Pejalan = Pembelajar

Daun

Ketidaktahuanlah yang menjadikan hidup begitu kaya – Paul Arden

Guru saya di Madrasah Ibtidaiyah dulu pernah berkata, “Semakin banyak membaca, semakin tidak tahu.” Saya baru paham kini. Di satu sisi, banyak orang menyarankan membaca agar pengetahuan kita luas. Tapi, cobalah jujur, wahai para pembaca yang kuat, apakah Anda merasa semakin tahu atau justru sebaliknya?

Jalan-jalan pun tak ubahnya membaca. Jika benar-benar dihayati, semakin banyak berjalan, semakin kita merasa diri kita ini tidak ada apa-apanya. Semakin kita merasa bahwa kita punya keterbatasan. Semakin kita merasa bahwa kita ini kecil.

Β Β  Β Namun, justru karena kekerdilan itulah yang membuat manusia makin tertarik untuk merasakan, mengalami, mengetahui, juga memahami apa yang namanya sebuah ‘kemahaan’. Kendati ketika ia sudah mencapai ‘kemahaan’ itu, bisa jadi pada titik itulah ia merasakan ‘kekerdilan’.

Orang melihat para petualang hebat sebagai orang yang tangguh? Coba tanya sekali lagi pada mereka. Apakah rasa tangguh yang ada dalam diri mereka? Atau justru mereka sadar bahwa mereka sesungguhnya rapuh. Sehingga untuk menekan kerapuhan itu, mereka berupaya untuk menangguh-nangguhkan diri.

Tampak paradoks, ya?

Saya tidak mempermasalahkan paradoksal itu. Justru saya melihatnya sebagai suatu hal yang perlu dirayakan dalam bentuk syukur. Hidup menampakkan kekayaannya lewat situ.

Ketika Tuhan punya ilmu mahaluas dan tinta di lautan takkan sanggup menuliskannya, maka sebenarnya apa yang Tuhan pesankan lewat situ? Kita akan selalu berada di level ‘tidak tahu’.

Orang yang merasa paling tahu, sesungguhnya ia telah ditawan oleh kesombongan.

Orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu, kata Jostein Gaarder, adalah orang yang paling bijaksana. Orang bijaksana adalah ia yang tahu makna keseimbangan. Keseimbangan antara yang ia ketahui dan tidak ketahui.

Maka, orang yang merasa sudah tahu, sudah mumpuni, sudah ahli atau klaim-klaim sepihak lainnya yang bernada superlatif, maka ia sudah tidak bisa lagi merasakan kekayaan.

Justru ketika menyadari sepenuh hati bahwa kita sesungguhnya tidak tahu, maka di situlah proses belajar itu terjadi. Kita tidak lekas merasa puas. Kita akan terus mencari tahu. Kita akan punya energi dahsyat untuk terus belajar.

Dan, saya kira pejalan hidup tak ubahnya pembelajar sejati. Ia tidak boleh berhenti di satu titik saja. Ia harus berpindah. Berpindah. Berpindah. Biar ia mengalami keseimbangan. Sebagaimana Einstein pernah berkata, “Hidup ini seperti putaran roda sepeda. Agar tidak jatuh, kau harus tetap mengayuh.”

“If you cant’t fly, then run,
if you can’t run, then walk,
if you can’t walk, then crawl,
but whatever you do,
you have to keep moving forward” (Martin Luther King Jr.)

Iklan

17 thoughts on “Pejalan = Pembelajar

  1. Tangguh dan menangguh-nangguhkan diri itu seperti orang dibilang berani karena dia bisa melawan ketakutan. Jika dia tidak sempat merasa rapuh, artinya dia juga tidak bisa dikatakan tangguh. Ah, curhat! πŸ˜€

  2. Setuju… kudu selalu bergerak dalam hidup. Dalam berkarya pun aku selalu berusaha bergerak. Selamban apa pun, harus ada pergerakan. Karena kalau sudah diam, memulai kembali betapa susahnya.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s