Meninjau Ulang ‘Mengeja Seribu Wajah Indonesia’

Hari ini, saya kelar membaca Love Journey #2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia. Buku yang diterbitkan oleh De Teens, lini Diva Press, ini adalah antologi 25 kisah perjalanan dari para traveler writer. Mereka antara lain: Dee An, Arabia, Dwi AR, M. Saipul, Dinar Okti Satitah, Huzer Apriansyah, Dina Y. Sulaeman, Bustomi Menggugat, Dian Onasis, Ary Amhir, Adis Takdos, Dody Johanjaya, Farchan Noor Rachman, Lina W. Sasmita, Meinilwita Yulia, Helene Jeane Koloway, Feni Kurniati, Prita Kusumaningsih, Katerina, Arini Tathagati, Lomar Dasika, Eaz Eryanda, Manik Priandani, Viola Malta Ramadhani, dan saya sendiri.

Bukan tanpa alasan saya membuat ulasan ini. Pertama, saya ingin membagi kesan saya selama membaca buku ini. Kendati saya sudah pernah membaca naskahnya sebelum terbit, tapi sensasinya tentu saja berbeda. Membaca versi digital, masih berupa naskah di Microsoft Word, tanpa keindahan visual; dibandingkan membaca versi cetak dengan kaver hijau segar, kertas berwarna, font yang ramah di mata, serta foto yang penuh warna adalah sebuah kemewahan tersendiri, setidaknya bagi saya. Sebab, saya selama ini sering mendengar keluhan pembaca tentang buku-buku traveling yang jarang berwarna foto-fotonya. Saya pun memberi alasan, cetak warna harga lebih mahal. Jadi, memang elemen visual, yakni warna, acap dikorbankan.

Namun, menilik buku-buku perjalanan yang terbit belakangan ini, apalagi keluaran penerbit terbesar di Indonesia, bisa menjawab kekecewaan pembaca. Saya kira, hal yang wajar kemudian kompetitor mereka, salah satunya Diva Press, pun tak mau kalah. Buku Love Journey #2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia jadi buktinya.

Mengapa saya katakan demikian?

Selama ini, jarang sekali saya melihat buku terbitan Diva Press dengan tata letak dan visual dalam yang penuh warna sebagaimana buku ini. Bisa jadi karena diterbitkan melalui lini De Teens yang memang sasarannya para pembaca muda, jadi buku ini dipermak dengan visual yang menarik.

3

    Coba lihat kavernya yang hijau segar. Ketika melihat versi digitalnya melalui Facebook, saya memberikan penilaian yang agak minus. Kok, seperti poster seminar penghijauan? Hijau pupus. Dengan foto-foto yang dirangkai ‘begitu saja’. Saya merasa ikatan antarfoto kurang kuat. Tapi, kalau dihubungkan dengan judulnya yang ada unsur ‘seribu wajah Indonesia’-nya, saya kira itu bisa memberi alasan kuat.

Namun, begitu saya terima bukti terbitnya dua hari lalu (Selasa, 24 Desember), pandangan minus itu pun saya enyahkan. Hijaunya jauh lebih segar daripada versi digitalnya. Dicetak dengan kertas glossy dan judul yang timbul, membuatnya terlihat lebih luks. Penjilidannya pun kokoh. Lemnya oke.

109 8

    Begitu masuk ke dalam, membolak-balikkan halaman buku, saya berteriak dalam hati. Wow! Gila! Ini bagus banget! Tata letaknya bikin nyaman di mata. Foto-foto dicetak warna. Sebagian kertasnya pun berwarna biru, hijau, oranya, dan warna lainnya yang saya kurang fasih namanya. Tidak polosan. Kertasnya juga jenis book paper yang ringan. Ukurannya yang 13×19 cm membuat buku ini terlihat padat berisi sekaligus nyaman di tangan. Saya merasa buku ini benar-benar diistimewakan oleh kru De Teens.

Jadi, sebuah kesenangan tersendiri bagi saya membaca buku ini dalam dua hari. Secara visual, mata saya dimanjakan. Secara intelektual, saya kembali diingatkan, ditampar, disentuh, digebuk, dielus, dibuat marah, dibuat haru juga tersenyum oleh kisah-kisah di dalamnya.

Sembari membaca, saya juga secara jeli mencermati kesalahan-kesalahan dalam buku ini. Dan, ya, memang ada beberapa kesalahan cetak yang membuat saya agak terganggu. Misalnya, kata ‘kelazhiman’ yang setelah saya cari di KBBI, tentu saja yang benar ‘kelaziman’. Terus ada kata yang seharusnya dicetak huruf besar, tapi jadi kecil, begitu sebaliknya. Nama tokoh juga ada yang tertulis tidak konsisten. Ada kata yang hilang – yang setelah saya cek naskah aslinya, kata itu sebenarnya ada. Pun, di judul tulisan Mas Farchan, bisa-bisanya yang tercetak kata ‘Setjarah’ padahal seharusnya ‘Sejarah’. Itu mengganggu. Saya lihat di daftar isinya, eh kata ‘Setjarah’ ini yang terpampang di situ. Padahal di naskah aslinya tidak demikian.

Saya dan Mbak Dee memang sempat menyunting tulisan-tulisan dalam buku ini sebelum diserahkan ke Diva Press. Namun, rupanya kami tidak luput juga dari kesalahan. Pun kendati naskah ini disunting oleh pihak De Teens, namun tampaknya masih kurang jeli juga.

Saya memang belum sampai menggarisbawahi atau menerangi kata-kata yang salah cetak untuk saya serahkan pada penyunting, tapi saya nanti akan membaca kembali buku ini. Setidaknya, jika buku ini bernasib cetak ulang, kesalahan eja itu bisa dihilangkan.

Satu yang  harus saya akui kalau saya puas dengan hasil cetak buku ini. Kualitas cetakannya benar-benar melampaui ekspektasi saya.

Bagi yang hendak membaca buku ini, nantikan pada awal Januari 2014. Buku setebal 368 halaman ini dibandrol dengan harga Rp58.000,00. Jika kesulitan, silakan bisa pesan langsung di sini.

Marishcka Prudence, seorang profeesional travel blogger, mengatakan: Love Journey#2 mengajak kita berkelana ke berbagai lokasi di Indonesia sambil menyadari bahwa setiap sosok manusia memiliki cerita. Gabungan gaya bahasa dan alur dari penulis yang beragam memberi warna lebih akan cerita perjalanan yang sering kali membuat kita menjadi puitis.

Selamat mengeja seribu wajah Indonesia!

Iklan

18 thoughts on “Meninjau Ulang ‘Mengeja Seribu Wajah Indonesia’

  1. Postinganmu ini serasa mewakili apa yang ingin aku sampaikan, brother 🙂
    Tapi aku tetap akan menuliskan kok, behind the book ama kesan versi aku, terhadap buku yang kece badai ini 🙂

    • Hehehe… Sabar menunggu ya, Bu Dokter. Untuk jatah kontributor, rencana saya kirim awal Januari ya. Biar ongkirnya nanti dipotong dari royalit kita saja 🙂

      Betul sekali. Masing-masing belum baca ceritanya, kecuali saya dan Mbak Dee :))

      Jadi, akan menjadi kejutan buat teman-teman kontributor sendiri 😀

  2. Ini yang edisi 1 nya dulu dilombakan di Multiply itu ya?
    Semakin mantap saja Masbro, Good luck for you!!
    Semoga tambah sukses di masa depan! 😀

  3. Ping-balik: Tentang Love Journey (Berikut Giveaway) | Efenerr

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s