Irfan Amalee: Menabur Bibit Perdamaian

Irfan AmaLee

Irfan AmaLee

Bagaimana cara mengawinkan kreativitas dengan perdamaian? Tanyakan pada Irfan AmaLee. CEO di Mizan Applications Publisher ini sejak 2007 merintis organisasi perdamaian untuk remaja bernama Peace Generation. Ia mengolaborasikan pengalamannya selama 12 tahun di industri buku anak-anak dengan kegelisahannya terhadap kekerasan yang terus meningkat di kalangan muda. Dari situlah lahir buku, ilustrasi, permainan, film, mudik, dan ragam aktivitas kreatif lainnya. Tujuannya tak lain untuk menyemai bibit perdamaian pada anak-anak muda.

Laki-laki kelahiran Bandung, 28 Februari 1977 ini mewujudkan Peace Generation secara mengalir saja. Meskipun ini telah jadi impiannya sejak mahasiswa, namun baru bisa terwujud pada 2007. Saat itu, Irfan bersama Erik Lincoln mulai membuat modul pendidikan yang terdiri dari 12 seri buku Nilai Dasar Perdamaian. Modul-modul ini kemudian dilatihkan kepada lebih dari 2.000 guru dan diajarkan kepada 30.000 siswa di berbagai kota di Indonesia, dari Banda Aceh hingga Poso. Bahkan, modul-modul tersebut telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan diterapkan di Filipina, Malaysia, Australia, hingga Amerika.

Dalam prosesnya, Peace Generation tidak selalu melaju mulus laiknya mobil di jalan tol. Banyak kendala yang dihadapi, baik dana maupun sumber daya. Di beberapa pelatihan ia pun tak jarang dituduh menyebarkan misi dari Barat. Tak lain karena Irfan bekerja sama dengan Erik Lincoln yang merupakan bule Kristen Amerika.

“Tapi, saya terus meyakinkan bahwa perdamaian itu bukan misi Barat atau Timur. Ini misi kita bersama sebagai umat manusia,” tegasnya.

Hal yang manusiawi kalau semangatnya kadang turun atau disibukkan oleh pekerjaan sehingga kegiatan Peace Generation jadi terbengkalai. Namun, selalu ada momen yang membuatnya kembali semangat. Misalnya, ketika sejumlah aktivis Peace Generation di berbagai tempat di Bali dan Sulawesi mengabarinya bahwa mereka telah mengajarkan modul Peace Generation dari satu pulau ke pulau lain dengan biaya sendiri.

“Saya kadang-kadang merinding mendengar antusiasme dan semangat mereka. Saya jadi malu sendiri,” ungkap ayah dari dua anak ini.

Selain itu, ia selalu gelisah melihat orang yang menggunakan agama sebagai legitimasi untuk kekerasan atau membenci orang lain. Ia juga gelisah waktu belajar sejarah agama Islam yang kadang didominasi kekerasan.

“Saya tidak percaya begitu saja. Pasti ada yang salah. Pasti bukan agama yang salah. Tidak mungkin Tuhan mengajarkan umat-Nya untuk saling membenci,” ujar laki-laki yang menamatkan S-1 dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, ini.

Ia lantas mencari informasi dalam Al-Qur’an. Ia analisis sejarahnya. Ia perluas pergaulan dan membuka diri terhadap berbagai pemikiran. Ditambah melihat kondisi sekarang yang penuh dengan kekerasan dan kampanye kebencian, ia kian yakin bahwa kerja menyebarkan perdamaian ini betul-betul penting.

“Selama kita bisa terus memberikan manfaat pada masyarakat pasti kita akan terus hidup dan berjalan,” ujarnya bijak.

Jika ditelusuri ke belakang, semangat Irfan untuk membangun Peace Generation ini tidak lepas dari masa kecilnya.

“Masa kecil saya diisi dengan persahabatan dengan orang berbagai suku dan agama. Tapi, masa-masa indah itu nyaris tidak dialami ketika saya masuk sekolah dan pesantren. Baru menemukan lagi ketika aktif kuliah dan ikut training perdamaian. Di sana minat saya muncul. Sejak itu, saya merasa bahwa isu perdamaian menjadi topik yang begitu menarik bagi saya,” ungkap lelaki tujuh bersaudara ini.

Irfan tumbuh di keluarga yang supersederhana. Pola didik yang diterapkan oleh orangtuanya pun sederhana. Di rumah belajar agama. Di sekolah harus juara. Meskipun ayahnya hanya seorang guru SD dengan gaji yang sangat kecil, tapi ia dan saudara-saudaranya dididik untuk berani bermimpi, kerja keras, dan komitmen pada agama.

“Meskipun kami keluarga yang pas-pasan, ayah saya selalu mengajarkan untuk berinfak dan berzakat, menolong orang lain yang kesulitan,” ujar lulusan master Brandeis University, Massachusetts tahun 2012 ini.

Studi S-2 bidang Peace and Conflict Studies yang ia peroleh melalui beasiswa Ford Foundation ini memang lebih banyak belajar menganalisis konflik global. Sisi politiknya lebih dominan tinimbang pendidikannya sebagaimana yang jadi fokus Peace Generation. Tapi dengan belajar konflik global, ia mendapat perspektif baru dan melihat sesuatu lebih komprehensif. Di perkuliahan ia juga belajar social management, yakni bagaimana mengelola sebuah social enterprise.

