Tak Perlu Sedu Sedan di Dusun Sade

“Teman-teman, kita sudah sampai di Dusun Sade.”

Rombongan tiba di Dusun Sade

Rombongan tiba di Dusun Sade (Foto: Ikhdah Henny)

Enam backpacker dari Surabaya dan Yogyakarta itu pun satu per satu keluar dari mobil. Wajah mereka terlihat masih bersemangat meski habis trekking ke Air Terjun Benang Kelambu. Lebih-lebih destinasi kami kali ini akan cukup memanjakan tiga perempuan yang ikut. Apa lagi kalau bukan pengalaman shopping alias belanja kain tenun.

Bukan tanpa alasan saya memasukkan Dusun Sade dalam rencana perjalanan (itinerary). Pelancong luar mana yang tidak ingin mengenal kehidupan tradisional Suku Sasak dari dekat? Siapa yang tidak penasaran mengunjungi rumah-rumah adat yang lantainya dilapisi kotoran kerbau? Perempuan mana yang tidak antusias belanja tenun ikat, bahkan belajar langsung menenun di situ? Pun pejalan mana yang tidak tertarik untuk berinteraksi dengan warga masyarakat yang masih mempertahankan tradisi, budaya, adat-istiadat, dan kearifan lokal sehingga kelak ketika pulang punya selumbung cerita menarik untuk dibagi?

Saya, Lalu Abdul Fatah, putra asli Suku Sasak, siap menemani mereka blusukan di Sade.

***

“Silakan buku tamu diisi dulu,” kata seorang laki-laki pada kami. Di sampingnya ada kotak donasi.

Ia sebagaimana beberapa pemuda dan pria baya lain di dekatnya mengenakan kaos dan sarung. Dari penampilannya, saya langsung bisa menebak kalau mereka adalah pemandu. Karena bawa rombongan dari ‘luar’ dan sebagai bentuk respek pada profesi mereka, maka kami pun mengangguk setuju untuk dipandu.

Seorang ibu menunggui jualan pernak-pernik kerajinan warga lokal

Seorang ibu menunggui jualan pernak-pernik kerajinan warga lokal. Foto: dokpri

Kami diajak ke sisi selatan. Aktivitas warga berlangsung alamiah. Tak ada kesan dibuat-buat hanya gara-gara kunjungan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Seorang ibu, misalnya, sedang asyik bercengkerama dengan putrinya di selasar rumah. Ada ibu yang sedang duduk di kursi menjaga pernak-pernik buatan tangan yang digelar di atas. Tampak pula nenek-nenek yang sibuk mengunyah sirih, asyik selonjoran kaki di balai-balai, sembari menunggui pembeli menghampiri selendan-selendang tenun ikatnya.

Sambil menyirih, menjual tenun

Sambil menyirih, nenek ini menjual tenun. Foto: dokpri.

“Dusun Sade ini dihuni Suku Sasak, penduduk asli Lombok.” Pemandu yang tidak saya  ingat namanya itu menjelaskan. “Warga Sade yang laki-laki kebanyakan bertani. Ada juga yang merantau dan bekerja di luar daerah. Kalau perempuan, mereka bekerja di rumah. Menenun kain.”

Seorang perempuan Sade sedang asyik menenun kain

Seorang perempuan Sade sedang asyik menenun kain. Foto: dokpri.

Penjelasannya tervisualisasikan oleh pemandangan di depan kami. Kaum hawa Dusun Sade, selain ada yang lagi menunggui kain-kain tenun yang mereka sampirkan di dinding juga atap rumah, ada juga yang sedang menenun di berugaq. Mereka terlihat tekun, memperhatikan pengunjung, dan sesekali menawarkan kain aneka motif. Mbak Ikhdah, editor saya, mendekat pada salah satu penjual. Pebisnis kain paruh waktu ini memang jauh-jauh hari sudah meniatkan untuk memborong kain tenun Sade.

Mbak Ikhdah sedang memerhatikan detail kain tenun ikat Sade

Mbak Ikhdah sedang memerhatikan detail kain tenun ikat Sade (Foto: Ikhdah Henny)

“Ini berapa, Bu?” tanyanya sambil memegang salah satu kain bercorak abstrak dengan kombinasi warna hitam, cokelat tua, kuning, oranye, dan titik-titik putih.

“100 ribu, Mbak.”

“Kalau yang kecil?” Saya tilik, ukurannya seperti syal.

“50 ribu. Khusus buat Mbak saya kasih 40 ribu.”

“Yang besar, 60 ribu saja, ya?”

