Menulis Demi Traveling ‘Gratis’

Tiga-dua bulan jelang akhir 2012, saya aktif ikut lomba menulis, terutama yang bertema traveling dan hadiahnya juga jalan-jalan. Setidaknya ada empat lomba yang saya ikuti, antara lain: Lomba Penulisan Takabonerate yang diselenggarakan oleh MyMakassar, Indonesia Travellers yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Aksi untuk Indonesiaku yang dibesut oleh Lintas.Me, serta Traveling Note Competition yang dihelat oleh Diva Press.
Lomba pertama, saya menggebu mengikutinya. Bermodal riset via Google, saya pun mendapat banyak bahan tentang Takabonerate. Resep dari para jawara blog yang saya jadikan pegangan adalah agar tidak sekadar menampilkan tulisan, tapi juga mengombinasikan dengan gambar dan atau video.
Saya juga membayangkan seperti apa sih tulisan para peserta lainnya. Maka, saya pun mencari angle yang sekiranya tidak akan dipakai oleh mereka. Bahkan, untuk judul pun, saya perlu bertanya pada teman kontrakan saya, apa yang pas dan eye-catching. Bagi saya, judul itu penting. Dalam beberapa tulisan, saya bahkan tidak bisa memulai menulis jikalau judul yang pas menurut saya belum ketemu.
Saya pun mencari tahu tentang lomba tahun sebelumnya, begitu pula juri-jurinya. Saya membaca blog mereka dan mereka-reka selera mereka.
Maka, jadilah tulisan ini!
Meski saya merasa tulisan saya bagus, begitu pula dengan apresiasi dari teman-teman blogger, tapi tetap saja semua bergantung pada juri. Penilaian juri tetap saja subjektif. Tergantung selera mereka.
Dan, jelang pengumuman pemenang, saya deg-degan. Hasilnya?

Tak ada nama saya di daftar pemenang. Buyar sudah impian saya untuk berenang-renang hore di Takabonerate.

Tapi, bukan Fatah namanya jika patah semangat. Tahun ini, jikalau lombanya diadakan kembali, saya memastikan diri untuk ikut. Saya telah baca tulisan ketiga pemenangnya. Ya, bisa saja saya membandingkan diri dan merasa layak menang, tapi saya harus sadar diri, saya adalah peserta.
***
Lomba kedua, siapa sih yang tidak ngiler? Hadiahnya jalan-jalan ke salah satu dari lima destinasi istimewa di Indonesia, yakni Weh, Derawan, Komodo, Wakatobi, dan Raja Ampat. Di ajang itu, saya mendaftar sebagai blogger dan masuk sebagai Top 10 finalis dari 90-an blogger yang mendaftar. Nah, di daftar Top 10 itu, terselip pula nama teman ACI 2011 saya, Adis, yang seorang blogger cum penulis buku. Saya wanti-wanti bahwa dia akan jadi saingan berat saya. Hahaha…

Saya bertanya-tanya, siapakah 5 dari 10 blogger itu yang akan lolos? Sembari menimbang-nimbang dengan sejumput optimisme bahwa sayalah salah satu yang beruntung. Hingga jelang malam pengumuman, saya ngepoin linimasa Adis. Dia ternyata sudah ditelepon! Itu sudah pertanda dia lolos.

Sayakah berikutnya?

Rasanya dag dig dug. Itu jadi hari Kamis yang amat mendebarkan bagi saya. Teringat sensasinya saat terpilih sebagai Petualang ACI Detikcom 2011. Bahkan, saking optimisnya akan terpilih, saya sampai mencuci baju dan celana untuk persiapan esok hari jika lolos dan berangkat ke Jakarta! Hp saya standby-kan di samping ketika mencuci, siapa tahu bakal ada telepon dari Jakarta yang masuk.

Tapi… Tapi… Kamis pun memasuki malam. Saya pantau linimasa Adis. Dia sudah riang gembira tepilih.

Saya?

Saya?

Saya?

