Di Balik ‘Mengeja Seribu Wajah Indonesia’

Selalu ada awal untuk semua ihwal. Gagasan A melahirkan gagasan B. Begitu seterusnya. Sehingga galib kita dengar ungkapan: tak ada yang baru di bawah matahari. Termasuk ide pembuatan buku Love Journey#2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia ini.

Pada November 2012, Love Journey: Ada Cinta di Tiap Perjalanan terbit di bawah bendera Mozaik Indie Publisher. Sebagai bentuk syukur, kami mengadakan peluncuran dan bedah bukunya di dua tempat sekaligus, Malang dan Batam, pada hari dan tanggal yang sama, yakni Minggu, 23 Desember 2012.

Menjelang akhir Februari 2013, di postingan salah satu teman mengenai Love Journey: Ada Cinta di Tiap Perjalanan, ada yang memberi komentar. Intinya, ia ingin membaca cerita perjalanan yang lebih banyak lagi. Ia tak puas dengan 18 cerita perjalanan di buku tersebut.

Saya dan Mbak Dee merespons cepat. Melalui sms, kami berkomunikasi dan sepakat untuk mengadakan audisi menulis. Jika di buku sebelumnya, temanya lebih luas dan universal, maka di audisi kedua kami sempitkan skupnya. Hanya kisah-kisah perjalanan di dalam negeri. Itu pun masih kami spesifikkan lagi. Kami tegaskan dalam pengumuman audisinya bahwa:

Dalam Love Journey#2 ini, kami sepakat TIDAK akan mengungkap keindahan alam Indonesia. Kita akan coba menangkap sisi lain dari Indonesia yang mungkin sering diabaikan saat melakukan perjalanan.

Mengungkap sisi lain, bukan berarti membongkar keburukan yang ada. Kami hanya ingin menantang kamu untuk mengangkat kisah yang lebih riil dan apa adanya tentang Indonesia. Kisah yang lebih membumi dan lebih humanis.

Sebenarnya, ada sedikit rasa khawatir dengan tema itu. Kami merasa temanya agak berat. Ini melihat kenyataan bahwa tulisan perjalanan di sekeliling kami lebih banyak yang mengungkap sisi keindahan suatu tempat. Sisi surgawi. Hal yang bersifat kesenangan pribadi. Hal yang bahkan sempat memicu perdebatan hingga polemik. Polemik yang pelan-pelan melahirkan kesadaran baru.

Temanya berat? Ah, tidak!

Kami bantah sendiri. Kami belum mencobanya. Belum tahu respons pembaca info audisinya. Siapa tahu mereka justru tertantang? Siapa tahu mereka punya stok pengalaman dan cerita berbeda? Siapa tahu kami tidak tahu? Maka, untuk tahu, kami harus keluar dari penjara pikiran kami sendiri.

Tak sampai seminggu, informasi audisi pun kami sebarluaskan ke khalayak.

Dan, terbukti! Animo peserta di luar duga kami. Padahal kami cuma menjanjikan kalau naskah yang lolos akan diterbitkan oleh Mozaik Indie Publisher. Itu saja. Tidak ada hadiah uang. Tidak ada hadiah barang.     Bahkan, tanpa diduga, para penulis yang bukunya sudah bertebaran di mana-mana, tertarik untuk ikut audisi. Hah, tidak salah nih?

Kami senang, tentu saja.

Selama 1,5 bulan kami sediakan waktu untuk peserta. Sudah hal yang lazim jika di pertengahan masa audisi, surel kami sepi. Barulah menjelang tenggat akhir, surel kami diberondong.

Membaca naskah-naskah yang masuk di awal, kami merasa belum puas. Dan, itu terbayar ketika kami sudah punya pembandingnya dengan naskah-naskah lainnya menjelang akhir.

Bagi kami, ini sebuah kemajuan, tidak hanya dari segi tema tapi juga jumlah peserta. Di buku pertama, hanya 38 saja pesertanya. Di audisi kedua, ada 68 peserta. Itu pun hanya akan kami pilih 20 tulisan terbaik sesuai dengan kriteria penilaian kami.

    ***

    Kami menjuri cuma dua minggu. 30 April 2013 kami umumkan tulisan-tulisan yang lolos untuk dibukukan. Para peserta telah tertuntaskan rasa penasarannya. Kami pun lega, harus menyeleksi di tengah kesibukan masing-masing. Mbak Dee dengan urusan kantornya, saya dengan proyek menulis buku di Kebumen.

Namun, tugas kami belum selesai. Kami harus mengedit 20 tulisan. Edit sana edit sini. Pangkas, perbaiki, sarankan ke penulisnya bagaimana kalau begini begitu. Hal yang tidak mudah karena kami harus berjibaku kembali, membaca dengan teliti dan jeli. Apalagi masing-masing naskah berkisar antara 6-8 halaman.

Kami juga mengontak para calon penulis tamu. Menimbang-nimbang calon pemberi testimoni. Termasuk membidik pemberi kata pengantar. Rata-rata memang para penulis buku (perjalanan).

