Ke Formosa Bawa Love Journey #2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia

1904176_10152193277508470_1507346433_n

“Sebelum terbang ke Formosa, aku sempatkan diri membeli buku karya salah seorang mahasiswa terbaikku yang HEBAT, Lalu Fatah dkk (Bustomi Menggugat & Dinar Satitah). Inilah bentuk apresiasiku kepada mahasiswa yang telah menghasilkan karya. dengan perasaan BANGGA & BAHAGIA, akan aku baca dua buku travelling itu untuk menemani perjalananku… Teruslah belajar & berkarya Fatah dkk, doa & dukunganku akan senantiasa menyertaimu… Semoga sukses selalu!” (Ahmad Safril Mubah – Dosen Ilmu Hubungan Internasional Unair Surabaya)

Saya selalu deg-degan ketika dosen-dosen me-like atau urun komentar di postingan saya di Facebook.  Sebab, saya tahu diri. Saya bukan tipikal mahasiswa yang pintar dan aktif di kelas.  Tulisan-tulisan saya pun kebanyakan karya populer, bukan karya tulis ilmiah. Sebagai bagian dari kelompok akademis, saya merasa level saya masih jauh di bawah.

Saya masih ingat ketika semester tiga mengambil mata kuliah Teknik Penulisan Ilmiah HI. Salah satu dosen pengampunya adalah Mas Safril. Menjelang akhir perkuliahan, dosen muda itu menugasi kami menulis tulisan ilmiah. Saya kelabakan. Saya tidak terbiasa menulis ilmiah. Basis menulis saya adalah fiksi. Bawaan dari SMP juga menulis di blog.
Tapi, mau tak mau harus menulis. Ketika tugas dikumpulkan dan minggu depannya dibagikan, saya hanya bisa tersenyum kecut. Asisten dosen mencoret-coret tulisan saya.

Waktu berjalan. Di tengah-tengah gencarnya tugas kuliah, saya juga terus menulis di blog. Biasanya saya posting lewat nokia 6020 saya yang kini – kata teman saya – sudah ringkih.

Saya pun sebenarnya terpacu menulis, salah satunya karena dosen saya yang sekaligus Dekan FISIP Unair, I Basis Susilo, adalah penulis artikel yang produktif. Sejak masih mahasiswa di HI UGM, dia telah rajin menulis di media. Bahkan, beberapa waktu lalu, beliau cerita ke saya kalau ia mendapatkan kemudahan lolos di seleksi beasiswa S-2 ke Amerika Serikat karena tulisan-tulisan opini beliau. Ah, beliau memang ahli menyalakan kembali impian saya belajar di luar negeri.

Begitu pula dengan Mas Safril, dosen muda asal Jombang. Beliau tak jauh berbeda dengan Pak Basis. Sama-sama doyan menulis di media massa. Tentu terkait dengan keahlian mereka di kajian isu-isu hubungan internasional.

Mas Safril juga punya blog pribadi. Saya baru tahu setelah ngepoin dosen-dosen saya lewat Google. Dan, saya tak menyangka ketika di versi lama blognya, ia masukkan pula tautan blog saya di daftar teman narablognya.

Saya bolehlah tersanjung saat itu, sekaligus deg-degan. Tulisan saya di blog lama, yakni di Multiply, isinya gado-gado dan kebanyakan cerita keseharian. Kok bisa-bisa ditaut sama beliau?

Saya hanya merasa belum pantas saja. Beliau dosen dengan tulisan-tulisan yang ilmiah, sementara saya mahasiswa dengan isi blog yang jauh dari itu.
Terus, ketika skripsi beliau beralih wujud ke buku berjudul “Menguak Ulah Neokons”, diterbitkan oleh Pustaka Pelajar, salah satu penerbit buku-buku kuliah di Yogyakarta, rasa kagum saya kian merangkak.

Di kampus, meski sering bertemu di kelas atau berpapasan di luar kelas, namun kami sama-sama tidak banyak mengobrol tentang kesenangan menulis ini. Beliau stay cool, saya pun demikian.

Namun, pada 2011, ketika buku solo saya lahir, saya pun memberanikan diri menandai beliau juga dosen-dosen yang lain pada foto kover buku saya. Kalimat apresiasi dilontarkan, rasanya kredit saya sebagai mahasiswa naik di hadapan mereka. Ya, rasanya demikian. Meski saya menyadari belakangan bahwa itu pula salah satu titik bencana bermula. Euforia yang menenggelamkan semangat saya untuk bersegera lulus kuliah.

