Mewujudkan ‘Backpacker’ Relawan di Lombok

Bukan posisi yang menjadikan kita penting dalam hidup, tapi kontribusi – Rene Suhardono

Pada Desember 2011, saya mendirikan komunitas Lombok Backpacker. Tujuan saya adalah sebagai sarana berbagi informasi mengenai perjalanan di Lombok. Saat ini basisnya memang digital, yakni Facebook. Namun, interaksi di dalamnya pun terwujud juga di dunia nyata. Ada yang awalnya mencari informasi, tapi akhirnya jalan-jalan bareng. Ada yang cari teman untuk beragih (sharing) akomodasi biar lebih murah. Ada yang menawarkan pelampung dan kaki kataknya untuk dipinjam buat snorkeling. Ada pula kawan-kawan asli Lombok yang menawarkan rumah mereka sebagai tumpangan sementara bagi backpacker dari luar. Bahkan, beberapa kali kegiatan bakti sosial juga melibatkan partisipasi para anggota Lombok Backpacker.

Satu hal yang saya pelajari adalah pentingnya kesadaran berkomunitas. Asalkan punya visi yang jelas, maka misi-misi lain bisa dirancang bahkan muncul secara kreatif. Artinya, di awal, saya meniatkan komunitas Lombok Backpacker ini sebagai sarana untuk berbagi informasi termutakhir tentang jalan-jalan di Lombok saja. Namun, ternyata banyak hal positif lain yang mengiringinya.

Backpacker Relawan
Saya mendapat gagasan ini dari teman saya, Ary Amhir. Dia penulis buku perjalanan yang beberapa waktu lalu sempat masuk tayangan inspirasi terkenal di sebuah stasiun TV swasta. Dia diundang di situ karena aktivitas jalan-jalannya yang tidak biasa. Mengapa dikatakan tidak biasa?

Lazimnya orang jalan-jalan, tentu untuk menikmati keindahan, menghilangkan penat, dan rileks sejenak dari rutinitas yang menguras fisik juga batin. Tapi, Ary Amhir berbeda. Ia jalan-jalan ke berbagai pelosok di tanah air sembari menjadi relawan. Seperti saat ini, ia sedang mencoba tinggal di Munduk, Bali, untuk bertani sayur dan membuat bir kopi. Di sela-sela bertani, ia pun akan blusukan alias jalan-jalan di desa sekitar untuk melihat kehidupan orang-orang Bali dari dekat, menikmati beberapa air terjun, belajar budaya mereka, lantas menuangkan pengalamannya itu dalam catatan-catatan etnografis.

Bersama Mbak Ary Amhir di acara obrolan sabtu FFI Surabaya

Bersama Mbak Ary Amhir di acara obrolan sabtu FFI Surabaya

Karena ia juga tergabung dalam sebuah komunitas perjalanan, yakni Couchsurfing, maka ia pun menyilakan teman-teman bulenya untuk bertandang ke desa yang sedang ia diami. Para bule backpackers ini diberikan akomodasi gratis. Tapi ada syarat lainnya, yakni mereka harus ikut membantu untuk berkebun. Misalnya, sekadar mencangkul dua-tiga jam per hari atau menanam benih atau menyiangi rumput liar.

Itu semacam imbal balik, kontribusi. Bahwa, bukan saatnya lagi para turis yang berbujet murah itu menikmati saja fasilitas dari orang-orang lokal untuk dirinya sendiri. Tapi, mereka juga sebisa mungkin berkontribusi positif pada masyarakat lokal.

Kontribusi itu tentu harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang didatangi oleh para backpackers itu. Jika memang lokasinya di desa di pegunungan, apa yang dilakukan oleh Ary Amhir dengan teman-teman backpackers-nya itu bisa dicontoh. Mungkin ditambah dengan memberi les bahasa Inggris, menggambar, atau memotret dengan cuma-cuma alias gratis. Bila desa atau kampungnya di pinggir pantai, para turis itu bisa berkontribusi dengan menyumbangkan pengetahuannya tentang cara mengolah limbah ikan jadi pupuk, cara mengolah rumput laut jadi penganan lain yang bernilai ekonomis lebih, mengajari anak-anak desa untuk menulis, mendongeng, melukis, dan ragam soft skill lainnya.

Itu beberapa contoh saja. Tentu saja, masih banyak lagi hal yang bisa dikembangkan. Tentu akan disesuaikan dengan keterampilan apa yang dimiliki oleh si backpacker.

Intinya, tetap ada hubungan timbal-balik yang mutualistik antara pelancong dengan masyarakat lokal. Si backpacker menyumbangkan ilmu, pengalaman, dan keterampilannya secara sukarela plus cuma-cuma. Sementara masyarakat lokal hanya perlu menyediakan akomodasi, mungkin juga konsumsi, bagi para backpackers relawan itu.

