Seberapa Mandiri Kamu Sebagai Pejalan?

Be Your Own Hero

Sumber: http://addicted2success.com

                Mengaku pejalan? Saya tanya, seberapa mandiri kamu sebagai pejalan? Seberapa tidak bergantungnya kamu pada orang lain? Seberapa cergasnya kamu menangani masalahmu sendiri saat dalam perjalanan, baik itu sendiri maupun kelompok? Seberapa tidak manjanya kamu pada fasilitas atau orang lain ketika kamu menghadapi kendala? Seberapa yakinnya kamu bahwa kamu bisa mengatasi tantangan dengan tangan sendiri?

                Ada orang-orang yang karena dapat didikan lembek, jadi banyak bergantung pada orang lain. Ketika ia terpisah dengan orang yang digantunginya itu, ia akan mencari mangsa baru untuk digantungi. Direpoti.

                Didikan lembek? Iya, mereka yang tidak dipercaya oleh orang terdekatnya, utamanya orangtua, untuk mengatasi masalahnya sendiri. Sedikit-sedikit, orangtuanya ikut campur. Merasa anaknya tidak punya kapasitas untuk menyelesaikan urusannya sendiri. Merasa diri mereka lebih tahu, lebih bisa, lebih banyak kekuatan. Sehingga, anak mereka pun selalu dipandang sebagai pihak yang lemah, yang perlu uluran tangan sesering dan selekas mungkin.

                Akibatnya apa? Setelah besar, setelah bersosialisasi dengan orang lain, si anak akan merasa kurang percaya diri pada kemampuannya. Kurang berkembang daya juangnya. Ia akan terbata-bata mencari tangan orang terdekat. Untuk meminta bantuan.

                Pejalan, ada pula yang begitu. Terlihat tangguh dari luar, padahal dalamnya kopong. Citra diutamakan. Esensi dikesampingkan. Pujian ingin diraup sebanyak mungkin, padahal aslinya dia kesepian. Butuh pengakuan sebagai tiang penguat jiwanya yang rapuh. Yang membangun kekuatan dari luar, tidak dari dalam. Yang akan terus berupaya menjaga loyalitas pihak luar pada dirinya. Yang ketika pihak luar pelan-pelan mulai menjauhinya, ia akan celingak-celinguk khawatir.

Sebaik itukah kemandirian?

                Soekarno dalam pidatonya pada peringatan HUT RI 17 Agustus 1965, mengumandangkan kata ‘berdikari’, berdiri di atas kaki sendiri. Dalam pidato itu, ia mengemukakan tiga prinsip berdikari, yaitu berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

                Konsep berdikari ala Soekarno memang untuk konteks yang makro pada saat itu. Tapi, amat bisa ditarik ke skala mikro. Berdikari. Berdiri di atas kaki sendiri. Mandiri. Tidak bergantung pada pihak lain. Tidak bersembunyi di balik keteduhan ketiak orang lain yang bisa jadi bau dan bikin muntah itu.

                Mengapa mandiri? Dengan mandiri, kamu tahu seberapa besar daya juangmu. Kamu tahu sebesar apa kekuatanmu. Kamu tahu batas maksimalmu sampai mana. Kamu mengenal titik-titik malas, lemah, kekuranganmu. Kamu belajar mengenal dirimu.

                Bayangkan jika sebentar-sebentar, sedikit-sedikit, kamu meraih tangan orang lain untuk membereskan masalahmu. Kamu tidak bisa merasakan manisnya kepahitan. Kamu tidak bisa merasakan nikmatnya rasa sakit. Kamu tidak tahu seberapa enaknya kepedihan. Kamu tidak tahu seberapa lapangnya kesempitan.

                Nabi saja, amat bisa minta tolong orang lain untuk menjahitkan bajunya, tapi tidak. Ia menjahit bajunya sendiri.

                Apakah itu berarti Nabi tidak memberikan kesempatan orang lain untuk berbuat baik pada dirinya? Saya kira, pertanyaan itu tidak tepat sasaran. Nabi merasa mampu menyelesaikan urusan jahit-menjahit bajunya sendiri, dan ia melakukannya. Bisa jadi dari urusan ‘sepele’ seperti menjahit, beliau belajar banyak hal. Belajar tentang kesabaran, ketelitian, ketelatenan, ketekunan, pula proses susah payah.

