Don’t Follow My Writing’s Voice!

Di penginapan, menyicil catatan perjalanan keliling Lombok tahun 2010

Di penginapan, menyicil catatan perjalanan keliling Lombok tahun 2010

Suatu ketika di sebuah kafe di Surabaya, Trinity berucap begini pada saya.

“Lalu, bahasa Indonesia-mu bagus. Aku punya teman dari timur yang bahasa Indonesianya juga bagus. Rata-rata orang timur begitu, ya? Beda sama anak Jakarta. Aku pernah isi sebuah workshop nulis. Pesertanya banyak ABG Jakarta juga dari luar Jawa. Begitu aku baca tulisan si ABG Jakarta, ancur bahasa Indonesia-nya! Beda sama peserta yang dari luar Jawa.”

Saya tersenyum bangga. Ada pujian di situ. Tapi, cukuplah sebagai pujian. Anggap apresiasi untuk lebih konsisten berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Lantas, setting berpindah ke sebuah kafe di Bandung. Enam dari sembilan penulis TraveLove, yakni Andrei Budiman, Ariyanto, Rini Raharjanti, Sari Musdar, Trinity, dan saya terlibat dalam sebuah obrolan. Hanya ucapan Trinity yang paling saya ingat karena dia memang suka melemparkan topik obrolan.

“Kalau bisa menulis dengan gaya penulis lain, kamu mau kayak siapa?”

Saya bilang, “Aku pengin nulis kayak Khaled Hosseini. Kalau Mbak?”

“Dewi Lestari.”

Sejak itu, saya pun tahu kalau ia ternyata penggemar berat buku-buku Dewi ‘Dee’ Lestari. Sehingga ketika mereka bertemu di suatu acara dan foto bersama, Trinity dengan bangga mengunggahnya di jejaring sosial. Ya, penulis mengidolakan penulis lain itu hal yang wajar.

Saya pun membayangkan serial The Naked Traveler berubah menjadi novel perjalanan yang bertaburan sains, agama, dan filsafat. Tapi, terlalu sulit untuk dibayangkan.

Dari obrolan itu bergulir pesan bahwa penulis yang punya jam terbang tinggi punya voice – atau saya mengistilahkannya sebagai ‘gaya tutur’ yang berbeda-beda. Dan, itu tidak bisa dibeli. Tidak bisa dipaksakan untuk dibuat-buat. Akan mengalir dengan sendirinya.

Sebab, tulisan adalah kata-kata yang terucapkan lewat aksara. Tak ubahnya suara, ia juga keluar sebagai hasil olahan pikiran. Pikiran penulis dalam memproduksi informasi juga tak sama.

Sebagai hasil latihan yang intens, penulis akan bisa menemukan gaya tuturnya sendiri nan khas. Berkarakter. Itu pun setelah berkali-kali ‘meminjam’ gaya tutur penulis lain selama proses membaca dan menulis. Coba gaya tutur penulis A, tidak cocok, ganti. Coba gaya tutur penulis B, bisa membuat pembaca betah membaca, tapi ada gaya tutur yang lebih menarik lagi, ganti. Begitu seterusnya sampai si penulis menemukan gaya tutur yang dirasa paling nyaman untuk dirinya sendiri, terlepas dari teraihnya atensi pembaca atau tidak.

Menurut saya, gaya tutur ini bukan suatu hal yang taken for granted alias begitu adanya. Ini bisa dibentuk dan dilatih. Faktor bacaan, tontonan, lingkungan sosial, komunikasi, dan lain-lain (yang saya belum menemukan atau mencari tahunya) akan ikut menentukan gaya tutur ini. Sampai si penulis akan berhenti mencari dan mencoba. Sampai si penulis merasa bahwa ia harus tetap konsisten dengan gaya tutur itu. Sampai ia menemukan ‘takdir’ gaya tuturnya.

Ketika saya bercerita tentang Adis, teman saya yang seorang comedy travel writer, kepada teman kontrakan, ia langsung membandingkannya dengan saya yang punya gaya menulis serius. Serius menurut pembacaannya sejauh ini.  Saya cuma senyum dalam hati. Waktu itu, saya tak sempat bercerita panjang lebar sekaligus memberikan bukti tulisan-tulisan saya di era SMA dan awal terjun di dunia blog tahun 2007. Bahwa saya pernah lebay dalam menulis. Pernah yang sok melucu, aslinya garing. Pernah menulis dengan gaya lo gue. Menulis dengan gaya alay yang sekarang saya benci itu pun, pernah.

Dan, inilah saya saat ini. Menulis dengan gaya tutur begini. Teman-teman bisa rasakan sendiri. Dan, saya rasakan pula, itu pun kemudian terjelma ketika saya berbicara. Ini bukan klaim sepihak, tapi saya peroleh langsung dari komentar orang yang berbicara dengan saya.

“Kamu bicara kok tidak kelihatan kalau orang Lombok?”

“Ckckck… Memang beda ya kosakata penulis…”

“Mengubah ya? Bukan merubah? Ooo…”

Dan hal-hal semacam itulah.

Bahwa menulis bisa terefleksikan saat berbicara, memang iya. Bahkan, ada seorang penulis buku-buku remaja yang mengakui kalau kemampuan berbicaranya makin terasah karena makin fasihnya ia menulis.

