Bukan Penganut ‘Jalankakisme’ Fanatik

“I thought about evolutionary historians who argued that walking was a central part of what it meant to be human. Our two-legged motion was what first differentiated us from the apes. It freed our hands for tools and carried us onthe long marches out of Africa. As a species, we colonized the world on foot. Most of human history was created through contacts conducted at walking pace, even when some rode horses. I thought of the pilgrimages to Compostela in Spain; to Mecca; to the source of the Ganges; and of wandering dervishes, sadhus; and friars who approached God on foot. The Buddha meditated by walking and Wordsworth composed sonnets while striding beside the lakes.

Bruce Chatwin concluded from all this that we would think and live better and be closer to our purpose as humans if we moved continually on foot across the surface of the earth. I was not sure I was living or thinking any better.”

 ― Rory Stewart, The Places in Between

Jalan kaki.

Saya hanya berpikir sederhana dengan jalan kaki. Saya kebanyakan duduk. Entah untuk menulis atau membaca. Maka, saya kiranya tidak perlu memberikan alasan verbal ke orang-orang di sekitar saya, mengapa saya suka jalan kaki. Ke warung, ke minimarket, ke kampus, ke toko buku. Saya perlu menyeimbangkan akitivitas saja. Diam dan bergerak. Rehat lalu berjalan.

Alasan paling logis: saya di Jawa ini tidak punya kendaraan pribadi, minimal sepeda. Tidak punya. Bapak pun tidak mengizinkan saya membawa motor dari Lombok. Padahal beliau cuma beralasan khawatir dengan kondisi jalanan di kota juga agar saya tidak keluyuran. Entahlah, bapak saya khawatir benar atau memang diam-diam ia ingin mendidik saya. Jalan kakilah, Nak. Sebab jalan kaki itu banyak manfaatnya.

Alasan kedua, saya orang yang agak sungkanan (dengan kadar tertentu, pada saat tertentu, pada orang tertentu). Saat ini saya tinggal satu kontrakan dengan 10 orang. Delapan di antara mereka punya sepeda motor. Bisa saja saya meminjam. Dan, ya, kadang saya melakukan itu. Tapi, kadang oleh dorongan hati, saya memilih jalan kaki. Tidak heran pertanyaan heran meluncur dari bibir teman saya.

“Ke mana, Mas?”

“Mau ke ****maret.”

“Jalan kaki?”

“Iya.”

“Beneran, Mas? Buseeet!”

Mereka heran. Di pikiran mereka, jarak dari kontrakan ke minimarket itu jauh. Padahal dengan berjalan kaki santai dan ambil jalan pintas lewat gang, saya paling butuh 5-8 menit.

Tak jarang percakapan macam ini terjadi. Awalnya, muncul rasa bangga bahwa saya lebih sering memilih jalan kaki tinimbang harus meminjam motor salah satu di antara mereka. Ada semacam keinginan dalam diri saya untuk menunjukkan bahwa jauh dekat itu cuma perkara persepsi semata. Alah bisa karena terbiasa. Kau bisa betah jalan kaki karena terbiasa jalan kaki. Hal yang bisa diterapkan pada ranah lain. Kau menguasai suatu hal karena telah terbiasa dengan hal itu.

Alasan ketiga, saya ingin konsisten menulis. Amunisi menulis adalah membaca. Membaca tidak hanya teks, tapi dalam makna yang luas. Membaca sekitar. Membaca lingkungan. Membaca orang-orang. Supaya tulisan saya berkembang, maka bacaan saya pun harus terus berkembang. Caranya? Terus ‘berjalan’ menjemput pengalaman-pengalaman baru. Jalan kaki, salah satu wujudnya.

Jalan kaki pun bagian dari teknik meditasi. Meditasi untuk membuang beban pikiran yang merongrong otak. Membuka semua indra, belajar memindai sekaligus peka pada sekeliling, juga latihan untuk sadar akan keberadaan diri dan fokus.

Maka, ketika suntuk oleh pikiran-pikiran yang berkelit-kelindan di otak, salah satu cara saya untuk mengurainya kembali adalah jalan kaki. Kadang saya sengaja memutar, tidak melalui rute yang sama. Tujuannya ya itu. Untuk menangkap visual, menjaring audio, menyerap aroma, meraba tekstur, dan mencecap rasa yang berbeda. Pengalaman indrawi itulah yang coba saya pelajari dan tuangkan dalam tulisan. Sebab dari teori menulis yang sering saya baca, itulah yang akan membuat tulisan jadi lebih hidup. Pembaca pun akan lebih kokoh imajinasinya jika penggambaran kita menggunakan segenap indra.

