Menuju Senaru

Cuaca hangat. Berangkat dari Parampuan, sopir memilih jalur kota tua Ampenan, menyusuri garis jalan pinggir Senggigi.

Garis pantai putih bercumbu dengan air hijau toska.

Lima laki-laki dalam Pregio. Budi dari Lombok Adventure, Imam dari Perama Tour, Charles dari Lombok Network, saya, dan sopir. Berbincang tentang profesi masing-masing.

Imam paling aktif bicara. Berkisah tentang pecahan-pecahan pengalamannya selama jadi pemandu wisata profesional. Bagaimana ia yang awalnya sempat jadi polisi, namun karena sebuah insiden yang dilakukan oleh teman sendiri, ia pun harus hengkang dari kesatuan. Nasib membawa pria asal Banyuwangi itu menjadi pemandu wisata.

Charles lain lagi. Bergaya ala hip hop. Topi, earphone terpasang, dan sibuk bertelepon dengan kekasih hati, istrinya. Suara berat dengan logat Flores-nya memberi nuansa beda.

Budi lebih banyak diam. Duduk di samping sopir.

Sopir pun demikian. Tak menjawab kalau tak ditanya. Dari spion depan, saya perhatikan ia ikut menyimak Imam.

Lombok sedang musim durian. Para pedagang menumpuk durian mereka di kiri jalan yang bersinggungan dengan pantai. Durian lokal. Kecil. Hasil kebun.

Di Kayangan, Lombok Utara, gerimis mulai turun. Perkebunan mete sedang tidak berbuah. Bunga-bunga jagung tumbuh dengan manis. Ternak sapi pinggir jalan merumput. Pengendara motor tak berhelm melintas-lintas. Rumah-rumah punya halaman belakang berupa bukit dan hutan kecil, kadang tanah lapang berumput.

Hujan menderas di Desa Selengen. Sungai belabur, banjir. Airnya seperti susu cokelat. Air yang cokelat itu pun bertempur di pantai. Gradasi warnanya benar-benar tampak. Seperti pertempuran antara kekuatan hitam dan putih. Tak berapa lama kemudian, air melimpah dari kanan menerabas jalan. Pengendara motor di depan kami sampai turun dan dibantu oleh orang melintasi terjangan air setinggi hampir selutut orang dewasa. Motor-motor bergegas melewatinya biar mesin motor mereka tidak sampai mati. Sopir kami pun memutuskan untuk berhenti dulu karena saringan Pregio ada di bawah. Khawatir kami akan terjebak limpahan air itu.

???????????????????????????????

Luapan air menghentikan laju kami

Luapan air menghentikan laju kami

Dua puluh menit kemudian, hujan berhenti. Tapi, air masih juga membanjir. Mobil jenis Kijang, Avanza, engkel, juga motor-motor tetap menerjang. Kami menunggu dengan alunan lagu-lagu jadul Indonesia.

Ternyata kami terhenti di km 51 dari Mataram.

Setengah jam lebih menunggu, air pun surut juga. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Saya sempat tertidur dengan air liur menetes. Astaga! Saya rogoh tisu di kotak makanan dan mengelap sudut bibir.

***

Menempuh perjalanan dari Logo Holiday, agen perjalanan di Parampuan – titik kumpul dengan peserta yang dari Lombok – menuju Senaru, bagi saya, seperti memutar ulang film dokumenter dalam kepala saya.

Saya hanya terkenang saja dengan perjalanan menuju Bayan, untuk pertama kalinya pada pertengahan 2010. Naik engkel dari pertigaan Bangsal, duduk di samping sopir yang mengemudikan engkelnya gila-gilaan.

Meski benak saya tidak menampilkan sempurna imaji visual tahun 2010, namun saya saksikan pelan-pelan perubahan itu. Warga membangun rumah-rumah; tanah-tanah yang diuruk dan kemungkinan dijadikan kantor pemerintahan atau hotel, pasar yang kian hidup di Tanjung, ibu kota Lombok Utara; terminal baru yang sepi; kantor entahlah pun yang sepi.

Saya merindukan merah ranum jambu mete yang bergelantungan di pohon-pohonnya. Saya teringat pada kebaikan sekumpulan bocah – mereka bersaudara – yang pernah memberikan cuma-cuma jambu metenya pada saya kala berjalan kaki dari Bayan ke Senaru.

Saya sempat pula melihat pasangan suami istri, Mamiq Muliarta dan Inaq, di depan rumah mereka yang tampak sedikit berubah. Merekalah yang menawari saya menginap di rumah mereka dulu dan saya iyakan. Kini, sebuah toko di samping rumah mereka telah terbangun, padahal dulu masih berupa kios. Saya ingin turun menyapa, tapi beginilah jika bepergian dengan rombongan. Saya harus tahu diri dan sisihkan sedikit ego.

Mereka melintas-lintas di orbit memori saya.

Jika dulu saya menapakkan kaki pertama kalinya dalam rangka menulis tentang mereka, maka kali ini pun sama. Jika dulu untuk bahan menulis buku, kini merawi catatan perjalanan bersama lembaga kebudayaan dan pendidikan Kerajaan Inggris, British Council.

Sekelumit catatan berseri ini semoga bisa jadi penyambung rasa saya dengan mereka.

Iklan

8 thoughts on “Menuju Senaru

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s