“Kita tidak bergantung pada sumbangan, tapi menciptakan produk dan program yang bersifat sosial tapi memiliki nilai ekonomi. Kita membuat berbagai produk, seperti PeaceShirt, PeaceJeans, PeaceShoes, dan lain-lain,” jelasnya.

Berkat kiprahnya di dunia media dan perdamaian, satu persatu penghargaan ia raih. Pada 2009, Irfan dianugerahi penghargaan International Young Creative Entrepreneur dari British Council. Tahun berikutnya, ia menerima Universitas Atmajaya Yogyakarta (UAJY) for Multiculturalism Award. Dua tahun berturut-turut, 2010 dan 2011, Irfan masuk dalam daftar 50 orang Muslim paling berpengaruh di dunia versi Royal Institute for Islamic Studies Amman Yordania. Irfan juga sempat dinobatkan sebagai Ashoka Fellow, sebuah penghargaan bergengsi untuk social entrepreneur.

“Penghargaan-penghargaan itu sebetulnya bukan untuk pribadi saya, tapi untuk semua orang yang berjasa di Peace Generation. Kedua, penghargaan itu kadang terlalu megah buat kita. Karena saya belum melakukan apa-apa. Tapi, saya anggap saja sebagai tantangan dari Allah agar saya dan teman-teman bekerja lebih keras.”

Irfan yang kini fokus membuat aplikasi dan permainan untuk pendidikan di bawah grup Mizan membeberkan kiat dalam mengembangkan Peace Generation.

“Kreativitas, inovasi adalah segalanya. Dengan itu kita bisa melakukan sesuatu yang orang lain belum lakukan. Terus belajar. Perluas network,” pungkasnya.

Catatan: Versi suntingan tulisan ini telah dimuat di Sarjana. Saya tertarik mewawancarai Irfan Amalee pasca membaca bukunya “Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu”. Buku yang saya beli persis dua hari menjelang lebaran Idul Fitri karena teringat kembali cita-cita saya sekolah di luar negeri. Di kulit dalam buku itu, terpapar profil Irfan Amalee yang kemudian membuat saya menelusuri jejak-jejaknya yang bertebaran di jagat maya. Tanpa perlu berpikir lama, sembari menunggu jawaban wawancara dari Bu Tri Mumpuni, saya pun berinisiatif menabung calon tulisan dengan mewawancarai Kang Irfan. Dari jawaban Twitter-nya yang ramah, pemberian alamat surel, tanya jawab itu pun kemudian berlangsung.

Di surel terakhir, Kang Irfan – setelah membaca postingan ini – membalas berikut: Terima kasih tulisannya. Saya suka sekali. Gaya tulisannya mengalir, dan berhasil memotret hal2 yang menurut saya pas sekali. Dari sejumlah liputan dan wawancara, ini mungkin yg paling saya suka.

Alhamdulillah… Ini cambuk buat saya agar lebih baik lagi 🙂

Iklan

9 thoughts on “Irfan Amalee: Menabur Bibit Perdamaian

    • Wow! Mantap! Sudah diposting belum di GR? Mau baca juga euy ulasan Cek Yan atas Mr. Ambassador.

      Buku Irfan Amalee ini juga saya harap agar segera Cek Yan buru. Hahaha… Para peraih beasiswa, macam Fahd Djibran, juga membagikan pengalamannya di sini 🙂

      • Belum dibikin ulasannya Tah. Yang pasti itu buku yang bagus. Suka dengan Pak Indro, diplomat yang ‘koboy’. Dalam artian gak doyan diperlakukan berlebihan.

  1. akhirnya dari “beasiswa di bawah telapak kaki ibu”, dikau bisa dapat cerita panjang tentang penulisnya nih.. salam ya.. semoga perjuangannya selalu lancar..

    • Dan, dari buku Kang Pepih “Menulis Sosok”, saya baru paham kalau sebelum wawancarai narasumber, sebisa mungkin ia juga telah khatam catatan-catatan tertulis si narasumber, termasuk buku (kalau ia menulis).

  2. Dari cara presentasinya di ted x dan bukunya yang tentang beasiswa itu, saya semakin kagum sama nih orang… semoga bisa ketemu suatu saat dan ngobrol atau bersinergi bareng

  3. abdi(saya)salah satu orang yang terkena jipratan virus peacesalam dari kang Irfan 2008.uniqnya saya semakin melihat bukan lagi hanya peace atau damai yg empiris(seputar kerukunan,dialog,filosofi etnit[pella gandong,serasan bumi sekundang,torang samua basudara,…dll] tapi mataku melihat bahwa PG seperti benih “Perdamaian Abadi” yang sudah dan sedang menulari banyak generasi.itu sebabnya harus sesegera mungkin ditabur/tanam.Dan suatu saat nanti kita akan melihat dan menuai hasil,dan pahala sudah Allah swt Tuhan yaa As Salam sediakan.amiin

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s