Tiadakah Mesin Waktu di Bayan?

Di atas colt

Di atas colt

Ini kali kedua saya ke Bayan. Saya dan teman-teman dari media berangkat dengan empat mobil dari penginapan Pondok Senaru. Satu di antaranya colt terbuka. Saya memilih itu dan menaikinya pertama disusul yang lain. Tujuh kilometer akan kami tempuh dalam waktu 15 menit.

Colt hitam itu berhenti di depan Pusat Pengunjung dan Promosi Desa Bayan. Bangunan yang terletak di Jl. Tutul, Desa Bayan, Kecamatan Bayan ini dulunya tidak difungsikan alias terbengkalai. Namun, aula terbuka ini pun dicat dan ditata ulang sebagai cara untuk memanfaatkan aset desa.

Raden Sawinggih memberi sambutan dan sedikit pengarahan

Raden Sawinggih memberi sambutan dan sedikit pengarahan

Sabtu pagi itu, sekelar acara sambutan, kami siap memulai jelajah wisata Desa Bayan. Kami dibagi ke dalam empat kelompok untuk mengikuti sesi pertama, yakni Bayan Cultural Walking Tour alias Paket Wisata Budaya Bayan. Masing-masing kelompok dipandu oleh satu orang. Sesi ini diperkirakan menenggak waktu 1,5 jam.

Tapi, sebelum beranjak dari Pusat Pengunjung, masing-masing kami disuruh mengenakan pakaian adat Bayan yang telah disediakan. Bagi laki-laki, mengenakan kain (poleng) dan ikat kepala (sapuq). Yang pakai celana panjang pun harus digulung biar tidak melebihi sarung. Batasannya adalah sedikit di bawah lutut.

Perempuan pun demikian. Mereka harus mengenakan kain penutup setengah badan ke bawah (poleng). Itu pakaian sopan karena kami akan berkunjung ke kampu yang dihuni tokoh agama dan tokoh adat, serta ke Masjid Kuno Bayan Beleq.

Bagi saya, hal yang seru ketika kami dipersilakan memilih poleng dan sapuq, sesuai corak dan warna yang kami minati. Maklum, dorongan tampil modis. Kami juga rata-rata belum tahu cara memakainya. Para pemuda dan pemudi Bayan pun sigap membantu kami.

Kami berjalan kaki meninggalkan Pusat Pengunjung menuju Dusun Bayan Timur. Dari pertigaan jalan besar kami ke timur, lalu belok kiri ke jalan dusun yang kecil namun rapi disemen kasar. Rumah warga di kiri kanan dengan selokan kecil berair lancar di sisi kanan kami.

Mayas, pemandu kami

Mayas, pemandu kami

Mayas, pemandu kami, asli pemuda Bayan, pun mulai bercerita, ditimpali oleh Wiwien, konsultan British Council.

Nama Bayan berasal dari bahasa Arab, artinya penerang. Nama ini diberikan pada abad ke-16 ketika Islam masuk ke Lombok yang dibawa oleh para ulama dan pedagang dari Jawa. Oleh para mubalig, keluarga kerajaan pun mendapat gelar Raden bagi laki-laki dan Denda bagi perempuan. Saya sempat bercakap-cakap dengan beberapa keturunan raja ini selama di Bayan, di antaranya Raden Sawinggih, Denda Nyakarnim, juga Denda Surya.

Kerajaan Bayan sendiri telah eksis sejak sekitar 1150 Masehi. Sebelum dinamai Bayan, daerah ini bernama Suwung, artinya daerah yang sepi karena ditinggalkan oleh banyak penduduknya. Kala itu, pemimpinnya disebut Datu. Saat Islam masuk yang dibawa oleh orang Jawa, sang Datu pun diberi gelar Susuhunan Ratu Mas Bayan Agung.

Dari perkawinannya dengan istri pertama, ia dikaruniai dua putra. Mereka bernama Raden Mas Mutering Langit dan Raden Mas Mutering Jagat.

Tak berapa lama berjalan, Mayas menunjukkan sebuah areal makam di Bayan Timur itu. Posisinya ada di sebelah kanan kami. Di situlah Raden Mas Mutering Langit dimakamkan. Berbeda dengan makam-makam warga biasa lainnya yang dikeramik di situ, makam putra raja itu berupa bangunan kecil berdinding bambu dengan atap bambu. Posisinya pun mencolok.

Raden Mas Mutering Langit inilah yang diembani tugas melaksanakan ‘adat gama’, yakni kelembagaan adat yang mengatur hubungan dengan Sang Pencipta. Ia diberi kekuasaan di Bayan Timur. Sementara adiknya, Raden Mas Mutering Jagat diberi kekuasaan di Bayan Barat dengan tugas melaksanakan ‘luir gama’, yakni kelembagaan adat yang terkait dengan sosial kemasyarakatan, lingkungan, dan adat-istiadat lainnya.

Embusan angin lumayan ampuh membelai wajah kami. Kami jalan kaki kembali, siap memasuki kawasan rumah adat Bayan Timur. Kelompok pertama yang diisi oleh kru dari MNCTV terlihat sedang sibuk mengambil gambar saat kelompok kami datang.

