Di Karimunjawa, Bule Itu Bertanya Azan

Si Bule berdiri di tengah belakang

Si Bule berdiri di tengah belakang

Bulan Mei lalu, saat saya dan kawan-kawan pemenang Traveling Note Competition Diva Press berkunjung ke Karimunjawa, terbetiklah percakapan ini. Antara seorang bule dengan kawannya, orang Indonesia. Mereka satu rombongan dengan kami. Namun, hingga akhir trip, kami tak begitu banyak bercakap-cakap.

“Itu suara apa?” tanya bule laki-laki itu.

“Azan,” temannya yang berwajah ceria itu menjawab.

“Apa gunanya azan?”

“Untuk mengingatkan kaum muslim agar menunaikan salat.”

“Kenapa mereka perlu diingatkan?”

Potongan percakapan itu diceritakan oleh teman bule itu pada pendamping kami dari Diva Press, Mbak Rina. Mbak Rina menceritakannya kemudian pada kami.

Pada titik itu, saya tercenung. Hal pertama yang terlintas di benak saya adalah bule laki-laki jangkung itu kritis. Kendati di hadapan kami, ia tampak kalem. Namun, sebenarnya – menurut penuturan temannya – ia ramai. Ia menanyakan hal yang selama ini mungkin asing di telinganya.

Dan, pertanyaan terakhirnya itu saya simpan. Pertanyaan ‘mengapa’ atau ‘kenapa’ memang sering kali membutuhkan perenungan mendalam. Tidak bisa hanya dijawab dalam satu dua kalimat. Dan, saya tidak akan menjawabnya. Kalau saya memberi jawaban, seakan itu sudah tuntas. Saya akan membiarkannya berkembang di kepala saya.

Mengapa azan ada? Ya, ia jadi penanda sekaligus pembeda antara panggilan bagi umat Islam dengan Yahudi dan Nasrani.

Mengapa muslim perlu diingatkan waktu salat melalui azan? Mungkin bukan sekadar mengingatkan, tapi ada juga syiar di situ.

Bagaimana jika tidak ada azan? Mau diganti dengan apa?

Bicara tentang azan, saya jadi teringat dengan pendapat tiga teman saya di waktu dan lokasi yang berbeda.

Pertama, teman kontrakan saya yang kebetulan beragama Kristen, pernah saya pancing dengan pertanyaan. Rumahnya di Jombang dekat dengan masjid. Otomatis suara azan adalah ‘makanan’ bagi telinganya tiap lima waktu.

Saya bertanya, “Apakah kamu terganggu sama suara azan?”

Dia mengangguk iya.

Saya tidak perlu terkejut atau mengerutkan kening. Karena tanpa menjadi Kristen pun, saya kadang merasa azan di Indonesia itu tak ubahnya konser. Saling sahut-sahutan. Hingga pernah terbetik di benak saya, ini bagaimana cara menjawab azan jika yang satu sudah sampai di hayya alassolaaah… sementara yang lain masih di Allahu akbar… allahu akbar… Apakah saya perlu menjawab semuanya? Bergantian? Lalu, sampai kapan? Bahkan, ketika satu azan sudah kelar, jeda yang lumayan panjang, kadang ada juga suara azan yang muncul.

Kenalan saya di Jakarta yang juga istri dari seorang penulis, pernah pula menyatakan hal yang sama. Ia yang seorang muslim pun merasa terganggu dengan suara azan.

Dan, beberapa bulan yang lalu, tepatnya malam-malam, saya membaca share seorang teman di Facebook. Ia memberi tambahan sejumput catatan “Balada Negeri 1000 TOA” di status yang ia bagi. Apakah yang ia bagi? Sebuah kisah yang bikin saya pun merenung.

Begini kisahnya.

Dalam kitab Matsnawi, Maualana Jalaluddin Rumi bercerita:

Pada zaman dahulu, ada seorang muadzin bersuara jelek di sebuah negeri kafir. Ia memanggil orang untuk shalat. Banyak orang memberi nasihat kepadanya: “Janganlah kamu memanggil orang untuk shalat. Kita tinggal di negeri yang mayoritas bukan beragama Islam. Bukan tidak mungkin suara kamu akan menyebabkan terjadinya kerusuhan dan pertengkaran antara kita dengan orang-orang kafir.”

Tetapi muadzin itu menolak nasihat banyak orang. Ia merasa bahagia dengan melantunkan adzannya yang tidak bagus itu di negeri orang kafir. Ia merasa mendapat kehormatan untuk memanggil shalat di satu negeri di mana orang tak pernah shalat.

Sementara orang-orang Islam mengkhawatirkan dampak adzan dia yang kurang baik, seorang kafir datang kepada mereka suatu pagi. Dia membawa jubah, lilin, dan manis-manisan. Orang kafir itu mendatangi jemaah kaum muslimin dengan sikap yang bersahabat. Berulang-ulang dia bertanya, “Katakan kepadaku di mana Sang Muadzin itu? Tunjukan padaku siapa dia, Muadzin yang suaranya dan teriakannya selalu menambah kebahagiaan hatiku?” “Kebahagiaan apa yang kau peroleh dari suara muadzin yang jelek itu?” seorang muslim bertanya.

