Jarak Bagi Pemandu Bayan

Mengikuti fam trip yang diadakan British Council di Bayan, ternyata tak cuma menyisakan pengalaman mengesankan, tapi juga kegelisahan. Dalam perjalanan pulang ke Mataram, kegelisahan itu saya utarakan lewat obrolan dengan seorang kawan dari sebuah agen perjalanan.

Apa obrolan kami? Tentang hal-hal yang perlu ditingkatkan oleh pengelola wisata berkelanjutan di Bayan. Rekan-rekan media telah menyampaikan unek-uneknya secara langsung sekelar acara pertunjukan seni. Baik itu mengenai kebersihan, kenyamanan, keamanan, keramahtamahan, kesan, dan lain-lain.

Saya tak urun suara saat itu karena beberapa unek-unek yang melintas di kepala saya sudah mereka utarakan. Namun, pikiran saya memusat pada profesionalitas pemandu.

Mereka memang masih belia, rata-rata baru tamat SMA. Bahkan, ada yang pertama kali memandu hari itu. Hal yang gampang saya maklumi ketika dua pemandu yang berbeda untuk kelompok saya masih terlihat malu-malu. Mereka belum lincah, sigap, dan aktif menjelaskan tentang Bayan, sejarah, adat-istiadat, dan hal-hal ‘remeh-temeh’ di lingkungan desa mereka. Mereka masih menunggu kami untuk bertanya dahulu.

Banyak argumen mengapa demikian. Mereka baru belajar menjadi pemandu. Bisa jadi mereka bingung harus memulai cerita dari mana. Bingung mencari diksi yang tepat. Bahkan, elemen-elemen sejarah Bayan pun ada yang mereka ungkapkan dengan tidak begitu yakin. Sehingga Wiwien, konsultan dari British Council, yang kebetulan satu kelompok dengan saya di tur budaya pun turut membantu mengurai penjelasan.

Wiwien, pertama dari kanan

Mayas, kedua dari kiri, yang merupakan pemuda asli Bayan, memandu kami saat tur budaya di Bayan

Saya kira, ada beberapa hal yang bisa mereka lakukan untuk meminimalisasi itu. Pertama, tekun membaca, baik teks maupun non-teks. Teks-teks tentang Bayan yang ditulis oleh peneliti, wartawan, juga narablog sudah banyak. Tapi, tidak semuanya valid bahkan mengandung bias di sana sini. Acuan linimasa sejarah Bayan yang sedang disusun oleh British Council kiranya bisa mengurangi kesalahan aliran informasi pada wisatawan. Namun, lebih bagus lagi jika para pemuda itu menggali informasi langsung dari para tetua adat.

Kedua, melatih kemampuan berkomunikasi. Saat ini mereka sedang dilatih intensif berbahasa Inggris. Tenaga pengajarnya dari Universitas Mataram. Tapi, saya kira, meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia pun tidak kalah perlunya. Begitu pula dengan seni berkomunikasi. Menurut saya, salah satu cara untuk mengakselerasi itu adalah dengan mendatangkan para pemandu profesional untuk berbagi ilmu dan pengalaman mereka. Mereka sekaligus memberi motivasi dengan menceritakan hal-hal menarik selama menekuni profesi mereka.

Namun, saya kira, para pemandu Bayan butuh lebih dari itu. Lebih dari sekadar mempelajari sejarah dan referensi mengenai diri mereka. Lebih dari sekadar didatangkan pemandu profesional untuk beragih pengalaman dengan mereka.

Ketiga, ini yang jadi inti gagasan saya. Para pemuda pemandu di Desa Bayan itu perlu ber’jarak’. Mereka perlu keluar dari desa. Mereka perlu ke tempat-tempat wisata lain, baik di Lombok juga di daerah lain. Mereka perlu memperbanyak daftar kunjungan ke destinasi lain di luar desa mereka. Mengapa? Dengan berjarak, mereka akan melihat Bayan lebih objektif. Mereka akan punya pandangan yang lebih luas tentang tanah kelahiran mereka. Mereka akan punya lensa yang lebih bening dalam meneropong bumi yang selama ini mereka pijaki.

Dengan berjarak, memberi spasi antara diri mereka dengan Bayan, saya yakin akan pelan-pelan menumbuhkan kecintaan. Dengan berjarak, setelah meruap rupa-rupa pengalaman di luar, ketertarikan mereka pada desa mereka kian bertumbuh pesat. Hal-hal ‘remeh’ di Bayan yang selama ini mungkin luput dari perhatian mereka, kiranya bisa lebih mereka perhatikan. Kebanggaan dan kecintaan mereka pada Bayan pun bisa dilipatgandakan.

