Kebumen dalam 1001 Kata

Suasana acara Napak Tilas 17 Tahun Plan Berkarya di Kebumen

Suasana acara Napak Tilas 17 Tahun Plan Berkarya di Kebumen

Selasa (3/12), saya menghadiri acara Napak Tilas 17 Tahun Plan Berkarya di Kebumen. Bertempat di Ruang Jatijajar II, Hotel Candisari, itu adalah salah satu momen yang saya tunggu-tunggu di 2013  ini. Mengapa? Karena saat itu pula buku yang saya tulis bersama dua rekan jurnalis, Mas Heri (Jurnal Nasional) dan Mas Rofi (Tempo) diluncurkan. Sayang, mereka berdua tidak hadir.

Buku ini kami kerjakan selama hampir tiga bulan, mulai Januari hingga April 2013. Masing-masing kami turun di dua kecamatan. Saya kebagian Karangsambung dan Karanggayam. Mas Heri di Prembun dan Padureso. Sementara itu, Mas Rofi di Mirit dan Bonorowo. Enam kecamatan itu adalah area kerja Plan, lembaga non-profit internasional yang fokus pada pemberdayaan anak.

Saya belajar banyak dalam proses penulisannya

Saya belajar banyak dalam proses penulisannya

Sebagaimana yang pernah saya ceritakan di sini, sana dan situ, ini adalah proyek pertama saya menulis buku sebuah LSM. Saya mendapatkan ilmu menulis yang amat berharga dari Mas Imung, editor cukup galak yang merupakan mantan jurnalis The Jakarta Post. Bahkan, masukan darinya di salah satu tulisan sempat membuat saya kaget hingga membuat mood saya berantakan. Tulisan itu pula yang saya kerjakan paling akhir dari sekitar 13 tulisan yang jadi bagian saya.

Namun, Mas Imung juga tak pelit memuji ketika ia mengatakan melalui surel yang dikirimkan ke tim bahwa tulisan tentang profil Karanggayam adalah yang terbaik dari semua tulisan yang masuk. Saya senang bukan main karena jujur, itulah tulisan yang paling bikin kening saya berkerut-kerut. Menyajikan data statistik dalam tulisan yang representatif dan enak dibaca itu tidak mudah. Menggunakan bahasa sederhana yang mudah dicerna tanpa membuat pembaca pusing, itu tantangannya. Dan, atas pujian itu, saya menghadiahi diri dengan menulis status di Facebook. Norak? Biarlah.

Selain ilmu menulis yang juga saya dapatkan dari dua rekan saya, justru yang jauh lebih meninggalkan kesan adalah pengalaman-pengalaman selama blusukan di desa untuk mewawancarai narasumber, menghadiri pertemuan-pertemuan antara Plan dengan warga, berburu foto untuk melengkapi ilustrasi buku, serta tinggal di rumah Mbak Rodiyah, relawan Plan.

***

                Para narasumber saya, sedianya memang telah ditentukan oleh Plan. Jadi saya hanya perlu membuat janji, datang wawancara. Hal yang patut saya syukuri, mereka adalah orang-orang yang hebat di mata saya. Kiprah dan dedikasi mereka pada anak-anak tak perlu diragukan lagi. Ada Mbak Haminah, lulusan Kejar Paket C, yang berkecimpung di bidang advokasi Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPAD) Penimbun. Pengalaman masa kecilnya yang tak mengenakkan membuatnya terpacu dan gigih untuk mengakomodasi hak-hak anak. Anak harus diberi kebebasan untuk bersuara, menyatakan pendapatnya. Itu pula yang ia terapkan pada keluarganya. Dedikasinya itulah yang membuatnya sering ditunjuk sebagai fasilitator untuk KPAD di desa lain. Hingga Majalah Kartini pun memprofilkan dia.

Ada pula Pak Suparlan yang merupakan Ketua KPAD Kajoran. Lembaga yang ia pimpin itu dinilai oleh banyak pihak sebagai KPAD paling berhasil di Kebumen. Saat ada kasus kekerasan pada anak, misalnya, ia tak tanggung-tanggung. Ia dampingi anak tersebut hingga pengadilan. Padahal ia bukan pengacara, namun sering berhubungan dengan pihak kepolisian, pengadilan, juga Lembaga Bantuan Hukum. Petikan pernyataannya yang paling tertancap di kepala saya saat mewawancarainya adalah, “Ada yang bertanya pada saya, kenapa mau susah seperti ini padahal tidak digaji. Saya jawab, kalau mau infak harta, saya tidak punya. Saya hanya punya akal pikiran, dan itulah yang saya infakkan untuk kepentingan anak. Anggap saja menanam aset di akhirat.”

Selain para orang dewasa, anak-anak (muda) juga saya wawancarai. Salah satunya adalah Agung Widhianto (19 tahun). Berasal dari keluarga tidak mampu, ayah tukang becak dan ibu jualan makanan, namun ia dipilih Plan untuk mewakili Asia dalam pertemuan Komite Pengarah Muda (Youth Steering Commitee) pada Februari 2013 di London, Inggris.Terakhir kali, saya ketahui, ia pulang dari New York.

