Buang Penat di Hutan Adat Mandala

Pemandu kami berjalan cepat di depan. Ia seakan lupa ada kami di belakangnya. Empat orang yang menyimpan rasa ingin tahu. Indra dari The Jakarta Post Travel, Ari dan Ita dari British Council, dan saya.

Si pemuda Bayan yang benar-benar baru terjun memandu itu sepertinya masih mengukur kecepatan berjalan dengan standarnya sendiri. Ia juga irit bicara. Alih-alih melemparkan humor yang bisa membuat kami sedikit rileks. Hijaunya tanaman padi saat kami meniti pematang sawah, terlewat begitu saja. Saya tak benar-benar menikmatinya. Saya fokus pada langkah kaki di pematang kecil itu biar tak terpeleset.

Kaos saya terasa kian basah oleh keringat. Pembakaran kalori makan siang dengan menu pedas khas Bayan rupanya sedang terjadi. Matahari pun lagi senang-senangnya tebar pesona.

“Ini jenis padi apa?” Saya menghunus tanya.

Si pemandu menjawab pendek. Dalam hati kecil, saya berharap jawaban lebih. Tapi, si pemandu memang baru mulai belajar. Biarlah saya menyimpan ini sebagai catatan kecil untuk masukan dia dan rekan-rekannya nanti.

Persawahan yang kami lalui sebelum memasuki Dusun Mandala

Persawahan yang kami lalui sebelum memasuki Dusun Mandala

Habis persawahan, kami memasuki Dusun Mandala. Seekor sapi diikat di tengah halaman rumah warga yang berhadap-hadapan. Kami melipir di bawah tepi atap rumah warga, menghindari terik.

Dusun Mandala yang kontur tanahnya naik turun dan agak berbatu-batu itu, dengan tembok-tembok rumah yang belum semua diplester, mengingatkan saya pada Desa Rebile, tempat kelahiran bapak saya di Lombok Tengah. Sapi-sapi warga pun tidak sepanjang hari dikandangkan karena saya melihat di Mandala maupun Rebile, ada yang dibiarkan merumput di pinggir kampung yang bersisian dengan hutan.

Menyisir pinggir dusun sebelum memasuki hutan adat

Menyisir pinggir dusun sebelum memasuki hutan adat

Kami masih menyusuri jalan setapak di pinggir kampung sebelum akhirnya Ari meminta untuk berhenti. Kami duduk di atas pokok pohon sembari menikmati angin semilir. Saya merasakan celana jeans panjang saya basah oleh keringat. Harusnya trekking begini, saya mengenakan celana pendek berbahan ringan.

Medan menanjak

Medan menanjak

Istirahat kelar, kami lanjut jalan kaki. Kali ini mulai memasuki Hutan Adat Mandala. Pohon-pohonnya tumbuh rindang. Hijau menyegarkan mata. Akar-akar pohonnya melintang dengan tonjolan besar di permukaan tanah. Tanahnya agak lembab. Oksigen pun mendadak terasa berlimpah. Saat yang tepat membasuh paru-paru.

Hutan seluas 1,3 hektare ini dikelola sepenuhnya oleh masyarakat Bayan. Mereka sadar betul hidup mereka bergantung pada keberadaan hutan ini. Air bersih yang melimpah, sawah yang terairi dan memberikan mereka penghidupan, serta udara yang terjaga kemurniannya adalah berkah yang diberikan hutan ini.

Di tengah hutan, kami menjumpai banyak bak penampungan mata air. Dari situlah, air dialirkan ke ratusan hektar sawah juga rumah-rumah tangga di Bayan juga desa sekitarnya, seperti Loloan, Karang Bajo, dan Anyar.

Hutan Adat Mandala nan rimbun dengan bonggol yang besar-besar

Hutan Adat Mandala nan rimbun dengan bonggol yang besar-besar

Hutan yang memilik tiga mata air ini dilindungi oleh adat. Mereka punya struktur kepengurusan yang terdiri dari Pemangku Adat sebagai pemimpin musyawarah adat; Penghulu Adat dan Pembekel Adat sebagai pemberi masukan, usulan, dan pendapat pada Pemangku Adat jika ada persoalan terkait hutan adat; Lang-Lang Jagad sebagai penjaga keamanan hutan; serta Inan Air sebagai pemimpin saat acara selamatan mata air yang diadakan tiga tahun sekali.