Kelompok saya memasuki area rumah adat Bayan Timur

Kelompok saya memasuki area rumah adat Bayan Timur

Dari pintu, saya edarkan pandang ke sekeliling. Di area itu, ada empat buah berugak. Berugak adalah bangunan setinggi setengah meter dari permukaan tanah beratap rumbia yang disangga dengan enam (sakanem) atau empat (sakepat) tonggak. Empat berugak yang ada di kampu Bayan Timur itu semuanya disangga oleh masing-masing enam tonggak.

Berugak ini bangunan yang lazim ditemukan di rumah warga di Lombok. Di rumah saya yang lama pun ada berugak bertonggak empat. Kami bisa memakainya untuk bercengkrama, kadang menerima tamu, untuk tiduran, atau santai-santai saja.

Namun, di Bayan Timur ini, empat berugak itu memiliki nama dan fungsi yang berbeda-beda. Posisinya pun menghadap arah yang sama, yakni ke arah selatan. Ini tak lain karena angin sering datang dari arah selatan, dari arah Gunung Rinjani. Angin yang membawa kesejukan, tentunya.

Berugak di ujung kiri dari pintu masuk disebut Berugak Agung. Ini berugak utama tempat memutus perkara-perkara adat, mengadakan perjamuan, dan menobatkan para pengemban adat.

Kelompok saya di antara berugak-berugak

Kelompok saya di antara berugak-berugak

Berugak di ujung kanan bernama Berugak Malang. Ia dipakai untuk mempersiapkan hidangan ketika acara perjamuan diadakan.

Berugak di depan kiri dinamakan Berugak Empak. Empak adalah kata dalam bahasa Bayan yang berarti daging. Disebut begitu karena dipakai sebagai tempat mengolah daging sembelihan.

Sementara, berugak di kanan depan tidak punya nama khusus, namun digunakan untuk penyembelihan hewan.

Suasana di sekitar berugak amat teduh karena di situ tumbu beberapa pohon rindang. Jalan berukuran setengah meter dengan batu-batu yang rapi tersemen juga menghubungkan antarberugak. Halamannya pun bersih.

Di sisi atas, dengan menaiki empat buah anak tangga, kampu tempat tinggal tokoh agama dan tokoh adat berada. Ada empat laki-laki yang sedang duduk di lantai setinggi setengah meter di depan rumah. Mereka adalah penghulu adat, imam salat, pemimpin upacara kematian, dan pemangku. Mereka ramah ketika diajak berbincang.

Para tokoh adat Bayan

Para tokoh adat Bayan

Rumah adat Bayan Timur yang mereka tinggali itulah yang menjadi pusat penyelenggaraan Adat Gama (adat dan agama) di Desa Bayan. Menjaga hubungan vertikal menandakan pentingnya keberadaan Sang Khalik dalam keseharian hidup masyarakat Bayan.

Bayan yang dijuluki Gumi Nina atau Bumi Perempuan ini juga melambangkan kasih sayang. Semacam cerminan bahwa para penghuninya mengedepankan harmonisasi hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan sesamanya, serta manusia dengan Tuhan.

Saya yang lahir dan dibesarkan di Lombok Timur pelan-pelan menyadari bahwa dari Bayan pulalah bermula adat masyarakat Lombok. Sebab, hal ini telah ditegaskan pula dalam naskah lontar kuno dengan kutipan, “Adat saking gumi Bayan.”

Saya yang bergelar Lalu, sementara keturunan raja di Bayan bergelar Raden. Saya yang mewarisi gelar dari bapak yang berasal dari Lombok Tengah, sementara para Raden berasal dari Lombok Utara. Dari buku Pulau Lombok dalam Sejarah (2007) yang ditulis H. Lalu Lukman, saya dapatkan informasi bahwa:

“… jika seorang bergelar Raden mengambil kawin seorang perempuan yan bukan ‘Denda’ sebagai pasangan setara, maka dianggap kurang murni dan anak yang lahir nanti, harus turun setingkat, bukan bergelar Raden atau Denda, tapi jadi ‘Lalu’ atau ‘Baiq’ dan ‘Lale’…” (hal. 56)

Andaikan saya bisa merunut melalui mesin waktu. Saya cukup penasaran, bagaimanakah keterhubungan kakek nenek moyang saya dengan orang-orang Bayan ini? Sebab, menilik garis wajah, warna kulit, adat kebiasaan, juga bahasa, saya dan para raden juga denda itu memiliki irisan!

Ah, tiadakah mesin waktu di Bayan?

Iklan

15 thoughts on “Tiadakah Mesin Waktu di Bayan?

  1. Ada juga pendapat kalau Lalu dan Baiq itu gelar pemberian kerajaan-kerajaan Bali untuk para abdi setia mereka yang asli orang Sasak saat Pulau Lombok diduduki Kerajaan Bali.

  2. Ping-balik: Ke Bayan | Setapak Aksara

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s