Apa Komentar Pembaca Love Journey 2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia?

Satu bulan setelah diterbitkan, ada beberapa komentar yang masuk ke saya terkait buku Love Journey 2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia. Sejauh ini memang komentar-komentar yang positif. Hal yang paling sering diapresiasi adalah kualitas kemasannya, meliputi kover, kertas, cetakan, dan hal-hal fisikal lainnya. Tapi, tentu saja, tiada yang lebih berarti ketika komentar itu terkait isi atau substansi.

Pada 27 Desember 2013, Mbak Gita mengirimi saya sms. “Baru baca enam kisah di LJ#2, tapi dah punya penilaian kalo buku ini bukan antologi biasa. Enam kisah itu bermutu dan berkualitas. Keren, tah!”

Ah, hati ini serasa main perosotan di lengkung pelangi begitu hujan reda.

Di sms berikutnya, Mbak Gita bilang, “Fatah, sedih baca orang biasa buang sampah ke laut, bahkan oleh ABK. Gitu jg yg aku liat di muara angke. Juoroknya minta ampun. Apa yg bisa kita lakukan ya? Bikin gerakan?”

Ia mengomentari tulisan Mbak Dwi AR yang berjudul “Gadis Polos dalam ‘Kotak Ajaib'”.

Para kontributor pun tak urung urun komentar. Mas Farchan yang menulis tentang Lasem, misalnya. Ia memberitahu saya via sms kalau tulisan-tulisan di buku setebal 368 halaman ini apik, isinya dalam. “Edan!” ungkapnya. Dia tidak menyangka demikian.

Ya, tulisan dia “Lasem, Saat Cinta Berlabuh pada Sejarah” memang salah satu favorit saya. Tentu saja, ia tak menyangka isi buku ini seperti demikian karena memang sebelumnya antara kontributor yang satu dengan lainnya belum pernah membaca tulisan masing-masing (yang dimuat di buku ini). Maklum, buku ini dibuat melalui proses audisi tertutup. Tertutup dalam artian tulisan mereka tidak untuk dipublikasikan dahulu di blog, misalnya. Tapi, langsung dikirimkan ke surel kami.

1459670_10152098779279304_469391474_n

Mbak Katerina, kontributor juga, memberikan komentar lain lagi. Dari sudut pandang sebagai pembaca, ia memberi penilaian begini. “Tanggapan saya pribadi pun terhadap LJ2 ini sangat baik. Ga nyangka sebagus ini. Baik luar maupun isinya. Ada 3 tulisan yang sangat saya sukai, ketiganya sama2 menceritakan ttg daerah terpencil di garis perbatasan. Geram, sedih, prihatin, miris dan segala rasa kecewa campur aduk jadi satu. Benar2 saya baru ttg hal itu. Seperti pencerahan buat saya.”

Tiga tulisan yang dimaksud Mbak Katerina alias Mbak Rien tak lain adalah Di Balik Pesona Topeng Haumeni Ana; Kabar dari Sebatik; dan Krayan Hulu: Ditekan Malaysia, Dicuekin Indonesia.

***

Dalam hati saya cuma berucap, “Misi tercapai!” Ya, tujuan kami membuat Love Journey #2 ini setidaknya terwakili oleh komentar yang masuk. Satu perkataan Franz Kafka yang terus terngiang di benak saya adalah karya yang baik adalah sebuah kapak yang akan memecahkan es dalam kepalamu. Itulah yang kami coba sematkan lewat buku ini. Itu pula sekaligus menjadi cambuk untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi di masa mendatang.

Saya dan Mbak Dee An mencita-citakan Love Journey ini menjadi sebuah serial yang sukses laiknya Chicken Soup. Sukses tentu parameternya macam-macam. Ada yang melihatnya dari hasil penjualan. Ada pula yang melihatnya dari segi isi. Nah, idealnya tentu keduanya berjalan berdampingan. Kualitas isi baik, begitu pula penjualannya.

Dikarenakan buku ini melibatkan banyak pihak dalam proses pembuatannya, tentu ekspektasi orang per orang berbeda. Tapi, justru di situlah justru masukan, kritikan, juga saran dibutuhkan. Layangkan saja. Bisa jadi pandangan Anda sebagai pembaca justru selama ini belum pernah terlintas di pikiran kami.

Keseimbangan. Pujian juga kritik. Semuanya proses pembelajaran.

Iklan

13 thoughts on “Apa Komentar Pembaca Love Journey 2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia?

  1. Wah, kayaknya menarik dan beda dari buku perjalanan yang sudah ada sebelumnya. Akan segera dicari kalau ke toko buku, Boleh nanya Mas, kenapa judulnya Love Journey? Saya nggak akan menyangka kalau isinya tentang sisi lain Indonesia kalau baca judulnya.

    • Hai.. aku bantu jawab ya 🙂
      Gini, awalnya dulu aku dan Fatah ngadain lomba nulis dengan tema Love Journey di Multiply. Setlah lomba selesai, kami berniat untuk membukukan tulisan-tulisan terbaik dari lomba itu. Akhirnya kami berdua sepakat untuk memberi judul buku kami Love Journey: Ada Cinta di Tiap Perjalanan.

      Setelah Love Journey 1 terbit, kami berdua kepikiran untyk melanjutkan Love Journey menjadi sebuah serial seperti Chicken Soup. Tapi yang ini, khusus tentang cerita perjalanan. Jadi kami sepakat untuk tetap memakai judul Love Journey. Tentunya dengan tema yang berbeda di setiap edisinya. Nah, untuk buku kedua, kami sepakat untuk mengangkat tema tentang sisi lain dari Indonesia.

      Bukankah dengan mengetahui lebih dalam tentang sisi lain tempat yang kita tuju, akan menambah kecintaan kita terhadap perjalanan itu sendiri? Jadi judulnya masih relevan donk ama Love Journey 🙂

      Makasih ya 🙂

      • Hai Mbak, terima kasih ya karena meluangkan waktu untuk bercerita soal latar belakang judul Love Journey 2. Penasaran saya terjawab. Semoga akan ada jilid ketiga dengan penerjemahan konsep ‘love journey’ yang sama uniknya dengan yang kedua!

      • Sama-sama 🙂
        Doain ya… Moga kami bisa terus melanjutkan serial Love Journey ini…
        Nanti kalau kami bikin audisi lagi, ikutan yak 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s