Ketika beliau telah menyelesaikan S-2 di HI Unair dengan tesis yang kemudian dibukukan, saya salut. Saya pun pelan-pelan mengetahui bahwa dosen-dosen lain pun demikian. Tesis maupun disertasi yang dibukukan, saya ketahui belakangan, dosen saya lainnya memublikasikan kover foto bukunya. Misalnya, Bu Baiq Wardhani, yang bukunya diterbitkan oleh penerbit di Jerman. Ketika ‘bermain’ ke ruang KPHI, saya melihat tumpukan buku-buku yang tercetak atas nama para dosen saya.

Ketika berpapasan kembali dengan Mas Safril di ruang KPHI, misalnya, beliau acap meminta saya untuk barter buku. Jujur, saya tidak percaya diri. Saya masih merasa bahwa buku saya ‘kelas kedua’ dibandingkan buku ilmiah beliau. Tidak sepadan jika bertukar buku traveling dengan buku ‘berat’ beliau. Meski buku saya mungkin sebarannya lebih luas karena termasuk karya pop dan masuk di berbagai toko buku, namun tetap saja di hadapan para dosen, saya adalah mahasiswa yang masih harus lebih banyak belajar menulis.

Kendati berkali-kali berkata demikian, tidak hanya saat bertemu di kampus, tapi juga dinyatakan pula lewat komentar di media sosial, tetap saja saya merasa tidak pantas. Tidak sepadan dalam karya. Saya sungkan saling bertukar buku.

Saya tidak tahu, apakah hal yang sama juga dirasakan oleh adik kelas saya, Devania Annesya, yang juga seorang novelis produktif. Sampai-sampai ketika Mas Safril berkomentar di catatan Facebook saya, saya tidak ‘berani’ membalasnya. Padahal komentarnya jelas-jelas positif.

“Sebagai kawan diskusi di kelas, aku BANGGA & BAHAGIA kalian (Praja, Fatah, Deva, dkk) sukses menerbitkan buku! kalo ada stoknya, bawa ke aku ya… hehehe… aku mau beli sbg bentuk apresiasi & dukungan utk terus berkarya… selamat & sukses!”

Dan, petang tadi beliau membuktikan kesungguhannya dalam mengapresiasi karya saya dan mahasiswa beliau lainnya. Dua karya di atas akan menemani perjalanan beliau ke Formosa alias Taiwan untuk melanjutkan studi di sana.

Siapa yang tidak terharu? Siapa yang tak terlecut untuk berkarya lebih baik lagi? Kala orang yang kami hormati memberikan apresiasinya dalam wujud demikian. Membeli karya kami.

Terima kasih untuk para dosen saya yang telah mengajarkan banyak hal, tidak hanya pengetahuan akademis, tapi lebih-lebih lagi pelajaran kehidupan juga kesungguhan dalam berkarya.

Iklan

15 thoughts on “Ke Formosa Bawa Love Journey #2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia

  1. Waktu kuliah dulu, untuk mata kuliah Metode Penulisan Ilmiah aku dapet nilai memuaskan. Tapi sampe sekarang rasanya gak bisa-bisa juga bikin karya tulis ilmiah 😀

    Seneng ya kalo ada dosen yang mengapresiasi karya kita 🙂
    Semangat brotheeer… Tetap semangat berkarya. Meski bukan lewat karya ilmiah, yang penting itu karya yang positif dan bisa menginspirasi banyak orang 🙂

    • saya kutip dalam hati kalimat terakhir mbak! kutip dan simpan sebagai bekal 😀

      jadi mustinya bangga ya selama itu berkarya yang baik. tak perlu ada pembagian kelas karena masing2 jenis tulisan ada tantangan sendiri2.

      suwuuuun mbak 🙂

  2. Senengnya Fataaah…aku bacanya campur terharu lho, ada dosen yg mengaprisiasi karya mahasiswanya begitu rupa, gak minta gratisan… ini yg aku salut, kadang suka kesel sama temen yg minta gratisan karya kita, koq rasanya kurang menghargai ya 🙂

    • masalah gratisan2 itu sudah pernah saya tulis di kompasiana, Teh Icho. iya, memang ada kecenderungan itu karya kita tidak dihargai. saya sudah liat faktanya sendiri. jadi geram. kalau dia memang benar2 tertarik oleh karya kita, tentu akan bela2in keluar usaha untuk mendapatkannya. bakal beda kok yg apresiasi dgn tulus dan tidak 😉

  3. Saat seusiamu dulu aku masih sibuk bersenang2, tapi kamu sudah melahirkan banyak karya 😀 keren Lalu!!!! *setor jempol*

    MEmbaca tulisanmu, jadi ikut tersetrum semangat juga. Trimakasih sudah berbagi yaa Lalu

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s