Belajar dari Agustinus Wibowo

15 Desember 2011 adalah momen yang tak saya lupakan. Untuk pertama kalinya saya tampil di toko buku sebagai seorang penulis. Biasanya, saya yang duduk di bangku pengunjung, namun hari itu tidak.

Namun, yang lebih bikin deg-degan adalah saya tampil bareng Trinity, salah satu travel writer yang namanya sudah ngetop! Saya penggemar buku-bukunya. Lewat bukunya pula, saya bersama ribuan pembaca di Tanah Air, dibuat iri olehnya untuk keliling dunia. Ya, saya merasa terbanting di’sanding’kan dengan Trinity! πŸ˜€

Dan, momen itu berulang, tapi dengan kadar deg-degan yang tidak semenjulang awal. Bukan dengan Trinity, tapi dengan Agustinus Wibowo. Entah mimpi apa saya bisa jadi moderator di acara ‘Bincang Santai Travel Writer’ bersama Agustinus Wibowo dan editor in chief Hifatlobrain, Ayos Purwoaji. Tapi, itulah yang terjadi.

Saya percaya kekuatan jaringan. Saya juga mengakui pentingnya komunitas. Lewat situlah, jalan itu dibukakan. Melalui Mbak Novri, mantan pustakawati Suara Surabaya yang juga sering berurusan dengan para penulis (untuk diundang ke radio), saya dihubungi untuk menjadi moderator acara Agustinus di Perpustakaan Kelurahan Ngagel Rejo, Surabaya. Acaranya hari Minggu, 14 April 2013. Saya yang sedang menjemput teman asal Lombok di salah satu kampus di kawasan Semolowaru, langsung mengiyakan. “Agustinus sendiri yang ingin kamu jadi moderatornya,” ucap Mbak Novri. Saya tersenyum bangga, kendati terselip rasa, ‘saya bisa nggak, ya? Ah, bukankah saya pernah jadi moderator juga di sebuah acara di kampus sendiri?’

Perasaan ‘bisa nggak, ya’ itu terbersit karena topiknya berbeda dan bagaimana mengantarkan acara ke audiens dengan baik. Tapi, saya anggap itu sebagai sebuah tantangan. Juga latihan untuk terus mengasah kemampuan public speakingΒ dengan posisi yang berbeda-beda. Ilmu presentasi selama kuliah juga pengalaman ikut lomba azan, membaca Al-Qur’an, juga baca puisi sejak kecil, saya kira awal pengasah itu semua.

Saya berterima kasih pada semesta yang telah menempa saya hingga detik ini.

Sehari sebelum hari-H, saya kembali bertemu Agustinus Wibowo di acara bedah buku ‘Titik Nol’ di Perpustakaan Taman Ekspresi, Genteng Kali. Saya ingin memantapkan topik apa yang akan dibahas pada esok harinya.

_MG_7212

Agustinus menekankan, ia tidak akan berbicara secara khusus tentang ‘Titik Nol’. Menghindari kebosanan, ucapnya. Ya, saya kira wajar untuk penulis sekelas Agustinus yang dalam sebulan saja bisa diundang belasan kali di berbagai acara, entah itu di forum, komunitas, radio, toko buku, dan lain-lain. Kalau berbicara tentang topik yang sama terus-menerus, tentu bosan akan melanda.

Maka, khusus untuk acara hari Minggu itu, ia hendak berbincang tentang tulisan perjalanan, sejarah, juga lika-liku kehidupan seorang penulis perjalanan. Topik yang menarik, pastinya! Saya membayangkan diri saya, selain bisa jadi moderator untuk penulis sehebat Agustinus, juga bisa menyimak. Belajar dari sang maestro. Saya bisa pula upgrade pengetahuan dan pemahaman atas tulisan perjalanan yang coba saya dalami belakangan ini.

Kehadiran Ayos Purwoaji yang juga bolo Agustinus, kian meluaskan perspektif audiens yang hadir. Jika Agustinus banyak bicara mengenai sejarah travel writing dunia, maka Ayos lebih memfokuskan diri pada travel writing di Indonesia. Apalagi, paguyuban Hifatlobrain yang ia bentuk, memang bertujuan untuk mendokumentasikan segala aspek yang terkait dengan traveling, seperti buku, film, komik, ilustrasi, dan banyak lagi. Anak muda kreatif yang saya pun banyak belajar darinya.

_MG_7207

Acaranya berlangsung gayeng. Meskipun saya mungkin sedikit formal dalam berbahasa, namun suasananya bisa dicairkan oleh Ayos. Agustinus bahkan mendapuk dan meminta saya untuk memosisikan diri sebagai pembicara juga. Ah, andai boleh memilih, saya ingin jadi penyimak sahaja, Gus! Menjadi muridmu yang juga bercita-cita kelak bisa jadi penulis perjalanan sehebat dirimu yang tak lupa pada akar juga pengabdian pada sesama.

Maka, ketika ilmu acap disempitkan pencariannya di ruang kelas semata, saya bersyukur dipertemukan dan disemangatkan dengan orang-orang yang tidak sempit pikiran. Ilmu bisa didapatkan di mana saja. Guru, bisa siapa saja. Tak berbatas. Dan, caranya dengan keluar dari cangkang yang menangkupkan. Meninggalkan ruangan yang menyamankan.

Dan, itulah yang namanya majelis ilmu. Saya membayangkan di zaman Rasulullah, orang-orang melingkar berdiskusi beragam topik di masjid. Saya membayangkan pula para perawi hadits yang rela berjalan ribuan kilo hanya untuk belajar satu hadits. Sebagaimana Jabir bin Abdillah r.a yang melakukan perjalanan selama sebulan hanya untuk bertemu Abdullah bin Unais demi sebuah hadits. Sementara, Jabir di antara para sahabat Nabi termasuk yang paling banyak meriwayatkan hadits, yakni sebanyak 1.540 buah.

Jikalau bercermin pada mereka, saya hanya bisa menunduk malu. Masih jauh. Jauh sekali dari mereka.

Catatan:

Bagi teman-teman yang tidak sempat hadir di acara, bisa disimak video dokumentasinya di sini. Terima kasih pada Peter dari komunitas Backpacker Indonesia regional Surabaya yang telah berbaik hati merekamnya.

Iklan

6 thoughts on “Belajar dari Agustinus Wibowo

  1. Beberapa tahun yang lalu, saya pembaca setia tulisan agustinus di kompas. Sampai gw tunggu2 hari demi hari tulisan nya πŸ™‚

    Salut tepuk tangan bisa selantai ama agustinus πŸ™‚

    • Saya justru mengenal Agustinus belakangan ini, kok. Bahkan, tidak tahu kalau ia awalnya menulis di Kompas.
      Alhamdulillah… Bisa mengenal sosoknya lebih dekat. Berawal dari Selimut Debu πŸ™‚

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s