Menutup tulisan ini, saya comotkan status Facebook saya tertanggal 14 Maret 2014. Saya menulisnya di sebuah toko buku sekelar ‘mengintip’ otobiografi Stephen Hawking. Kiranya, kegelisahan yang membebat pikiran saya terurai pelan-pelan setelah baca setengah buku profesor Lucasian dalam bidang matematika di Universitas Cambride itu.

Hal yang salah jika kerap diberitakan, lama-lama bisa jadi sebuah kebenaran. Apalagi jika dilakukan oleh orang-orang teledor yang karena mengejar tenggat, akhirnya tidak hati-hati melakukan verifikasi. Informasi ditelan mentah-mentah.

Ingat, apa yang terlihat belum tentu benar. Apa yang terucap, belum tentu sabda suci. Apa yang terlihat, belum tentu demikian adanya. Skeptis perlu sampai terang benar bukti-bukti.

Namun, mendiamkan apa yang terlanjur salah juga tidak dibenarkan. Entahlah, faktor apa yang menyebabkan. Malas, apatis, tidak mau tahu, tidak peduli? Tidakkah merasa kesal pada label, julukan, atau interpretasi yang kadung tak tepat? Lantas, kalau beralasan, biarlah mereka yang cari tahu sendiri, demikiankah? Kalau mereka tak punya antusiasme dan rasa ingin tahu tinggi, lalu tenggelam dalam kebodohan, tegakah kita membiarkan? Itukah yang kita inginkan sebagai pemilik informasi?

Namun, kebijaksanaan melampaui itu semua. Apa yang saya proteskan di atas, termasuk buat diri sendiri sebenarnya, bisa jadi akan didiamkan oleh mereka yang bijak. Mereka yang telah melampaui kasak-kusuk, debat tak penting, bincang kosong.

Bahwa, biarkanlah manusia menumbuhkan sendiri rasa ingin tahunya. Biarlah manusia yang menemukan kesenangannya sendiri akan perihal. Alam semesta hanya memberi kode-kode, petunjuk, pertanda. Lantas, kepekaan manusia bekerja. Pikirannya terusik untuk mencari tahu. Mencari keterhubungan. Memecahkan masalah. Menemukan rahasia.

Maka, saya teringat dengan perkataan seseorang, yang entah saya baca di mana: Jika ada satu-satunya hal dalam hidup yang hendak saya tinggalkan pada anak saya, maka itu adalah antusiasme.

Antusiasme. Ketertarikan pada satu hal. Minat besar. Bukankah ia pula yang melahirkan para penemu besar? Tak mudah ‘kenyang’. Tak berhenti kecuali pada ‘titik abadi’. Terus mengoreksi apa yang mengganggu. Terus maju.

“Ketika menghadapi kemungkinan mati muda, kita jadi sadar bahwa kehidupan itu layak dijalani dan ada banyak hal yang ingin kita lakukan” (Stephen Hawking, My Brief History, hal. 45)

 

Iklan

4 thoughts on “Jarak Bagi Pemandu Bayan

  1. Setuju, Tah. Studi banding seperti itu memang sangat perlu bagi para pemandu untuk menambah wawasan. Aku ingat ketika ikut tur di sebuah gua di Slovenia. Pemandunya adalah pecinta gua. Dia bercerita sudah ikut banyak sekali tur gua di luar negeri, termasuk Indonesia. Sehingga wawasannya akan gua2 alam sangat luas. Padahal orangnya kutaksir belum 30 usianya.

  2. Naah…setuju juga Fatah, iya mereka perlu study banding, gimana sih jadi pemandu yang enak itu…juga utamanya banyak gaul supaya mengurangi rasa malu kali ya, pdhal mereka pemuda2 ganteng…mesti pede dan jangan pemalu dong ah 🙂

  3. Setuju dengan gagasan Fatah. Pergi meninggalkan kampung halaman, memberi jarak, memang akan membuat kita banyak belajar. Sama halnya jika kita sedang jalan-jalan di negara lain, lalu kita berpikir, “Ah sebenarnya di Indonesia banyak yang lebih bagus, tinggal bagaimana cara mengemas dan menyajikannya.”
    Terima kasih sudah berbagi ya. 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s