Agung di New York bersama rekan-rekannya. Sumber: FB Agung Widhianto

Agung di New York bersama rekan-rekannya. Sumber: FB Agung Widhianto

Apa yang membuat Agung menjadi ‘anak emas’ Plan? Tak lain berkat vokalitasnya lewat Komunitas Peduli Anak Kebumen (KOMPAK). Prestasi-prestasinya itu pulalah yang membuat Pemerintah Kabupaten Kebumen ‘menghadiahi’ Agung dan keluarganya dengan rumah baru yang mulai dibangun pada Oktober lalu. Rumah lamanya dihancurkan dan dibuatlah rumah baru di atasnya. Di rumah itu pula saya sempat mewawancari kedua orangtuanya. Orangtua yang tentunya sangat bangga pada putranya tersebut.

Rumah Agung Lama

Rumah Agung (dulu). Sumber: FB Agung Widhianto.

Rumah Agung sedang dibangun kembali

Rumah Agung sedang dibangun kembali. Sumber: FB Agung Widhianto

Selain kisah para narasumber yang membuat saya tak henti-hentinya diliputi rasa syukur, kisah lainnya adalah mengenai Mbak Rodiyah, guru Agama Islam di SMPN 1 Karanggayam yang juga relawan Plan. Jika turun ke desa, di rumahnyalah saya menginap. Rumah yang terberkahi, begitu simpulan saya. Rumah yang saya ceritakan di buku yang bulan ini Insha Allah akan terbit. Di rumah dia pulalah saya menginap selama tiga malam pasca acara Napak Tilas 17 Tahun Plan.

Mbak Rodiyah ini, perempuan bergolongan darah B, yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri. Selama berinteraksi dengannya, saya memindai kalau ia memiliki banyak kesamaan dengan kakak perempuan pertama saya. Sama-sama ceriwis, supel, perhatian, dan guru (kakak perempuan pertama saya guru TK). Saya pun tak perlu sungkan untuk meminta bantuannya. Malahan yang sering terjadi adalah ia yang menawarkan bantuan duluan.

***

Pertemuan-pertemuan antara Plan dan warga yang saya ikuti pun tidak kalah serunya. Saat fotografer asal Belanda, Chris de Bode, didatangkan oleh Plan ke markas Child Al-Habib, saya mendapat ilmu fotografi yang amat berharga. Ketika CTA (Community Transformation Agent) Plan, Mbak Sanisa, mengajak saya ke rumah salah satu sponsored child di Penimbun, rasanya seperti petualangan. Ban motor terjebak lumpur yang memaksa saya untuk menuntun motor.

Sepulang dari Logandu, bareng Mbak Sanisa juga saya harus menghadapi dua penumpang motor yang jatuh gara-gara kami sama-sama menghindari genangan air. Yang membonceng, seorang ibu, tampak mengurut-urut kakinya. Kesakitan. Yang dibonceng bersungut-sungut menyalahkan saya. Ada sopir angkot lewat malah ngompori agar begini begitu. Mau tak mau uang damai pun keluar. Damn!

Jelang petang, pulang dari Balai Desa Kajoran, saya merasa cukup penat. Namun, saya tak melewatkan momen untuk ambil foto ketika segerombolan bocah main-main di sungai. Kiranya bisa dipakai untuk buku nanti, pikir saya saat itu. Turunlah saya ke sungai dan mengambil foto-foto mereka. Seru!

Anak-anak Kajoran berlarian di sungai

Anak-anak Kajoran berlarian di sungai

Juga ketika saya kelar menemani Mbak Sanisa sosialisasi di Prapatan, Desa Penimbun, kami blusukan ke hutan kecil nan indah di belakang desa. Wow!

Hutan Prapatan

Hutan Prapatan

Mbak Sanisa yang suka ajak saya blusukan ke desa-desa dampingan Plan

Mbak Sanisa yang suka ajak saya blusukan ke desa-desa dampingan Plan

***

Kebumen, kendati cuma tiga bulanan saya kenal, namun meninggalkan banyak kesan mendalam bagi saya. Orang-orangnya, alamnya, makanannya, aaah… Saya sendiri tak pernah memimpikan untuk bisa berproses di sana.

Namun, kala hati sudah membisiki agar terus memijarkan lentera jiwa, ke mana pun itu akan saya tuju.   

Iklan

7 thoughts on “Kebumen dalam 1001 Kata

      • Hehehehee pengalaman dikit bangets. Dulu pernah ikut tes CTA bbrp hari, tapi akhirnya ga lolos.
        Keren loh Lalu bisa “berdiri” digandeng sbg partnernya Plan 😀

      • Oh, I see now 🙂 Mantaaap nih, Mbak. Tesnya susah ya, Mbak?
        Alhamdulillah, Mbak. Bisa bermitra sama Plan itu ibaratnya berkawan dengan senior yang sudah punya ilmu segudang. Saya banyak belajar dari Plan 🙂

  1. Ping-balik: Agung: Dari Stasiun Kebumen ke London | Setapak Aksara

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s