Halo, Lombok!

Dua tahun lebih kita tak jumpa. Terakhir kali aku mengunjungimu Desember 2011. Lebaran pun yang bisa menjadi momen untuk mudik, aku lewatkan di rantau orang. Bicara rindu? Sudah lama aku pendam dalam-dalam.

Teman-teman pembaca blog ini sudah mafhum mengenai alasanku tidak mudik. Tak perlulah aku jelaskan lagi. Kamu pun sudah paham, kan? Aku harap demikian.

Tapi, kau tak perlu risau. Sebentar lagi kita akan bersua. Ya, Rabu depan aku akan sudah menjejakmu lagi. Selama seminggu kita habiskan waktu bersama. Kau tak marah kan aku melanggar janjiku untuk tidak pulang sebelum studiku kelar?

Mohon, simak penjelasanku. Jika aku sudah jabarkan semua, barulah kau boleh menyimpulkan.

Begini, Lombokku tercinta.

Pada 16 Desember lalu, seorang jurnalis yang karya foto dan tulisnya acap wara-wiri di National Geographic Indonesia mengomentari statusku di Facebook. Ia minta kontakku. Katanya ada undangan.

Kau tahu, membaca itu saja aku sudah deg-degan. Adrenalinku terpacu. Aku menduga, ini pasti tak jauh-jauh dari dunia perjalanan dan menulis yang juga sama-sama kami geluti. Tapi, aku tak mau berkubang dalam duga. Aku segera layangkan kontakku ke dia. Dan dia bilang begini:

temen2 sedang ngembangkan bayan jadi destinasi wisata. mau ada family trip. yg diundang bloger. nanti diminta nulis dan share ke dunia maya. aku catet ya. sama email sekalian. akomoadasi dan transportasi ditanggung. siapa tahu Bayan bisa maju. nanti ada yg kontak dari bristish council.

Jalan Memutar Menuju Masjid Kuno Bayan Beleq

Jalan Memutar Menuju Masjid Kuno Bayan Beleq. Foto tahun 2010.

Pertama, tentu, aku bersyukur. Bersyukur karena aku diundang. Bersyukur karena memang ternyata tidak jauh dari jiwaku, menulis dan jalan-jalan. Bersyukur karena ini mengenai kamu, Lombok.

Kedua, jika dengan cara ini aku bisa membuatmu sedikit bahagia, wahai Lombok, tidakkah kau juga gembira dengan perihal ini?

Ini cita-citaku, hai tanah kelahiranku. Upaya apa yang bisa aku lakukan padamu, itu selalu terbayang-bayang di otakku. Aku membayangkan dirimu yang tidak hanya cantik, tapi juga cerdas. Tidak hanya bermasjid ribuan, tapi juga tak gampang bergolak oleh isu-isu murahan. Tidak hanya bangga dibanjiri kaki-kaki pelancong asing, tapi juga bisa berdiri tegak dan percaya diri dengan kemampuanmu. Aku berani dan berdaya saing! Ingin sekali aku mendengarmu berucap begitu.

Aku tak perlu berpikir panjang. Jika memang ini jalan bagiku untuk mengunjungimu kembali setelah terpisah 26 bulan, aku ‘kan menempuhnya.

Kau tahu, hari demi hari aku menunggu. Aku mengira perjalanan itu akan dilangsungkan akhir Desember atau awal Januari, tapi nihil. Tak ada kabar. Aku pun sungkan untuk menanyakan. Aku cukup tahu diri. Jika memang terjadi pembatalan, tentu aku akan dikabari. Aku berpikir positif saja dan menyibukkan diri dengan hal lain. Promosi buku, membaca, dan ikut lomba-lomba menulis.

Waktu merambat menuju Februari. Aku mencoba untuk melupakan. Tak banyak berharap. Mending aku alihkan ke hal lain. Tugas akhir? Hahaha… Vakum dua bulan, Desember – Januari, maka di awal Februari aku kembali menetakkan kampak di kepalaku yang sedikit membeku.

Ah, miris bukan?

Nenek Pemintal Benang di Desa Bayan

Nenek Pemintal Benang di Desa Bayan. Foto tahun 2010.

Tapi, itulah, Lombok. Aku ceritakan ini secara terbuka padamu. Biar kau tahu bahwa aku pun punya sisi malas.

Dan, di malam yang tak kusangka, Senin (10 Februari 2014), pesan singkat pun mampir di ponselku.ย  Seorang perempuan. Minta alamat surelku. Untuk memudahkan komunikasi, katanya.

