A Room to Write

Entah mengapa, saya menyukai kamar yang saya tempati selama Januari – April 2013 di Kebumen. Kamar yang cukup luas, berlantai tegel nan selalu dingin, dan berjendela besar tinggi sekaligus berterali.

Jika pagi tiba, momen yang selalu mengesankan buat saya adalah saat membuka jendela kayu dan membiarkan masuk cahaya yang masih muda. Udara pagi nan segar pun akan diam-diam menelusup. Tanaman di depan jendela kamar akan bergoyang-goyang. Hijau di mata. Hijau di otak.

IMG_3963

Persentuhan antara kulit telapak kaki saya dengan lantai tegel juga menyisakan kenangan. Adem. Tak sampai bikin menggigil. Tapi, rasanya masih tertinggal. Ketika hujan mengguyur ataupun panas bertabur, lantai tegel ini selalu nyaman di telapak kaki.

Awalnya, saya bentangkan koran di lantai tegel. Untuk shalat. Namun, penjaga rumah, Pak Warno, yang sudah sepuh tapi masih bugar, meminjamkan sajadahnya. Ah, tegel itu. Tegel yang nyaman.

Langit-langit kamarnya juga tinggi. Tak heran jika sirkulasi udaranya baik. Udara keluar masuk dengan leluasa. Ya, rumah tua. Meski di awal sempat merasa tidak enak dengan suasananya, namun tak butuh lama bagi saya untuk segera akrab dengan rumah ini.

Di kamar bercat putih ini, beberapa perabotannya cukup membantu konsentrasi saya menulis. Sebuah dipan kayu dengan kasur, sebuah kursi beralas rotan, dan meja kayu warna hijau dengan sandaran kaki di bawahnya.

Dipan kayu berwarna cokelat di kamar ini cukup untuk saya. Berseprai kuning – bukan warna favorit saya. Tapi, itu sudah dibentangkan oleh penjaga rumah, tak perlulah saya rewel. Yang penting bisa tidur dengan nyaman kala lelah duduk menulis atau sepulang dari kantor Plan atau sehabis kunjungan ke desa-desa.

Saya menumpukkan pakaian dan celana saya di sudut kanan dipan. Begitu pula dengan ransel saya. Sementara tubuh saya terbaring dengan kepala di timur dan kaki di barat. Buku bacaan kadang saya geletakkan di dekat bantal yang tidak tipis tidak juga tebal.

Meski begitu, saya tidak nyaman membaca di atas kasur karena posisi lampu kamar saya yang menempel di dinding. Lampu neon itu persis di atas meja. Arah datang cahayanya malah bertubrukan dengan kulit buku. Sementara saya lebih suka bersender di dinding untuk membaca. Tentu, agak suram dan bikin mata tak nyaman betul.

Maka, jika tidak membaca di ruang tengah yang terbuka dan lampu neonnya terpasang di atas, maka saya membaca sambil duduk di kursi depan meja dalam kamar. Kursinya cukup nyaman di pantat. Bahannya rotan. Tidak lebar dan saya tidak bisa naikkan kaki di situ. Kaki saya bertumpu pada palang kayu di bawah meja.

Photo0939

Di meja saya ada tumpukan kertas, bacaan, dokumen-dokumen, notes hasil wawancara, kadang botol minuman juga makanan ringan. Di bawahnya, ada tas kresek plastik berisi sampah juga berjejer rapi botol-botol air mineral kosong. Tidak praktis membeli galon karena saya juga hanya sementara di situ. Meski di rumah ini ada dapur dan bisa memasak air buat bikin teh, kopi, atau mi instan, tapi pasokan air minum saya peroleh dari botol-botol air mineral yang saya beli di minimarket samping Masjid Agung Kebumen.

Di atas meja, ada colokan listrik juga stop kontak lampu neon. Lampu yang cahayanya menyebar dari samping, bukan atas. Lampu yang tidak bisa membuat semua sudut kamar saya jadi terang. Tak apalah. Buat apa pula.

Di samping kanan atas meja ada gantungan baju. Di situlah saya beternak nyamuk. Oh, tidak. Selama saya di sini, jarang sekali nyamuk saya temui atau nyamuk menemui saya. Mungkin karena lagi musim penghujan. Atau kami sama-sama sedang cuek satu sama lain? Bisa jadi.

Kamar saya ini sebenarnya kamar hasil partisi. Satu kamar dibagi dua. Penyekatnya adalah triplek yang cukup tebal, namun masih terbuka bagian atasnya. Tidak benar-benar tertutup. Maka, kalau sedang butuh hiburan dengan menonton film atau menyetel musik di laptop, saya tidak bunyikan keras-keras. Kecuali Pak Warno sedang keluar, menyiangi halaman rumah, atau bersih-bersih di rumah sebelah.

Di kamar inilah, saya mengejar tenggat menulis untuk buku Plan Kebumen. Kendati saya bisa menulis di kantor, di rumah relawan di desa, ataupun bahkan mencoba menulis di Surabaya, namun di kamar inilah saya paling bisa berkonsentrasi. Apalagi waktu pagi, saat para penghuni berangkat ke sekolah, ke bank, ke kantor, dan tempat kerja masing-masing. Itulah saat yang paling oke buat saya untuk mengerahkan segenap perhatian ke materi tulisan. Biasanya saya menulis hingga menjelang siang, sebelum akhirnya keluar ‘sarapan’.

Biasanya saya menutup pintu kalau sedang berupaya konsentrasi. Biar lalu-lalang penghuni tidak membuyarkan. Kalau malam, ketika lanjut menulis, pun demikian. Sementara para penghuni lainnya menonton tv di ruang tengah, biasanya sinetron kolosal di salah satu tv swasta, saya malas bergabung – malas dengan sinetronnya yang kebanyakan efek. Saya gabung untuk sekadar sosialisasi saja. Maklum, penghuni baru. Jangan sampai dibicarakan yang tidak-tidak atau parahnya di-bully ala anak kosan zaman sekarang 😀

IMG_3960

Iklan

9 thoughts on “A Room to Write

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s