Resolusi: Terapkan di Lombok

Beberapa bulan lalu, saya memang disarankan oleh Ary Amhir agar mencoba merintis hal serupa di Lombok. Namun, karena saat ini saya sedang menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa, maka saya belum bisa bergerak. Berhubung beberapa bulan ke depan saya akan merampungkan semuanya lalu berencana balik ke Lombok, maka saya terpikir untuk mencobanya. Ya, mencobanya pada 2014.

Apalagi saya telah punya komunitas Lombok Backpacker yang saat tulisan ini dibuat anggotanya mencapai 4.553 orang. Meski keanggotaannya cair – tidak ada ikatan apa pun – namun justru itulah kekuatannya. Ketika orang diberikan kebebasan dan ia punya kesadaran, tanggung jawab serta keinginan untuk berbagi, maka lewat komunitas itulah backpacker relawan ini bisa saya mulaikan.

Tentu saja, ide awal perlu digelontorkan. Konsep ini saya tawarkan ke mereka. Jika tanggapannya bagus – dan saya yakin bagus karena ini sekaligus memberi pengalaman berbeda buat mereka – maka, langkah selanjutnya adalah mereka datang dan diberi kesempatan untuk membagikan soft skill yang mereka punyai. Saya bersama para admin dan teman-teman lainnya yang asli Lombok akan berkoordinasi satu sama lain, lantas menghubungi desa di lokasi wisata atau yang berdekatan, lantas melakukan kegiatan di sana. Tentu, itu setelah kami melakukan survei dan analisis apa yang menjadi kebutuhan masyarakat desa.

Sebagai awalan, saya tidak mau muluk-muluk. Namanya kegiatan sukarela, harus ada kerelaan untuk menerima kondisi di lapangan. Rela bukan berarti menyerah. Tapi, justru langkah strategi mesti disusun. Di mana lokasi yang dipilih, mengapa lokasi itu yang dipilih, apa yang harus dipersiapkan, siapa saja yang bersedia berbagi di sana, kapan waktunya, dan bagaimana pelaksanaannya. Itu yang harus dipikirkan matang-matang.

Maka, ketika pulang ke Lombok nanti, saya harus berkoordinasi dengan teman-teman di sana. Menyusun rencana dan strategi berikutnya.

Saya hanya percaya bahwa selama sesuatu diniatkan baik, berkontribusi positif, membantu orang lain, maka semesta akan berkonspirasi mewujudkannya. Dimulai dari hal-hal kecil seperti ini yang tidak hanya ada unsur wisata, kesenangan, tapi juga kerelaan untuk menyalurkan kelimpahan ilmu, pengalaman, juga keterampilan. Setidaknya masyarakat desa di dekat lokasi wisata, tidak hanya menjadi penonton dengan kehadiran turis-turis di daaerah mereka. Tapi, mereka juga mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar materi (lewat hasil jualan suvenir, mungkin).

Selain itu, saya yakin, para backpackers ini pun tidak hanya mendapatkan pengalaman bersenang-senang di alam. Tapi, mereka juga mendapatkan pengalaman yang lebih humanis dan tentu saja mengayakan batin dan hidup mereka. Kelak, ketika kembali ke rumah, mereka punya cerita lain dari perjalanan mereka. Tak terbayang jika yang mendengar cerita mereka pun akan tergugah melakukan hal sama, minimal di komunitas tempat mereka tinggal.

Sebab, kebaikan itu menular. Make it REAL.ย  Pay it forward!

Iklan

8 thoughts on “Mewujudkan ‘Backpacker’ Relawan di Lombok

  1. Baca postingan ini, yang langsung terpikir di otakku apa coba? Lho kok malah nanya.
    Mengolah sampah. Yihaaaaa.
    Demen banget ngomongin sampah.

    Maksudnya memilah sampah. Ada yang dijadikan kompos. Bekas2 karung dijadikan tas, wah keren.

    • Siiiip banget, Mbak.
      Saya tampung ide sampeyan.
      Ini juga usulan teman di FB di tautan mengenai tulisan ini. Tapi, usulnya lebih pada ‘bebersih’ Gunung Rinjani gitu.
      Tapi, saya lebih tertarik kalau ada interaksi antara backpacker dan warga lokal. Mereka bisa saling belajar satu sama lain.
      Yang terbaru saya dengar dari Mbak Ary Amhir adalah, ia dalam beberapa hari ke depan ini, akan sedang kumpul dengan teman-teman backpacker-nya di Munduk. Mereka akan belajar alat-alat musik khas Bali. Wow! Keren nih idenya ๐Ÿ™‚
      Tapi, perlahan-lahan dulu, Mbak. Satu persatu dieksekusi ๐Ÿ™‚
      Terima kasih masukan sampeyaaan.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s