Apa Gerangan Doa Ibu Saya pada Sang Pemilik Aksara?

21 Juli 2005.

Di subuh yang bening, ia mengembuskan napas terakhir. Ia telah menuntaskan tugasnya yang diberikan oleh Sang Pemilik Hidup. Tugas sebagai istri juga ibu dari sembilan anak.

Kala itu, tak sedikit pun air mata saya keluarkan. Semua telah tandas semalam sebelumnya di musala rumah sakit. Mungkin sebentuk aba-aba persiapan dari-Nya agar di hari H, saya tak cengeng.

Pagi mulai terang. Di depan cermin di kamar kakak di rumah kami di Mataram, saya berdiri. Saya ingat betul kalimat yang saya dengungkan di pikiran saya waktu itu. “Aku jadi piatu? Benarkah aku piatu?”

Tapi, sekali lagi tidak ada air mata.

Hanya terbayang beberapa jam ke depan, ibu saya akan berteman dengan bumi.

Di mobil menuju rumah kami di Pancor, Lombok Timur, lagi-lagi suasana hening. Atmosfernya kelabu sungguh. Ibu saya sudah berangkat duluan dengan ambulans. Ada bapak menemani di situ. Saya di mobil bersama kakak ipar dan beberapa saudara.

Perjalanan satu setengah jam ke rumah, lama sekali rasanya.

Saya membenci diri saya yang akan disambut oleh keluarga, tetangga, handai taulan, orang sekitar, juga kawan-kawan. Seakan kami ditunggu-tunggu. Seakan-akan kami penting. Saya sangat membenci bayangan muluk yang muncul di pikiran saya kala itu. Saya sangat membencinya!

Haru itu berhamburan. Haru itu tak bisa ditampik. Orang-orang memeluk kakak perempuan saya. Memeluk kami, anak-anak ibu. Meminta maaf pada kami semua. Meminta maaf pada ibu.

Saya diberitahu kalau ibu rupanya sedang dimandikan di kamar nenek saya. Kamar berdinding triplek yang terhubung dengan bagian luar – biasa tempat kami parkir motor.

Teman-teman sekelas saya hadir pula ternyata. Tak tahu saya mereka dapat kabar dari mana. Kabar berantai, saya kira. Wajah mereka menunjukkan ketulusan berbelasungkawa. Saya berterima kasih atas kesediaan mereka untuk datang.

Ketika ibu kelar dikafani, kami – anak-anaknya yang laki-laki – diminta untuk mengangkat jenazah ibu. Dipindahkan ke ruang tengah.

Kelabu berputar-putar di ruang tengah. Bacaan ayat suci Al-Quran terus mengalun. Saya tak sempat memerhatikan siapa saja wajah yang mengaji. Energi ini rasanya makin terkuras.

Ada yang mengomandoi agar kami, anak-anaknya, mencium wajah ibu untuk terakhir kalinya. Terakhir kalinya. Dua kata yang saya harap tidak akan pernah ada. Namun, ia nyata. Ada. Hendak menampik, percuma.

Jika sebelumnya, saya terbiasa menyalami tangan beliau ketika hendak berpamitan ke mana pun itu. Jika sebelumnya, ibu kerap meminta agar lengan dan tangannya dipijit karena lelah seharian mengurus rumah. Jika sebelumnya, tangan ibu kerap menggelitiki saya di tengah malam agar bangun salat isya – dan saya pasti bersungut-sungut. Jika sebelumnya begitu, maka hari itu, tangannya telah terbungkus kain putih dan kain lurik. Tak bisa saya cium lagi.

Hanya wajah tenang ibu yang terbuka. Hidung yang tersumpal kapas putih.

Dengan doa yang terucap dalam hati, wajah ibu pun saya cium. Biasanya kami mencium tangannya, kini wajahnya saja yang bisa kami cium. Cium untuk benar-benar terakhir kalinya.

***

    Dalam bahasa Sasak, bahasa percakapan kami sehari-hari, saya pernah bilang pada ibu kalau saya ingin dibelikan komputer. Saat itu saya masih kelas X SMA dan sudah merasakan asyiknya menulis. Asyik menulis, itu juga berkat dorongan guru bahasa Indonesia dan respons teman-teman sekelas saya ketika maju menceritakan cerpen sendiri.