Ya, ada jam terbang di situ. Makin tinggi jam terbang menulis, makin terlihat pula bagaimana si penulis itu bisa fasih menggelontorkan gagasannya secara lisan. Tentu, butuh latihan, latihan, dan latihan. Butuh keberanian untuk bicara di depan umum bagi seorang penulis ketika kesempatan demi kesempatan datang. Apalagi jika meyakini bahwa itu adalah cara yang bisa berguna di kemudian hari.

Terakhir, ada satu lagi ucapan Trinity yang saya ingat betul dan jadikan petuah.

“Kamu tetaplah menulis dengan gayamu, Lalu. Jangan ikuti gayaku atau gaya penulis yang lain.”

Ya, cerita memang masih bisa diepigoni. Apalagi kalau sekadar urusan sampul buku. Tapi, gaya tutur akan tetap berbeda. Ia yang akan menjadi ciri khas. Jadi penanda. Stempel yang melekat pada si penulis.

Apalagi jika ia yang memelopori gaya tutur tersebut. Ia akan tetap diingat.

Ekor takkan pernah pindah ke depan.

Iklan

20 thoughts on “Don’t Follow My Writing’s Voice!

  1. ixixixi jadi inget proses2 saya belajar menulis… mulai dari puisi, gagal…. ganti cerpen, gagal…. akhirnya merasa nyaman nulis cerita jalan2… ya mungkin sudah disitu nasibnya…. sampai detik ini nulis buku harian pribadi yg isinya curhat brcucur masih ga bisa :((

    • Untung saja Mas Wahyu bersedia untuk gembleng diri dengan mencoba beraneka ragam genre tulisan. Itu sangat melatih sih, menurut saya. Karena saya pun melalui proses yang sama dengan Mas.
      Tetap semangat menulis yaaa…
      Apalagi kalau sudah bisa fokus satu genre tulisan, bisa lebih dahsyat efeknya! 🙂

  2. Iya, sepakat denganmu Lalu 😀
    Setiap orang memiliki kekhasannya masing2 dalam berbicara, termasuk dalam menulis.
    Semakin sering membaca, semakin menyadari bahwa gaya tutur tiap orang itu khas. Karenanya, setiap membaca tulisan mereka seperti sedang menyimak mereka bercerita langsung 😀

    • Betul sekali, Mbak.
      Beruntunglah mereka yang jeli memperhatikan gaya bicara orang dan juga terus berupaya mencari genuinitas ‘suara’nya sendiri. Sangat membantu ketika menulis.
      Semoga kita tak pernah lelah mengasah anugerah luar biasa itu ya, Mbak 🙂

  3. Aku masih belom punya identitas gaya menulis sepertinya. Hari ini nulis begini, besok begitu. Entah ini bagus atau malah kemunduran. Soalnya ruang lingkup menulisnya baru di blog aja *senyumkecut* 😛

    • Kalau bagus atau kemunduran, relatif ya, Cek Yan. Selain kita sendiri yang bisa menilai, publik pun bisa. Pembaca blog atau buku kita.
      Dan, nanti akan kembali ke soal selera juga.
      Ketika misalnya banyak pembaca yang menyukai gaya tulisan Paulo Coelho atau Iwan Setiawan, ada juga kok pembaca yang tidak suka.
      Nah, daripada repot mikirin gaya tulisan yang disukai pembaca yang amat heterogen itu, mending kita terus menulis dan menulis yaaa 🙂

  4. dulu pas baru nerbitin xero, ada pembaca yang menyamain gaya bertuturku kayak raditya dika, padahal aku ga ngidolain dia n buku yang jadi refrensiku itu bukan buku2nya raditya.
    saat itu yg jadi refrensiku jomblonya mas adhitya mulya dan kata dani emang gaya bertuturku condong ke dia daripada ke dee yang notabene idolaku nomer satu.
    ga tau kalo yg udah baca partisi hati, bakalan bilang gaya bertuturku kayak siapa, soalnya di situ genrenya berbeda banget ama xero.
    sampai sekarang masih mencari-cari gaya bertutur dan genre yang cocok denganku itu apa.

  5. sampai sekarang masih mencoba-coba dan mencari bagaimana gaya menulis yang tepat, walau dulu benci pelajaran menulis namun kini mulai terbuka untuk belajar menulis sejak terlanjur jatuh cinta dengan blog..

    • Itulah menariknya menulis, Indra. Apalagi jika kita tak pernah lelah dan berhenti untuk melakukannya. Kita pun bisa menelusuri jejak rekam tulisan kita. Pasti ada perubahan gaya yang tidak kita sadari. Dan, itu berproses 🙂

  6. dah saya termasuk yang belajar nulis dengan cara menulis di Blog satu tahun terakhir. tak tahu akan seperti apa tulisan saya. berkarakter kah ataukah gimana. biarlah saya menulis sambil mencari jatidiri…

    • terus menulis, diasah, nanti Mas akan menemukan gaya tutur yang paling nyaman bagi Mas. Berkarakter itu, orang yang bisa menilai. Bahwa di antara sekian banyak penulis, misalnya, mereka bisa mendeteksi bahwa gaya Mas begini, gaya penulis lain begitu. So, keep blogging 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s