Harapan itu muncul kembali. Namun sempat meredup pula. Di pesan singkat itu ia menandaiku sebagai ‘blogger di Lombok’. Aku sedikit khawatir ia salah persepsi. Bisa saja aku tidak jadi diperjalankan karena posisiku di Surabaya yang akan mengharuskan mereka mengeluarkan biaya untukku. Aku berpikir, itu akan memberatkan mereka.

Aku pun sampaikan hal itu. Dan, balasannya memang membuatku kembali tidak muluk-muluk berharap. “Info tetap akan saya sampaikan ke British Council utk dipertimbangkan.” Itu bunyi pesan singkatnya.

Hai, Lombok. Kau bisa baca kan betapa sekalipun aku sempat riang karena akan berjumpa denganmu, namun aku tak mau memasang ekspektasi tinggi-tinggi. Aku gantungkan ekspektasi itu, cukup di tali jemuran di lantai atas kontrakanku. Andaipun gagal, aku tak ‘kan perlu mengaduh dan berdarah-darah kesakitan.

Tapi, Tuhan kiranya masih sayang padaku. Esok siang, nomor Jakarta nongol di layar ponselku. Aku ditelepon langsung oleh British Council. Mereka menanyakan kesediaanku untuk ikut familiarization tour pada 28 Februari hingga 2 Maret. Aku nyatakan siap! Sangat siap! Siap sekali!

Hahaha…

Andai perempuan yang meneleponku itu ada di depan mukaku, mungkin aku langsung mencium tangannya. Terima kasih, aku bisa pulang kampung, mengunjungi kekasihku, Lombok!

Lombok, kau anggap aku berlebihan? Biarlah! Untuk kali ini. Esoknya? Ya, lain lagi ceritanya.

Gentong Air Wudlu di Depan Pintu Masjid Kuno Bayan Beleq

Gentong Air Wudlu di Depan Pintu Masjid Kuno Bayan Beleq. Foto tahun 2010.

Oke, aku harap kamu masih duduk manis menyimakku.

Begitulah, komunikasi pun berjalan melalui surel. Aku senang menjalani prosesnya, Lombok. Tak ubahnya senangku kala menerima surel dari para penyunting tulisan-tulisanku.

Aku kabari adikku, kakak-kakakku. Tapi, tidak dengan ibu dan bapak. Bapakku sedang sibuk belajar menyiapkan sidang tesisnya. Biarlah aku tiba dulu di kamu, baru kukabari beliau. Aku dan saudaraku pun menyepakati ini.

Beberapa hal langsung terlintas di kepalaku selama kita bersua nanti, Lombokku. Aku ingin berbincang-bincang hangat dengan kawan-kawan sekolahku. Aku mau adakan bincang buku di salah satu toko buku di Mataram (tadi aku kabari mereka). Aku hendak renang-renang di pantai. Itu.

Tujuh hari akan bersamamu.

Tujuh hari untuk menghapus redaman rindu selama tujuh ratusan hari.

Itu cukup kan, Lombok?

Iklan

15 thoughts on “Halo, Lombok!

  1. Wow! Selamaaaaatt..! Ternyata ini alasanmu, brother… ๐Ÿ™‚
    Kereeeeeen… Sukses selalu buatmu, brother…

    Jangan lupa pesanku ya, sampaikan salamku pada Lombok, katakan padanya aku pasti akan kembali lagi mengunjunginya. Menuntaskan cerita rindu yang belum usai, pada Rinjani, juga pada gili-gili perawan yang memanggil, melambai, menggoda… ๐Ÿ™‚

    *Kenapa bahasaku jadi gini ya..?? Jadi inget bagian kata pengantar kita di buku LJ2! Haahahahahahaha….

    • hahahahaha… so influencing ya, mbak ๐Ÿ˜‰
      anyway, sebagaimana pesan mbak di fb, komen ini, juga whatsapp, akan saya sampaikan dan lakukan.

      Lombok akan selalu menanti untuk dikunjungi para pejalan nan berbudi pekerti ;))))

    • terima kasih, Cek Yan. kita keren di bidang masing-masing. ini kesempatan bagi saya untuk cerita lebih banyak lagi ttg Bayan. semoga orang2 akan lebih menyadari keberadaannya yang masih belum begitu dikenal dibanding tetangganya, Senaru ๐Ÿ˜‰

  2. Senang membaca ini Fatah ๐Ÿ™‚

    Bravo untukmu, Dik ๐Ÿ™‚

    InsyaAllah, undangan berikutnya akan terus berdatangan, karena kamu rajin ‘menjual’ tulisanmu ๐Ÿ™‚

    Aku salah satu fans tulisan2mu ๐Ÿ™‚

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s