Malam Jumat yang galau. Saya mencoba untuk terus terjaga. Bisa jadi hp saya berdering tengah malam.

Asli… Tidur jadi tak enak.

Dan, ketika subuh Jumat sudah tiba, sementara layar hp saya sepi dari panggilan tak terjawab, saya pasrah. Bukan takdir saya.

***

Bagaimana dengan lomba yang ketiga? Hadiahnya memang bukan jalan-jalan, tapi gadget. Tapi, materi lombanya saya sesuaikan dengan tema blog ini, yakni menulis dan jalan-jalan. Saya pun coba kombinasikan dua hal yang jadi hobi saya tersebut.
Entahlah, tiap kali ikut lomba menulis, saya tidak mau sembarangan kirim naskah. Jadi, saya berusaha tayangkan yang terbaik, kendati hasilnya tentu saja ada di tangan para juri.
Optimisme itu pun saya sematkan pada tulisan saya di lomba ini. Meskipun ketika pengumuman pemenang, nama saya tidak terdaftar di situ, saya tak sarangkan kecewa mendalam. Saya sudah berusaha. Saya tidak menang pun, semoga postingan itu tetap bermanfaat. Bagi saya, yang telah mencoba mengeluarkan uneg-uneg di kepala, juga bagi orang lain yang telah bersedia membacanya.
Satu yang pasti. Menulis itu tak ada ruginya. Bisa belajar untuk mengelola alur pikiran. Bisa belajar untuk ‘berbicara’. Juga belajar untuk mengenal diri sendiri.
***
Tiga lomba, tidak kali ‘gagal’. Di lomba keempat, saya menaruh (lagi-lagi) harapan. Kali ini, bisa lolos sebagai 30 penulis yang naskahnya dibukukan, saya sudah syukur sekali.
Tapi, begitu dikabari bahwa naskah saya tidak hanya akan dibukukan tapi juga dapat hadiah jalan-jalan gratis ke Karimunjawa??? Oh, inikah jawaban dari empat lomba yang saya ikuti?
Bukan puncak! Ini bukan puncak. Masih proses. Dan, saya kira akan terus berproses sampai kapan pun.
Pengalaman jalan-jalan yang saya ikutkan di lomba ini adalah kunjungan ke Way Kambas, Lampung, pada 2011 silam. Mengapa saya memilih Way Kambas? Karena itulah pengalaman saya yang cukup saya hafal detailnya. Saya pun saat itu sampai melakukan wawancara dengan petugas di sana. Jadi, bahan tulisan saya cukup kuat. Meskipun data berupa hotel, perlu saya telusuri kembali. Pencantuman sumber, itu sudah pasti. Karena memang itulah naskah yang dipersyaratkan oleh panitia lomba.
Januari 2013, saya sedang dalam perjalanan balik dari Malang menuju Surabaya, ketika hp saya berdering. Ternyata, dari Diva Press yang mengabarkan keberangkatan saya ke Karimunjawa.
Rasanya??? Ah, tak bisa diungkapkan.
Sensasinya sama ketika ditelepon pihak ACI untuk jalan-jalan gratis. Begitu pula ketika saya ditelepon panitia lomba karya tulis tingkat nasional yang diadakan oleh Arsip Nasional pada 2010 dan diberitahu saya juara III serta diminta berangkat ke Jakarta (ongkos PP ditanggung, tentu).
Sebulan yang lalu, saya dan dua pemenang lainnya berangkat ke Karimunjawa setelah tertunda dua kali. Kami menikmati kepulauan itu selama 3 hari 2 malam. Sepulangnya, kami bertiga patungan menulis catatan perjalanan tersebut. Cerita saya, kami bertiga, serta 27 penulis lainnya bisa teman-teman nikmati dalam buku keren ini! Buku yang dibanderol dengan harga Rp50.000,00 dengan foto-foto berwarna. So worth it, yes? πŸ™‚
977342_571656332855104_291145816_o
***
Lantas, gratiskah itu semua? Saya kira, tidak ada yang gratis di dunia ini. Mungkin kita berpikir bahwa hadiah jalan-jalan gratis atau serba-serbi ini itu yang kita dapatkan gratis memang benar-benar ‘gratis’.
Itu cuma istilah kita saja.

