Menyerap Energi Jamal

“Mal, kamu ngapain ke kampus?”
“Minta surat rekomendasi dari Bu Ani sama Pak Dugis.”
“Kamu mau S-2? Di mana?”
“Di NTU, Singapura.”
“Memangnya, mau ambil jurusan apa?”
“HI.”
“HI? Kalau diterima, selulus dari sana, kamu mau ngapain?”
“Jadi jurnalis. Kalau tidak, mungkin nanti masuk Kemenlu.”

***

Saya mengenalnya sebagai sosok yang cinta belajar. Bagaimana saya tidak mengatakan demikian? Di angkatan kami, dia adalah mahasiswa pemegang IPK tertinggi. Saat SMA ia ikut pertukaran pelajar ke Amerika Serikat lewat program AFS. Di sana selama setahun (2005-2006) dia belajar di Hampden Academy, Maine.Β  Tahun 2010, saat kami masih sama-sama S-1, dia mendapat beasiswa Erasmus Mundus untuk belajar International Business and Management Studies di Fontys Hogescholen, Belanda.

Sejak Mei 2012 ia bekerja di Samudera Indonesia Group di Jakarta. Kendati telah 1,7 tahun di sana, ia rupanya masih menyimpan kegelisahan. Kegelisahan untuk merasakan kembali dinamika perkuliahan.

Maka, pagi tadi ketika dikabari via grup Whatsapp oleh teman kami, Renita, kalau Jamal sedang berada di kampus, saya bertanya-tanya. Apalagi dikabari kalau ia ada di ruang Adi Sukadana mengikuti Diskusi Reboan. Ngapain?

“Jamal lagi ambil cuti.” Demikian balas Renita.

Tak memuaskan. Ambil cuti, main ke kampus?

Rasa penasaran saya kian menjadi-jadi begitu sampai ruang Adi Sukadana. Di situ seorang pembicara sedang menjelaskan Arryman Fellows. Banyak mahasiswa dan dosen yang sedang menyimak. Jamal saya lihat duduk tak jauh dari pembicara, diapit dua dosen kami. Jamal ikut road show program beasiswa ini?

Saya tak banyak cakap. Ikut menyimak dulu di bangku belakang bareng Renita dan Thea. Kelar acara, barulah saya bisa menghampiri Jamal dan sedikit berbincang. Ia rupanya terburu-buru untuk bertemu mamanya. Maka, obrolan ditunda dulu sampai ia balik lagi jelang sore.

Sore harilah, saat satu teman kami, Firman, ikut bergabung, perbincangan lebih jelas. Sembari menikmati minuman di Warung Pojok depan kampus, kami tenggelam dalam obrolan yang mengasyikkan.

***

Apa yang saya suka ketika mengobrol dengan Jamal?

Selalu dapat ilmu baru. Ilmunya luas, terutama yang terkait dengan studi kami. Pengalamannya belajar di negeri orang juga sungguh memantik semangat. Kefasihannya dalam berbahasa Inggris tak perlu ditanya.Β  Dan, satu hal yang patut saya acungi jempol adalah ia tidak belagu. Tidak sok. Sosok yang rendah hati.

Itulah sebabnya, kami, teman-temannya yang berada di bawah dia dalam hal-hal di atas, tak merasa terintimidasi ketika berada di dekatnya. Kan, ada orang-orang yang ketika sudah ke sana ke mari atau merasa berilmu, maka ia memposisikan dirinya sebagai orang yang layak disegani. Disungkani. Tapi, saya menilai Jamal tidak demikian.

Ia juga orang yang bisa diajak bercanda. Bukan sosok dingin yang terlalu berfokus pada dirinya.

Menyenangkan.

***

“Nanti di CV-mu, tuliskan detail-detail kecil kegiatanmu. Sudah pernah nulis ini nulis itu. Biar molor kuliahmu tidak dinilai menganggur.”

Ini bukan apologi. Saya pun tidak menilai diri saya menganggur. Molor kuliah 6 semester – hanya untuk skripsi (dan hal-hal lain) – tidak lantas membuat saya merutuki diri. Tak usahlah. Buat apa pula. Toh saya seharusnya berterima kasih pada peluang-peluang yang datang pada saya. Peluang untuk mengembangkan diri saya, terutama dalam dunia menulis.

***

Dosen pembimbing saya menargetkan saya lulus semester ini. Selasa lalu (19/11), saya pun telah menjalani sidang praskripsi. Hal yang sangat saya syukuri karena telah melewati satu fase yang cukup berarti. Saya tinggal merevisi, kembali konsultasi. Terus demikian hinggal Bab 5 kelar.

Jika 30 Desember 2013 bisa saya kumpulkan, Maret bisa wisuda. Kalaupun tak terkejar, Januari bisa saya kumpulkan, namun wisuda mungkin akan molor. Tak mengapa, setidaknya saya lulus sidang dululah. Biar orangtua dan keluarga bisa senyum lebih lebar dulu.

Rencana berikutnya? Berkarya. Bisa dalam wujud bekerja atau kuliah S-2 lagi. Saya punya sederetan cita-cita yang harus saya realisasikan.

Itulah sebabnya, menimba ilmu dan pengalaman dari teman-teman yang telah lebih dulu di posisi yang ingin saya tempuh, adalah salah satu cara untuk terus menghidupkan cita-cita itu.

Menyerap energi dari Jamal, salah satunya.

Jamal, kanan bawah berwajah Arab (Foto tahun 2009)

Jamal, kanan bawah berwajah Arab (Foto tahun 2009)

Kumpul lagi di Oost Cafe pada Kamis malam (21/11)

Kumpul lagi di Oost Cafe pada Kamis malam (21/11)

 

Iklan

31 thoughts on “Menyerap Energi Jamal

  1. Semangat mas fata! ;), I thought u already found your passion and make it realize, so I do believe u can make it,

  2. Keyakinanku ke Fatah gak pernah luntur *emang baju hehe*
    Aku sih tinggal nunggu kisah kesuksesan Fatah saja karena itu hanya masalah waktu πŸ™‚ semoga lancar sidangnya ya Tah ^^

    • Hehehehe… Terima kasih dukungannya yang tak pernah bosan-bosannya, Cek Yan. Aamiin ya robbal ‘alamiin untuk doanya.
      Saling mendoakan ya… Cek Yan pun demikian, akan ada waktunya berkeliling dunia. Saat ini lewat kartu pos, ke depannya, fisik Cek Yan yang berpindah ke berbagai negara impian πŸ™‚

      Aamiin.

  3. Smangt fatah….smoga smakin sukses dan terus menginsfirasi dari tulisannya,walaupun sdh menjadi ibu2 mau ikutan nyerap semangt belajarnya fatah. πŸ˜€

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s