Orang yang Telah Selesai dengan Dirinya

Sumber: fotocommunity.com

Sumber: fotocommunity.com

Frasa ‘orang yang telah selesai dengan dirinya’ kembali terngiang di benak saya usai membaca tulisan I Made Andi Arsana di sini. Saya langsung berkaca. Sudahkah saya selesai dengan diri saya? Seberapa perlu saya selesai dengan diri saya? Untuk apa saya perlu selesai dengan diri saya?

Tapi, sebelum pertanyaan itu saya jawab, beberapa waktu yang lampau, saya juga pernah baca sebuah artikel tentang kepemimpinan. Intinya, pemimpin seyogiyanya adalah orang yang telah selesai dengan dirinya. Sehingga, ketika memimpin, ia fokus melayani, mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya pada orang-orang yang ia pimpin. Ia telah selesai dengan pencarian materi. Ia telah selesai dengan pencapaian jabatan. Ia telah selesai dengan pemenuhan kebutuhan keluarganya. Ia telah selesai dengan pujian dan segala rupa apresiasi.

Jadi, ia akan benar-benar fokus mengabdi. Tak sempat berpikir untuk menggasak harta negara alias korupsi. Tak sempat berpikir untuk menjabatkan sanak saudaranya alias nepotisme. Tak sejumput pun berniat untuk bersekongkol demi memuluskan niat bulusnya alias kolusi.

Ia pun akan lebih bisa bersimpati dan berempati. Mencoba mendudukkan dirinya sederajat dengan orang lain. Mencoba memahami kenapa orang lain bertindak begitu. Bukan bermaksud untuk menolerir, tentu. Tapi, ia mencoba untuk meluaskan pandangan. Tidak serta-merta menjatuhkan vonis tanpa berusaha berpikir dari sudut pandang orang lain. Setelah memahami, barulah ia bisa memberikan penilaian. Ia harus bersikap seperti apa.

Lalu, apa jawaban saya atas pertanyaan yang saya ajukan di awal?

Sangat jauh. Masih sangat jauh. Jika saya mencoba menganalisisnya, ada banyak alasan.

Saya masih muda. 25 tahun. Saya masih punya sederet cita-cita. Bahkan, to do list before I die saya ada 100. Itu yang tercetus pada 2011, saat saya pertama kali membuatnya. Sekarang? Bermunculan impian-impian baru. Namun, saya terus mencoba menakar, menimbang, dan memperkirakan.

Saya juga tipikal orang yang masih suka dipuji. Tulisan saya diapresiasi positif, misalnya, hidung saya masih kembang kempis. Senyum mengulum. Mata berbinar. Namun, bisa saja dalam sedetik kemudian, saya mempertanyakan pujian yang terlontar dari orang tersebut. Tuluskah? Dari hati yang terdalamkah? Jebakankah? Skeptis itu masih ada.

Skeptis itu pun saya terapkan pada diri sendiri. Ketika saya memuji orang pun, saya akan bertanya, apa tujuan saya memuji. Apakah pujian saya benar-benar tulus? Apakah pujian saya bukan sekadar omong kosong? Apakah pujian saya diterima dengan frekuensi yang sama oleh orang yang saya puji tersebut? Apakah pujian saya bermanfaat atau justru menjerumuskan?

Makanya, ketika ada kalimat yang mengatakan begini, “Cara mencela yang baik adalah dengan menunjukkan yang benar, dan cara memuji yang baik adalah dengan mendoakan orang tersebut”, saya pun manggut-manggut. Mencernanya. Demikiankah?

Karena Rasulullah pun mewanti-wanti agar jangan berlebihan memuji orang lain karena itu ibarat mendorong dia ke dalam jurang neraka. Jika maksudnya, orang yang dipuji akan merasa sombong dan tinggi hati lantas lupa diri, mungkin itu tepat. Tapi, jika sebaliknya, orang yang dipuji merasa itu bukan pujian buat dia, semata-mata hanya Tuhan yang pantas dipuji, saya kira itu tidak akan terjadi.

Ya, ada ‘negosiasi hati’ di antara kedua belah pihak. Tidak selalu, jika A maka B. Tidak selalu, jika A dipuji, maka ia akan lupa diri. Bisa jadi ia punya pemahaman tentang bagaimana memaknai pujian.

Ketiga, dalam konteks kepemimpinan, saya butuh belajar dan terus belajar. Tentu sampai liang lahat. Pertanyaannya, kenapa harus memimpin? Kenapa tidak belajar menjadi yang dipimpin saja alias pengikut? Karena sudah terang di dalam kitab suci yang saya imani, bahwa tiap orang adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri, dan ia kelak akan ditanyai mengenai kepemimpinannya. Apakah ia telah memimpin dengan baik? Bagaimana ia memimpin? Sejauh mana ia memimpin dirinya? Jika kepemimpinannya kurang baik, mengapa demikian? Lantas, bagaimana ia memperbaikinya?

Ketika I Made Andi Arsana dengan cepat membuat penilaian bahwa Ahmad Fuadi adalah sosok yang telah selesai dengan dirinya, saya tidak mengiyakan juga menidakkan. Persepsi I Made Andi Arsana bisa benar, bisa pula meleset. Persepsi saya terhadap persepsi I Made Andi Arsana bisa benar, bisa pula meleset.

Jadi, sebenarnya, adakah orang yang benar-benar telah selesai dengan dirinya?

Saya kira, ketika kita dianjurkan untuk terus belajar, tak berhenti kendati sampai liang lahat, secara tak langsung itu menjadi jawaban bahwa tidak ada orang yang telah benar-benar selesai dengan dirinya. Sampai ia benar-benar ‘selesai’ di dunia ini.

Iklan

5 thoughts on “Orang yang Telah Selesai dengan Dirinya

  1. “pemimpin seyogiyanya adalah orang yang telah selesai dengan dirinya..” bisa jadi ada benarnya. tapi bayangin nggak sih kalau pejuang2 zaman dulu pakai prinsip ini, nggak tahu Indonesia merdekanya kapan. Soalnya pasti banyak hal yang belum mereka capai tapi mereka rela menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta untuk negara.

    kembali lagi, tergantung sudut pandang dalam mengartikan kalimat itu, yang penting kita bisa ambil sisi baiknya. 🙂

    • Artikel yang saya baca itu memang menyorot konteks kekinian, Mbak. Munculnya pemimpin-pemimpin yang ‘telah selesai dengan dirinya’, salah satunya Dahlan Iskan (raja JawaPos grup), dianggap bisa merepresentasikan itu. Maka, ketika diamanahi oleh presiden untuk menduduki posisi-posisi strategis, ia melakukannya tanpa embel-embel pencitraan. Nah, saya mengutipnya deh 🙂

      ‘Orang yang telah selesai dengan dirinya’ juga sekaligus sindirian dan antitesis terhadap ‘orang yang belum selesai dengan dirinya’. Frasa yang kedua ini sebagai bentuk cibiran bagi mereka yang justru memanfaatkan posisi untuk KKN. Mumpung berkuasa, saatnya deh 😀

      Terima kasih, Mbak, untuk tanggapannya 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s