Namun, perkara yang cukup bikin galau adalah menentukan penerbitan. Awalnya memang melalui Mozaik Indie Publisher. Tapi, mengingat bahwa proses kelahiran buku pertama dengan buku kedua ini berbeda, kami pun menimbang-nimbang kembali. Maksudnya, di buku pertama semua kontributor urunan untuk membiayai penerbitan buku , baik untuk cetak maupun distribusinya. Itu pun kami rembukkan bareng.

Sementara untuk buku kedua, karena merupakan audisi, kami tidak mau merepotkan para kontributor lagi. Maka, kami coba tanyakan pada Mozaik, adakah donatur yang bersedia membiayai penerbitan buku ini. Ketika disarankan untuk crowd funding lewat wujudkan.com, saya dan Mbak Dee menimbang-nimbang lagi. Ini butuh waktu lama.

Maka, kami pun bicarakan secara baik-baik pada Mozaik. Hal yang sempat mengganjal di hati saya. Tidak enak, sebenarnya. Tapi, demi mengingat nasib tulisan para kontributor, mau tak mau harus disampaikan. Bahwa, lewat obrolan di belakang layar, naskah hasil audisi ini ternyata diminati oleh dua penerbit mayor.

Dan, alhamdulillah… Mozaik mendukung langkah kami. Pinangan dari salah satu penerbit mayor itu pun kami terima. Dia adalah Diva Press. Penerbit satunya lagi tidak perlu kami sebutkan di sini. Kami punya alasan tersendiri saat itu untuk tidak menerima tawaran mereka.

Dan, kami kembali semangat. Teman-teman kontributor pun demikian. Kami saling dukung untuk mewujudkan buku ini. Bekerja sama dalam urusan edit, memenuhi kelengkapan naskah, termasuk foto-foto.

Kami kembali pula memastikan para penulis tamu, pemberi testimoni, juga kata pengantar. Lobi-lobi kami jalankan. Hal yang selalu menyenangkan, saya kira, dari sebuah proses melahirkan sebuah buku.

Sayang sekali, pemberi kata pengantar tidak memberi jawaban memuaskan. Maka, kami pun memutuskan untuk membuat sendiri kata pengantarnya.

Kontak dengan Mbak Rina, editor Diva Press, juga terus jalan. Sangat kooperatif. Tidak ada kendala berarti.

Hingga, pada 20 Desember lalu, saya terbangun dari tidur dan membaca sms dari Mbak Rina, mengabarkan kalau Love Journey#2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia sudah terbit. Ia meminta alamat pengiriman buku.

Rasanya luar biasa. Selalu begitu, tiap kali buku baru lahir.

Saya langsung mengabari Mbak Dee. Dan, kelegaan kami sama. Buku yang kami tunggu-tunggu pun akhirnya nongol juga. Teman-teman kontributor pun demikian.

Ini sekaligus kado akhir tahun yang indah. Buku setebal 368 halaman ini diterbitkan di bawah bendera de TEENS, salah satu lini Diva Press. Dibanderol seharga Rp58.000,00, Love Journey#2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia telah siap mengisi toko-toko buku kesayangan Anda.

Jika ada yang penasaran dengan para penulis tamunya, baiklah saya beri bocoran. Mereka bertiga adalah Ary Amhir (Penulis buku 30 Hari Keliling Sumatera yang beberapa waktu lalu juga sempat masuk Kick Andy!), Adis Takdos (penulis buku Whatever I’m Backpacker! dan Koar-Koar Backpacker), serta Dody Johanjaya (mantan produser acara Jejak Petualang).

Jadi, persiapkan diri Anda membaca kisah-kisah perjalanan yang membuka mata, menggelitik nalar, sekaligus menyentuh hati. Selamat mengeja seribu wajah Indonesia!

1

2

10

4

Iklan

15 thoughts on “Di Balik ‘Mengeja Seribu Wajah Indonesia’

  1. Lega banget ya Tah 🙂
    Finally, lahir lagi Love Journey kita…
    Seperti yang pernah kita bahas dulu, kita gak akan pernah tau nasib tulisan kita. Dan ternyata, di sinilah nasib mereka 🙂

    Selamat buat kita semua.. *salaman!

  2. Ping-balik: Meninjau Ulang ‘Mengeja Seribu Wajah Indonesia’ | Setapak Aksara

  3. bukunya colorfull sekali, jadi mupeeeng, someday Mozaik harus bisa cetak buku sekeren ini, bahkan lebih ahahahaha.
    sukses ya Tah n temen2 penulis lainnya, semoga makin menginspirasi siapa saja untuk travelling 🙂

    • Aamiin… Iya, Mas. Harus bermimpi lebih tinggi lagi biar usahanya lebih tinggi lagi :))
      Terima kasih, Mr. Moz. Dari rahim Mozaik awalnya buku ini. Tentu saja akan menjadi bagian dari sejarah khazanah buku perjalanan tanah air 🙂
      Maju terus Mozaik!

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s