Biar perlindungan hutan dan sumber mata air lebih kokoh, aturan adat pun dibuat. Masyarakat Bayan menyebutnya awiq-awiq yang berisi larangan sekaligus kewajiban. Bagi pelanggar akan dikenakan sanksi, mulai dari yang teringan, berupa: satu ekor kerbau, beras satu kuintal, uang bolong 244 biji, 40 butir kelapa, gula merah, beras satu rombong (nampan), ayam satu ekor dan kayu bakar empat ikat; hingga yang terberat, yakni tidak diberikan penghulu dalam pelaksanaan acara adat sampai dikucilkan dan tidak diakui lagi sebagai bagian dari masyarakat adat.

Upaya masyarakat Bayan dalam menjaga kelestarian hutan adat ini pun berbuah apresiasi. Mereka pernah menyabet Juara Pertama pada Lomba Perlindungan Mata Air (Permata) Tingkta Nasional pada 2012. Pada tahun berikutnya, mereka mengikuti lomba yang sama dengan mengajukan mata air di Hutan Bangket Bayan. Dari hutan inilah, dua air terjun di desa tetangga mereka, Senaru, yakni Sendang Gile dan Tiu Kelep, bisa terus mengalir deras sepanjang tahun.

Melintasi pohon tumbang yang melintang di dalam hutan adat

Melintasi pohon tumbang yang melintang di dalam hutan adat

“Aduh!”

Ari tiba-tiba mengaduh. Saat hendak melangkahi batang pohon yang tumbang, tak sengaja kakinya tersabet dedaunan. Dan, inilah awal dari rentetan keluhan perempuan yang menjabat sebagai Senior Programme Manager British Council itu.

Rupanya, daun yang tersabet di bagian tumitnya itu menimbulkan gatal-gatal yang perih sekali. Pemandu kami malah menyuruhnya membasuh dengan air. Padahal ia seharusnya mengusap tumitnya dengan akar pohon tanaman itu.

Kolam penampungan mata air Mandala

Kolam penampungan mata air Mandala

Dengan tertatih-tatih Ari berjalan sampai kami semua tiba di kolam penampungan mata air. Kolam yang diresmikan pemakaiannya pada 6 Desember 2013 ini sayang sekali sedang dikuras. Aliran air dari pancuran juga tidak begitu deras. Entah butuh berapa puluh jam untuk membuat kolam bercat biru ini penuh.

Air kolam sedang surut

Air kolam sedang surut

Di situlah Ari mendapat pertolongan pertama meski telat. Bahkan, pemandu kami pun diperintahkan oleh Denda Surya kembali ke dalam hutan untuk mengambil akar tanaman pohon itu. Ia kembali dengan kantong plastik hitam berisi akar tanaman dan mengusap-usapnya ke kaki Air. Namun, gatalnya tidak juga segera hilang meski hingga beberapa jam ke depan. Malah tambah sakit. Ari bilang tumitnya seperti ditusuk-tusuk jarum.

Lagi-lagi, ini jadi pelajaran tambahan buat pengelola wisata Bayan. Setidaknya hal-hal macam ini bisa diantisipasi agar peserta tur tetap nyaman dan aman.

Kami keluar dari kawasan Hutan Adat Mandala dan dijemput dengan mobil. Tujuan terakhir sore itu adalah Teres Genit. Teres artinya semut. Genit artinya gatal. Teres Genit ini sebuah dusun di Bayan yang menyajikan pemandangan sawah bertingkat-tingkat laiknya Ubud di Bali. Di kejauhan, kita pun bisa melihat laut utara. Sangat beralasan jika sepasang suami istri berkewarganegaraan Jerman membangun bungalo di sana.

Duduk santai di undak-undak batu kali sambil mengunyah camilan dengan suguhan teras sawah di depan mata, oh.. alangkah nikmatnya!

Iklan

9 thoughts on “Buang Penat di Hutan Adat Mandala

  1. wah, tulisan ini membuat saya rindu melintasi alam terbuka, Mas .. hehehe ..
    btw, salam kenal, baru sekarang saya mampir ke ‘rumah maya’ Mas Lalu ini, semoga ngga diusir ya .. xixixixi .. (^o^)9

    • Waaah…saya baru tahu, Teh Icho. Tapi, memang dari beberapa bacaan, saya peroleh info kalau hutan di’kembali’kan pada masyarakat adat, niscaya hutan akan aman sejahtera. Sebab, masyarakat adat yang tinggal di hutan atau pinggirannya, punya ikatan sendiri dgn alamnya dan mereka secara turun-temurun punya kearifan lokal untuk menjaga kelestariannya.

  2. Ping-balik: Ke Bayan | Setapak Aksara

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s