                Saya jadi teringat dengan dalih yang dilontarkan teman saya ketika mengomentari saya yang mencuci baju sendiri. “Kamu cuci di laundry saja. Kan, itung-itung bagi rezeki dengan orang lain.”

                Hal yang pertama kali melintas di kepala saya adalah anak ini manja. Anak ini tidak terbiasa mencuci bajunya sendiri. Ketika berkunjung ke rumahnya, saya paham. Ia anak dari orangtua yang berada. Fasilitas yang menggampangkan hidup, ia punya.

                Terbiasa hidup gampang. Tidak mau bersusah-payah. Adalah sebagian dari karakter manusia Indonesia. Ini argumen dari Mochtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia.

Cermin Bersama

                Mari bercermin bersama. Saya menulis ini bukan berarti saya telah menjadi pejalan mandiri. Bukan berarti saya paling baik dan lainnya tidak. Saya hanya ingin meneguhkan pada diri saya bahwa menjadi mandiri, berdikari, dan tidak bergantung itu lebih banyak manfaatnya daripada sia-sianya. Saya ingin meneguhkannya lewat tulisan yang bisa jadi cermin saya kala melenceng dari apa yang saya yakini benar.

                Bukankah manusia diminta untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan? Iya, benar. Tapi, jika tolong-menolong itu dibungkus oleh kemalasan, kemanjaan, ketidakmandirian, dan seribu satu alasan yang tidak didahului oleh usaha dan doa sendiri, itu yang bagi saya tidak benar. Itu tolong-menolong yang disalahgunakan.

                Begitu pula dalam konteks perjalanan. Belajar mandiri, belajar mengatasi masalah sendiri, belajar bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.

Intinya belajar. Mandiri. Mengukur diri. Menelaah diri. Mengenal diri.

Dan, semoga dengan mengenal diri, kenal pula kita dengan Pencipta.          

Iklan

10 thoughts on “Seberapa Mandiri Kamu Sebagai Pejalan?

  1. Dalam konteks perjalanan, saya lebih suka bergaya ala “smart traveler”.
    Mengandalkan “pertolongan” warga lokal bukan karena saya manja ataupun malas, tetapi lebih ke alasan ekonomis.
    Ekonomis dalam hal uang saku,seperti akomodasi dan transport; juga informasi tentang daerah setempat yang kadang ga ada di om google 🙂

    • Kalau itu sih masih bisa ditolerir, Mbak. Asalkan kadarnya tidak berlebihan. Berlebihan di sini maksudnya sampai merepotkan orang lain, apalagi warga lokal dengan meminta-minta biar bisa menginap dan menikmati fasilitas gratis. Rai gedhek banget kalau itu. Kecuali kalau ditawari bantuan dan tanpa ada tendensi apa-apa, ya silakan mau diterima apa tidak. Tapi, kalau sampai ‘demand’ alias meminta dan itu merepotkan, maka untuk merekalah tulisan ini ditujukan.

      • wah jadi inget pernah baca tulisan di salah satu blog backpacker wannabe, jadi mereka jalan-jalan ke Phi Phi island, terus memaksa supaya bisa menginap di masjid setempat, sampai warga desa di tempat itu bikin rapat darurat (karena mereka gak pernah kedatangan tamu yang menginap di masjid), dan akhirnya rombongan ini diizinkan menginap di masjid, selama bbrp hari pula!

        alasan mereka menginap: biar irit, dan uangnya bisa buat belanja oleh-oleh

        :((

  2. Yup! Jadilah pejalan mandiri alias mandi sendiri. Jangan suka ngajak orang lain untuk mandi bareng, apalagi minta dimandiin. Jangan! Mendingan mandiri deh…, mandi sendiri! 😀 😀 😀

  3. baca komennya aldi soal inep di mesjid biar bisa beli oleholeh mah kebangetan..

    ku lebih suka smart traveller dibanding pejalan mandiri.. tetep pake etika.. sekarang udah ngetrend soal surfing kan? itu aja dimanfaatin.. kalu kemanapun ada tempat inep gratis yang emang digratisin dari kenalan ya kenapa tidak?

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s