Saya hanya percaya, kita akan mendapatkan apa yang kita usahakan. Kalaupun kita mendapatkan sesuatu secara tiba-tiba tanpa ada penjelasannya untuk detik itu, misalnya, keep thinking! Bisa jadi apa yang kita peroleh tersebut adalah ganjaran dari apa yang telah kita lakukan di masa lalu.

Iklan

19 thoughts on “Menulis Demi Traveling ‘Gratis’

  1. Bukan main. Semangat pantang menyerah yang dimiliki Fatah, kerap bikin saya berdecak kagum. Buah dari tetap optimis yang bagus sekali, Tah. Selamat untuk bukunya ya πŸ™‚

  2. ejie pun sama kok fatah. berburu lomba nulis via blogging biar bisa jalan2 gratis, ehh…
    kalah menang itu menurut pandangan ejie jg tergantung rezeki, kesempatan dan keberuntungan —-> versi ejie πŸ˜€

    apapun itu, berhasil atau tidaknya ejie dlm suatu lomba nulis, ejie ambil positifnya. artinya, ejie bisa tetap menumpahkan keinginan menulis terutama passion kita terhadap daerah yang (mungkin) akan kita kunjungi (jika menang).

    siapa tau, di kesempatan lain, keberuntungan akan berpihak dengan kita (nantinya), kan fatah… πŸ˜€

    ayok semangat kitaaaaaa πŸ˜‰

  3. Waaahhh Lalu keren! πŸ˜€
    Semangatnya luar biasa.
    Kapan2 kita ketemuan yuk Lalu, klo pas aku ke Surabaya πŸ˜€ *pengen berguru*

  4. Aku juga sempat kecewa berat dengan salah satu lomba Tah. Alih-alih menang, masuk 30 besar pun tidak. Padahal aku merasa beberapa finalis menulis tidak sesuai tema. Ujung-ujungnya sama seperti Fatah. Aku sadar diri bahwa aku hanya peserta. Dan juri punya kekuatan sakti mandraguna, yakni memilih πŸ™‚ Memilih yang sesuai dengan hati mereka. Bhai Benny Rhamdani bilang di buku “Dapur Kreativitas Para Juara” bahwa salah satu poin kemenangan dalam lomba menulis adalah mengetahui selera juri. Makanya jika ikut lomba, Bhai akan mencari tahu siapa jurinya. Lalu akan menulis beberapa tulisan yang dipersiapkan untuk menyesuaikan selera juri sedangkan yang lainnya yang ditulis tanpa menyesuaikan selera juri. Sayangnya jika ada lomba yang jurinya dirahasiakan haha πŸ™‚

    Tapi tetep, aku gak mau nyerah. Kalo ada lomba yang memungkinkan, pokoknya ikut teruuuusss haha.

  5. jadi intinya tah, kayanya yang bakal lolos itu adalah “pengalaman pribadi” kaya way kambas.. dibanding cari info via internet ya?
    apapun semua yang gratis cuma dari tuhan, kita yang usaha, pasti bisa, walupun hanya menulis, ku salut loh dikau tak menyerah.. selalu setia menulis..

  6. selamat ya Tah, salut atas semangatmu.
    di fiksi juga banyak lomba yg pengin aku ikuti tapi waktu yang ga memungkinkan, barengan ama nulis skripsi, belum lagi mozaik. *caripembenaran :D*

  7. Fatah emang keren… Tau gak Tah, aku pertama baca tulisan Fatah tentang Way Kambas dari Majalah Ummi. berpedoman tulisan Fatah itulah satu artikel kutulis dan kukirim ke Majalah Ummi. Alhamdulilah dimuat beberapa bulan kemudian. Terima kasih… πŸ™‚

  8. Ping-balik: Wawancara dengan Diva Press | Setapak Aksara

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s