Demikianlah tawar-menawar itu terjadi. Proses komunikasi yang didorong oleh psikologis perempuan. Kendati mampu membeli dengan harga awal, tapi bisa mencapai deal dengan harga di bawahnya melalui proses tawar adalah kepuasaan tersendiri bagi mereka. Saya pun hanya bisa senyum ketika akhirnya di penjual pertama, tak ada kain tenun yang dibeli.

Sementara teman-teman saya asyik menawar dan memotret, saya menghampiri seorang perempuan muda yang sedang memintal benang di teras rumahnya. Ini kesempatan untuk bertanya lebih lanjut tentang kain tenun Sade sekaligus menguak mitos seputar hubungan antara perempuan Suku Sasak dan kegiatan menenun. Mitos apakah itu?

Gadis ini memintal benang di teras depan rumahnya

Gadis ini memintal benang di teras depan rumahnya. Foto: dokpri.

Nyekan de ngumbe? Sedang ngapain?” tanya saya.

Mene te gulung benang. Ini lagi menggulung benang.” Perempuan yang saya taksir berusia awal 20-an itu menjawab.

Mbe lekan benang ne? Dari mana benangnya?”

Benang ne leman kapas saq te bait leman kebon. Benangnya dari kapas yang diambil dari kebun.”

Ia menjelaskan bahwa kapas-kapas tersebut lantas dijemur sampai kering. Setelah itu dihaluskan, digulung laiknya benang, kemudian dicelupkan pada cairan alami dari tetumbuhan.

Mun dengan nenun ino, pire suwe ne? Kalau orang menenun itu, butuh berapa lama?”

Bau seminggu sampe sebulan. Bisa seminggu sampai sebulan.”

Tetuan keh dedare lek te ndeq ne kanggo merariq lamun ndeq ne tao nenun? Benarkah gadis di sini tidak boleh menikah kalau belum bisa menenun?”

Mun jaman laek, iye tetu. Laguq mangkin ndeq maraq meno. Kalau waktu dulu sih, iya. Tapi, sekarang tidak lagi.”

Ya, menenun telah jadi tradisi turun-temurun bagi warga Sade. Tradisi ini hanya dilakukan oleh kaum perempuan dengan alat tenun bukan mesin alias secara manual. Makanya, harganya pun dipatok cukup tinggi.  Bagi turis asing, kain tenun ikat Sade berukuran besar ditawarkan dengan kisaran harga Rp 400 ribu – Rp 500 ribu. Bagi orang lokal Indonesia, harganya bisa setengah hingga sepertiganya. Tergantung kelihaian dalam menawar juga apresiasi Anda pada kerumitan proses yang mereka tempuh.

Anda bisa memilih kain tenun Sade dengan keanekaan ragam bahan, corak, serta ukuran. Selain tenun ikat, tersedia pula tenun songket. Bahan tenun ikat terbuat dari benang yang telah dicelup dengan zat pewarna alami, semisal kunyit atau pinang. Sementara itu, tenun songket terbuat dari benang emas atau perak. Motif tenun ikat terlihat di dua sisi, sedangkan tenun songket di satu sisi saja.

Aneka ragam corak kain tenun ikat Sade

Aneka ragam corak kain tenun ikat Sade. Foto: dokpri.

Corak atau motifnya pun macam-macam. Bunga, lumbung padi, burung, topeng, rumah adat, dan tokek adalah corak yang lazim ditemui. Yang khas, tentu saja lumbung padi, rumah adat, dan tokek. Dua corak pertama sangat khas Suku Sasak. Sementara tokek banyak dijadikan motif karena ia dianggap hewan keberuntungan masyarakat Sasak.

Saya dan perempuan muda itu berbincang santai. Senyumnya terkembang berkali-kali. Apalagi ketika hendak saya foto, ia kegirangan.

Matur tampiasih. Terima kasih.”               

***

Menelusuri lorong antarrumah tradisional warga Sade

Menelusuri lorong antarrumah tradisional warga Sade. Foto: dokpri.

Kami melewati jalan sempit antarrumah yang diplester atau dipaving, namun tidak sedikit ruas yang berupa tanah saja atau ditata dengan batu-batu sungai. Rapi, namun saat musim hujan mungkin akan licin. Bersih, dan itu yang sangat saya sukai.

Matahari makin bergeser ke arah barat. Angin pelan bertiup, membelai 150-an rumah warga Dusun Sade. Rumah tradisional yang menyimpan hal-hal menarik di balik atap ijuk jerami, dinding bambu, dan lantai tanahnya.

Sambil berjalan, pemandu menjelaskan pada kami.