Namun, lewat tulisan ini, saya tidak hendak mengunggulkan aktivitas jalan kaki. Saya juga bukan penganut aliran ‘jalankakisme’ fanatik. Saya juga jalan kaki bukan karena muluk-muluk ingin hidup sehat atau menjadi bagian dari orang-orang yang mengurangi pemanasan global dengan tidak menyuplai polusi udara lewat kendaraan motor. Saya masih jauh dari level itu. Sebab, saya masih belum utuh dan benar-benar militan untuk berjalan kaki. Saya juga masih pakai motor. Saya juga masih santai saja naik angkot. Bahkan, saya juga masih senang bepergian dengan teman-teman naik mobil, baik di dalam maupun ke luar kota.

Dalam konteks jalan kaki ini, saya sependapat dengan pernyataan Rory Stewart di atas, “I was not sure I was living or thinking any better.” Saya tidak yakin saya hidup atau berpikir lebih baik.

Bagaimana dengan Anda?

n.b.

Saya terinspirasi menulis ini usai membaca beberapa artikel tentang perjalanan (7 tahun, 21.000 mil) Paul Salopek, jurnalis pemenang dua kali Pulitzer Prize. Ia yang sedang melakukan perjalanan napak tilas migrasi nenek moyang kita 60.000 tahun yang lalu. Perjalanannya dimulai pada 2013 dari Ethiopia, melintasi Asia, ke Benua Amerika, dan rencananya akan berakhir di Tierra del Fuego, Chili, pada 2020. Renik-renik perjalanannya bisa disimak di sini.

Paul SalopekPaul Salopek (Sumber: http://ngm.nationalgeographic.com)

PaulPaul Salopek dengan dua unta menjadi kover National Geographic edisi Desember 2013

Iklan

17 thoughts on “Bukan Penganut ‘Jalankakisme’ Fanatik

  1. Suka jalan kaki juga karena jalan kaki bisa membuatku melihat sesuatu yang ada di sepanjang jalan dengan lebih seksama. Melihat perubahan lingkungan dengan perlahan, sekedar melempar senyum ke warga yang rumahnya saya lintasi.
    Beda kalau berkendara, moment yang seharusnya bisa dinikmati mata selama 1 menit dipersingkat jadi 1 detik. Moment terlewat begitu saja seolah hidup berjalan terlalu cepat, tidak bisa lebih menikmati pemandangan, tidak bisa berinteraksi dengan sesama 🙂

    • Sangat sangat setuju denganmu, bro 🙂 Ini juga yang kerap aku pikirkan, baik waktu berkendara maupun jalan kaki. Menjadi slow traveler dengan jalan kaki, akan banyak yang bisa kita refleksikan 🙂

  2. Sepakat..

    Hehe.. Aku pun bukan pejalan kaki fanatik, tapi tak keberata melakukan itu.. Seperti bapak Fatah katakan, memang banyak manfaatnya.
    Tapi aku baru sadar, berjalan-kaki juga punya kaitan sama konsistensi menulis ya.. Hmm.. Berarti porsi jalanku masih sangat kurang.. 🙂

    • Hahaha… Konsistensi menulis dan jalan kaki, kalau aku maknai sih, sama-sama fase untuk kontemplasi. Kalau Haruki Murakami dengan berlari, ia bisa melatih ketahanan dan konsistensinya menulis (panjang), sampai-sampai ia menulis buku “What I’m Talking About When I’m Talking About Running”. Keren dia! Pake banget 😀

  3. Aku pernah “terapi jalan kaki” dulu mas, jadi ke dari kosan di gub kertajaya selalu jalan kaki ke kampus. hehe niatnya pengen sehat dgn gerakan 10ribu langkah per hari, tapi ternyata juga bermanfaat buat menenangkan pikiran. Sekarangpun balik jalan kaki lagi. Nice post mas.

    • Hehehe… siiip, Sinta. Apalagi dirimu di Jakarta kan ya, sekarang? Dengan segala keruwetan transportasi dan segudang problematikanya, salah satu cara menjaga kewarasan adalah dengan menerapi diri. Jalan kaki. Terima kasih sudah main ke sini 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s