Ibu minta saya bersabar. Takkan lama lagi, ujarnya. Saya ingat, di dapur ibu bilang begitu, saat saya membantu menggoreng sesuatu.

Saya pun semangat lagi. Tak sabar rasanya punya komputer dan saya bisa menulis sepuas-puasnya.

Saya memang lebih dekat dengan ibu dibanding bapak. Hal-hal yang terkait kebutuhan sekolah, saya lapor dulu ke ibu. Ibulah yang akan menyampaikan ke bapak.

Dan, alhamdulillah bapak mendapat rezeki dari rumah kami yang disewakan.

Komputer pentium 4 itu hadir di ruang tamu lengkap dengan dua speaker kecil warna biru. Saya gembira bukan main. Di antara saudara yang lain, sayalah yang pertama kali dibelikan komputer. Itu komputer bersama, tentu. Tapi, memang sayalah yang paling sering menguasainya. Paling sering untuk menulis. Puisi. Cerita pendek.

Malam-malam, bahkan ketika orang rumah sudah tertidur, saya kadang masih terjaga. Pokoknya, saya menulis sambil mendengar Winamp. Itu mengasyikkan sekali.

Hingga suatu ketika di kelas XI SMA, puisi saya dinobatkan sebagai juara II Lomba Cipta Puisi Pelajar SMA/MA se-NTB. Saya ditemani oleh wali kelas sekaligus guru bahasa Indonesia untuk menerima hadiahnya di Dinas Pendidikan & Kebudayaan Propinsi NTB di Mataram. Senangnya tak terkira. Jumlah nominalnya lumayan besar, bagi saya, kala itu.

Pulang dari kantor dinas, saya dan guru yang mengajak serta putrinya itu mampir ke toko baju. Saya berikan sebagian kecil uang hadiah saya pada guru sebagai ucapan terima kasih. Saya sendiri langsung membeli dua kaus lengan panjang warna biru. Baju untuk lebaran, hibur saya.

Pada ibu, saya berikan pula uang hadiah saya. Uang itu, saya minta pada beliau, agar dipakai untuk membeli bahan-bahan makanan. Saya hendak mengundang teman-teman sekelas saya berbuka puasa.

Meski ibu saya bukan tipe yang sering memuji, tapi jelas sekali kegembiraan saya lihat di wajahnya.

Dan, pernah suatu ketika, saya sedang duduk mengetik di ruang tamu. Ada teman bapak yang datang. Sambil mengeluarkan minuman, ibu mengajak obrol tamu itu. Dan, saya hanya senyum bangga ketika ibu mengatakan pada tamu itu kalau saya jago menulis.

Oh, Ibu. Andai beliau tahu, itu salah satu momen yang takkan bisa saya lupakan seumur hidup. Mengingat momen itu menjadi salah satu pembangkit semangat saya untuk terus dan terus menulis.

Saya percaya, kata-kata adalah sebagian dari doa. Ucapan seorang ibu apalagi. Hal itu pula yang ditiru oleh kakak-kakak perempuan saya pada anak-anak mereka. Ketika sedang jengkel pada kelakuan anak, misalnya, sebisa mungkin ibu mendoakan yang baik-baik. Bukan menghardik atau melabeli dengan kata-kata negatif.

    Maka, melihat diri saya yang bahagia menulis hingga detik ini, saya bertanya-tanya, doa apakah gerangan yang telah dipanjatkan ibu saya pada Sang Pemilik Aksara?
Ibuku

Iklan

4 thoughts on “Apa Gerangan Doa Ibu Saya pada Sang Pemilik Aksara?

  1. Semoga Allah memberikan tempat terbaik di surga-Nya untukmu ibumu brother…
    Saya terharu hingga menangis membaca tulisan ini, saya membayangkan diri saya kelak ketika ibu saya pergi untuk selama-lamanya. Toh, itu pasti akan terjadi dan saya tidak sanggup membayangkan bagaimana rasanya kehilangan orang paling penting dan berjasa dalam sejarah hidup kita.

    Terimakasih sudah menulis ini, tah. Paling tidak secara tidak langsung menjadi pengingat bagi saya dan yang lain, yang masih memiliki ibu untuk membuat mereka bahagia di sisa umurnya.

    😦

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s