“Di sini, rumah disebut bale. Ruangannya dibagi menjadi dua bagian. Ada yang disebut bale luar, tempat untuk menerima tamu. Satunya lagi bale dalam, tempat untuk tidur dan memasak. Bale dalam posisinya lebih tinggi dari bale luar. Antara keduanya dihubungkan dengan tiga buah anak tangga.”

Sayang sekali, kami tidak sampai masuk ke dalam rumah untuk melihat secara langsung perkataan sang pemandu. Saya malah membayangkan bisa bermalam di salah satu rumah untuk merasakan langsung jadi warga Sade sehari saja. Namun, ingatan saya melayang pada satu berita yang saya baca di media bahwa rencana pembangunan homestay di Sade pun tidak disetujui oleh warga. Mereka khawatir wisatawan tidak betah dengan adat-istiadat yang berlaku di situ.

Anak-anak tangga dari susunan batu kali

Anak-anak tangga dari susunan batu kali. Foto: dokpri.

Dan, jika saya perhatikan, rumah-rumah di Sade berjejer rapi dengan tinggi yang hampir seragam. Lorong antarrumah gampang ditelusuri. Jika posisi tanahnya agak tinggi, ada anak tangga dari batu atau ubin yang sengaja disusun.

Atap jerami rumah pun dibuat rendah. Pintu masuk ke ruang yang disebut bale luar pun begitu. Tak mengherankan jika tamu yang hendak masuk harus sedikit menundukkan kepalanya. Selain agar tidak terpentok pintu, juga tanda hormat pada tuan rumah. Hal yang pernah saya lihat di Desa Beleq yang merupakan desa tradisional di kaki Gunung Rinjani saat berkunjung tahun 2010.

“Oya Pak, katanya lantai rumah di Sade dilapisi kotoran kerbau, ya?”

Nggih, betul sekali. Lantai rumah di sini campuran dari tanah, abu bekas jerami yang dibakar, sama getah pohon. Terus, diolesi kotoran kerbau.”

“Baunya gimana, Pak?”

“Tidak berbau. Karena warga juga akan menempati rumahnya jika kotoran kerbaunya telah mengering.”

“Kenapa harus kotoran kerbau?”

“Jangan dianggap jijik. Warga pakai kotoran kerbau untuk melapisi lantai rumahnya karena ada maksudnya. Campuran ini justru membuat suhu di dalam rumah tetap terjaga. Misalnya, di luar sedang panas, suhu dalam rumah tetap sejuk. Kalau cuaca dingin, dalam rumah hangat.”

Penjelasan pemandu itu membuat saya berpikir tentang kecerdasan yang dimiliki nenek moyang Suku Sasak di Dusun Sade dalam menggunakan teknologi sederhana nan alamiah. Tidak perlu pakai kipas atau AC di ruangan yang hanya punya satu pintu tanpa jendela-jendela itu. Hemat energi. Kalau istilah orang sekarang, warga Sade telah menerapkan konsep gaya hidup green.

“Warga pakai kotoran kerbau juga karena bentuk hormat pada binatang ini. Bagi warga Sade, kerbau dianggap simbol kemakmuran. Kerbau dipakai oleh warga Sade yang notabene petani untuk membajak sawah. Untuk itu, kalau ada kerbau yang disembelih warga saat perayaan tertentu, tanduknya dipajang di dalam rumah.”

Bahkan, informasi yang lebih unik lagi saya dapatkan bahwa semua rumah di Sade menghadap Gunung Rinjani. Sebab, warga Sade percaya Gunung Rinjani adalah pusat kosmologi (tata ruang semesta) masyarakat Lombok sekaligus tempat bersemayam roh-roh leluhur.

Bagaimanapun juga kepercayaan pada roh-roh leluhur ini masih terkait dengan konsep Wetu Telu yang dulu pernah dianut oleh nenek moyang Dusun Sade. Wetu Telu (waktu tiga) artinya lahir, berkembang, dan mati. Konsep itu pun terjelma pula dalam jumlah anak tangga di rumah di Sade, yakni berjumlah tiga. Saat Islam masuk ke Lombok pada abad XVI, konsep ini kemudian dimaknai dengan shalat tiga hari sekali dan itu pun hanya dilakukan oleh kiai, bukan semua warga. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Islam Wetu Telu yang merupakan sinkretisme dari animisme, ajaran Hindu, dan Islam.

Saya berdecak kagum dalam hati. Sungguh sebuah kearifan lokal yang diejawantahkan lewat bangunan bernama rumah. Meski saya tidak tinggal di desa tradisional, namun sebagai orang Sasak asli, pengetahuan saya hari itu bertambah. Semoga demikian pula dengan pemahaman, kearifan, serta empati saya pada saudara saya sesuku itu.

