Orang Bayan Menghalau Mistafsir Wetu Telu

Masjid Kuno Bayan Beleq

Masjid Kuno Bayan Beleq

Orang Bayan identik dengan Wetu Telu. Namun, informasi yang beredar selama ini tentang Wetu Telu acap kali salah. Salah karena Wetu Telu dianggap ajaran agama. Salah karena mereka dikira melaksanakan salat tiga kali sehari, yakni zuhur, asar, dan magrib. Salah karena mereka dianggap berpuasa cuma tiga kali dalam bulan Ramadan.

Pertama kali ke Bayan pada 19 September 2010, saya berjumpa dengan Raden Jumadi. Ia sedang duduk-duduk di berugak bersama cucunya. Saya menanyakan tentang Wetu Telu. Ia pun lekas mengklarifikasi, “Islam Wetu Telu itu tidak ada. Islam yang dianut masyarakat sini adalah Islam ajaran Rasulullah. Kalau dikatakan kami melaksanakan ibadah hanya pada tiga waktu (wetu telu), itu tidak benar. Kami tetap salat lima waktu.”

Saya kejar ia dengan pertanyaan, “Lalu, Islam Wetu Telu itu, apa?”

“Wetu Telu itu hanyalah di wilayah kebatinan saja. Telu di sini maknanya adalah bahwa proses kehidupan di alam ini tidak lepas dari tiga hal utama, yakni menteluk (bertelur), menganak (melahirkan), dan mentiuk (bertumbuh). Jadi, Wetu Telu tidak dipraktikkan dalam ibadah fisik,” jelasnya.

Klarifikasi Raden Jumadi itu kembali dikuatkan oleh para pengelola pariwisata di Bayan saat saya bersama rombongan media ke sana pada 1 Maret 2014. Wetu Telu adalah falsafah atau pandangan hidup. Ia menjelma dalam kehidupan sehari-hari orang Bayan.

Raden Madi, kepala desa Bayan Barat, menegaskan, “Wetu Telu adalah jati diri masyarakat Bayan. Ia simbol dari ibu, bapak, dan ilahiah. Ia ada untuk dipahami dan diresapi sungguh-sungguh atau orang Bayan menyebutnya sesepen.”

Wetu Telu ini tersimbolisasikan melalui bangunan. Berugak adalah simbol bapak. Rumah adalah simbol ibu. Sementara masjid adalah simbol Ilahi.

Masjid Kuno Bayan Beleq berada di atas tiga tingkat bebatuan

Masjid Kuno Bayan Beleq berada di atas tiga tingkat bebatuan

Selain dimistafsirkan dengan tiga waktu ibadah, Wetu Telu juga dimistafsirkan sebagai penyebutan untuk tiga (susun) batu. Tiga susun batu ini terkait posisi Masjid Kuno Bayan Beleq. Masjid berusia lebih dari 300 tahun ini memang berdiri di atas tiga tingkat bebatuan.

Tafsir lain tentang Wetu Telu juga dikemukakan oleh Wiwien Tribuwani, konsultan dari British Council yang menemani tur budaya kami siang itu. Ia mendapatkan inspirasi dari pengajian yang ia ikuti saat membahas tentang kewajiban salat.

Bahwa, kewajiban salat ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 78.

“Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat) subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”

Firman Allah yang berbunyi, “dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam” menerangkan waktu-waktu shalat yang empat, yakni: zuhur dan asar yang dikerjakan pada separuh siang yang terakhir, serta magrib dan isya pada paruh pertama malam hari.

Wiwien menduga, jangan-jangan mistafsir Wetu Telu yang dikaitkan dengan salat tiga waktu itu berasal pula dari MISTAFSIR terhadap ayat Al-Qur’an di atas. Orang Bayan dikatakan salat tiga waktu saja, yakni zuhur, asar, dan magrib. Padahal tidak sama sekali. Mereka tetap salat lima waktu sebagaimana syariat Islam mengajarkan.

Wiwien, pertama dari kanan

Wiwien, pertama dari kanan

Tapi, Wiwien, perempuan berambut cepak itu lekas juga mengoreksi. “Ini cuma tafsir saja lho. Namanya sejarah, memang penuh multitafsir. Tergantung siapa yang mengintepretasikan.”

Sayang memang. Bukti-bukti sejarah tertulis masyarakat adat Bayan telah banyak yang hilang. Kiranya jika bukti itu ada, mungkin mistafsir yang kadung tersebar dalam banyak karya tulis ilmiah hingga tulisan populer di media massa bisa dikurangi.

Dan, itulah tujuan paket wisata budaya diadakan.  “Kami akan meluruskan tentang Wetu Telu!” tegas Raden Sawinggih, mewakili pengelola wisata di Bayan.

Upaya pelurusan informasi mengenai Wetu Telu ini tidak hanya melalui penjelasan para pemandu tur. Lewat media blog, mereka juga menghalau mistafsir tersebut. Silakan akses di wetutelubayan.blogspot.com.

Iklan

9 thoughts on “Orang Bayan Menghalau Mistafsir Wetu Telu

  1. keyakinan kembali ke pribadi masing-masing.
    seandainya 3x atau 30x pun silakan.
    keyakinan seseorang adalah hak paling dasar.
    well, tapi kalau mau lurus ya ikuti Quran dan Hadist.

  2. wetu telu yang saya pahami adalah 3 waktu dalam menjalankan ibadah sholat, yaitu pagi siang dan malam
    paginya subuh
    siangnya dhuhur ashar
    malamnya maghrib isya

    kalau yang diibaratkan sebagai bapak ibu dan ilah
    mungkin budaya itu masih terpengaruh dengan hasil jajahan dulu yang pernah menyebarkan kristen di Lombok
    dengan pemahaman trinitas bapak yesus, ibu maryam dan ilah Allah

    ini pendapat saya.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s