Perkara Lebaran di Rantau

Idul Fitri 1434 H

“Dek Lalu, jadi kan mudik ke Kebumen?” tanya Mbak Rodiyah, relawan Plan yang sudah saya anggap kakak sendiri, lewat sms.

“Mas, lebaran nang omahku ae,” Eko, teman kontrakan saya yang berasal dari Tuban, mengajak.

“Fat, kalau kamu nggak pulang, ke Nganjuk aja!” Kali ini Novida, teman saya, menawari via DM Twitter, bahkan saat bertemu langsung.

“Nak, lebaran di mana?” tanya Bapak saya via telepon.

Dan, semua pertanyaan dan ajakan di atas saya jawab dengan, “Saya lebaran di Surabaya saja.”

Ini kali ketiga saya lebaran di Jawa. Tahun 2011 saya berlebaran di Surabaya. Sehabis salat Ied di jalanan Kalidami, saya masuk kontrakan. Tidur-tiduran di kamar sambil menyetel All By Myself yang dinyanyikan ulang oleh Charice.  Sungguh, nelangsa rasanya.

Tahun 2012 masih mending. Saya ikut lebaran di Sidayu, Gresik. Ikut keluarga besar teman kontrakan saya, Praja. Setidaknya saya tak perlu bersedih soal ransum lebaran. Makanan berlimpah. Kue-kue. Saya dapat ‘keluarga’ pengganti.

Tahun ini bagaimana? Saya belum bisa ceritakan, tentu. Sebab, lebaran masih besok (atau lusa?) Saya ikut pemerintah.

Satu yang pasti, ada teman kontrakan yang akan menemani. Si Yossy. Teman saya yang nonmuslim ini memang sudah bilang semingguan yang lalu. Entahlah, apa karena dia kasihan pada saya. Yang pasti, dia sempat melihat saya dan menanyakan kenapa saya menangis ketika melihat video ini.

Dan, seorang teman yang juga pegiat sosial, mengajak saya makan ketupat di rumahnya di Rungkut kelar salat Ied nanti.

Alhamdulillah…

Ketika awalnya, adik saya yang kuliah di Jogja yang akan menemani lebaran di Surabaya, namun ia dibelikan tiket oleh kakak sepupu saya, maka tinggallah saya sendirian yang tak pulang. Tapi, kakak saya yang kerja di Bali tidak pulang. Kendati tinggal menyeberang 4 jam saja.

Benar kiranya perkataan Imam Syafi’i, “Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.”

Iklan

23 thoughts on “Perkara Lebaran di Rantau

  1. Aku lebaran sendiri di kos ne Tah. Dan ini ketiga kalinya lebaran di kos sendiri. Ke 6 kalinya tak pulang ke rumah. Dan memang benar kata Imam Syafii itu kita selalu dapat keluarga dan kerabat pengganti. Banyak yang ngajak makan di rumahnya.
    Dan video itu sukses bikin meweeeeeeeeeeeeeek.

    • Tosss, Mbak Pipet!
      Dan, Mbak tau nggak kalo teman kontrakan saya yang baru ada yang dari Ternate lho! Dan, menyebutkan asalnya, langsung mengingatkan saya pada Mbak 🙂
      Cuma, dia kemarin lebaran di sana setelah sekian lama pindah-pindah kota karena ikut bapaknya yang kerja di PLN.
      Tapi, tentu saja pengalaman berlebaran di rantau orang akan memberi kesan dan pelajaran yang berbeda 🙂

      • Oh ya siapa tuh, Tah? Salamin aja ya dari orang Ternate di Yogya.
        Iyah jadi belajar banyak juga lebaran di banyak tempat. Nanti bisa jadi cerita buat anak cucu kelak. Hihihi

  2. Aku udah hampir 5 tahun Tah, mudiknya setelah lebaran… Jadi tetep aja judulnya berlebaran di rantau.
    Met lebaran, maaf lahir batin yaa….

    Insya Allah kita ketemuan nanti di Surabaya 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s