasi diadakan mulai pukul 08.00 WIB. Ah, saya masih punya waktu dua jam untuk menyiapkan diri. Mandi, terutama.

Saya ke luar terminal. Bertanya pada calon penumpang lain juga ibu warung cara menuju Jl. Sompok Baru 83 Semarang. Itu alamat kantor Plan Indonesia Area Jawa.

Minibus cukup tua saya naiki. Saya penumpang pertama. Tak lama, satu per satu penumpang pun menduduki kursi. Bus penuh, jalan.

Saya cukup menikmati pagi di Semarang. Semilir udara masuk melalui jendela. Saya cuci mata. Cukup padat juga ini kota. Kendaraan ramai di jalanan. Apalagi ini pagi. Orang-orang bergerak menuju sekolah, kantor, pasar, dan sebagainya.

Cuma, semakin mendekat perempatan di mana saya akan turun, jalanannya kian lebar. Pada kondektur, saya minta diturunkan di tempat yang terdekat dengan alamat yang saya tuju. Ya, saya memang harus sambung lagi dengan jalan kaki atau dengan naik becak. Saya pilih yang pertama.

Saya sempat bingung. Berasa di kota tua. Tampak dari bangunan juga dari cabang jalannya yang tak biasa. Hasil bertanya pada satpam sebuah bank, saya ditunjukkan rute yang benar. Itu pun masih saya sambung dengan bertanya sana-sini. Untung masih pagi dan saya juga memang sedang ingin jalan kaki. Buat meredam penat pantat karena telah duduk berjam-jam di bus.

Saya ingat, saya harus mandi. Untuk itu, di sebuah gang, saya belok kiri. Asumsi saya, di kawasan rumah itu ada masjid. Saya bisa menumpang untuk mengguyur badan yang lengket oleh peluh. Sekalian salat untuk menguatkan mental.

Hasil berkeliling, saya pun tiba di masjid. Untung sepi. Kendati ada satu orang yang sedang salat di dalam. Saya letakkan ransel di posisi yang kiranya aman. Lalu, saya pun mandi di bilik wudhu yang kecil. Saya pastikan tidak ada orang yang akan ke situ.

Bismillah… Mantaplah saya keluar dari masjid dengan setelan jins dan batik juga sepatu.

Saya ambil jalan memutar. Mencari jalan dengan kompas di otak yang setelannya masih diragukan. Tapi, saya pun berhasil ke jalan raya. Namanya juga kampung. Masih di Indonesia. Telusuri gangnya pasti lebih gampang. Begitu asumsi saya.

Tak lama jalan kaki, sampai juga saya di kantor Plan.
Presentasi Lugu

Hari itu, dari lima calon penulis, hanya empat yang hadir. Mbak Desi, yang mengabari saya pertama kali, justru tidak datang. Alasannya tidak begitu jelas. Itu disampaikan oleh orang Plan yang kemudian saya ketahui bernama Mbak Sanisa.

Saya mahasiswa (masih pede menyebut diri mahasiswa!), seorang perempuan muda karyawati sebuah penerbit, dan dua jurnalis (tempo.co dan Jurnal Nasional) yang mempresentasikan konsepnya hari itu. Si perempuan (saya lupa namanya) yang pertama kali presentasi. Saya yang kedua. Berikutnya, langsung sepasang jurnalis itu.

Begitu si perempuan kelar, saya dipanggil oleh Mbak Sanisa. Saya pun bawa ransel ke dalam yang berisi hardisk eksternal juga buku Travelicious Lombok.

Saya keluarkan hardisk. Minta disambungkan dengan laptop penyeleksi. Presentasi pun saya mulai. Berkenalan sekali lagi. Dan, mulai menjabarkan konsep buku yang saya inginkan melalui tayangan slides.

1

2

3

Sebenarnya, tak ada yang aneh dengan presentasi saya. Cuma, dari lima orang penyeleksi yang hadir, saya menangkap raut yang krik-krik-krik ketika saya sampai di penjabaran anggaran. Hal ini saya sadari kemudian saat presentasi saya diulas kembali dan saya ditanya ini itu.

Dengan jadwal kerja 1 bulan, saya hanya menganggarkan dana 1,6 juta rupiah. Sebuah nominal yang apa adanya. Memang sebegitulah yang saya rasa, memang saya butuhkan. Kalau dari sudut pandang mahasiswa cum anak kos, saya kira itu sudah amat wajar. Tapi, bagi sebuah NGO internasional, tentu anggaran saya itu sangat sangat lugu nan polos. Tidak realistis.

Memang, saya belum memasukkan honor. Karena beginilah saya. Masih belum bisa menakar ‘harga’ kemampuan saya. Dan, saya kira memang masih ada proses negosiasi honor selanjutnya.

Ketika kami berempat dinilai berbarengan, didudukkan semeja, lalu diulas satu per satu oleh ketua penyeleksi, sampailah pada keputusan. Bahwa, si perempuan tidak diloloskan. Saya dan dua laki-laki jurnalis digabungkan dalam satu tim. Alasan mereka menggabungkan kami dalam tim adalah karena merasa sayang jika kemampuan creative writing saya tidak dipakai dalam buku ini. Sementara, dua jurnalis itu tentu punya kekuatan tulisan bergaya jurnalistik. Gabungan kemampuan menulis kami diharapkan bisa memberi warna pada buku phase out.

Ya, saya pribadi pun meninjau kembali presentasi saya. Di situ, apa yang saya konsepkan ternyata sejalan dengan yang diinginkan oleh Plan. Bahkan, saya sangat sangat menyarankan agar buku itu nantinya ditulis dengan gaya naratif. Tidak dengan bahasa formal kaku khas buku profil lembaga.

Dan, klop memang! Bahkan, ketika nanti akhirnya kami bertiga ke Kebumen, dikabari bahwa buku phase out ini akan dibikin buku inspiratif. Ala buku-buku Kick Andy!, kalau saya mengistilahkan.

Menyenangkan. Itu pasti. Saya termasuk penggemar tulisan macam begitu. Menulis profil orang dengan lika-liku perjuangannya.

Ya, inilah awal. Awal dari rentetan salah satu impian saya. Impian untuk menjadi penulis buku biografi. Saya pernah ‘sesumbar’ berkata pada teman-teman kuliah saya di HI Unair. “Eh, nanti kalau kalian jadi orang, aku yang nulis buku biografi kalian ya…” Saya berani bilang begitu karena memindai bakat-bakat sukses yang terpancar dari teman-teman saya.

Kita lihat saja nanti.

Iklan

10 thoughts on “Presentasi Lugu di Semarang

  1. Nice job Tah, kesempatan yang sangat langka bisa gabung bekerjasama dengan NGO seprti Plan Indonesia. Kontenya yang naratif akan mudah dicerna oleh siapa saja dan Semoga bisa membantu Kebumen makin terangkat dengan keunikan masyarakatnya, keep alive for u’r dream 🙂

  2. Keren euy, “masih” mahasiswa tapi sudah berhasil nembus Plan 😀
    Apakah masih ada cerita lanjutan ttg pengalaman kalian bertiga selama di Plan?
    *Berharap semoga ada lanjutannya*

  3. Ping-balik: Kebumen dalam 1001 Kata | Setapak Aksara

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s