Cupak Gurantang

Lantai semen setinggi kira-kira 50 cm jadi panggung. Pencahayaan hanya berasal dari lampu neon. Sedikit redup. Harus berbagi dengan penonton. Tata suara pun seadanya. Tak pakai mikrofon nirkabel sehingga Si Cupak, salah satu karakter dalam lakon teater tradisional itu harus memegang mik saat ngomong. Lucunya, ia punya tugas tambahan. Ia harus menyorongkan mik ke Gurantang ketika adiknya itu menari sembari bertutur.

Para pemain alat musik tradisional berada di kiri panggung. Musik yang bertalu-talu, rancak, dan kadang anggun mengalun, mereka mainkan dengan pas sesuai skenario. Tak ada yang minus, buat saya, perihal musiknya. Bahkan, pada irama-irama tertentu, kaki saya bisa ikut menghentak, kepala ikut bergerak mengikuti keliaran nada. Kalau divisualisasikan, grafik nada-nada pada pertunjukan Cupak Gurantang ini dinamis sekali.

Inaq Bangkol, Cupak, dan Amaq Bangkol dalam lakon teater Cupak Gurantang

Inaq Bangkol, Cupak, dan Amaq Bangkol dalam lakon teater Cupak Gurantang

Saya mengingat Cupak Gurantang sebagai cerita rakyat yang didongengkan oleh guru saya di Madrasah Ibtidaiyah dulu. Kisahnya tentang kakak beradik dengan perangai berbeda 180 derajat. Sang kakak, Cupak, digambarkan sebagai sosok yang culas, pendengki, serakah, pemalas, dan suka bohong. Sementara Gurantang, adiknya, memiliki paras rupawan, pekerti  luhur, tutur sopan, jujur, pun rendah hati.

Mereka berdua mengembara mencari putri Kerajaan Daha yang diculik oleh raksasa bernama Limandaru. Namun, dalam perjalanan masuk keluar hutan, bertemulah dua bersaudara ini dengan Amaq Bangkol dan Inaq Bangkol. Bangkol, dalam bahasa Sasak artinya mandul.

Cupak dan Gurantang pun diangkat sebagai anak. Bukannya berterima kasih, Cupak malah menggodai Inaq Bangkol. Ia anak yang kurang ajar pada yang lebih tua. Inaq Bangkol pun melapor pada suaminya.

Malu dengan perbuatan kakaknya, Gurantang pun mengajaknya pergi melanjutkan pengembaraan.

Narator menceritakan kalau dua kakak beradik itu beradu silat untuk membuktikan siapa yang telah berhasil menyelamatkan putri raja dari tangan Limandaru. Gurantang pun berhasil mengalahkan Cupak.

Dalam lakon teater yang saya dan penonton lainnya saksikan malam itu,  peran raja dan atau permaisuri tak ada. Begitu pula dengan putri raja, juga tidak ada yang memerankan. Jadi, bagian yang tidak ada pemerannya itu dinarasikan saja oleh naratornya, yakni Raden Sawinggih.

Dari tengah hingga ke belakang pun, cerita didominasi oleh Cupak, Inaq Bangkol, dan Amaq Bangkol. Cupak yang merayu Inaq Bangkol. Inaq Bangkol yang berperangai genit. Amaq Bangkol yang tipikal suami takut istri. Kelit-kelindan konflik di antara mereka bertiga ditaburi dialog humor cenderung kasar. Bahkan, adegan-adegannya menjurus tidak sopan. Padahal, banyak juga anak kecil yang menonton saat itu.

Saya memang tidak berharap pertunjukan Cupak Gurantang ini akan wah. Masih banyak yang harus dibenahi, baik itu tata panggung, tata cahaya, kostum pemain, juga sistem suara. Bagaimanapun, ini bagian dari produk budaya yang dijual pada wisatawan. Tentu, mereka datang dengan ekspektasi. Jika tak terpenuhi, bisa jadi ada terselip kecewa, ada juga yang memaklumi. Jika memenuhi, mereka akan dengan senang hati mengabari  pada keluarga, teman dekat, juga memublikasikan lewat media sosial yang mereka punya. Promosi yang akan mengular.

Saya tidak katakan ini pertunjukan yang gagal. Tidak. Saya justru mengapresiasi kreativitas orang-orang Bayan. Dengan minimnya fasilitas, tidak mengurangi semangat mereka menghibur penonton. Para pemain Cupak Gurantang malah berimprovisasi dengan dialog-dialog yang saya yakin dilakukan spontan.

Saya terhibur, tentu saja. Musik pengiringnya wajib saya acungi jempol. Sudaha lama sekali saya tak menonton pertunjukan teater tradisional macam Cupak Gurantang ini.

Mudahan tim kesenian Bayan kian meningkatkan kualitas pertunjukan mereka.

Di bawah ini, saya cantumkan video lakon Cupak Gurantang dari Youtube. Selamat menikmati.

Iklan

One thought on “Cupak Gurantang

  1. Ping-balik: Ke Bayan | Setapak Aksara

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s