Lalu orang kafir itu bercerita, “Suara muadzin itu menembus ke gereja, tempat kami tinggal. Aku mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan berakhlak mulia. Ia berkeinginan sekali untuk menikahi seorang mukmin yang sejati. Ia mempelajari agama dan tampaknya tertarik untuk masuk Islam. Kecintaan kepada iman sudah tumbuh dalam hatinya. Aku tersiksa, gelisah, dan terus menerus dilanda kerisauan memikirkan anak gadisku itu. Aku khawatir dia akan masuk Islam. Dan aku tahu tidak ada obat yang dapat menyembuhkan dia. Sampai satu saat anak perempuanku mendengar suara adzan itu.

Ia bertanya, “Suara apakah yang tidak enak ini? Suara ini sangat mengganggu telingaku. Belum pernah dalam hidupku aku mendengar suara sejelek itu di tempat-tempat ibadat atau gereja.” Saudara perempuannya menjawab, “Suara itu namanya adzan, panggilan untuk beribadat bagi orang-orang Islam. Adzan adalah ucapan utama dari seorang yang beriman.”

Ia hampir tidak mempercayainya. Dia bertanya kepadaku, “Bapak, apakah betul suara yang jelek itu adalah suara untuk memanggil orang sembahyang?” Ketika ia sudah diyakinkan bahwa betul suara itu adalah suara adzan, wajahnya berubah pucat pasi. Dalam hatinya tersimpan kebencian kepada Islam. Begitu aku menyaksikan perubahan itu, aku merasa dilepaskan dari segala kecemasan dan penderitaan. Tadi malam aku tidur dengan nyenyak. Dan kenikmatan serta kesenangan yang kuperoleh tidak lain karena suara adzan yang dikumandangkan muadzin itu.”

Orang kafir itu melanjutkan, “Betapa besar rasa terima kasih saya padanya. Bawalah saya kepada muadzin itu. Aku akan memberikan seluruh hadiah ini.” Ketika orang kafir itu bertemu dengan si muadzin itu, ia berkata, “Terimalah hadiah ini karena kau telah menjadi pelindung dan juru selamatku. Berkat kebaikan yang telah kau lakukan, kini aku terlepas dari penderitaan. Sekiranya aku memiliki kekayaan dan harta benda yang banyak, akan kuisi mulutmu dengan emas.”

Lalu Maulana Jalaluddin Rumi berkata setelah bercerita tentang itu. “Keimanan kamu wahai muslim, hanyalah kemunafikan dan kepalsuan. Seperti ajakan tentang adzan itu, yang alih-alih membawa orang ke jalan yang lurus, malah mencegah orang dari jalan kebenaran. Betapa banyak penyesalan masuk ke dalam hatiku dan betapa banyaknya kekaguman karena iman dan ketulusan.”

Hanya Dia yang Maha Mengetahui.

Iklan

8 thoughts on “Di Karimunjawa, Bule Itu Bertanya Azan

    • Hehehe… Iya, betul. Itu tidak bisa dipungkiri. Saya hanya mencoba melihat dari sudut pandang orang lain. Bukan berarti pula saya mengamini apa yang mereka ungkapkan.

      Di bawah, saya kutipkan secara utuh komentar Mus di Google Plus terkait tulisan saya ini 🙂

  1. Teman saya, Musayka Reviros, urun komentar di Google Plus atas postingan ini.

    “Ada yang dirugikan ada yang diuntung dengan adanya adzan. Rummi adalah seorang muslim sekaligus seniman, seni punya nilai indah, jadi maklum ia berkata seperti itu pada seorang muadzin yang suaranya jelek.

    Jaman adzan pertama kali berkumandang di makkah, yang dipilih menjadi muadzin adalah sahabat Bilal yang suaranya lantang dan merdu. jadi kalau meninjau sejarah adzan maka alangkah baiknya seorang muadzin adalah mereka yang benar2 bagus suaranya bukan sekedar bisa teriak.

    Kenapa harus diingatkan? semua hal berhubungan dengan ibadat pasti diingat entah itu dikristen atau diagama apapun. misal dulu gereja memakai lonceng untuk mengingatkan masa kebaktian. atau hindu yang memakai kenthongan untuk mengingatkan waktu sembahyang.

    Pada dasarnya manusia semua perlu diingatkan. orang hutang aja perlu diingatkan, padahal kita sudah tahu dan mencatat kapan jatuh tempo pembayarannya. masih aja telat kadang bayarnya. Apalagi ini urusan dengan sang maha pencipta.

    Memang benar adzan yg berkesinambungan cukup menggangu di telinga mereka yg bukan beragama islam. namun bukankah itu juga membantu mereka untuk mengetahui jam berapa ketika subuh tiba, atau dikala mendung menghadang.”

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s