Belum ke Lombok Kalau Belum ke Bayan

Bayan identik dengan Masjid Kuno Bayan Beleq. Selama saya tinggal di Lombok dan rajin mengudap Lombok Post, tulisan mengenai Bayan tak jauh  mengenai masjid itu dan potensi wisatanya. Juga masyarakat mereka yang punya filosofi hidup “Wetu Telu”.

Namun, kunjungan sehari penuh di Bayan pada Sabtu (1/3) lalu, benar-benar membuka mata saya. Bayan tidak cuma masjid kuno. Bayan tidak hanya Wetu Telu. Ada banyak potensi terpendam lainnya yang terungkap saat saya dan teman-teman media berkunjung ke sana.

Kuliner, misalnya. Ini paling mengejutkan bagi saya tentang Bayan. Selama ini, kuliner khas Lombok tak jauh-jauh dari pelecing kangkung, ayam taliwang, sate bulayak, juga sate ikan Tanjung. Bahkan, itu yang acap saya rekomendasikan ke teman-teman karena memang banyak yang menjualnya dan tidak hanya disajikan pada acara tertentu saja, semisal: ares.

Lantas, Bayan mengejutkan saya, khusus makanan kreasinya. Di siang yang cukup terik, sambil menunggu makan siang, kami disuguhi camilan yang kreatif, bergizi, dan pastinya enak. Ada risoles isi sisok, onde-onde isi lebui, juga sumping. Isiannya memanfaatkan biji, daun, buah, dan hewan yang diambil langsung di sawah atau memang sengaja dibudidayakan di Bayan.

Menu makan siang yang lezat sekali!

Menu makan siang yang bikin meleleh!

Menu makan siang pun demikian. Ada sayur lebui, sambal goreng komak, pelecing kangkung, urap, ikan goreng, juga krupuk. Mungkin teman-teman media yang lain akan banyak bertanya ini apa, itu apa, kok rasanya enak. Saya pribadi memang familier dengan lebui juga komak. Hal yang mengingatkan saya dengan masakan keluarga saya di rumah lama.

Makan malam pun demikian. Yang paling enak versi saya adalah sate ikan dan bebetok ikannya. Selama ini saya hanya pernah menikmati bebetok ikan yang dibungkus daun keladi. Ibu tua di kampung sebelah yang menjualnya dengan berkeliling. Dan, itu lezat sekali! Di Bayan, bebetok ikan-nya justru dibungkus daun sawe. Rasanya? Nyammm… Lembut, gurih, sedikit pedas. Bahkan, si Indra dari The Jakarta Post Travel, bolak-balik ke meja prasmanan untuk mengambil sate juga bebetok ikan daun sawe itu.

Selain kuliner, pengalaman menyaksikan pertunjukan Cupak Gurantang juga hal yang akan saya ingat dari Bayan. Lama sekali saya tidak menonton lakon teater tradisional dalam bahasa Sasak yang diselipi humor itu. Di balik minimnya fasilitas pendukung lakon, saya benar-benar terhibur dengan konten yang disajikan.

Jadi, tidak hanya wisata budaya saja yang bisa dinikmati di Bayan. Ada wisata alam, kuliner, pertunjukan seni, juga wisata belanja. Semuanya disediakan dalam bentuk paket-paket. Wisatawan bebas memilih sesuai selera juga anggaran. Tentu, jauh-jauh hari sudah harus reservasi dulu.

Caranya? Silakan menghubungi:

Pusat Pengunjung dan Promosi Desa Bayan (Bayan Village Visitor and Promotion Centre) Jl. Tutul, Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat 83354

Telepon: 0878 6524 7234

E-mail: bayantourism@yahoo.com

Facebook: Bayan Tourism

Bagaimana menuju Bayan? Kalau Anda solo backpacker yang mendarat di Bandara Internasional Lombok (BIL), Anda tinggal naik Bus Damri menuju Mataram dan turun di Terminal Mandalika. Dari sana, naik engkel atau semacam minibus Mataram – Anyar. Di Pasar Anyar, gunakan ojek menuju Bayan.

Kalau mau dan lebih leluasa eksplorasi, bisa juga dengan menyewa motor yang banyak terdapat di Mataram. Silakan gabung di Lombok Backpacker untuk bertanya lebih lanjut tentang ini.

Nah, bagi Anda yang ingin menikmati paket ekowisata Bayan ini bersama keluarga juga bisa. Mungkin, pilihan untuk menyewa mobil lebih bijak.

Untuk menginap, ada banyak pilihan di wilayah Senaru yang jaraknya cuma 7 km dari Bayan atau sekitar 15 menit. Di Senaru pula, Anda bisa menikmati Air Terjun Sendang Gile juga Tiu Kelep.

Idealnya, Anda menikmati paket ekowisata Bayan ini selama 3 hari 2 malam. Hari pertama ke penginapan di Senaru. Hari kedua menikmati Bayan seharian penuh. Hari ketiga ke air terjun dan siap-siap pulang atau menuju pantai-pantai cantik lainnya di Lombok.

Iklan

19 thoughts on “Belum ke Lombok Kalau Belum ke Bayan

  1. bebetok ikannya bikin ngiler bener deh fatah…
    aku lagi mengingat2 novelnya siapaaa gitu tentang anak muda yg jadi guide masuk2 kampung di Lombok…jd seru nih ceritanya fatah..ditunggu terus lanjutannya 🙂

    • Nyammm…nyammm… saya pun merasa lapar pas nulis deskripsinya. Hahaha… sempat juga liat2 IG-nya Sarah Sechan yang kebanyakan makanan itu. Lumayan, bantu mood ;))

      Jadi, novel siapakah gerangan itu, Teh? Saya juga penasaran. Belum baca.

  2. ejie udah ke lombok, tp belum ke bayan.
    ejie udah makan plecing kangkung dan ayam taliwang, tp belum nyoba sisok, lebui, sumping, komak, bebetok.
    Apalagi yg namanya Cupak Gurantang. Belom deh ejie….

    Kapan ya pny waktu yg benar2 luang bisa dimanfaatkan jalan2 ceria lagi?? 🙂

    Makasi utk tulisan yang “mengundang selera” ya LALU ….

  3. Well written… Jadi pengen ngunjungin Bayan dan makan2 nya. Berapa jam ya dari handara international Lombok?

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s