Hari itu, saya senang. Selain karena mendapat asupan ilmu juga karena teman-teman saya membeli cukup banyak oleh-oleh dari Dusun Sade, terutama kain tenun ikat. Selembar cendera mata yang kiranya akan mampu bercerita banyak tentang kunjungan ke dusun yang masih setia menjaga orisinalitas bangunan adat juga tradisi leluhur mereka.

Jadi, di Sade, tak perlulah bersedu sedan. Merasa iba, jijik, prihatin, dan perasaan superordinat lainnya.  Kita hanya perlu membuka semua indra dan mencerap sedikit demi sedikit taburan kearifan lokalnya.

Anda semua saya undang ke Sade.

Berpose dulu dengan latar lumbung padi yang jadi simbol khas Suku Sasak

Berpose dulu dengan latar lumbung padi yang jadi simbol khas Suku Sasak (Foto: Ikhdah Henny)

***

         Catatan:

  • Sade terletak di pinggir Jalan Raya Praya yang menghubungkan Bandara Internasional Lombok (BIL) dengan Pantai Kute (Mandalika). Dari BIL, Anda bisa menggunakan taksi bandar menuju ke sini yang membutuhkan waktu sekitar 20 menit.
  • Di Sade tidak tersedia homestay dan akomodasi sejenisnya. Lokasi terdekat, Anda bisa menginap di kawasan Pantai Kute. Berbagai jenis akomodasi, mulai dari hotel berbintang empat, seperti Novotel (Telp. 0370 – 6153333), hingga budget hotel, seperti Seger Reef (0370 – 655528) atau Surfer’s Inn (0370 – 655582).
  • Anda sebaiknya berkunjung mulai pagi hingga sore hari. Pada bulan Juli-Agustus kunjungan wisatawan melonjak. Jika ingin suasana yang lebih homey dan agak sepi, berkunjunglah di luar bulan itu.
Iklan

22 thoughts on “Tak Perlu Sedu Sedan di Dusun Sade

  1. Nah, tracking benang kelambu yang jalur mana nih, bang? Kalo yg jalur temen2 sekampus lalui, gempor gak bisa jalan lagi, habis mblusukan jalur “tak terjamah”. Haha. Ternyata di akhir acara baru tau kalo ada jalan yg lebih bagus kata temen 😀

    • Jalur biasa, Nin. Masuk di pintu yang dijaga tukang penjual karcis plus nyediain guide. Terus, ke air terjun benang stokel dulu sebelum ke benang kelambu. Lumayan juga tracking-nya. Tapi, jelas kok :))

      Kok bisa sampai tersesat? Memangnya lewat mana?

  2. matur tampiasih, Lalu 🙂

    sayang sekali ketika ke Lombok, kami tak sempat mampir ke desa Sade, hanya karena seorang teman merasa bersalah karena pada kunjungan sebelumnya dia lupa memberi tip pada pemandu.. sebenarnya berapa sih jumlah tip yang layak untuk pemandu di sana?

    • Sami-sami, Mas 🙂

      Untuk tip, sebenarnya relatif ya… tergantung pada sensitivitas juga penghargaan pada mereka. Saya dua kali berkunjung ke sana, tidak memberi tip. Kunjung pertama, saya sendirian saja dan tidak pakai pemandu. Kunjungan kedua, bareng rombongan sebagaimana cerita di atas. Teman-teman saya yang ngasih tip. Kisaran 50ribu. Maklum rombongan 🙂

  3. Sempat mampir ke Desa Sade…kalau gak salah ada ibu yang umurnya udah sepuh banget ya lalu…berkunjung ke sade dan desa2 tradisional lainnya seperti di Baduy memang memberikan pelajaran berharga. Meskipun mereka tidak kebal sepeuhnya terhadap gempuran modernitas dan kedatangan masif para pelancong, namun kearifan lokal tetap berusaha keras dijaga 🙂
    Lalu tinggal di Mataram ya? atau di praya?

    • Kapan ke Sade, Mbak?
      Iya, Mbak. Tahan gempurannya pun karena ada campur tangan pemerintah provinsi dan daerah untuk membina mereka agar mempertahankan diri sebagai Desa Wisata.
      Karena gimanapun juga, di situlah nilai jualnya 🙂
      Saya tinggal di Pancor, Selong, Lombok Timur, Mbak.
      Tapi, kampung halaman Bapak saya dekat banget dari BIL 🙂
      Makanya, tiap lebaran, mesti kunjungan ke sana. Disambi ke Pantai Kute, kadang-kadang 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s